
Ega sangat geram melihat kondisi Suaminya. Kemarahan memuncak karena tak tega melihat Beni yang terlihat tak berdaya. Tega sekali Pria tiruan itu membuat Beni kehilangan dirinya.
“Kak Beni, ini aku Ega Isteri kamu,” ucap Ega sembari menepuk Pipinya secara lembut berusaha untuk membangunkan Beni agar dia lekas sadar. Dia kemudian melepaskan lakban yang melekat pada mulutnya. Membuka tali yang mengikat tangan dan juga kakinya. Saking kangennya membuat Ega lupa membebaskan Beni terlebih dahulu. Dia malah mendekap sangat erat meluapkan segala kekhawatiran yang ditahannya selama ini. Bodohnya dia lebih mementingkan perasaannya dari pada akalnya.
Setelah semuanya dilepaskan, Ega kembali menepuk pipi Beni secara pelan, berharap usahanya membuat Beni tersadar.
“Ega!” Pada akhirnya terdengar suara memanggilnya setelah cukup lama Wanita itu mengembalikan kesadaran Suaminya. Bahkan dia membisikkan Syahadat dan beberapa ayat suci Alquran agar Suaminya segera melepaskan diri dari pengaruh obat terku**k itu.
‘Iya sayang, ini aku,” sahut Ega kembali memeluk tubuh Suaminya. Dia menumpahkan air mata untuk menunjukkan kelegaannya. Baru saja sehari semalam dia tidak bertemu dengan Suaminya. Rasanya dia tidak sanggup kehilangannya, jika dia ingat betapa cemasnya dia.
“Alhamdulillah kamu datang Ga! Kak Beni yakin kamu pasti akan datang dan menyadari bahwa orang yang bersama kamu adalah bukan aku,” ucap Beni terbata-bata. Dia belum sadar sepenuhnya. Matanya masih sayu dengan tubuh sangat lemas seperti kehilangan tenaga. Sungguh dahsyat obat itu membuat Beni tidak berdaya seperti ini.
“Alhamdulillah, tentu aku sangat mengenal Suamiku sekalipun dia berubah wajah,” sahut Ega. Dia tersenyum kemudian menyentuh bibir Suaminya dengan lembut. Rindu, membuat sentuhan itu kian terasa menggairahkan.
“Aaaaah, apa kalian lupa ada anak kecil disini. Lega sih lega tapi kira-kira dong,” ucap Dipta membuyarkan kemesraan yang dilakukan sepasang kekasih halal itu. Ivan lebih memilih memalingkan wajahnya. Ada rasa cemburu hinggap di hatinya meskipun dia tahu mereka berhak untuk melakukannya. Evan yang berada di samping Ivan menepuk bahunya memberikan kekuatan dengan sorot mata teduh kemudian menganggukkan kepalanya.
Ega merasa malu, dia melepaskan diri. Baru saja menjelajah rasa tapi merelakan nikmat itu tak tuntas saat celotehan dari Sahabatnya menggema. Dia juga yang tak ingat kalau teman-temannya memperhatikannya.
“Ante tidak apa-apa Ben, bisa berjalan tidak?” tanya Rian menyelamatkan Pasangan Suami Isteri itu dari rasa malu.
“Badan rasa lemas dan remuk Mas Rian, rasanya aku tidak memiliki tulang,” sahut Beni tidak mampu menggerakkan tubuh barang sesenti pun.
“Iya sudah kita papah,” sahut Rian menghampiri Beni dan Ega. Dia bersama Dipta membantu Beni untuk berdiri lalu membawanya keluar dari Gudang sempit itu.
“Kita jalankan rencananya sekarang,” ucap Ega setelah Beni berhasil di bawa ke tempat yang lapang.
“Apa yang harus saya lakukan?” tanya Ivan serius.
“Mas Ivan hubungi Beni palsu dan katakan kepadanya bahwa telah melaksanakan perintahnya melenyapkan Beni. Terus bilang juga identitas Beni telah diganti dengan identitas lain selanjutkan wajah Beni sudah di buat hancur sehingga Polisi tidak akan dapat mengidentifikasi jika ditemukan. Dengan identitas palsu itu, Beni palsu akan aman jika terungkap.”
__ADS_1
Ega menjelaskan rencananya. Sebelum itu, mereka juga membuat Vidio siaran langsung saat Beni di eksekusi. Mereka membuat Gudang terbakar memperlihatkan Beni terikat disana dan tidak bisa melepaskan diri. Padahal yang terlihat itu adalah Manekin yang di dapatkan dari sebuah Toko tidak jauh dari tempat itu. Tentu Dipta yang mencuri satu buah Manekin dengan meninggalkan sejumlah uang sebagai bayaran. Tidak lupa Manakin itu didandani dengan menggunakan baju dan Celana yang digunakan Beni. Selanjutnya mereka membuat lubang untuk menguburkan Manekin yang sudah hangus terbakar seolah-olah mengubur Beni. Sebelumnya terlebih dahulu memperlihatkan wajah Beni yang asli dengan wajah gosong dan juga melepuh.
Mereka sangat cerdik membuat siasat seolah-olah benar Ivan melakukannya. Itu merupakan konspirasi bersama bertujuan untuk membongkar siapa dibalik wajah Beni yang kini sedang terlihat bahagia mengetahui hal itu.
[Bagus Ivan, pada akhirnya kamu mengambil keputusan yang tepat. Saya akan segera menikahi Anita dengan identitas sebagai Beni Hardian Adha. Dia akan menjadi Menantu keluarga Banu Hardian dan anak yang di kandungnya akan menjadi cucu satu-satunya yang akan mewarisi perusahaan]
[Tepati janji kamu Lexi]
[Tentu, saya akan memastikan Anita akan menjadi Menantu Banu Hardian sedangkan Ega, dia tetap akan menjadi Isteri tercinta dengan status tidak memiliki anak. Akan saya buat Beni tidak memiliki keturunan dari Ega sehingga keluarga Hardian tidak memiliki keturunan sama sekali. Jika dia mengandung anak Beni, akan saya lenyapkan seperti saya melenyapkan Bapaknya. Sekarang kamu puas, kan Ivan?]
[Iya, saya tunggu hasilnya]
[Gampang, sekarang tidak ada penghalang jadi apapun yang kamu inginkan dengan gampang saya penuhi]
Ivan mematikan Vidio call itu. Dia sedikit lega karena telah berhasil melaksanakan rencana mereka. Untung saja Beni palsu mempercayainya dan tidak mencurigai eksekusi palsu itu. Mudah saja melawan Beni palsu dengan melakukan pembunuhan palsu juga kepada Beni Hardian Adha. Ternyata mudah sekali mengelabui orang di balik wajah Beni itu.
Mendengar perkataan Beni palsu membuat orang yang mendengarkannya tersulut api amarah. Mereka tidak menyangka Pria itu tidak memiliki hati nurani. Hatinya benar-benar dikuasai oleh nafsu dan sifatnya lebih-lebih dari binat**g. Entahlah, sifat buruk apa yang layak untuk dianugerahkan kepadanya.
Mereka mengangguk, Ega memberikan sejumlah uang kepada orang-orang Ivan yang bersedia membantu dan membungkam mulut mereka. Dia juga memperingatkan Ivan agar tidak terlibat lagi dalam kejahatan jika tidak ingin di jebloskan ke Penjara. Ivan menyetujui dan berjanji untuk menjauhkan diri dari hal itu.
Ega membawa Beni ke rumah sakit bersama ketiga temannya. Esok harinya mereka akan melanjutkan rencana selanjutnya. Ega akan berakting menjadi Isteri Beni palsu yang sebenarnya dan membongkarnya pada waktu yang tepat. Mereka ingin tahu apa yang akan dilakukan Beni palsu itu selama menikmati hidupnya menjadi Beni.
Sesampainya di rumah sakit, Beni di tempatkan pada ruang khusus dan memastikan identitasnya tidak terlacak dan benar-benar terkunci. Tentu dengan aksesnya sebagai Beni Hardian Adha dan juga akses dari Rian sehingga memudahkan mereka menyembunyikan Beni. Beni akan melakukan penyamaran untuk mendukung rencana yang akan mereka lakukan.
“Kamu istirahat Ben, kita akan pulang sepertinya sudah tengah malam ini,” ucap Dipta berusaha menahan kantuknya.
“Terima kasih semuanya,” ucap Beni tulus.
“Iya sama-sama,” sahut mereka secara serempak.
__ADS_1
“Oh ya kemana Juna?” tanya Beni begitu menyadari Juna tidak ikut membantu membebaskan dirinya.
“Juna ke luar kota, dia ada perjalanan bisnis. Sibuk banget dia sehingga tidak dapat dihubungi.” Dipta menjawab dengan tidak menceritakan kecurigaan Ega bahwa Juna-lah yang sedang mereka hadapi.
‘Oh gitu, iya sudah kalian hati-hati,” ucap Beni berpesan.
“Pasti,” jawab Evan diiringi senyum lelahnya.
“Yoi,” jawab Dipta diakhiri dengan menutup mulutnya berusaha menahan kantuk.
“Sebaiknya, kalian menginap di rumah ane saja semumpung paling dekat. Tidak mungkin ke rumah Ega untuk mengambil kendaraan kalian,” usul Rian yang disetujui oleh kedua temannya.
Mereka berjalan beriringan keluar dari ruang rawat inap Beni setelah berpamitan dan menerima salam.
“Ega, aku lega. Apa Beni palsu itu berhasil menyentuhmu?” tanya Beni serius.
‘Kalau dia berhasil menyentuhku apa yang akan Kak Beni lakukan?” tanya Ega menggoda Suaminya.
“Akan aku potong tangannya bila perlu burungnya sekalian sehingga tak merasakan nikm*tnya menikmati Kue Apem,” sahut Beni serius. Terbentuk kecemburuan pada sepasang mata teduh miliknya.
“Itulah bedanya dia dengan diri Kak Beni. Aku bisa melihat kecemburuan di kedua mata Kak Beni sedangkan dia aku tidak melihat apapun. Sejak awal aku bertemu, aku merasakan Kak Beni berbeda mulai dari warna kulit dan aroma tubuh serta bentuk tubuhnya. Menyadari itu, sebisa mungkin aku menghindar secara halus.” Ega menjelaskan agar Suaminya itu lega.
“Hebat, aku tidak menyangka kamu ternyata sangat mengenalku sayang,” sahut Beni meraih tubuh itu lalu memeluknya erat.
“Aku sangat khawatir,” lanjutnya.
‘Aku juga,” balas Ega.
“Alhamdulillah, sekarang kita sudah terlepas dari ikatan yang memisahkan kita.”
__ADS_1
Ega mengangguk, lalu mengajak Beni untuk istirahat. Ega akan mengumpulkan tenaga malam ini agar bisa berakting dengan sempurna menghadapi Beni palsu.
Bersambung