
"Cinta jika tak bersama dengan orang yang kita cintai itu sangat menyakitkan." Juna berkata, dia saat ini sudah berada di samping Ivan yang berdiri termangu mengingat kemesraan yang diperlihatkan oleh sepasang Suami isteri itu. Dulu, dia dan Ega memiliki harapan untuk mendulang bahagia. Merajut rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan warahmah. Bersama-sama hingga ke Jannah-NYA. Harapan bahagia mungkin saja masih diinginkan hanya saja dengan orang yang berbeda. Sekarang, Gadis impiannya itu tengah merengguh bahagia bersama orang lain bukan dirinya. Sungguh sangat miris hidup yang Ivan rasakan saat ini. Dia berharap bahagia bersama Ega hingga menua ataupun hingga nafas tak lagi bisa di menghela. Kenyataannya, mereka berdua tidak ditakdirkan untuk bersama. Ivan, mau tak mau harus menerima meskipun itu sangat sakit.
Ivan mengalihkan perhatiannya kepada Lelaki yang ada di sampingnya. Dia tak mengenal Lelaki yang menyapanya tapi dia tahu kalau Lelaki ini adalah salah satu sahabat dari Ega dan Beni. Ivan hanya tersenyum menanggapi perkataan Lelaki ini.
"Saya Juna." Juna mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Ivan. Mereka tadi belum sempat berkenalan karena terlalu asyik dengan obrolan mereka sehingga saling mengabaikan.
"Saya Ivan, anda pasti sudah tahu itu?" Ivan menyambut uluran tangan Juna.
"Iya saya mengetahuinya. Ega sangat dekat dengan saya sehingga dia lebih terbuka kepada saya daripada Beni sendiri. Dia pernah menceritakan tentang kegagalan pernikahan kalian. Itupun sangat sulit meyakinkan Ega untuk mau berbagi. Dia memilih untuk memendam sendiri kesakitannya. Cukup lama dia terpuruk dan menutup pintu hatinya. Selama ini dia memilih menyendiri dan takut untuk membuka hati lagi. Bukan karena dia tidak move on tapi trauma itu membekas dalam ingatannya. Dia Insecure pada dirinya sendiri." Juna menceritakan apa yang terjadi dengan Ega semenjak pernikahan mereka gagal.
"Kamu masih mencintainya? saya sangat jelas melihat binar cinta di mata itu tatkala memandangnya." Juna langsung berkata dengan lugas seakan membenarkan apa yang terpancar dari netra Lelaki bernama Ivan Alkaeri.
"Kalau boleh jujur, saya mengakuinya. Tadinya saya memiliki harapan untuk kembali mewujudkan mimpi kita. Bersua dengannya merupakan angan tapi ternyata pertemuan kita tidak pada waktu yang tepat. Saya terlambat, dia dimiliki orang lain dan saya menyendiri. Sungguh miris hidup ini. Angan itu memang tidak akan bisa saya gapai." Ivan membenarkan apa yang dikatakan oleh Juna mengenai perasaannya kepada Ega. Ivan masih menyimpan rasa itu. Jika nanti dia bersua kembali dengan Gadisnya maka Ivan akan meminang kembali Gadis itu. Terlambat pertemuan itu terjadi. Seharusnya dia tidak menunda setelah memutuskan berpisah dengan Isterinya itu.
Juna tentu saja terkejut dengan kejujuran yang disampaikan oleh Ivan. Bukan karena Ivan masih mencintai Ega tapi lebih tepatnya karena kata menyendiri yang terucap darinya.
"Apa maksudnya?" tanya Juna penasaran.
"Saat ini saya menyendiri tidak lagi menjadi seorang Suami dari mantan Isteriku. Namun saya tetaplah Ayah dari kedua anakku. Saya sudah berpisah dari Ibu dari kedua anakku." Ivan menjawab pertanyaan dari Juna yang terlihat sekali ingin tahunya.
"Bukan karena Ega, kan?" tanya Juna menyelidik.
"Bukan, Ega tidak ada sangkut pautnya dengan perpisahan kami. Ada permasalahan dalam rumah tangga kita yang tidak bisa saya jelaskan," jawab Ivan sedih mengingat nasip rumah tangganya. Dia berusaha mempertahankan rumah tangganya. Menerima Isterinya dan memberikan rasa cinta kepadanya tetap saja perpisahan itu terjadi jua.
"Jadi begitu. Sabar Mas Ivan. Memang berat yang sedang Mas Ivan hadapi tapi terimalah semua itu dengan iman kita. Maaf bukan maksud saya sok bijak tapi hanya itu yang bisa kita lakukan untuk menenangkan diri kita," ucap Juna sembari menepuk bahu Ivan untuk memberikan semangat kepada Lelaki itu.
"Terima kasih," ucap Ivan tersenyum.
Juna mengangguk sebagai tanggapan atas apa yang terucap dari Lelaki itu.
Sejenak mereka berdiam diri, menikmati gemericik air terjun yang seakan berusaha menghibur hati Ivan yang dilanda patah hati.
"Kamu tidak pernah tahu bagaimana rasanya mencintai tapi tak bersama." Ivan mengeluarkan apa yang ada dalam pikirannya seolah menantang Juna untuk merasakan apa yang sedang dirasakan saat ini. Dia yakin Juna tak mengetahui itu sebab Lelaki itu tak pernah mengalaminya. Ivan berasumsi seperti itu.
Juna tersenyum getir. Lelaki ini tidak tahu seperti apa hatinya sekarang. Dia cukup tahu bahkan lebih tahu seperti apa rasanya tak bersama. Dia tidak bisa memungkiri lagi kenyataan bahwa cinta menampilkan wajah sendunya. Iya menyukai seorang Gadis tapi Gadis itu tidak mampu digapainya. Gadis itu sahabatnya sendiri yaitu Ega. Terlambat mengakui itu. Mengapa setelah Gadis itu dimiliki baru rasa itu menyeruak muncul dipermukaan hatinya. Sejak awal sebenarnya ia menyadari itu. Hanya saja rasa takut tidak bisa membahagiakannya membuatnya memilih untuk melepaskan. Cukup lama Juna terdiam memandang air terjun dengan suara gemericik yang menyadarkannya dari lamunan.
"Anda seolah menantang saya untuk merasakannya. Untuk apa? untuk memahami seperti apa hati anda sekarang," sahut Juna kemudian. Dia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembusnya berlahan. Sejenak Juna terdiam, memberi jeda pada hati untuk menata diri.
"Saya pernah dicintai oleh seorang Wanita. Namun bodohnya diri ini, cinta itu tidak saya ketahui. Saya berpikir, bahwa saya tidak peka? atau mungkin Wanita itu yang tak menunjukkan cintanya secara gamblang. Malu! itulah sebagai jawaban mengapa Wanita itu memilih memendam perasaannya hingga dia meninggalkanku." Juna pada akhirnya bercerita setelah sekian menit melegakan diri dengan diam.
Ivan yang berada di sampingnya memilih untuk menyimak cerita dari Lelaki yang baru dikenalnya. Dia merasa memiliki cerita yang berbeda tapi berakhir sama yaitu tak bersama. Dia penasaran dengan kelanjutan cerita Lelaki ini karena tiba-tiba Juna terdiam.
"Apa dia sudah lelah mencintaimu?"
"Mungkin saja itu yang terjadi? Dia memilih menyerah dan tidak memperjuangkan cintanya agar duduk bersama," jawab Juna sedih. Dia memandang titik air itu terjatuh seolah mencari keteduhan disana. Ada kepedihan yang bersembunyi dibalik senyuman. Senyum yang berhasil mengelabui orang yang memandangnya.
__ADS_1
"Apa yang terjadi dengan dia?" tanya Ivan penasaran. Dia memandang Lelaki yang nampak tegar di luar dan terluka diulu hatinya.
"Dia meninggalkan dunia ini dan membawa cinta untukku bersamanya," jawab Juna tegar.
"Maaf, saya telah mengingatkanmu tentangnya." Ivan buru-buru meminta maaf karena rasa empati kepada Lelaki di sampingnya.
"Enggak masalah. Mungkin itu sebagai cara kita untuk saling memahami. Berbagi cerita." Setelah berkata Juna tersenyum seolah senyumnya itu sebagai nasehat bahwa apapun yang terjadi, Seberat apapun beban hidup dan sesulit apapun yang sedang kita jalani maka tersenyumlah. Jadikan senyum itu sebagai langkah awal bahwa kita bisa bergerak maju ke depan dengan bahagia. Bukankah rasa syukur itu mampu meringankan seberat apapun beban hidup yang kita hadapi.
"Kita ternyata sama, memiliki masa lalu yang mengesankan," ucap Ivan.
Juna menangguk sebagai tanggapan atas perkataan Ivan. Senyum itu tak luntur dari wajah tampannya. Pun begitu dengan Ivan, dia menampilkan senyum terbaiknya, berkata akan baik-baik saja.
***
Lega. Beni mengurai pelukannya. Dia menangkup wajah itu, sesekali mengelus bibir yang terlihat bengkak. Ada luka tipis disudut dan memar disebagiannya. Beni terkejut dengan hasil yang dilakukannya. Dia tidak menyangka apa yang dilakukannya menyisakan rasa perih disana.
"Maafkan aku sayang. Aku enggak sengaja melakukan itu. Aku tidak mengerti dengan diriku mengapa menjadi pencemburu. Aku hanya terlalu cinta dan takut kehilangan kamu," ucap Beni sedih.
Ega membalas elusan pada wajah Beni yang terlihat bersalah. Dia menggelengkan kepala membatah bahwa dia tak masalah dengan apa yang dilakukan oleh Suaminya.
"Bukankah tadi itu indah, aku suka. Kak Beni tidak melakukan kekerasan kepadaku. Kak Beni hanya menciumku dengan kasar. Mungkin bagi orang yang tak terbiasa, tindakan yang Kak Beni lakukan itu bisa dikategorikan kekerasan fisik dan verbal. Kak Beni bisa kena pasal tuh? KDRT dalam rumah tangga." Ega menyahuti Suaminya dengan menakuti-nakutinya. Sukses, apa yang dikatakannya mampu membuat Lelaki dihadapannya terdiam. Ada gurat penyesalan pada wajahnya. Terlihat Beni merasa bersalah sekaligus memaki dirinya karena telah menyakiti Wanita yang teramat dicintainya itu.
"Maafkan aku," lirih terucap.
"Hahahaha."
"Hahahaha." Lagi, suara tawa itu menggema membuat wajah yang semula menyesal berubah menjadi cemberut.
"Hem, nampaknya kamu senang membuat Suamimu cemberut. Sekarang giliranku," ucap Beni langsung melaksanakan aksinya. Dia menggelitik pinggang ramping isterinya. Tidak cukup disana saja, Beni menggelitik bagian sensitif lainnya. Tentu saja Ega spontan berteriak karena kegelian.
"Hahahaha, geli Kak."
"Belum puas." Beni kembali menyerang pinggang ramping itu.
"Sudah Kak, geli. Aku sudah enggak tahan."
"Masih mau! aku tidak akan melepaskanmu. Siapa suruh menggodaku." Beni tidak menarik tangannya yang terus menggelitik pinggang Isterinya.
"Kak Beniiiiii, geliiiiiii. aku enggak tahan. cukuuuuup. Boleh istirahat enggak? aku kelelahan." Ega berusaha melepaskan diri dari kungkungan tangan Suaminya. Melihat itu, Beni melepaskan Isterinya dan tak lagi menjahilinya.
Beni mengajak Ega duduk sembari memeluk mesra tubuh Isterinya dari belakang. Suara air menambah suasana romantis yang sangat terasa.
"Isteri, maafkan Suamimu ini yang mungkin saja telah menyakiti kamu. Aku hanya takut kehilangan kamu sayang. Sekarang bukan menghadapi Nina lagi tapi bertambah satu yaitu Ivan Alkaeri. Lelaki dari masa lalu kamu dan Lelaki itu cinta pertama kamu. Dia masih mencintaimu, tidak menutup kemungkinan dia mengambil celah di dalam kelengahanku. Bukan hanya Ivan saja yang aku hadapi, ada Abang Juna yang setiap saat bisa mengambilmu dari genggamanku. Tidak lupa, Lexi yang sewaktu-waktu datang untuk merebut kamu. Mengapa para Lelaki tampan itu begitu tertarik dengan isteriku ini. Kamu tahu mengapa?" Beni mengungkapkan kegelisahan yang ada dalam pikirannya. Bukan dia mengada ataupun mengira tapi kenyataan ketiga Pria itu mencintai Isterinya.
"Mengapa?" tanya Ega penasaran. Pasalnya Beni tidak melanjutkan kalimat yang merupakan jawaban "mengapa".
__ADS_1
"Bagiku Karena kamu istimewa," jawab Beni tulus.
Ega trenyuh mendengarkan jawaban dari Suaminya. Ternyata dia sangat istimewa di hati Suaminya. Tak sadar dia menitikkan airmatanya terharu.
"Sayang, kenapa menangis? apa perkataanku melukaimu?" buru-buru Beni menyeka air mata Ega. Dia memandang wajah Isterinya sangat hangat. Dia sangat khawatir melihat isterinya menangis tanpa sebab.
Ega menggelengkan kepala. Dia tidak sengaja membuat Suaminya khawatir dengan tangisannya. Dia tersenyum indah menegaskan bahwa dia sedang bahagia.
"Terima kasih karena telah memilihku. Terima kasih karena telah mencintaiku dan menjadikanku wanita yang sangat istimewa di hati Kak Beni. Aku terharu sehingga tak mampu menahan tangisanku." Ega pada akhirnya berucap, menjelaskan mengapa air matanya tumpah.
Beni merengkuh tubuh itu lalu membawa pada hangatnya dekapan.
"Aku pikir telah melukaimu, aku tak ingin melukaimu apalagi membuatmu menangis karena kecewa. Aku hanya ingin menjahilimu agar terasa segarnya kebersamaan kita," ucap Beni mengelus pucuk kepala Ega yang ditutupi jilbab.
"Kak Beni jangan mengkhawatirkan Mas Ivan. Dia hanya masa lalu dan Kak Beni adalah masa depanku. Tentang perasaan Abang Juna, aku tahu dia sangat menyayangiku tapi rasa sayang yang aku ketahui hanya sebatas rasa sayang sebagai sahabat. Abang Juna menganggap aku adiknya sehingga memberikan perhatiannya kepadaku. Semua orang tahu itu, kan? bukan hanya kepada aku saja, pada Nina juga begitu. Jadi tidak boleh cemburu kepada Abang Juna, dia bukan orang jahat. Terus mengenai Lexi, dia hanya beramah tamah." Ega berusaha meyakinkan Suaminya hanya ada dia di hatinya.
"Lagipula Mas Ivan bukan cinta pertamaku tapi Pemuda tampan yang saat itu tidak mungkin di gapai dalam anganpun tidak mungkin," lanjut Ega sembari menatap wajah Beni yang sedang menancapkan dagu pada bahunya.
"Siapa?"
"Namanya Adha, pada saat itu aku sempat menatap wajahnya yang menurutku sangat tampan. Pada saat itu dia tertidur tak sadarkan diri dengan wajah pucat pasi akan tetapi wajah pucatnya itu tidak menutupi wajahnya yang sejatinya tampan. Aku sangat menikmatinya sampai akhirnya aku tersadar bahwa aku tidak boleh kepergok. Aku takut saat itu, karena ketakutanku membuatku melarikan diri menjauh darinya." Ega menceritakan siapa Lelaki yang pertama kali menyentuh hatinya.
Beni mengkerutkan keningnya. Alisnya menyatu tak percaya dengan apa yang di dengar. Cerita Isterinya menggiringnya kembali ke masa lalu.
"Kenapa harus takut?"
"Karena wajahku sangat buluk. Setiap hari aku menikmati sengatan matahari. Selama tiga tahun saat SMP aku pulang pergi berangkat ke Sekolah dengan berjalan Kaki. Pun begitu juga saat SMA, terkadang aku jalan kaki pulangnya. Wajahku dihiasi jerawat yang makin memburuk tampilan wajahku. Ditambah belang, sebagian yang tertutup berwarna cerah sedangkan yang terkena matahari sangatlah hitam pekat. Siapa yang enggak takut, jika tiba-tiba Kak Adha bangun dan mendapati Gadis buruk rupa di sampingnya. Bukannya sadar eh malah pingsan lagi." Ega menjawab kenapa saat kejadian itu Cowok yang di tolongnya tidak menemukan jejaknya.
"Hem, jadi begitu?" Beni mengeratkan pelukannya. Dia mencium pucuk kepala Isterinya mesra.
"Asumsi kamu salah, kenyataannya aku jatuh cinta kepada Gadis itu. Sebelum aku tak sadarkan diri, aku sempat melihat mata indah yang terlihat begitu mengkhawatirkanku. Saat terbangun, aku malah mencari mata indah itu pada setiap orang yang menemuiku tapi nyatanya tak menemukan netra yang sama dengan milik Gadis itu. Hingga akhirnya aku bertemu denganmu dan menemukan netra indah yang ku cari." Beni membeberkan apa yang terjadi pada hatinya saat itu.
"Kak Beni, aku tak menyangka ternyata Lelaki yang bernama Adha menjadi takdirku," ungkap Ega berbinar cinta.
"Aku lebih tak percaya, Gadis bernetra indah yang aku cari adalah Sahabatku sendiri dan juga Mama dari Anisa, anak adopsi kita. Aku sudah menduga sebenarnya hanya saja aku belum menemukan petunjuk dan bukti untuk membenarkannya. Lagipula kamu tidak mengingatkanku. Apa sengaja kamu tidak mengingatku?" Beni juga mengungkapkan rasa syukurnya karena Tuhan telah mempertemukan dengan Gadisnya itu.
"Mana tangan Kak Beni," pinta Ega.
Beni mengulurkan tangannya yang disambut tautan tangannya.
"Lihatlah, warna kita berbeda. Kulitku berwarna sawo matang sedangkan kulit Kak Beni putih banget. Apa menurut Kak Beni? aku enggak bakalan minder," ucap Ega.
"Cantik Kok, indah lebih berwarna," sahut Beni mempererat tautan jarinya yang seakan tak ingin terlepas.
Bersambung.
__ADS_1