
Pagi menjelang, di ruang makan keluarga Angga, mereka sedang menikmati sarapan. Sembari menyantap makanan, mereka mengobrol hal-hal yang ringan. Sesekali terdengar gelak tawa yang berhasil di perbuat oleh Angga. Pria baruh baya itu sangat pandai mencairkan suasana.
“Inaq kalian ini pernah meminta Mamiq untuk berhenti merokok. Mamiq bilang rasa kangen Mamiq kepada kamu dengan rokok ini sama besarnya. Jika Mamiq takut kehilangan kamu maka Mamiq juga takut kehilangan rokok. Anggap saja Rokok itu Madu, suka mau tidak suka harus diterima dengan ikhlas. Dia akan selalu mendampingi Suamimu jika sewaktu-waktu diinginkan.” Angga menuturkan pandangannya terhadap rokok yang sudah terbiasa dinikmatinya. Dia perokok berat sehingga sangat sulit melepaskan diri dari rasa nikmat itu ketika menghirup racunnya.
Namun ada perbedaan sekarang, jika dulu dia selalu membawa sebungkus rokok berwarna hitam dengan merk yang jarang ditemukan. Nah sekarang dia beralih ke Tembakau yang di linting manual. Jadi, kemana-kemana dia membawa lompaq (Dompet tembakau yang terbuat dari anyaman) dan meninggalkan kotak hitam berisi batang rokok produk perusahaan tertentu.
“Inaq, benar begitu?” tanya Beni penasaran. Dia memandang Ibu Mertuanya menunggu jawaban. Terlihat wajah yang semula lembut berubah menjadi cemberut. Sedangkan Angga tertawa meliha raut Isteri yang tak sedap di pandang. Dia sangat menikmati raut cemberut itu. Hanya sedetik setelahnya kembali cantik dan selalu bersahaja. Raut yang selalu lembut meskipun kesulitan datang menghampiri.
Siti Fatimah, Wanita cantik yang rela melepaskan kebahagiaan di tengah keluarga untuk mendampinginya mengabdikan hidup di Desa. Mendampingi seorang Guru yang bertugas mendidik generasi penerus agar mereka bisa meraih masa depan yang indah, baik di dunia dan akherat.
Wanita bersahaja ini tak pernah mengeluh meskipun rasa sulit kerab kali dia hadapi. Senantiasa menemaninya dengan sabar meskipun derita tak kunjung beranjak pergi kala itu. Senyum senantiasa menghiasi meskipun air mata tergenang dipelupuk mata. Sesulit apapun hidup, rasa syukur itu tak pudar dalam hati masing-masing. Kini mereka berdua sedang menuai kesabaran itu. Hidup sederhana diliputi kebahagiaan dengan penuh rasa syukur di dalamnya. Sepasang Suami Isteri itu sudah berhasil mengantarkan anak-anak menuju kesuksesan dan menempatkan diri disana.
“Iya. Mamiq kalian keras kepala, susah lepasnya. Ini demi kebaikannya, tapi Mamiq tak ingin menerima kebaikan. Padahal ini bukti rasa sayang Inaq kepada Mamiq kalian. Inaq ingin melihat Mamiq sehat tak mengalami sakit tapi apa daya, rupanya racun itu lebih memikat daripada nasehat. Ngalah aja bisanya, kalau sudah batuk baru mengerti.” Siti Fatimah menjawab pertanyaan Beni dengan keluh kesahnya. Dia terlihat lelah menasehati Suaminya dan nasehat itu selalu saja diabaikan. Terlihat Siti Fatimah menghela nafas berusaha melepaskan beban pikirannya.
“Jangan berat-berat mikirnya sayang! Kerutan di kening bertambah sensual entar,” sahut Angga sembari mengelus pucuk kepala yang tertutup itu. Dia terkekeh menyaksikan raut cemberut. Mata itu selalu memandangnya dengan lekat dan memancarkan kelembutan yang tak memudar.
“Mamiq, bikin malu Inaq saja,” sahutnya tersipu setelah kecemberutan itu berhasil ditaklukkan.
Beni dan Ega saling pandang, sejurus kemudian terkekeh melihat kemesraan yang ditampilkan pasangan paruh baya itu.
“Saya cemburu,” ucap Beni memutuskan kemesraan di antara mereka berdua.
“Cemburu kenapa?” tanya Angga mengalihkan perhatian kepada Menantunya itu.
“Saya juga ingin seperti Mamiq dan Inaq. Selalu hidup rukun dan bersama-sama, tak pernah lelah memegang kemesraan itu hingga tua,” jawab Beni serius. Setelah menjawab dia memandang Ega penuh binar cinta, terlihat intens tak teralihkan. Sangat lekat.
“Saling mengerti dan berkata jujurlah. Jika rasa hambar itu terjadi maka ingatlah saat masa manis dan pahit dulu. Setelah itu cobalah mencari tahu apa yang membuat rasa itu terasa hambar. Jika bosan maka ingatlah hal-hal menyenangkan yang pernah kalian lewati. Cari tahu kembali apa penyebab dari rasa bosan itu, maka perbaikilah dan berusahalah untuk mengingat tujuan dari kebersamaan itu. Jika untuk ibadah maka tidak ada kata bosan, hambar ataupun tidak cocok. Justru rasa manis akan kian terasa seiring kebersamaan itu.” Angga menuturkan apa yang pernah mereka lewati dan seperti apa mereka menyikapi rasa sulit itu.
“Kebersamaan itu akan tetap terajut jika keduanya saling menginginkannya. Untuk menyamakan keinginan tentu diikat oleh komitmen bersama yang didasari oleh cinta. Kalian mengerti apa maksudnya, kan?” Angga melanjutkan kalimat panjangnya.
Beni dan Ega mengangguk tanda faham. Selesai mereka sarapan yang sebenarnya sudah usai beberapa menit lalu. Terlalu asyik mengobrol sehingga tak ada satupun beranjak dari Meja makan.
Siti Fatimah menyudahi dengan berpamitan. Dia tak ingin larut dalam obrolan yang tak putus jika tak mengakhiri. Bisa-bisa dia tidak mengerjakan pekerjaan lainnya. Ega ikut berpamitan untuk membantu Ibunya membersihkan peralatan yang digunakan. Sedangkan Angga dan Beni melanjutkan obrolan.
Setelah semua selesai, Ega mengemas barang-barang yang akan mereka bawa. Pagi ini mereka akan kembali ke Mentaram. Mereka memutuskan untuk mempersingkat waktu bulan madunya dan memilih melanjutkan penyelidikan.
“Hati-hati ya Nak. Kalau sudah sampai rumah segera hubungi Inaq,” ucap Siti Fatimah melepaskan anak dan Menantunya.
“Nggih Inaq,” jawab Ega yang dianggukkan oleh Beni.
Setelah bersalaman, Pasangan itu masuk ke dalam Mobil. Selanjutnya dengan perlahan Mobil bergerak meninggalkan kediaman Angga dengan diiringi lambaian tangan. Entah kapan anak dan Menantunya itu kembali mengunjunginya. Yang jelas rasa rindu akan mempertemukan mereka kembali dalam waktu dekat ataupun lama.
***
Beberapa jam dalam perjalanan, menjelang Dzuhur pada akhirnya pasangan itu sampai di rumah yang mereka tempati. Mereka memilih beristirahat sejenak. Nanti sore, rencananya akan mengunjungi orang tua Beni sekaligus mengantar buah tangan yang di titip oleh orang tua Ega.
Sore menjelang, Beni dan Ega mengunjungi kediaman Hardian. Tentu kehadiran mereka berdua disambut oleh Anisa yang berteriak histeris. Dia sangat bahagia menyambut Pasa dan Mansanya setelah beberapa hari tak bertemu.
"Mamsa, Anisa kangen," ucap Anisa sambil tersenyum sumringah.
Ega lantas berjongkok lalu memeluk tubuh mungil itu dengan erat. Tak lupa dia mengelus rambut yang menjuntai hingga sebahu.
__ADS_1
"Anisa sehat-sehat aja, kan? enggak ngerepotin Oma dan Saik Siti?" tanya Ega menatap Putrinya itu setelah melepaskan rangkulan.
"Tidak Ma, Anisa anak baik," sahut Anisa. Senyum itu tak pernah memudar dari wajah cantiknya.
"Alhamdulillah, bagaimana dengan Sekolahnya? tidak ada masalah?"
"Tidak ada Ma, Mamanya Anggi juga sudah tidak melarang Anggi berteman dengan Anisa." Anisa menuturkan perubahan Santi yang tak melarang Putrinya berteman dengan Anisa.
Ega tersenyum, dia sudah berbicara dengan Ibu Anggi bernama Santi. Dia berbicara dari hati ke hati sebagai seorang Wanita dan Ibu. Ega meluruskan kesalah fahaman yang mungkin saja meracuni Otak Wanita itu. Salah satu cara menghilangkan kesalah fahaman itu dengan menceritakan musibah yang dialami Aulia dan Anisa. Dimana Penyakit yang diderita membuatnya menyerah dan Dokter tidak mampu menyelamatkannya. Itu sudah menjadi takdir Aulia meninggalkan buah hatinya. Dan menyerahkan buah hatinya kepada Beni dan Ega untuk di rawat. Menjadikan Anisa sebagai anaknya dan pada akhirnya di jadikan Cucu di keluarga Banu Hardian. Cerita sedih yang menimpa Anisa membuat Santi menjadi tersentuh. Mulai saat itu dia tidak lagi menjauhkan Anggi dari Anisa. Kini mereka berteman dan menjalani kehidupan yang nyaman dan bahagia penuh tawa.
"Pasa kok enggak disambut, sih? Papa cemburu, nih?" ucap Beni yang sudah berada di samping mereka berdua.
"Papa, maaf." Anisa beralih mendaratkan tubuhnya kepada Beni yang sudah merentangkan tangannya.
"Wangi sekali," ucap Beni sembari mengelus rambut itu penuh kasih sayang. Dia terlihat sangat menyayangi Gadis kecil itu, layaknya anak kandungnya.
"Kalian kok malah asyik di depan Pintu, ayok ngobrolnya di dalam." Citra menyudahi keharuan yang dirasakan Anisa. Dia menghampiri Ega, dengan cepat Wanita itu mengambil tangan Ibu Mertuanya kemudian menciumnya dengan takzim. Setelahnya mereka tenggelam dalam obrolan.
"Salam dari Inaq dan Mamiq, Umi," ucap Ega saat mereka berkumpul di Meja makan. Saat ini mereka sedang menikmati makan malam mereka.
"Wa'alaikumussalam. Bagaimana khabar Inaq dan Mamiq kalian?" tanya Citra.
"Alhamdulillah sehat, Mamiq dan Inaq minta maaf belum bisa berkunjung ke sini," sahut Ega. Setelah itu dia menyuap makanannya.
"Tidak apa-apa, apa kegiatan sekarang? saya dengar Mamiq sudah Pensiun?" tanya Banu Hardian.
"Mamiq bertani, setelah Pensiun memilih mengelola sawah untuk mengisi waktu." Ega menceritakan kegiatan orang tuanya yang sederhana jauh dari kemewahan.
Tidak dengan keluarga Beni, mereka berasal dari keluarga kaya dan tentu dikelilingi kemewahan. Apapun yang mereka inginkan dengan mudah mereka dapatkan, tidak harus bekerja keras dan membanting tulang.
Ega, sebagai Isteri seorang Beni Hardian merasa hidupnya sangat beruntung. Dia sangat bersyukur diterima oleh keluarga kaya raya itu. Menjadi Menantu yang dihargai dan disayangi oleh mereka.
"Semua ini hanya titipan, Pemiliknya tetap Allah. Abi sangat bersyukur diberi kepercayaan untuk mendapatkan harta ini. Tapi yang lebih membuat Abi bahagia karena mendapatkan nikmat iman islam dan kesehatan. Semoga harta yang keluarga Abi miliki tidak menjadikan kita semuanya sombong seperti Qarun. Semoga apa yang dimiliki Abi merupakan keberkahan buat keluarga Abi." Kala itu Banu Hardian pernah mengucapkan kalimat panjang penuh makna. Kalimat itu diamini oleh yang mendengarkannya termasuk Ega. Wanita itu sangat terharu, rasa syukurnya menyelimuti rongga dada. Dan berharap hingga akhir dia akan tetap menjadi bagian keluarga Hardian, menjadi Isteri seorang Beni hingga maut memisahkan mereka. Harapan yang selalu terucap dalam doa di akhiri Aamiin.
Selesai makan malam, mereka kembali ke kegiatan masing-masing. Banu Hardian beranjak ke arah ruang kerja disisinya ada Beni yang mengikuti langkahnya. Dia meminta Beni untuk menemaninya di Ruang kerja. Ada yang akan mereka bahas menyangkut perusahaan. Sedangkan Citra, dia memilih menuju kamarnya. Sementara Ega, Wanita itu membantu Bibi Siti membersihkan Meja makan dan peralatan kotor yang mereka pergunakan tadi. Meskipun mendapatkan larangan dari Bibi Siti, Ega tetap keukeuh dan dengan senang hati membantu ART keluarga Hardian itu.
Setelah selesai, baru menghampiri kamar Citra untuk menghantarkan Susu yang biasa di minum sebelum Ibu Mertuanya itu tidur.
Tok tok tok
"Assalamu'alaikum." Ega membuka Pintu setelah mendapatkan balasan dari Ibu Mertuanya. Dia melangkah dengan pelan sembari membawa nampan berisi segelas Susu. Seulas senyum hangat menyambut kedatangan Ega.
"Umi, Ega bawakan Susu," ucap Ega sembari menaruh nampan di atas Nakas. Dia mengambil kursi lalu mendudukkan diri pada kursi itu persis di samping Ranjang. Citra yang asyik dengan Ponselnya mengalihkan perhatiannya kepada Ega. Dia menaruh benda itu agar tak menganggu pembicaraan mereka.
"Mau minum sekarang Umi, semumpung masih hangat," ucap Ega hendak meraih gelas itu.
"Nanti saja sayang, Umi bisa sendiri. Memangnya Umi sudah sepuh, ya? sehingga tidak bisa minum sendiri," sahut Citra mengulas senyum.
"Bukan begitu Umi. Umi masih muda cantik pula, awet banget malah ngalahin awetnya para Artis-artis," ucap Ega memuji Ibu Mertuanya itu. Dia tersenyum tulus tak melepaskan perhatiannya kepada Ibu Kandung dari Beni Hardian.
hahahahaha
__ADS_1
Citra tertawa hingga matanya berair. Dia merasa lucu dengan apa yang diucapkan oleh Menantunya. Dia menatap Ega yang tak lepas memandang dirinya tatkala berbicara.
"Pantas saja bocah itu tergila-gila, matanya sangat indah," batin Citra menilai Menantunya.
"Nak Ega bisa saja, memfitnah Umi ya?" sahut Citra setelah menghentikan tawanya.
Ega menggaruk tengkuk untuk menenangkan dirinya yang salah tingkah. Dia meyakinkan Mertuanya itu, bahwa apa yang diucapkan bukanlah sebuah fitnahan melainkan kebenarannya. "Ini fakta Umi."
Citra kembali terkekeh mendengarkan pujian selanjutnya. Mereka tenggelam dalam obrolan hingga tak menyadari malam beranjak kian larut.
"Rupanya kamu disini?" Beni meraih pinggang Ega, merangkulnya lalu melepaskan Isterinya dari penguasaan Uminya.
"Umi, jangan sandera Isteriku," ucap Beni berkelakar yang ditanggapi kekehan dan geleng kepala dari Citra.
"Sudah sana, ikhtiar biar Umi cepat menimang Cucu," sahut Citra kemudian.
"Iya Umi, ini mau beraksi," sahut Beni diiringi kerlingan mata, selanjutnya dengan tak malu mengecup bibir merekah itu di hadapan Wanita paruh baya yang telah melahirkannya.
Citra melotot melihat tingkah Putranya. Dia tahu Beni sengaja memperlihatkan hal itu hanya untuk mengerjain dirinya.
"Beni Hardian Adha, jangan berbuat tak senonoh di kamar Umi. Mana Abi, suruh cepat ke sini," teriak Citra serius selanjutnya diiringi tawa membahana.
"Abiiiii, cepetan ke kamar. Umi enggak tahan ingin di Kiss tuh!" Beni berteriak memanggil Banu Hardian yang masih berada di ruang kerjanya. Suaranya menggema dari Lantai dua hingga terdengar ke Lantai bawah tempat keberadaan Banu Hardian.
"Enggak sopan, sana pergi." Citra melempari Beni dengan bantal. Dengan cepat Pria muda itu melarikan diri sembari menutup Pintu. Ega yang menyaksikan tingkah konyol itu hanya tersenyum kikuh. Dia mencubit pinggang Beni membuat Pria itu berteriak histeris.
"Sayang, kok nyubit sih?"
"Membantu Umi membalas ketidak sopanan Kak Beni," sahut Ega diiringi kerlingan mata. Dia kembali melancarkan aksinya mencubit dan menggelitik Beni. Setelah puas, dia berlari menuju kamar Beni dengan tak lupa menggoda Prianya itu.
"Egaaaa, awas! Suamimu dendam orangnya, akan aku hukum hingga pagi buta," sahut Beni melangkah dengan cepat menuju kamar yang mungkin saja sudah di kunci dari dalam untuk mengamankan diri.
hahahhaha
Terdengar tawa membahana dari dalam kamar, setelah redam Ega berbisik membuat Beni kian tergelitik.
"Silahkan saja kalau bisa, aku jabanin hingga pagi buta."
Sementara itu, Banu Hardian menghentikan fokusnya pada dokumen-dokumen. Mendengarkan keributan yang dilancarkan oleh Isteri dan Putranya membuatnya penasaran. Dia sempat menangkap teriakan Beni yang membuatnya tersenyum geli. Dengan langkah cepat keluar dari ruang kerja kemudian menyusuri tangga demi tangga yang menghubungkannya dengan pujaan hati.
"Sayang, katanya mau di kiss," ucap Banu setelah berhasil masuk dan menemukan Isterinya tengah berbaring.
Wanita itu tersipu malu, dia menggelengkan Kepala membantah apa yang diucapkan Putranya. Banu merangkak menuju Ranjang kemudian merebahkan tubuhnya di samping Isterinya. Dengan gerakan lembut dia menyapu bibir sensual itu. Citra tak menolak, dia meladeni kecupan yang semakin liar saja.
"Sayang, meskipun kita sudah tua. Kemesraan tetaplah kita jaga, bagaimana? apa mau lagi?"
"Aku malu."
Tingkah itu membuat Banu Hardian menggila. Dia merengkuh tubuh Isterinya untuk memadu kasih. Mereka berharap kebersamaan itu tak lekang oleh waktu hingga mereka kembali kepada-NYA bersama-sama.
***
__ADS_1
"Ampuuun."
Bersambung