
Juna membalas dengan memberikan khabar bahwa dia dalam keadaan baik-baik saja.
("Alhamdulillah, jangan begadang Bang, istirahat gih!")
Ting
Datang kalimat dalam bentuk perhatian. Disana juga terselip doa untuknya juga.
Ah, seandainya Gadis itu tidak dimiliki orang lain, mungkin saat ini dia akan mendatanginya lalu memeluk tubuh itu untuk berbagi kehangatan.
Juna mengelus bibirnya, dia menikmati bekas kecupan yang kini hanya tinggal kenangan. Dia merasa sungguh gila sekarang, hidup dalam angan.
Tidak bisa dipungkiri, Isteri dari Beni Hardian memang telah ada di hatinya sejak dulu. Ingin menepis, ternyata tak mampu karena cinta itu terlanjur melekat di hatinya, ada nama Ega disana.
Juna mengambil sebatang rokok lalu membakarnya. Ia menghisapnya dengan berlahan berharap Nikotin mampu menenangkannya, tapi apa yang terjadi? Ia terbatuk hingga membuatnya semakin sesak.
Bertender itu masih setia menemani Pria yang sedang patah hati. Dengan tangan kekarnya, ia menepuk bahu Juna berharap mampu menyalurkan semangat.
"Jika tak terbiasa, jangan merokok."
Juna tersenyum, dari dulu dia tidak pandai merokok lebih tepatnya tak suka. Kini, entah kenapa ingin rasanya mengakrabkan diri namun rupanya tak di terima. Ah, ternyata Rokok pun, seakan tak mau memilihnya apalagi cinta dari Sahabatnya itu.
Juna masih mau mencoba, mungkin saja sebatang rokok itu mau menenangkannya.
"Menerima, itulah kuncinya. Sama halnya ketika mengucapkan ijab kabul, pertama kali kita ucapkan adalah saya terima."
Bertender itu berucap, dia mengalihkan pandangan ke arah Ombak yang semula ke wajah Juna.
"Memang tidak mudah, tapi tidak juga sulit. Jika kita ingin, kita pasti bisa menerimanya. Kita harus ingat, Tuhan lah yang punya kuasa. Sekuat apapun kita meraihnya, jika Tuhan tidak menghendakinya maka itu mustahil terjadi."
Bertender itu melanjutkan. Dia tak ingin temannya ini kian terpuruk karena cinta itu tak memihaknya.
"Iya, aku mengerti."
Juna berucap singkat, dia masih asyik memainkan rokok itu dengan memutarnya. Dia tak sadar jarinya tersulut Api dari rokok yang tak padam.
"Jika mengerti, relakan dia bahagia dengan Suaminya, dengan itu kamu juga merasa lega. Yakinlah lambat laut kamu akan menemukan Gadis yang sejatinya adalah jodohmu."
Selesai berkata, bertender itu sekali lagi menepuk bahu Juna untuk memberikan semangat. Dia beranjak pergi meninggalkannya setelah dia berpamitan. Dia tak lupa menberikan nasehat untuk Pria yang memprihatinkan itu.
"Jangan mencoba menenggelamkan diri di lautan. Jika itu kamu lakukan, berarti seorang Lalu Naufal Mandala benar-benar sangat payah."
Kalimat panjang itu berhasil membuat Juna tersenyum kecut.
"Pergilah sebelum aku menghujammu dengan teriakan," ucap Juna datar.
__ADS_1
"Aku yakin kamu tak berani melakukannya," sahut Bertender bernada mengejek selanjutnya berujung tawa.
Juna tak bersuara, dia membalasnya dengan tatapan tajam yang seakan menikam.
"Okay aku pergi."
Bertender itu berlalu membiarkan Juna menenangkan pikirannya.
Sendiri, itulah terjadi kini setelah seorang teman meninggalkannya.
Juna menarik nafas, dia berusaha menenangkan diri dan mencerna apa yang diucapkan temannya itu.
Iya, dia harus menerimanya. Ini terjadi karena kesalahannya. Dia tak mau meninggalkan masa lalu dan hasilnya dia kehilangan masa kininya, mungkin juga akan berdampak untuk masa depannya.
Lamunan panjang menguasai pikiran, jika saja tidak ada benda Pipih mungkin hingga esok hari Juna akan tenggelam dalam angan.
Dret dret dret
Terdengar lagi Handphone berbunyi setelah sempat mati. Juna meraih benda itu yang tergeletah di atas Pasir. Nama Beni yang tertera disana, dengan cepat dia menggeser warna hijau tanda menerima.
Mereka berbicara cukup lama, Beni menceritakan kecurigaannya Setelah mendapatkan informasi dari Evan.
("Lexi Aditama, apa kamu yakin?")
("Apa hubungannya dengan Ega?")
Terdengar keheranan dari Juna. Jujur saja dia sangat terkejut dengan apa yang pernah dilakukan Lexi, Sahabatnya. Apakah terlalu sakit yang dirasakan Lexi sehingga menghancurkan diri sehancur-hancurnya.
("Jelas, Lexi menyukai Ega dan Ivan masih menyimpan perasaan kepada Ega. Entah disini siapa orang yang diuntungkan jika Ega celaka.")
("Mantan Isteri dari Ivan Alkaeri.")
Juna langsung menebak. Sementara Beni terdiam sejenak memikirkan apa yang diucapkan oleh Sahabatnya itu.
("Ada orang yang akan dikorbankan disini untuk menutupi Pelaku yang sebenarnya.")
Beni berucap seakan meragukan pendapat Juna, entah kenapa ada satu nama yang sangat menarik perhatiannya. Beni merasa dialah orangnya, karena tidak ada bukti merujuk kesana maka instingnya itu susah diartikan akan menjadi sebuah fakta. Ingin membuktikan itu, dia harus mencari petunjuk.
Lumayan lama diam dalam pikiran masing-masing. Juna hanya menangkap suara helaan nafas, sedangkan Beni menangkap suara Ombak yang menghempas.
("Pulanglah Jun, ngapaen di Pantai sendirian. Kalau kamu sakit siapa yang akan merawat?")
Juna tergugu, dia membenarkan perkataan Sahabatnya.
Dulu, ada Ega yang akan merawat jika dia sakit. Dia akan datang meskipun harus menerjang halangan. Sekarang mana mungkin akan terjadi. Ega sudah menjadi seorang Isteri, maka hal tabu mendatangi Pria lain. Sama artinya dia sedang merenda maksiat.
__ADS_1
Terdengar suara Beni memanggil, karena Juna mengabaikannya. Dia terlalu sibuk dengan angan, satu kata yang membuatnya kian tersesat "Seharusnya". Iya, seharusnya dia yang bersama Ega.
("Saya masih disini. Tenang saja Ben, Kulit saya tebal, mana mungkin dengan mudah tertembus angin.")
("Baiklah, semoga kamu baik-baik saja.")
Beni mengakhir panggilan setelah tak ada lagi yang harus disampaikan. Satu hal yang mereka sepakati, secepatnya akan menyelidiki masalah ini.
Hening!
Kembali dirasakan oleh Juna semenjak Beni memutuskan mengakhiri pembicaraan. Kini pikiran Juna terpusat kepada Lexi Aditama, Sahabatnya.
Lagi-lagi dia gagal menyelamatkan Sahabatnya. Dia merasa menjadi Sahabat yang tak berguna. Tanpa diketahui oleh siapapun, dia juga menghianatinya.
Juna telah menghianati Sahabatnya itu. Dia munafik, tak menjalankan amanah yang diberikan Lexi untuk Ega.
"Man, boleh aku minta tolong? Tolong berikan surat ini untuk Ega. Aku tidak ada waktu untuk menemuinya. Katakan kepadanya agar menungguku. Aku memilih Ega untuk aku cintai dan akan melamarnya setelah kembali."
Kalimat panjang Lexi tiba-tiba menggema. Kalimat itu seakan mengingatkan Juna dengan kesalahan yang dilakukannya kepada Lexi.
Tak rela!
Mungkin saja itu yang dipikirkan oleh Juna, sehingga tak memberikan surat Lexi kepada Sahabatnya itu.
Entah kenapa, dia belum rela Ega dimiliki oleh Pria manapun. Dia ingin bersamanya selalu sebagai Sahabat.
Egois!
Itu pantas disematkan untuknya, dia tak ingin Ega dimiliki orang lain dan juga tak mau memberikannya cinta meskipun dia merasakan cinta itu telah tumbuh di hati.
Nyatanya, tindakan itu memberikan kesempatan kepada Beni untuk memiliki Gadis itu. Bahkan turut andil membantu Beni agar bisa bersama Ega.
"Aaaaaaaaaaa."
Juna berteriak, dia sangat frustasi dengan apa yang telah terjadi. Hati kian bergemuruh lebih parah dari gemuruh Ombak.
"Aaaaaaaa."
Juna kembali berteriak melepaskan beban itu. Meskipun kecil kemungkinan dadanya akan lapang, setidaknya dengan teriakan sesuatu yang mengganjal di hati sedikit menguap.
Rasa bersalah kepada Lexi membuatnya kian tersiksa. Dia menyesali kini tapi dia tidak patut juga disalahkan. Saat itu dia memikirkan hatinya sehingga bertindak egois.
"Aku bukan Sahabat yang baik untukmu, Lexi. Maafkan aku."
Bersambung.
__ADS_1