
Semenjak malam itu, Lexi tidak terdengar khabarnya begitu juga Juna seakan enggan membicarakan tentangnya. Ega tersenyum getir berusaha untuk melupakan bayang - bayang Lexi. Ega memilih untuk melupakan pertemuannya dengan Lexi dan menganggap itu semua hanya mimpi. Saat terbangun tidak akan terjadi apa - apa dan dia bisa melanjutkan hidupnya dengan penuh senyuman.
" Lupakan getaran dalam hati, lupakan saat kamu dengan beraninya menikmati dekapan dari laki - laki itu. Lupakan semuanya agar tidak terjadi apa - apa dengan hatimu. Lagipula sekarang Laki - laki itu telah bertemu dengan cinta sejatinya. Lupakan itu Ega."
Ega berbicara sendiri dan kembali menikmati hidupnya didalam kesendirian. Semenjak cintanya kandas sangat sulit baginya untuk menerima cinta lagi. Beberapa tahun lamanya dia bersembunyi dalam sunyi dan memilih untuk berteman dengan sepi. Tepat ketika umurnya beranjak 24 tahun dirinya dipertemukan dengan Hasan. Hasan yang mengembalikan senyumnya, Hasan yang mengembalikan kepercayaan dirinya dan ketika dia berani berharap lagi tiba - tiba saja Hasan menjauh darinya tanpa penjelasan. Hasan seolah sengaja menggantung dirinya dan menempatkannya didalam kegamangan. Sekarang Lexi mencoba mengetuk pintu hati Gadis manis ini, disaat Ega mencoba menerima kehadirannya dan mempersilahkan untuk bertamu dalam kehidupannya lagi - lagi tamunya pergi tanpa pamit. Sepertinya cinta hanya menyapanya dan tidak mau menetap dihidupnya. Begitu juga dengan Hasan dan Lexi, kedua laki - laki itu hanya beramah tamah tidak berniat menetap dihati dan hidupnya.
Ega memilih menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Pekerjaannya meminta perhatian dari Gadis ini. Selama seminggu Ega memusatkan perhatiannya kepada angka demi angka yang berderet - deret pada kertas yang putih bersih. Selama ini dia hendak menyelesaikan Rekonsiliasinya di bidang aset karena tugasnya sebagai Pengurus aset daerah yang membuatnya lebih sibuk dari rekan - rekannya.
Sore itu, Ega masih setia dengan Pc nya dan sesekali dia meneguk minuman yang tersedia di Mejanya. Teman - temannya sudah pulang se jam yang lalu sementara dirinya masih asyik dengan pekerjaannya. Ega sengaja melakukan itu agar tidak teringat dengan lawan jenisnya selain sahabat - sahabatnya.
Selagi dia asyik menghitung penyusutan tiba - tiba handphonenya berbunyi. Ega buru - buru mengangkat panggilan dari seseorang.
" Ga, buka kordennya saya sudah berada di taman belakang." Ucap seseorang dari seberang.
Ega bangkit dari tempat duduknya kemudian berjalan kearah jendela dan menggeser korden yang menutup kaca.
" Kak Beni." Sambut Ega masih menempelkan handphone ditelinganya. Dilihatnya laki - laki berkulit putih itu melambaikan tangannya.
" Tunggu, saya segera kesana." Ucap Ega kemudian memutuskan panggilan. Ega segera turun dari ruangannya yang berada di lantai dua.
Sesampainya disana, Ega menemukan Beni sudah duduk pada rerumputan yang tumbuh subur di Taman belakang kantornya. Keadaan sudah sepi hanya dirinya dan juga Penjaga Kantor yang masih tertinggal disana.
" Kak Beni tahu saja kalau saya lagi lapar." Celoteh Ega begitu berada disamping Beni yang sedang sibuk membelah Duren yang dibawanya.
Ega tidak sabaran ingin menikmati lezatnya durian yang nampak di depan mata. Dia benar - benar ngiler.
" Ayok cepat Kak Beni, ngiler ini."
" Sabar dong, nanti tangan Kak Beni bisa luka kalau direcokin." Ucap Beni masih asyik dengan kegiatannya.
" Hahahaha, ya ampun kamu itu kalau ketemu Durian langsung dah tuh ileran." Kekeh Beni menyaksikan Ega yang berusaha menahan diri.
" Nah sudah bisa kebelah, agak sulit ya? maklumlah masih perawan." Kelakar Beni sambil mengambil satu biji buah durian dan memasukkan ke dalam mulut. Ega juga dengan gesit mengambil durian itu yang terasa nikmat di lidahnya.
" Kak Beni kok tahu kalau saya masih di kantor." Tanya Ega disela - sela dia menikmati buah kesukaannya.
" Iya tahulah, insting Kak Beni itu akurat. Jadi dimanapun kamu berada pasti Kak Beni tahu dan akan mudah menemukanmu." Ucap Beni tersenyum. Padahal Beni tadi mampir ke Saik Aminah hanya sekedar memetik Mentimun, dari Saik Aminah lah Beni tahu kalau Ega belum pulang.
" Oh begitu tapi kalau Nina kok Kak Beni tidak ada insting - instingnya padahal Nina mempunyai perasaan kepada Kak Beni seharusnya terkoneksi dong dengan hati kak Beni." Ucap Ega sambil melirik sebutir durian yang tertinggal dengan cepatnya Ega mengambilnya sebelum Beni melakukan itu.
" Curang, itu bagian saya."
" Siapa cepat dia yang dapat." Balas Ega memperdengarkan tawa renyahnya.
" Enggak masalah, saya masih punya satu buah durian yang jelas lebih banyak isinya." Ungkap Beni memamerkan satu buah durian yang belum dibukanya. Tadi Durian itu disembunyikan dibalik pot Bunga Mawar.
" Asyik, kita makan lagi." Seru Ega kegirangannya.
__ADS_1
" Yeee siapa juga mau berbagi dengan kamu, ini jatah saya. Anda kepedean Nona."
" Pelit, satu saja."
" Enggak boleh."
" Kalau begitu dua saja ya?"
' No No No."
" Bagaimana kalau tiga."
" Nehi, Nehi, Nehi."
" Tidak mau juga? empat bije saja Kak Beni ganteng, keren dan baik hatinya. boleh ya Kak Beni Please help me." Tawar Ega dengan wajah memelas, wajahnya dibuat selucu mungkin.
" Baiklah, saya tidak tega melihat wajah yang kelaparan seperti tidak pernah makan seharian saja."
" Terima kasih Kak Beni, Aku padamu Kak Beni." Sambut Ega kegirangan sedangkan Beni menerimanya dengan senyum mengembang. Beni sangat suka melihat Ega tersenyum sehingga Pemuda itu berusaha sekuat tenaga untuk menyenangkan hati sahabatnya ini.
" Oya lupa, kita belum siaran langsung. Ayok kita pamerin pasti mereka akan langsung mengoceh tidak karuan." Ucap Ega sambil langsung mengambil Handphonenya.
" Hai Gaes sekarang saya masih berada di kantor, biasa menikmati kesendirian dengan cara menyibukkan diri dengan pekerjaan. Itulah hari - hari saya sibuk dengan pekerjaan. di tengah - tengah sok sibuknya saya tiba - tiba datang seorang cowok cakep, keren, baik hati dan rajin mengaji Insha Allah. Ayok tebak siapa? Kalau berhasil menjawab kalian akan mendapatkan buah durian tapi satu biji saja ya...!" Celoteh Ega sambil mengarahkan kamera handphonenya di sekeliling Taman Kantornya kecuali Wajah Beni belum ia sorot.
" Siapa? kok enggak ada yang bener jawabannya, siapa ayoook...! kasik tahu saja kali yaaa! Taraaa, ini dia Cowok cakep, keren dan baik hati bernama Beni Hardian. Lihat tuh dia sedang membelah buah Durian Gaes. karena Duriannya masih perawan agak susah belahnya, itu sih katanya Beni. Tahu kali ya dia mana durian yang sudah menikah, janda dan perawan, hehehe he!" Guman Ega sambil terkekeh begitu menampakkan sosok Beni di kameranya.
Beragam komentar dari teman - temannya terutama Dipta yang berkicau bak burung Beo yang baru bisa berbicara.
" Begitu ya kalian berdua tidak ngajak - ngajak, awas saja saya bales dengan durian sekebon enggak bakalan saya mau bagi ke kalian berdua walaupun kalian kebanjiran dengan iler kalian. Gedeg saya nih." Dipta.
" Kalian berdua yang makan kok saya yang enek ya! Mabuk Bo!" Nina.
" Wuiiih lagi kencan nih yeee, awas ada tegangan tinggi." Evan.
" Kalian berdua takut ya enggak kebagian kalau ada saya makanya enggak ngajak - ngajak. Gitu ya...!" Rian.
" Sepertinya seru, rasanya pingin segera meluncur kesana tapi jadwal kerja ini menahanku jadi bagaimana dong?" Juna.
" Tenang saja gaes, masih banyak tuh! Durian belum berakhir jadi buruan di stock sebelum di borong sama Dipta, hehehe." Beni.
Setelah mereka kembali menghabiskan durian lagi Ega benar - benar merasa kekenyangan. Dia mengelus perutnya yang terlihat membuncit namun tertutup oleh pakaian dinasnya.
" Duh, kenyang banget Kak Ben, saya tidak bisa bergerak nih!" Keluh Ega sambil merebahkan tubuhnya diatas rerumputan.
" Sepertinya kamu mau lahiran Ga. Narik nafas panjang hembuskan pelan - pelan." Suruh Beni berulang - ulang layaknya seorang Bidan yang berusaha memandu Pasiennya yang hendak lahiran. Konyolnya Ega ikut saja apa yang diarahkan oleh Beni, Gadis manis itu menghirup nafas panjang kemudian menghembuskan secara perlahan - lahan sama persis seperti orang yang mau lahiran.
" Hahahahaha." Tawa Beni menggema melihat kekonyolan Ega.
__ADS_1
" Hahahaha, lucu ya Kak Beni." Ega ikutan tertawa menikmati kebersamaan mereka.
Perhatian Beni mampu mengalihkan hatinya yang gamang dan selalu ada disaat dirinya membutuhkan sandaran. Sahabatnya itu seakan tahu kalau dirinya sedang bersedih dan selalu siap siaga menghiburnya tanpa meminta.
" Terima kasih ya Kak Beni."
" Sama teman sendiri tidak perlu sungkan - sungkan untuk berterima kasih sesering mungkin. Hehehehe." Sahut Beni malah cengengesan.
" Yeee saya pikir tadi Kak Beni mau bilang sama teman tidak perlulah berterima kasih. Emang ya Kak Beni itu haus pujian."
" Hahahaha."
" Kok malah tertawa, emangnya lucu ya? perasaan enggak lucu deh?" Ucap Ega menggaruk jilbabnya.
" Hahahahaha."
" Saraf nih, jangan - jangan Kak Beni habis obatnya. Bahaya kalau begini mah." Ega bangkit dari tempat duduk kemudian lari menjauh tentu saja Beni tidak melepaskan kesempatan untuk mengejar Sahabatnya itu. Mereka berdua bermain kejar - kejaran sambil tertawa melepaskan segala kerisauan hati dan beban yang seakan menghimpit hidupnya. Ega melepaskan beban pikirannya dengan menyalurkan dengan suara tawanya begitu juga dengan Beni melenyapkan rasa lelah dengan rutinitasnya sehari - hari melalui tawa bersama sahabatnya.
Saat mereka kelelahan, Beni dan Ega kembali duduk dengan senyum tidak lepas dari wajah mereka.
" Sampai kapan kita disini?" Tanya Beni kemudian setelah berhasil mengatur nafasnya yang ngos - ngosan karena lelah bermain kejar - kejaran.
" Sampai matahari kembali ke peraduannya karena titah Allah dan digantikan oleh rembulan melaksanakan titah Allah." Jawab Ega terdengar lembut di telinga Beni.
" Iya, Matahari dan Rembulan tidak pernah lelah menyinari Bumi ini. Matahari dan Rembulan seakan kompak menjalankan tugas masing - masing tanpa pernah berselisih. Mereka menjalankan titah Allah tepat waktu dan tidak pernah lupa dengan tugasnya masing - masing. Tidak pernah lalai sedetikpun. Seharusnya seperti itu juga kita, tidak lalai dengan tugas kita untuk beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Namun kenyataannya manusia terlalu sibuk mengejar dunia sehingga melalaikan kewajibannya. Malah sebagian dari mereka dengan sombongnya melupakan tugasnya didunia dan enggan melaksanakan ibadahnya." Ucap Beni panjang lebar. Tentu saja membuat Ega bergetar hatinya mendengarkan segala kata yang keluar dari bibir sahabatnya ini.
" Kamu benar, seharusnya kita tidak lalai dengan waktu. Karena sudah sore dan sebentar lagi mau Magrib sebaiknya kita pulang." Ajak Ega kemudian bergegas ke ruangannya untuk mematikan Pc nya dan juga merapikan kembali Meja Kerjanya. Setelah semua beres dan file - file sudah di copy Ega akan melanjutkan pekerjaannya dirumah. Serasa sudah aman Ega bergegas meninggalkan ruang kerjanya yang berada di lantai dua. Ega melangkah kearah Post Satpam kemudian memberikan Kunci Ruang Kerja kepada Temanya yang giliran menjaga kantor.
" Ga, terima kasih duriannya, sering - sering saja ngelembur biar pacar kamu sering kesini nemenin kamu agar kita kecipratan buah tangan dari pacar kamu." Ucap Pak Satpam sambil senyum - senyum. Pak Satpam mengira kalau Laki - laki Tampan yang menghampiri Ega ke Kantor adalah pacarnya Ega. Selama ini tidak pernah terlihat menggandeng seorang cowok bahkan Ega terkenal dengan sifat cuek dan dinginnya sehingga teman - teman sekantor yang masih lajang seolah mundur teratur dan enggan mendekati Ega jika mengingat wajah datarnya. Ega menanggapi dengan santainya rumor - rumor yang beredar tentang dirinya. Ega tidak pernah menutup diri hanya saja rekan - rekannya yang lajang seperti Saudara baginya begitu juga mereka. Bayangkan saja Ega dan teman - teman sekantor lebih sering menghabiskan waktu bersama terkadang mereka weekend bersama serasa satu keluarga besar saja.
" Itu mah maunya Bapak, Senengnya di Bapak tekornya di Dompetnya Kak Beni dong." Sahut Ega geleng - geleng kepala.
" Iya dah Pak saya pulang dulu." Sambung Ega berpamitan kepada Satpam yang jaga kebetulan juga tidak ada pembicaraan di antara mereka.
Ega beranjak ke Parkiran yang disana sudah menunggu Beni yang sudah nangkring di Sepeda Motornya.
" Sudah siap?"
" Siap Bos."
" Bismillahirrahmaanirrahim."
Mereka berdua meninggalkan Kantor tempat Ega bekerja dan beriringan menuju rumah masing - masing yang kebetulan searah hanya saja pada akhirnya mereka berpisah di pertigaan.
Ega beruntung mempunyai seorang Sahabat yang baik dan sangat perhatian seperti Beni dan juga yang lainnya. Sudut hatinya yang sepi seakan ramai oleh kehadiran Beni, Juna, Dipta, Rian, Evan dan tidak ketinggalan Nina dengan tingkah dan cara yang berbeda - beda menciptakan kebahagiaan diantara mereka.
Bersambung.
__ADS_1