
Sepeninggalnya Beni, Ega masuk ke dalam rumah dan Gadis itu mendudukkan dirinya di Sofa yang ada di ruang tamunya.
" Malam ini Kak Beni aneh banget pakai rahasia - rahasia segala, siapa cewek yang dia suka? duh bikin saya puyeng saja, mana dia enggak ngasik tahu lagi." Guman Ega sendiri berbicara sama tembok tidak lama kemudian notifikasi masuk ke handphonenya ternyata itu dari Beni.
📱Saya sudah sampai, jangan begadang cepat tidur sono kalau enggak saya bales besok pagi dengan jitakan juga."
📱Iya bawel ini juga mau tidur eh malah Kak Beni ganggu."
📱 Iya dah mimpi indah, kalau suara Tokek ganggu kamu lagi ambil suara pitanya biar kagak gangguin orang lagi."
" Hahahaha." Ega tertawa membaca kalimat terakhir dari Beni namun dia tidak membalas Ega lebih memilih untuk tidur.
Sementara di seberang sana Beni senyam senyum sendiri, dia meraba jantungnya yang tidak normal. Dia menaruh handphone diatas Nakas setelah dia mengirim pesan ke sahabatnya itu.
" Duh jantungku, kenapa sampai kumat gini sih? Malam ini benar - benar indah hanya sekedar menikmati wajah manisnya saja saya sudah bahagia apalagi jika sampai saya menikmati ciuman pertamanya dia. Oh no tidak, apa sih yang ada dalam pikiran kamu Beni? Mamsa itu Gadis yang belum terjamah dihalalkan dulu baru boleh sentuh - sentuh." Gerutu sisi baik mengingatkan Beni.
" Astaghfirullah, kok lain - lain saja dalam pikiran ini bikin otakku yang masih bersih jadi tercemar pergi sono pikiran kotor dan mesum." Umpat Beni berusaha untuk mengusir segala pikiran negatifnya. Beni akan berjanji untuk menjaga gadis manisnya itu dan takkan menyentuhnya sebelum halal untuknya.
Beni menatap bingkai fhoto yang berisi dirinya, Mamsa dan Anisa sedang tersenyum sumringah menatap kamera.
" Apa bisa kita bersatu dan bersama seperti yang ada dalam bingkai fhoto ini sementara kita terikat oleh komitmen persahabatan yang terlanjur diucapkan." Guman Beni berbicara sendiri sambil tidak lepas memandang bingkai fhoto tersebut setelah puas dia menaruhnya kembali diatas Nakas samping ranjang nya kemudian merebahkan diri siap menyambut mimpi.
Beni benar - benar terlelap seakan tidak ada beban. Entah berapa jam pemuda itu terlelap dalam mimpinya tiba - tiba suara lengkingan handphone nya menyadarkan ia dari tidur nyenyaknya. Dia terbangun dan mencari benda pipihnya itu kemudian menggeser warna hijau dengan malas.
" Hallo, Assalamualaikum."
" Kak Beni tolong saya."
" Siapa ini?"
" Ega Kak."
" Iya, kenapa Ga?"
" Nina Kak, tadi dia nelpon meminta bantuan kepada saya sambil nangis - nangis sepertinya dia lagi ada masalah. Nina ada dijalan XXX Saya mau nyamperin tapi saya takut. Tadi sudah saya hubungi Abang Juna tapi tidak diangkat, Dipta juga terus Mas Rian apalagi dia susah banget, tahu sendiri kalau dihubungi suka diabaikan, tidak ada yang angkat Handphone saya."
" Tunggu di rumah, jangan keluar sebelum saya datang."
Beni mengakhiri panggilannya kemudian bergegas bangkit dari tempat tidurnya. Beni menatap Jam pada dinding kamarnya. Disana terlihat jarum jam menunjukkan pukul 01.00 dini hari.
Beni hendak keluar kamar namun langkahnya terhenti ketika menyadari dia hanya menggunakan boxer dan juga singlet. " Ya ampun bisa pingsan Ega kalau melihat pakaian saya seperti ini." Guman Beni geleng - geleng kepala. Beni segera mengambil Kaos berwarna biru kemudian celana pendeknya berbahan denin setelah selesai dia bergegas ke garasi mengambil motornya kemudian melaju dengan kecepatan sedang keluar dari kompleksnya setelah bertemu jalan raya Beni langsung menancap gasnya. Tidak butuh waktu lama Beni sudah sampai perumahan Ega dan disana Ega sudah siap - siap melajukan motor maticnya.
" Kamu didepan biar saya yang jagain kamu dari belakang." Ucap Beni meminta Ega terlebih dahulu melajukan motornya. Mereka berdua beriringan melajukan motornya, pada saat itu jalanan sudah sepi tidak ada lagi lalu lalang kendaraan seperti Kota besar tidak seperti Kotanya ini yang sepetak.
Lumayan lama mereka berdua sampai pada alamat yang di tuju dan ternyata benar Nina berada didepan sebuah Ruko tertunduk sambil memeluk kedua kakinya.
" Astaghfirullah Nina." Ucap Ega terbelalak tak percaya.
Nina mendongakkan kepala melihat ke sumber suara. Dilihatnya Ega dan Beni mematikan kendaraannya kemudian menghampirinya.
" Apa yang terjadi Nin?" Tanya Ega sambil berjongkok. Nina hanya terdiam menghambur ke pelukan Ega kemudian tangisnya meledak membuat Ega dan Beni saling pandang tak mengerti.
" Sebaiknya kita pulang saja tidak aman disini apalagi tengah malam begini." Ajak Beni
Ega setuju, dia memapah Nina kemudian membawa Nina ke rumahnya yang diikuti Beni dari belakang. Sesampainya di Rumah Ega, Nina diajak masuk ke kamar memintanya untuk istirahat. Nina hanya manut saja karena belum siap untuk berbicara apa yang terjadi sebenarnya. Ega keluar untuk menghampiri Beni yang masih duduk di Berugak.
" Kak Beni, terima kasih karena sudah menemani saya dan saya minta maaf telah mengganggu tidurnya." Ucap Ega merasa tidak enak.
" Tidak apa - apa, kalian berdua itu Sahabat saya sudah sepatutnya saya melindungi kalian." Jawab Beni terdengar tulus.
" Iya dah saya balek, nanti dikira apa - apa lagi malam - malam saya masih disini." Pamit Beni meninggalkan Ega diiringi balasan salam dari Ega.
Ega masuk ke kamarnya, dilihatnya Nina sudah tertidur lelap dengan keadaan sungguh memprihatinkan. Wajahnya lebam dan kedua tangannya juga memar - memar bahkan dalam tidur pun gadis cantik itu sesenggukan sepertinya sudah lelah menangis.
" Apa yang terjadi dengan dirimu Nina? Apa nasip buruk sedang menghampirimu?" Batin Ega sambil menaikkan kembali selimutnya. Ega merebahkan diri di samping Nina kemudian melanjutkan mimpinya yang terpotong.
Subuhpun menjelang Ega sudah bangun dari tidurnya dia bergegas membersihkan diri kemudian membangunkan Nina setelah dia selesai mandi. Nina terbangun dari tidur kemudian melangkah kearah kamar mandi setelah merasa bersih kedua gadis itu melaksanakan Shalat Subuhnya.
Paginya mereka sibuk memasak di dapur tanpa ada pembicaraan. Ega masih menunggu Nina bercerita dengan apa yang dialaminya semalam. Setelah selesai memasak Ega dan Nina menata hasil masakan di meja lalu sarapan tanpa pembicaraan satu sama lainnya hanya dentingan sendok beradu dengan piring yang terdengar.
" Nin sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Ega tidak tahan lagi menunggu Nina berbicara saat mereka sudah selesai makan.
Nina menunduk kemudian bulir - bulir bening merembes keluar dari mata indahnya.
" Saya diperkosa Ga." Lirih Ega disela - sela tangisnya.
Jeddeeeeeeer
Bagaikan disambar petir, ****** Beliung dan di guncang gempa dengan skala 9 richter serta dihantam Tsunami di pagi hari begitu mendengarkan apa yang diucapkan Nina.
" Astaghfirullah, siapa pelakunya Nina?" Tanya Ega kemudian setelah berhasil mendamaikan hatinya yang terkejut.
__ADS_1
" Soni pacar saya, saya berusaha memberontak tapi tenaga saya tidak mampu melawan kekuatan Setan yang ada pada tubuhnya. Tidak puas merenggut kesucian saya laki - laki be**t itu juga menyiksa saya. Saya berhasil kabur ketika dia lelah melakukan itu pada saya." Cerita Nina terisak - isak.
" Hikz, hikz, hikz." Nina meledakkan suara tangisnya. Ega merangkulnya sambil menepuk bahunya memberikan semangat dan kekuatan.
" Laki - laki yang bernama Soni itu harus mempertanggungjawabkan apa yang diperbuatnya. Kita tidak boleh membiarkannya berkiaran hanya akan menambah korban baru." Ucap Ega dengan amarah yang membuncah.
" Kamu setuju kan memberikan pelajaran kepada laki - laki be**t itu." Sambung Ega mengarahkan wajahnya yang emosi ke wajah Nina.
" Saya takut Ga, Soni anak orang berpengaruh disini bagaimana kalau kita tidak bisa melawannya." Lirih Nina tidak yakin apalagi dirinya hanyalah rakyat jelata yang tak berpendidikan tinggi. Hanya akan menjadi permainan mereka yang beruang.
" Tenang Nin, kamu lupa kalau kita punya sahabat - sahabat yang tangguh dan satu lagi kita punya Om Candra Papanya Dipta. Om Candra pasti akan mengusut tuntas kasus ini." Ucap Ega begitu yakinnya.
Nina menggelengkan kepalanya menolak.
" Ga, saya malu jika kejadian yang saya alami sampai terdengar di telinga masyarakat apalagi orang tua saya. Saya telah membuat mereka malu. Saya telah melemparkan kotoran ke muka mereka berdua." Ucap Nina terisak - isak.
" Jangan takut Nin, kita akan bergerak dalam senyap. Kamu percayakan sama sahabatmu ya? Kamu hanya setuju saja biarkan kami bergerak." Ucap Ega meyakinkan sahabatnya yang sudah bersama - sama dari kecil.
Nina menganggukkan Kepalanya tanda setuju setelah Ega berusaha meyakinkannya. Dia juga ingin mendapatkan keadilan dari apa yang dilakukan laki - laki bersama Soni itu.
📱Kumpul sekarang tidak ada alasan kalian semua untuk menolaknya. Satu lagi kemana kalian ketika saya hubungi, apa kalian tidak tahu kalau itu sangatlah urgent, urgent, urgent. Omelan saya ini tertuju untuk kalian semua kecuali Beni dan Evan."
Send
Ega mengirim pesan itu ke group agar dibaca oleh semua sahabatnya.
📱Wadowh Ega ngamuk, Banteng betina lagi emosi sepertinya ini." Dipta.
Teman - teman yang lain tidak berkomentar karena mungkin saja sudah buru - buru menuju kediaman Ega.
Satu persatu temannya menampakkan batang hidungnya hanya Beni saja yang belum kelihatan.
" Ada apa sih?" Dipta mulai membeo sambil menguap menahan rasa ngantuknya.
" Kita tunggu Kak Beni baru kita bahas." Jawab Ega masih dalam mode kesal.
" Kenapa ante Nin? kok wajahnya lebam gitu terus mata kamu bengkak juga?" Tanya Rian yang memperhatikan wajah Nina.
Spontan Juna dan Dipta mengarahkan matanya ke wajah Nina karena dia tadi tidak begitu memperhatikannya.
" Itu sebabnya kenapa saya menghubungi kalian tadi malam tapi tidak ada satupun yang angkat handphone kecuali Beni. Nina semalam kena musibah dan sendirian di Ruko jalan XXX. Saya minta bantuan kalian namun ternyata kalian tidak ada yang mengangkat handphone. Kemana kalian ketika Nina terkena musibah." Omel Ega terdengar kesal. Tidak ada yang berani bicara jika Gadis Manis itu berada dalam mode emosi.
" Assalamualaikum." Tiba - tiba Beni datang menyelamatkan mereka dari omelan Banteng Betina.
" Tante Ega, Anisa kangen makanya ikut sama Papa." Sahut Bocah berumur lima tahun itu sambil nyengir.
" Sini sayang, Tante Ega juga kangen." Pinta Ega agar Anisa menghampirinya. Tanpa ragu - ragu Anisa menghampiri Ega kemudian mendudukkan diri dalam pangkuan Ega.
" Hai Anisa, apa khabar?" Sambut Juna sambil tersenyum lembut kepada bocah perempuan itu.
" Alhamdulillah baik Om Jun." Balas Anisa masih asyik bertengger di pangkuan Ega.
" Salim dong sama Om Juna dan lainnya. Itu kan ada Om Rian, Om Dipta sama Tante Nina." Ucap Ega mengajarkan kesopanan kepada Anisa.
" Hehehe, lupa." Ucap Anisa cengengesan. Lalu Bocah cantik itu beranjak menghampiri satu persatu Laki - laki Dewasa yang ada dihadapannya.
Melihat interaksi kedua Wanita beda generasi itu membuat Beni tersenyum tipis, Papa Anisa itu berusaha mendamaikan jantungnya yang kembali kumat ketika berada di dekat kedua Wanita itu.
" Beni kok malah bengong, sini duduk." Ajak Dipta.
" Maaf ya saya terlambat tadi saya jemput Anisa dulu." Ucap Beni memberitahu alasan keterlambatannya.
" Tidak apa - apa Kok, Ega juga belum bicara apa - apa yang ada cuma ngomel saja." Sahut Juna.
" Untung ada Ante Ben, kalau enggak bengkak nih telinga mendengarkan omelan emak - emak." Sambung Rian.
" Memangnya ada apa sih semalam?" Berlanjut ke Dipta.
" Enggak tahu, saya tadi malam cuma nemenin Ega menjemput Nina. Saya tidak bertanya terus langsung pulang." Jawab Beni sambil mendelikkan bahunya.
" Anisa main - main di Kebun saja ya." Pinta Ega agar memudahkan mereka untuk berbicara.
" Okay Tante." Jawab Anisa sembari berlari kearah kebun.
" Apa yang terjadi?" Tanya Juna penasaran kenapa tiba - tiba mereka dikumpulkan.
Nina hanya menundukkan wajah tidak bisa lagi menahan air matanya.
" Kenapa malah menangis Nin? Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Juna melihat Nina yang hanya bisa menangis.
Ega menarik nafas panjang kemudian menghempaskan dengan kasar saking emosinya.
__ADS_1
" Nina diperkosa semalam."
" Apa?" Ucap keempat laki - laki itu dalam waktu bersamaan saking kagetnya.
" Karena itulah kenapa saya mengajak kalian kumpul. Saya ingin memperjuangkan keadilan untuk Nina dan memberikan pelajaran untuk Laki - laki breng**k bernama Soni itu." Ucap Ega tidak bisa menahan emosinya.
" Okay, saya setuju, dimana rumahnya dan anak siapa biar kita langsung eksekusi." Sambut Dipta geram karena ada yang telah berani mengusik ketenteraman sahabatnya.
" Nin, ante ceritakan saja kronologis kejadiannya terus siapa Soni itu biar kita bisa mencari ide apa yang harus kita lakukan." Ucap Rian meminta Nina menjelaskan kejadian tadi malam yang menimpanya.
Nina masih terdiam belum sanggup untuk berbicara karena terlalu sakit jika dia ingat itu.
" Ceritakan saja Nin, kalau kamu diam tidak ada yang bisa kita lakukan untuk menolong kamu." Juna mendesak Nina agar mau berbicara.
Nina hanya diam karena masih ketakutan dengan apa yang dialaminya. Nina memang memburu dan memacari para Om - Om untuk dijadikan ATM berjalannya namun dia bukan gadis penghibur yang harus menyerahkan tubuhnya dan naasnya tadi malam dia kehilangan kesuciannya yang mati - matian dipertahankannya. Tentu saja kejadian itu membuatnya Shock dan trauma.
" Bicaralah Nin." Beni ikut membuka suaranya agar Gadis itu mau menceritakan segala apa yang dialaminya semalam.
Nina masih diam seribu bahasa hanya suara tangisan yang berhasil diperdengarkan pada telinga teman - temannya yang sedang menunggunya. Gadis itu menghirup nafas beratnya untuk menenangkan diri. Rasa trauma itu menjalari otaknya yang membuatnya tidak mampu berbicara namun dia harus berbicara agar keadilan tercapai. Dengan ragu Nina mulai menceritakan apa yang terjadi semalam secara terperinci. Nina terbata - bata menceritakan tragedi yang menimpanya semalam dalam isak tangisnya. Ega sibuk menenangkan Gadis itu untuk memberikan asupan kekuatan agar Gadis itu mempercayakan segalanya pada sahabat - sahabatnya.
" Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan pada Inak dengan kejadian ini. Sungguh rasanya saya tidak ingin hidup, hikz hikz hikz." Isaknya diakhir dia bercerita.
" Nin, sabar jangan berpikiran pendek seperti itu. kamu harus kuat masih ada saya dan yang lainnya sahabat kamu yang akan senantiasa ada untuk kamu. jangan nangis dan jangan berpikiran seperti itu, kamu harus kuat." Hibur Ega sambil mengelus bahunya memberikannya kekuatan dan rasa aman.
" Kami akan selalu ada untuk kamu Nin jadi sekarang tenanglah." Ucap Juna menenangkan Nina. Juna takut jika Nina melakukan sesuatu diluar kendalinya karena itulah Gadis itu butuh support dan perhatian dari orang terdekatnya tentu saja mereka sebagai orang yang mengaku sahabat. Perkataan Juna dianggukkan oleh semua yang ada disana sebagai dukungan moril untuk Nina agar semangat menghadapi kenyataan pahit yang menimpanya.
" Baiklah kita mulai susun strategi untuk menghukum si Soni itu. Aku Ingin dia dipenjara dalam waktu yang lama." Ucap Dipta terlihat berusaha menahan emosinya.
" Nin, kejadian itu di Vila?" Tanya Rian
" Iya."
" Bagus, di Vila pasti ada CCTV yang merekam kejadian tadi malam dan tentu saja itu bukti penting yang akan menyeret si Soni Soni itu. Kita butuh Evan untuk meretas CCTV itu sebelum bukti menghilang." Sambung Rian terdengar menggebu - gebu.
" Tumben Mas Rian on biasanya off melulu." Ledek Ega yang membuat orang disana terkekeh.
" Jahat kamu, giliran otak ane lagi loading eh diledekin malah jadi bahan tertawaan kalian lagi." Ucap Laki - laki berisi itu sewot.
" Sorry Mas, jangan mukanya dicemberutin entar berkurang kadar kegantengannya terus cewek - cewek yang sudah di koleksi satu persatu hilang melarikan diri karena pudarnya pesona pangeran play boy." Ledek Ega lagi membuat tangan kekar itu mendarat di kepala Ega.
Pletak
" Awww sakit, kira - kira Mas kalau jitaknya." Ega meringis kesakitan. Spontan Beni mengelus kepala Ega yang ditutupi jilbab dengan lembutnya dan dia tahu bagaimana sakitnya kena jitakan dari yang nama Rian karena dia pernah merasakan juga. Perhatian kecil Beni luput dari penglihatan Teman - temannya.
" Ehem." Deheman dari Rian membuat Beni mengalihkan tangannya lantas ke tengkuknya sendiri dengan memasang wajah cengengesan. Semuanya teman - teman tahu bagaimana perhatiannya Beni kepada Ega walaupun hanya sebatas perhatian kecil saja.
" Itu akibatnya tidak sopan sama Masnya, kualat kan!. Kamu juga Ben kenapa mengelus kepala Ega demen kamu ya? Inget komitmen persahabatan kita." Ucap Rian menyemprot kedua Sahabatnya itu.
" Ampun Mas jago, tadi reflek tangan ane karena sadar jitakan Mas Jago itu sakit banget, tangan Ante kan pernah mendarat ke kepala ane." Ucap Beni membela diri jangan sampai teman - temannya menyadari ada sesuatu yang berbeda pada dirinya.
" Oh, bener juga ane sering menjitak kepala ante sampai tuh kepalanya tidak lurus lagi." Ucap Rian terkekeh sedangkan teman - temannya hanya senyum - senyum saja menanggapinya.
" Emang rambut ane kagak lurus kali Mas."
" Kepala maksudnya peyang."
" Dikepala ada rambut peyang itu yang kagak lurus." Sambut Beni mempertahankan argumennya.
" Aok uah aneh, capek ane berdebat sama ante."
" Kalau tidak ingin capek jangan berdebatlah mas." Sambut Beni tersenyum simpul.
" Ini jadi kagak telepon Evan?" Tanya Dipta menengahi perang kata diantara Beni dan Rian.
" Jadi."
" Jadi."
Ucap mereka berdua kompak.
" Nah begitu dong kompak baru adem dengernya." Ucap Juna yang sedari tadi hanya menyimak saja.
Mereka berdua hanya senyum - senyum.
" Bila perlu suruh si Evan itu turun Bukit jangan hanya bertapa saja kerjaannya." Ucap Rian menambahi.
" Turun gunung kali Mas, jangan merusak tatanan bahasa yang sudah dilestarikan." Sahut Beni mengingatkan.
" Suka - Suka ane kenapa jadi Ante yang ngurus daripada Ante tingkah laku Ante itu bisa merusak tatanan komitmen persahabatan yang harus dipertahankan." Ucap Rian.
Plak
__ADS_1
" Kau seakan menampar hatiku Mas."
Bersambung.