Sahabat, Only You.

Sahabat, Only You.
Berpura-pura.


__ADS_3

"Semoga ini tidak menjadi kenyataan," batin Ega berdoa.


Ega memasang wajah terkejut dan tidak percaya. Dia mengarahkan perhatiannya pada Beni yang masih menunduk memperlihatkan rasa bersalahnya.


Ega berpura-pura menarik nafasnya yang terasa berat.


Sementara Banu dan Citra masih terdiam. Mungkin saja saat ini mereka berdua masih syok dengan apa yang terjadi malam ini. Banu menatap wajah menantunya dengan menunjukkan rasa bersalah. Pun begitu dengan Citra yang terlihat sedih dengan apa yang dialami oleh Menantunya itu.


Di poligami siapa yang sanggup? meskipun itu di perbolehkan dalam Agama. Jika ikhlas menerimanya akan mendapatkan imbalan Syurga. Ega merasa dirinya bukanlah seorang Wanita yang imannya seperti para Umul Mukminin. Imannya sangat tipis dan hatinya sangat rapuh, mudah saja terluka jika Pria yang menjadi Suaminya akan mendua dan berbagi cinta.


Jelas saja hatinya menolak jika Suaminya menikah lagi. Dia lebih baik diceraikan dan hidup seorang diri. Tidak sanggup rasanya untuk berbagi apalagi berpura-pura ikhlas. Biarlah dia tidak mendapatkan Bendera Siti Fatimah seperti yang dikatakan orang-orang. Daripada harus berpura-pura menerima tapi hatinya sangat tersiksa. Bukan Syurga yang didapatkan tapi mungkin saja karena hatinya yang terkotori akan membawanya ke Neraka. Lebih baik melepaskan orang tercinta untuk bersama orang lain tanpa amarah. Syurga itu bisa di dapatkan dengan jalan yang berbeda. Masih banyak jalan, bukan?


Kenapa para Lelaki ingin sekali mendua dengan dalih menjalankan Sunnah?Bukankah Sunnah itu sangatlah banyak, bukan hanya menjalankan biduk rumah tangga dengan empat orang Isteri.


Memang boleh, tapi jika diperhatikan itu merupakan sebuah solusi untuk masalah-masalah yang mungkin saja terjadi dalam biduk rumah tangga. Misalnya, jika Isteri sakit-sakitan dan tidak sanggup untuk melayani Suaminya dengan baik. Namun sang Suami tidak tega untuk menceraikannya. Maka poligami yang menjadi solusinya, seperti itu pemahamannya. Jika tidak ada masalah, jangan mencoba untuk melakukannya karena syaratnya sangat berat. Memangnya adil menurut pikiran Lelaki sama dengan adil menurut pikiran setiap Isteri. Bagaimana kalau salah satu Isterinya merasa tidak adil. Berarti gagal dong!


Ega sibuk dengan pikirannya dan mengabaikan Beni dengan wajah memohonnya.


"Abi tidak menyangka Putraku sendiri telah melemparkan kotoran pada wajah ini. Kamu faham bahwa perbuatan itu dosa besar, tapi masih saja melanggarnya. Kamu benar-benar menyeret kedua orang tuamu ini lalu dengan kedua tanganmu mendorong kami ke Neraka," ucap Banu marah besar.


Citra, dia menangis sesenggukan. Hatinya teriris dan perih terasa. Putra kebanggaannya tega menyiksanya dalam perbuatan hina itu.


"Siapa Anita?" tanya Citra menimpali Banu. Dia melihat Beni hanya tertunduk tidak berani mengangkat wajahnya.


"Pinter sekali bersandiwaranya," batin Ega melirik Beni yang ada di sampingnya.


"Namanya Anita Alkaeri, saya tidak menyangka perbuatan kami yang tak disengaja membuat Anita hamil. Itu dilakukan sebelum memutuskan menikahi Ega."


Beni mulai bercerita tentang keluarga Anita Alkaeri dan hubungan terlarangnya yang menyebabkan Gadis itu mengandung anaknya tanpa didahului ikatan pernikahan.


Banu Hardian gusar mendengarkan pengakuan yang menusuk Jantungnya. Ada kemarahan yang berusaha ditahannya.


"Jadi, Gadis itu Anita Alkaeri? dia itu teman baikku? Kak Beni tega sekali menyakiti dua Wanita sekaligus," ucap Ega sedih. Dia berpura-pura merasa tersakiti dengan keinginan Lelaki yang berstatus kembaran Suaminya.


"Maafkan saya, dek! Saya khilaf," jawab Beni terlihat menyedihkan.


"Anita Alkaeri itu teman dekatmu?" tanya Banu dirundung duka.


"Nggih Abi, dulu kita satu kantor kemudian semenjak Anita pindah, komunikasi terputus," jawab Ega. Raut sedihnya masih diperlihatkannya.


Huft


Banu menarik nafas panjang yang terasa sangat berat dan sesak.


"Minta izin sama Isterimu. Jika dia mengizinkannya maka nikahilah Gadis yang bernama Anita Alkaeri itu," ucap Banu pada akhirnya memutuskan.

__ADS_1


Beni kini beralih menatap Ega yang duduk di sampingnya. Pada wajahnya terukir rasa bersalah dan penyesalan.


"Dek, saya minta maaf. Saya mohon izinkan saya menikahi Anita, kasihan anak yang di kandungnya jika tidak mendapatkan pengakuan," lirih, Beni memohon.


Ega tak bergeming membuat Beni semakin gusar. Izin itu mungkin saja sulit didapatkan mengingat terlalu parah luka yang ditorehkan pada Isterinya itu.


"Mudah sekali Kak Beni berkata seperti itu. Kak Beni anggap aku apa? Wanita yang tidakĀ  boleh sakit hati meskipun disakiti. Wanita yang rela begitu saja tatkala Suaminya meminta untuk menikah lagi. Aku tidaklah kuat menerimanya tapi dituntut untuk menerimanya. Sangat perih yang aku rasakan kini. Apa Kak Beni mampu bertanggung jawab dengan hati yang sakit ini?"


Ega tidak sanggup menahan lagi. Dia menumpahkan kekesalannya kepada Pria itu.


Beni menjadi pendengar yang sangat baik. Dia tidak sekalipun menyela omelan-omelan Isterinya. Ibarat mendengarkan Radio rusak, terdengar menyakitkan tapi demi sebuah izin pada akhirnya berlagak kuat. Kata hatinya siapa yang bisa mendengar, hanya bisa menebak mungkin saja saat ini dia balik mengomeli dengan umpatan-umpatan 'berisik banget ini Wanita.'


Terlalu lama mereka dalam perdebatan dengan batin meronta, pada akhirnya Ega harus memberikan restunya.


"Baiklah Kak Beni, aku izinkan kamu menikahi Anita Alkaeri," ucap Ega lirih hampir tak terdengar. Kalimat itu menghadirkan rona bahagia pada wajah Pria itu.


Jika yang meminta ini adalah benar Suaminya, apa dia sanggup memberikan izin itu. Wanita itu merasakan ketakutan namun segera menepisnya agar apa yang dipikirkan tidaklah benar-benar terjadi. Beni Hardian Adha tidak akan mendua. Ega sangat yakin selain cinta, Beni juga memberikan kesetiaan untuknya.


"Kamu hanya boleh menikahi Gadis itu secara siri," ucap Banu menimpali pembicaraan di antara keduanya.


"Iya, Umi juga setuju. Hanya keluarga inti saja tanpa acara apapun," ucap Citra ikut menambahkan. Terdengar ketegasan disetiap kalimatnya.


"Baiklah saya ikut saja yang terpenting Abi dan Umi menerima Anita sebagai Menantu," ucap Beni datar. Ada binar bahagia yang dia tunjukkan karena pada akhirnya dia bisa menghadirkan Anita Alkaeri di tengah-tengah keluarga Hardian.


Seketika hening, mereka berusaha untuk mendamaikan hati dan berusaha menerima keputusan yang tidak ingin mereka lakukan. Sepasang Suami Isteri itu menyemangati Ega melalui sorot mata dan isyarat tubuh.


Citra dengan penuh kasih sayang mencoba membesarkan hati Menantunya meskipun dirinya juga butuh itu. Banu, sebagai seorang Ayah berusaha menunjukkan perlindungannya kepada Menantunya itu. Seorang Ayah yang siap melakukan apapun agar orang-orang yang disayanginya mendapatkan kebahagiaan.


"Abi, Umi bolehkah saya meminta sesuatu lagi," ucap Beni memecahkan keheningan yang terjadi.


Banu hanya menjawab dengan anggukan.


Beni tampak ragu untuk mengutarakannya. Dia mengatur pernapasannya dan kemudian terlihat sedang berpikir dengan apa yang harus dikatakannya.


"Saya sudah siap memimpin Perusahaan. Saya pikir sudah waktunya menerima estafet itu," ucap Beni bersemangat.


"Astaghfirullah. Suamiku tidak mungkin akan berkata seperti ini. Benar-benar tidak sopan dan haus kekuasaan ternyata." Ega menggerutu dalam hati.


Lagi-lagi, Banu dan Citra tersentak kaget. Tidak menyangka Putranya itu berubah 180 derajat. Selama ini tidak pernah membahas kedudukan puncak itu. Dia enggan dan tidak ingin menduduki posisi itu. Bahkan Beni tidak mau menerima segala fasilitas Perusahaan. Tidak mendapatkan hak istimewa sebagai Putra Banu Hardian. Dia menerima perlakuan sama dengan Karyawan lainnya. Lantas sekarang kenapa Beni tiba-tiba menginginkan kedudukan itu.


"Baiklah, kamu Putra saya jadi kamu berhak menduduki Jabatan itu," jawab Banu pada akhirnya mengambil keputusan.


"Terima kasih Abi, Beni sangat bahagia. Bagaimana kalau Abi memperkenalkan saya sebagai Pemimpin Perusahaan baru pada saat acara Perusahaan sekaligus memperkenalkan Anita Alkaeri sebagai Menantu kelurga Hardian," ucap Beni berapi-api. Kebahagiaan itu terpancar nyata dikedua bola mata itu.


"Untuk apa memperkenalkan Anita? Menantu Abi dan Umi hanya satu yaitu Ega," sahut Banu dingin.

__ADS_1


"Agar Anita dikenal oleh karyawan, kolega dan rekan bisnis Abi dan dia mendapatkan hak yang sama dengan Ega," ucap Beni berusaha memperjuangkan keinginannya.


"Hak apa?" tanya Banu dengan dingin. Terlihat ketegasan dibalik dua kata itu membuat nyali Beni menciut. Baru kali ini melihat wajah Banu Hardian tak ramah dan terlihat horor.


"Apa Kak Beni lupa, Wanita yang dinikahi siri tidak mendapatkan hak apapun. Posisinya tidak diakui meskipun Kak Beni memperkenalkannya di khayalak. Satu lagi anak Anita juga tidak berhak mendapatkan warisan dari Ayahnya karena dia ada dari hubungan yang belum halal. Anak itu tidak memiliki nasab, itu artinya dia akan bernasab pada Ibunya dan tidak bernasab pada Ayah biologisnya meskipun Kak Beni menikahi Ibunya. Selain itu juga, jika dia Perempuan maka Kak Beni tidak berhak menikahkannya atau menjadi wali nikah dari anak Perempuan Kak Beni tersebut."


Ega menjelaskan panjang lebar agar Beni mengetahuinya. Apa kembaran Beni tidak mengetahui hal itu menyebabkan dia sangat antusias menempatkan Anita dan anaknya pada posisi yang sah.


"Tapi meskipun tidak mendapatkan pengakuan, Kak Beni harus tetap bertanggung jawab dan menjamin hidupnya. Memenuhi segala kebutuhan hidup, pendidikan dan sekaligus perlindungan hukum untuknya. Kak Beni juga harus bisa melindunginya dari sanksi sosial yang tidak bisa dihindarkan jika diketahui oleh orang lain. Tanggung jawab Kak Beni lebih berat dari anak yang dilahirkan dari hubungan yang sah. Ayah biologis anak tersebut bisa memberikan bagian peninggalannya melalui hibah wasiat."


Beni berusaha memahami apa yang diterangkan oleh Ega. Terlihat dahinya mengkerut dengan butiran keringat yang mulai bermunculan. Dia tidak menyangka ternyata serumit ini.


"Isteri kamu benar, kamu pun sudah tahu dan faham aturan yang telah Tuhan tetapkan. Namun kenapa kamu malah melanggarnya?" ucap Banu Hardian menambahkan.


Nabi SAW menyatakan tidak adanya hubungan kewarisan antara anak hasil zin*a dengan Lelaki yang mengakibatkan kelahirannya, yaitu : "Dari 'Amr ibn Syu'aib ra dari ayahnya dari kakeknya bahwa rasulullah saw bersabda : Setiap orang yang menzinai perempuan baik merdeka maupun budak, maka anaknya adalah anak hasil zina, tidak mewarisi dan tidak mewariskan."


Mendengarkan itu, terlihat tubuh Beni bergetar. Muncul kegelisahan dan kecemasan, dalam hal ini dia tidak akan mendapatkan apa-apa. Bisa jadi Banu Hardian akan mempertimbangkan kepada siapa harta itu akan diwariskan.


"Hanya anak dari Ega yang berhak mendapatkan warisan dari Abi," lanjut Banu Hardian menambahkan.


"Iya, Umi juga menyetujui itu," Citra ikut menambahkan.


Beni hanya mengangguk pasrah dengan wajah yang tak karuan.


"Satu lagi, Abi akan memperkenalkan kamu sebagai Pemimpin Perusahaan tapi bukan sebagai ahli waris Abi. Terus pernikahan kamu akan dilaksanakan setelah acara perusahaan dilaksanakan," ucap Banu tegas. Apa yang diucapkan itu mendapatkan dukungan dari Citra Hardian.


"Abi, bisakah akad nikah dilangsungkan sebelum acara Perusahaan," pinta Beni dengan wajah memelas.


"Tidak, Kak Beni akan menikah setelah acara Perusahaan, kalau tidak setuju maka aku akan membatalkan persetujuan itu. Itu artinya Kak Beni tidak akan bisa menikahi Anita," ucap Ega tegas.


"Abi setuju."


"Umi juga," jawab Banu dan Citra berurutan.


Terlihat wajah Beni menyimpan kekesalan dengan sorot mata sulit di artikan mengarah kepada Ega.


Wanita itu menanggapi dengan tenang, karena dia akan menjalankan rencana pada saat acara perusahaan itu berlangsung.


"Kembaranku mari kita bermain-main. Jika kamu sangat lihai memerankan diriku maka akupun akan lihai menghancurkan aktingmu itu," ucap Beni Hardian Adha. Dia berdiri pada sebuah sudut tak terlihat.


Hanya Ega yang melihat keberadaan Beni, dengan senyum tersembunyi dan rasa yang penuh cinta Wanita itu mengalirkan cinta hingga sampai disana.


"Selangkah lagi Kak Beni."


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2