Sahabat, Only You.

Sahabat, Only You.
73. Titik terang yang sulit terbaca.


__ADS_3

Dreeet dreeet dreeeet


Terdengar Handphone berbunyi. Beni segera meraih Handphone yang dia simpan di Nakas. Dia menjauh dari kamar agar tidak mengganggu istirahat Isterinya.


["Wa’alaikumussalam. Iya Dipta, apa kamu dapat informasi?"]


["Iya, saya sudah mencari tahu tentang Pin itu dan ternyata. ….!"]


[". .... Ada apa? Jangan menggantung seperti itu deh, saya penasaran, cepetan kasik tahu!"]


["Hahaha, enggak sabaran banget. Jadi begini, saya sudah mendatangi Toko Perhiasan tempat Mas Ivan dan Ega dulu pernah memesan Pin bunga bintang itu. Nama Pemiliknya Wawan dan ternyata dia teman Kampus saya dulu. Gampang dong saya mencari tahu. Setelah kita berbasa basi, dan berpura-pura memesan desain Pin dan juga Bross. Dia menawarkan untuk membuat Desain yang sama dengan Desain Bunga Bintang itu, hanya dibedakan inisialnya saja. Saya pura-pura penasaran dan menanyakan Desain itu milik siapa? tidak mau dong saya memplagiat desain orang. Dia mengatakan kalau Desain itu milik seorang Gadis bernama Ega. Namun sepertinya Desain itu boleh dipergunakan untuk orang lain. Karena ada orang yang membuatnya kembali Desain Bunga Bintang itu. Dan jreeeeeng jreeeeeng jreeeeee, siapa orangnya?"]


Lagi-lagi Dipta menggantungkan informasinya membuat Beni kesal. Jika Dipta berada di hadapannya, mungkin saja dia sudah mendaratkan tangannya pada Pipi Bakpao itu bukan untuk dielus melainkan untuk ditabok atau tidak menjitak lapangan futsalnya.


["Siapa Dipta, jangan membuat saya tegang, deh!"]


["Kalau tegang tinggal kamu salurkan ke Bininya dong, Itu saja enggak mudeng. Hahahahaha."]


["Diptaaaaa, saya serius nih!"]


["Iya, iya. Jadi orang yang membuat Pin itu adalah Mas Ivan Alkaeri. Hanya Mas Ivan dan Ega yang mengetahui  tentang desain itu. Tapi yang bikin membingungkan, Mas Ivan tidak memasukkan Kamera Pengintai dalam Pin itu, lantas Kamera pengintai itu berasal darimana?"]


Hening


Tak mampu menjawab pertanyaan Dipta. Satu-satunya jalan adalah melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk mengetahui siapa dibalik semua ini. Beni menyudahi pembicaraan setelah mendapatkan informasi dari Dipta. Tinggal menunggu hasil analisis dari Evan tentang Kamera Pengintai itu. Dia telah mengirim photo spesifikasi yang mampu terlihat pada Kamera pengintai. Tinggal Evan yang akan mencari tahu. Dari sanalah Evan mencoba menyelidiki darimana benda itu berasal. Jika dilihat, Kamera Pengintai itu tidak didapatkan dari Toko-toko yang ada di daerah ini. Kemungkinan didapatkan dari luar daerah. Bisa saja didapatkan melalui Online Shop.


Setidaknya ada titik terang walaupun sulit terbaca. Satu hal lagi yang membuat Beni terkejut, orang yang selama ini membututi Ega adalah Ivan Alkaeri bukan Lexi Aditama. Selama ini mereka beranggapan bahwa Lexi Aditama yang membututi Ega.


Mengapa bisa bersamaan dan apakah suatu kebetulan? Lexi Aditama muncul bersamaan Ivan Alkaeri juga muncul. Dan sekarang Lexi Aditama tiba-tiba menghilang. Apa yang terjadi sebenarnya? tentang Lexi mungkin saja Juna bisa menjawabnya. Semoga saja Lexi dan Ivan tidak saling berhubungan. Sangat sulit menampik kalau mereka tak mengenal satu salam lain.


Pusing, Beni tidak sanggup memikirkan semua ini secara bersamaan. Dia memilih merebahkan diri disisi Ega sembari memeluknya dengan erat. Esok hari pikiran jernih itu akan datang, maka akan mengetahui apa yang harus dilakukannya.


***


Juna memasuki sebuah Club malam terbesar di Daerah ini. Langkahnya sangat pasti seperti orang terbiasa, jika diketahui oleh tujuh sahabat maka hal itu akan mengagetkan mereka. Ia, Pria itu terkadang mengunjungi tempat yang sebagian orang menjauhi termasuk Beni, Evan, Rian dan Dipta. Tidak dengan dirinya, ia sering mendatanginya meskipun tidak setiap waktu.


Juna menghampiri meja bertender lalu mendudukkan diri dalam kesendirian. Dia terbiasa mendengarkan dentuman musik yang memekakkan telinga dan aroma minuman beralkohol mendominasi di sudut-sudut ruangan. Juna seakan terbiasa dengan suasana Club malam itu.


"Man, tumben keliatan?" tanya seorang bertender yang mengenal Pria itu. Dia memberikan sebotol minuman bersoda. Bertender itu tahu kalau Pria yang ada di hadapannya tidak suka menikmati minuman yang memabukkan.


"Ia, kamu pasti paham kenapa saya ada disini," sahut Juna datar. Dia mengalihkan pandangan ke arah orang-orang yang sedang sibuk menggerakkan tubuh seirama dengan musik yang dimainkan Disk Joki.


"Tidak adakah dalam pikiran mereka jika tiba-tiba dunia runtuh dan tak mampu menyelamatkan diri," batin Juna bermonolog dalam diam. Pandangannya tertuju kepada sepasang manusia berjenis kelamin berbeda dengan tak malu mengumbar kemesraan. Juna bergidik ngeri melihat kebebasan itu. Tak malu mereka berciuman di tengah keramaian dan orang lain tak ada yang peduli. Mereka seakan asyik dengan dirinya sendiri bersama kesenangan yang mereka ingin raih.

__ADS_1


Melihat itu, Juna teringat saat pertama kali menyentuh Bibir seorang Wanita. Dia memejamkan mata menikmati kenangan manis yang tak mungkin dia lupa.


"Manis dan lembut, aku sungguh merasakan nikmat itu Ega." Suara hati Juna berbisik, dia bahagia dan sekaligus terluka karena telah mengambil kesempatan menikmati sesuatu yang tak boleh dilakukannya. Dia ternyata menginginkan sahabatnya itu, cinta itu terlanjur hadir dan kian hari kian nyata. Juna, menyalahkan dirinya karena tak pernah mau mengakui rasa yang menguasai bilik hatinya. Cinta itu untuk Ega, Gadis manis yang merupakan sahabatnya.


Kini, setelah dipersunting oleh Beni, baru menyadari cinta itu ternyata kian terasa meskipun dia berusaha untuk menekan gejolak hatinya.


"Kita ke kamar yok!" ucap seorang Wanita berbisik di telinga membuat Juna dengan cepat membuka mata. Tanpa disadari olehnya, seorang Wanita cantik tengah memeluknya dengan mesra. Tangannya membelai rahang yang keras penuh pesona miliknya. Wanita itu tersenyum manis sambil asyik merayapi tubuh Juna dengan belaian.


"Menjauhlah dari tubuhku," ucap Juna terdengar dingin penuh ketegasan.


Wanita itu tidak mengubris berkataan Pria yang menjadi target. Dia semakin berani untuk menaklukkan Pria dingin di hadapannya. Semakin mendekat, Wanita itu hendak menyentuh bibir yang terlihat sexy itu. Sebelum tersentuh, Juna terlebih dahulu menepisnya.


"Sudah aku katakan menjauhlah dari tubuhku, apa kamu tuli?" ucap Juna sedikit berteriak. Terlihat rahangnya mengeras berusaha menahan amarahnya. Wajah tampannya berubah masam memperlihatkan ketidak sukaan.


"Tania, tinggalkan dia," perintah bertender yang mengenal Pria yang kini memandang Wanita itu dengan sorot tajam mengintimidasi.


Wanita yang disebut Tania itu mendengus kesal. Dia meninggalkan Juna dengan amarah yang meledak di dalam dadanya. Baru kali ini dia mendapatkan penolakan, apakah pesonanya sudah memudar sehingga Pria itu tak tergoda oleh kecantikannya.


"Siapa yang kamu cari?" tanya bertender itu terlihat bersahabat.


Juna terdiam, dia memperhatikan sekelilingnya dengan pandangan menyelidik.


"Aku tahu kamu kesini bukan untuk mencari kesenangan, tapi sedang memecahkan masalah," lanjut bertender itu seakan faham dengan jiwa Pria di hadapannya.


Bertender itu melihat fhoto yang berada di dalam Handphone milik Juna. Dia berusaha mengingat, sejurus kemudian dia menggelengkan kepala karena menyadari tak pernah melihat Pria yang ada di dalam fhoto.


"Sepertinya dia orang baik, jangan mencarinya disini tempatnya bukan disini tapi Masjid," ucap Bertender itu kemudian.


Juna tersenyum kecut, dia tahu tapi sengaja memperlihatkan fhoto Ivan Alkaeri sebagai umpan.


"Aku tahu, tapi mungkin saja Ivan pernah kesini seperti aku. Bukan mencari kesenangan akan tetapi mencari sesuatu yang ingin dicari."


Bertender itu kembali mengambil Handphone Juna, melihat wajah itu dengan seksama. Dia memanggil rekannya lalu memperlihatkan fhoto itu, mungkin saja saat dia tidak ada Pria itu muncul di Club malam ini.


"Sepertinya Pria ini pernah datang, saat kehadirannya menimbulkan keributan disini," ucap seorang Pria yang menjadi rekan bertender itu.


"Coba ceritakan," perintah Juna tak sabaran.


Rekan bertender itu menceritakan kedatangan seorang Pria. Pria itu tidak pernah datang sebelumnya, dia baru kali itu menginjakkan Kaki di Club malam. Dia mencari seorang Wanita, yang ternyata Wanita itu adalah Isterinya. Awalnya mereka berbicara dengan baik-baik, terlihat sekali Pria itu adalah Pria yang sabar dan baik. Tapi, teman Isterinya yang berulah sehingga terjadi keributan yang menyebabkan baku hantam yang tak terelakkan. Rupanya, keributan itu terjadi karena dipicu oleh perselingkuhan dan juga adanya balas dendam.


"Balas dendam?" tanya Juna penasaran.


"Ia, balas dendam, entahlah saya tidak tahu permasalahan mereka. Hanya mendengar sekilas karena saya tak ingin melibatkan diri dalam permasalahan orang lain."

__ADS_1


Selesai bercerita, Rekan bertender itu kembali melanjutkan perkerjaan. Dia menceritakan ciri-ciri Pria yang menjadi selingkuhan dari Wanita yang di duga Isteri dari orang yang ada di fhoto.


"Hem, apa Pria itu sering menggunakan Jaket berwarna hitam dengan bordiran bunga bintang?" Juna bertanya, dia tidak ingin mendapatkan informasi yang tidak jelas. Malam ini dia harus mendapatkan informasi itu dengan lengkap.


"Saya tidak memperhatikannya," sahut Pria itu datar.


Juna menarik nafas kasar, mengapa petunjuk semakin tak jelas terlihat, pikirnya. Setelah merasa tak menemukan apapun, Juna mengucapkan terima kasih dengan meninggalkan beberapa lembar uang. Dia berlalu dari hadapan bertender itu dan meninggalkan Club malam yang bukan tempatnya.


***


"Man, siapa Wanita itu?"


Juna yang ditanya hanya terdiam, dia memandang lautan luas menikmati deburan ombak. Di tepi Pantai, tempat keberadaan kini bersama bertender yang merupakan sahabatnya. Dia terdiam sejenak, meresapi hati yang kian nyata namun menyiksa.


"Dia sahabatku, entah kapan rasa itu ada tapi kedekatan itu seakan menumbuhkan benih cinta. Aku nyaman bersamanya, ada kebahagiaan jika aku ada disisinya dan ada kekhawatiran jika aku tak melihatnya sejenak."


Juna menceritakan kisahnya, termasuk dirinya yang tak pernah mau mengakui perasaan itu ada. Setelah Gadis itu menikah, barulah rasa itu menyeruak. Dia sadar, ternyata rasa sesak dan kehilangan yang terjadi, saat Gadis itu telah dimiliki orang lain.


"Apakah aku harus merampasnya?" tanya Juna menggema.


Angin seakan membawa tanya itu, dan tak membiarkan mendekam di Otak Juna. Jika tertanam bisa saja membuat Pria itu berambisi sehingga tak melihat persahabatan itu lagi.


"Cinta, bukan harus dimiliki. Jika kamu merampasnya, belum tentu akan bahagia. Bahkan akan menambah luka baru, kalian bertiga akan saling menyakiti. Terimalah dengan ikhlas, bukankah kamu pernah diberi kesempatan namun tak mempergunakan kesempatan itu."


Juna mendengarkan nasehat Pria itu, dia telah melakukan kesalahan untuk kedua kalinya. Tidakkah dia bercermin dari kesalahan terhadap Nara. Lagi, dia kehilangan cinta karena saat itu masih terpaku di masa lalu. Seharusnya dia mendengarkan perkataan Ega, saat mereka berdua di Sawah. Kebersamaan itu, sulit dilupakan. Jika dia kembali dari kenangan masa lalunya, tentu saat itu dia sudah mengungkapkan perasaannya lalu melamar Gadis itu. Dia tidak memanfaatkan momen bahagia itu dengan baik.


Kata menyesal tak perlu terucap, karena akan menambah rasa perih. Meskipun penyesalan itu memang diakui, tapi percuma terucap tak akan merubah apapun. Lebih baik menelan dan sebisa mungkin menerimanya meskipun sulit terlaksana.


Juna menghela nafas yang terasa berat, dia meraba hatinya yang terluka dan berusaha menentramkan irama Jantung yang tak beraturan. Sampai kapan dia memegang hati yang telah bertahta Ega disana? entahlah, dia tidak tahu pastinya.


"Aku ingin pergi dan menjauh tapi sebelumnya aku ingin menemukan Pelaku yang membuat Ega terluka." Juna memutuskan. Dia ingin menjauh dari Gadis yang kini mengisi hatinya. Berkelana mengobati luka sehingga dia bisa berdamai dan menerima kenyataan.


"Jika itu yang terbaik, lakukan Man," sahut Pria itu. Dia menepuk bahu Juna memberikan semangat.


"Ega, aku mencintaimu," bisik Juna jujur, dia yakin Ega merasakannya karena dia tahu hati mereka terhubung satu sama lain.


Ting


["Apa Abang baik-baik saja? Kak Beni mengizinkan saya untuk menanyakan khabar Abang Juna."]


Juna tergugu, ternyata Ega merasakan kesakitan yang kini dirasakannya. Apa karena dia dianggap Saudara sehingga Wanita itu merasakannya juga. Atau mungkin, dia adalah pemilik tulang rusuk yang sebenarnya sehingga kesakitan juga terasa di relung jiwanya. Entahlah?


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2