
Jeddeeeeer
Ega terkaget dengan penuturan Beni. Dia memandang Beni untuk mencari ketidakseriusan disana. Kenyataannya memang benar, Beni tidak lagi bercanda.
"Ha hamil?" tanya Ega tergagap.
"Iya, akupun terkejut dan yang mengejutkanku Nina memohon agar aku mau menikahinya dan mengakui kalau anak yang di kandung itu adalah anakku. Nina benar-benar memanfaatkan kebaikan dan perhatianku selama ini kepadanya sebagai seorang Sahabat. Dia berpikir kalau aku Pria baik yang mau menerima dia dalam kondisi apapun." Beni menjelaskan apa yang diinginkan oleh Nina.
"Terus apakah Kak Beni menyetujui itu?" tanya Ega gusar.
"Apakah kamu setuju Suamimu ini melakukannya?" tanya Beni terlihat serius.
Ega terdiam, dia tidak bisa menjawab tapi kalau boleh jujur dia tidak ingin membagi cinta Suaminya kepada Wanita lain.
"Kenapa diam? aku tahu kamu pasti tidak menginginkannya, iya, kan?" Beni menyelidi wajah Isterinya yang terlihat sedih.
"Aku tidak sanggup jika Kak Beni menikahi Nina tapi anak yang dikandung Nina butuh seorang Ayah. Apa jadinya jika Kak Beni tidak mau menikahi Nina dan mengakui anak yang di Kandung Nina sebagai anak Kak Beni. Apa anak itu benar anak Kak Beni?" Ega menuturkan ketakutannya atas masalah yang tiba-tiba datang menyerang tanpa dia bisa menangkisnya.
"Hahahaha." Beni tertawa melihat wajah Isterinya yang nampak memprihatinkan.
"Kamu tuh ya? jangan menjadi Isteri labil. Tadi katanya kamu percaya sama Suamimu ini tapi kenapa malah hanya sekedar di bibir saja," ucap Beni pura-pura kesal.
"Aku percaya tapi mendengarkan Nina hamil dan meminta Kak Beni menikahi dan mengakui anak yang dikandungnya adalah anak Kak Beni jadinya aku ragu." Ega menjawab dengan raut serius dan sedih.
"Kamu tuh ya? aku meminta kamu mempercayai Suamimu ini. Tidak peduli apa yang kamu lihat dan kamu dengar, mengerti?" ucap Beni sembari mencubit hidung mancung milik Isterinya itu.
"Lantas apa yang terjadi?" tanya Ega heran.
Beni meraih handphone yang disimpannya di Kantong kemudian memutar apa yang terekam pada Benda Pipih itu.
Ega mendengarkan dengan seksama hingga suara permohonan itu berakhir. Dia bingung harus berkata apa setelah mendengarkan pengakuan Nina.
"Aku bukan Pria sebaik itu Ga! mana mungkin aku mengakui anak yang bukan darah dagingku. Aku juga mana mungkin menikahi Wanita yang sedang mengandung anak dari Laki-laki lain. Lagipula aku sudah punya Isteri, cantik lagi jadi mana mungkin aku menghianati Isteriku ini," ucap Beni sembari membingkai wajah Ega.
"Benarkah?" tanya Ega bahagia.
"Tentu, Only You! hanya kamu Isteriku. Aku sengaja memberitahu tentang kehamilan Nina agar kita siap dengan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Nina sepertinya akan serius, tidak mungkin menyerah begitu saja. Aku rasa Nina sudah tahu kita sudah menikah namun berpura-pura tidak tahu. Dia menggunakan celah ini untuk mendapatkan Suamimu ini karena seolah-olah beranggapan kita masih lajang dan tidak ada yang perlu disakiti. Kita lihat usaha apa yang akan dilakukan oleh Nina. Kita mengenal Nina, dia tidak akan melepaskan apa yang diinginkannya. Prinsipnya dia harus dapat dengan berbagai cara, dan dia sangat yakin cara itu pasti ada. Karena itulah kita tutup cara itu agar tak memberikan kesempatan untuk berhasil menjebakku." Beni menjelaskan kemungkinan yang akan terjadi. Sedari dini harus mempersiapkan diri dan menurutnya yang harus diperhatikan adalah saling percaya. Dengan saling percaya maka pikiran itu bisa membuka jalan untuk menemukan kebenaran.
Ega mendengarkan setiap kata yang disampaikan oleh Suaminya, dia mencerna dengan baik dan tentu saja hanya bisa berdoa semoga tidak terjadi apa-apa dalam Rumah tangganya. Dia berharap semoga Nina segera sadar dan tidak berusaha mengambil Laki-laki yang sudah sah menjadi Suaminya.
__ADS_1
"Aku hanya bisa berdoa agar kita tetap dijaga dari segala Marabahaya. Sejatinya Manusia itu tidak punya apa-apa dan tidak bisa berbuat apa-apa. Pertolongan Tuhan-lah yang menjadikan bisa. Untuk mendapatkan itu dilalui dengan doa, memohon agar senantiasa dijaga."
Beni sangat bahagia dengan apa yang diutarakan Isterinya. Dia terlihat tenang dan bersemangat menghadapi hari esok meskipun tidak tahu apa yang terjadi disana. Hanya doa yang mampu dipanjatkan agar bertemu hari esok dengan sesuatu yang baik.
"Aku bersyukur memilikimu dan aku tidak perlu khawatir atas diriku karena kamu pasti bisa mengatasi dengan baik masalah yang mungkin akan timbul. Tidak mungkin kehidupan kita akan tetap aman-aman saja pastilah ada gelombang yang menghantam kita. Sebisa kita untuk bertahan agar tidak terseret hingga gelombang itu tidak ada lagi," ucap Beni memuji Isterinya. Dia menatap mata indah milik Ega dengan penuh cinta. Kemudian seutas senyum indah menghiasi bibir Beni membuat yang memandangnya bahagia dan merasa dihargai.
"Tampan dan aku suka," guman Ega mesra.
"Hanya untuk kamu dan sepertinya hati ini tidak bisa mendua. Baiklah My Sweety kita berangkat." Beni bangun dari duduknya kemudian meraih tangan Isterinya dengan lembut untuk membantunya bangun dari duduknya.
Hari sudah menjelang siang saat Beni dan Ega menyusul rombongan Juna dan Rian. Beni berencana memisahkan diri dari mereka dan tidak jadi menginap di Villa yang sama dengan mereka.
***
Rombongan Juna dan Rian terlihat beriringan menuju ke Desa Senaru. Saat ini mereka sudah sampai Wilayah Bayan. Jika memilih jalur kiri maka mereka akan menuju ke Masjid Kuno Bayan tapi karena mereka hendak ke Senaru maka mereka harus memilih jalan lurus.
Didalam Mobil Juna sedari tadi tidak ada satupun membuka pembicaraan. Mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing. Evan sibuk dengan Kameranya dan sesekali dia menerima panggilan dengan Rekan kerjanya itu. Dia sebisa mungkin menjelaskan program-program yang sedang dikerjakannya agar Rekannya itu memahami dan merampungkan pekerjaannya.
Berbeda dengan Dipta dia fokus dengan headseatnya. Sesekali dia bernyanyi mengikuti lirik-lirik yang didengarkannya dan bersamaan itu jarinya tidak henti bergerak.
Berbeda dengan Nina, dia diam seribu bahasa dengan wajah ditekuk. Wanita cantik itu memperlihat ketidaksukaan kepada semua yang ada disana. Kekesalannya semakin nyata tatkala dia membukam suaranya dan tak mengajak siapun berbicara.
"Ini dah yang tidak aku suka, kita berkumpul dan dekat satu sama lain tapi berasa kalian tidak ada disekelilingku. Kalian asyik dengan dunia masing-masing dan mengabaikan keberadaan satu sama lain. Apakah dunia tipu-tipu itu lebih penting dari dunia sebenarnya. Apakah saya sedang menampung makhluk astral di Mobil ini." Juna tidak tahan lagi, sedari tadi dia hanya melirik Nina yang diam dengan wajah ditekuk dan sesekali melihat ke arah spion untuk memastikan Evan dan Dipta masih terlihat wajahnya. Dia benar-benar mengomeli Sahabatnya itu.
"Beninya yang tidak mau bersama kamu, apa kamu tidak dengar itu?" sahut Evan tidak kalah kesal.
"Itu karena Juna memaksa saya untuk ikut bersamanya. Coba saja aku tidak di kunci di Mobil ini mungkin saat ini aku hanya berduaan dengan Beni sedangkan Ega aku yakin dia tidak keberatan membiarkan kita kencan. Ega pasti akan mengalah dan mengendarai Motornya sendiri ke Desa Senaru. Lagipula dia sudah terbiasa berpanas-panasan sedangkan aku apa kalian tidak berpikir kulitku tersakiti dengan sengatan Matahari. Perawatan aku mahal makanya memiliki kulit secantik ini." Nina menyahuti pembelaan Evan terhadap apa yang diinginkan Beni dengan nada ketus.
"Kamu ini Sahabat Ega atau musuh dalam kamarnya? dia begitu baik dan perhatian kepada kamu Nina. Dia selalu mengutamakan kamu daripada dirinya sendiri. Apakah kamu pantas memperlakukannya seperti ini, kamu memang tega Nin!" Juna mengomentari perkataan Nina yang menurutnya tidak layak diucapkan sebagai seorang sahabatnya.
"Aku tetap Sahabatnya, tapi kalau menyangkut Beni seharusnya Ega menjaga jarak. Dia seharusnya memperhatikan batasannya. Aku menyukai Beni dan seharusnya dia menjauhi Beni bukan malah semakin dekat dengannya. Apakah Ega pantas untuk melakukan itu? seharusnya Ega menjaga perasaanku dan mendukungku untuk bahagia bersama Beni," balas Nina masih bertahan dengan keegoisannya.
"Kalian juga kenapa malah mengacaukan kesempatanku semakin dekat dengannya. Seharusnya hari ini aku bisa menjerat Beni dan membuatnya tidak bisa lagi berkutik. Mau tidak mau dia harus menerimaku." Nina menyambung kata-katanya dan tidak membiarkan orang lain berkomentar sepatah katapun.
"Beni menyukai Ega dan kamu sudah mendengarkannya sendiri pengakuan Beni kalau dia cinta sama Ega dan kami semua mendukungnya jadi seharusnya kamu menghargai pilihan Beni," ucap Evan mengingatkan hal itu. Seharusnya sebagai seorang Sahabat dapat menerima apapun keputusan dari Sahabatnya sendiri tapi kenyataannya jauh dari kata seharusnya.
"Beni sedang khilaf, setelah sadar dia menyesali pernyataannya. Aku akan berbicara dengan Ega untuk meminta tidak perlu menghiraukan Beni apalagi membalas cinta Beni. Aku tahu siapa Ega, dia suka mengalah apalagi itu menyangkut kebahagiaan Nina dan Beni. Kebahagiaan Sahabatnya itu lebih penting dari kebahagiaan dirinya sendiri," ucap Nina yakin dengan apa yang diketahui tentang Sahabatnya itu.
"Kamu benar Nin! Ega bahkan memohon agar Beni mau menerima kamu menjadi pacarnya bahkan memintanya untuk menikahi kamu tapi dengan tegas Beni menolak itu. Seharusnya kamu sadar, Beni hanya menganggapmu Sahabat. Kamu seharusnya tahu siapa Gadis yang selama ini dicari oleh Beni. Cinta Beni sudah tumbuh sudah lama bahkan dari Zaman SMA dulu. Tidak seharusnya kamu masuk pada kehidupan pribadi Beni." Juna Lagi-lagi menasehati Nina agar Wanita itu bisa mengerti dan menerimanya.
__ADS_1
"Justru itu, kenapa kalian memisahkan Gadis yang dicintai oleh Beni sejak lama. Gadis itu adalah aku. Aku Gadis yang menolong Beni dan rela mendonorkan darahku untuk menyelamatkannya. Sekarang apa? kalian malah memisahkan kami, Sahabat macam apa kalian?" sahut Nina tidak mau kalah.
"Benarkah itu Nin? setahu kita kamu tidak berani dengan Jarum Suntik dan tidak berani lihat darah apalagi mengalir dari dalam kulit kamu. Lantas bagaimana caramu mendonorkan darah? lihat Jarum Suntik saja kamu langsung Pingsan." Evan mengomentari pengakuan Nina dengan rasa heran. Jujur saja dia tidak tahu perihal ini dan dia terkejut mendengar Nina pernah menolong Beni waktu SMA dulu.
"Aku melakukannya dalam keadaan tidak sadarkan diri," jawab Nina tegas.
"Hahahahaha." Semua menertawakan kejujuran Nina untuk menutupi kebohongannya. Tanpa sadar dia mengakui kalau 'aku berbohong'.
"Apa Kamu sedang membodohi kami Nin? apa kamu sedang menfitnah Para Dokter karena telah melanggar kode etik mereka. Pendonor itu harus sehat dan dalam keadaan sadar ketika mendonorkan darahnya. Mana boleh mengambil darah orang yang dalam keadaan tidak sadarkan diri. Kamu tuh ya hanya gara-gara menyukai Beni menjadi kehilangan akal dan hati nurani. Cinta itu tidak bisa dipaksakan dan semakin dipaksakan semakin ia tidak bisa diraih. Biarkan saja berada pada dua hati yang semestinya. Takdir itu sudah ditetapkan oleh Tuhan. Sekuat apapun kita berusaha mendapatkannya dengan berbagai cara jika Tuhan tidak menghendakinya maka kita tidak pernah bisa bersatu dan bersama dengan orang yang kita inginkan," ucap Dipta meragukan pengakuan Nina sekaligus menasehatinya. Baik Dipta maupun Evan tidak tahu menahu dengan cerita Beni yang pernah ditolong oleh seorang Gadis dan Beni jatuh cinta kepada Gadis itu. Hanya Juna yang tahu perihal itu dan pada akhirnya Nina mencuri dengar cerita itu dan memanfaatkan apa yang dia ketahui. Nina tidak tahu kalau Beni sudah mengetahui kebohongannya dan mengetahui siapa sebenarnya Gadis yang menolongnya.
"Akan aku upayakan Beni menjadi takdirku," ucap Nina membalas nasehat dari semua Sahabatnya.
"Kamu benar-benar keras kepala," sahut Dipta kesal.
Juna mengalihkan pembicaraan, dia sudah malas menghadapi Nina yang kekanak-kanakan dan keras Kepala.
***
Berbeda dengan suasana di Mobil Rian. Tidak ada yang membahas tentang Nina setelah Rian menjelaskan secara singkat mengenai Nina yang menyukai Beni dan Ega pernah meminta Beni membalas cinta Nina. Namun Beni mengindahkan permintaan Ega dan malah menculiknya untuk dijadikan Isteri. Pada akhirnya terjadilah akad nikah dadakan itu.
"Ibu Guru Fiza, ajarkan ane bagaimana caranya mendapatkan hatimu? ane merasa kehilangan kecerdasan saat berhadapan dengan Ibu Guru Fiza," ucap Rian serius. Dia mulai mengombali Gadis cantik yang sedang duduk kalem disampingnya. Fiza hanya tersenyum menanggapi gombalan Rian.
Sementara Amanda heboh menanggapi gombalan Rian. Terkadang dia tertawa mendengarkan rayuan Rian yang terdengar lucu.
"Mas Rian berguru sama Amanda aja, dijamin Mbak Fiza malam nanti langsung menyodorkan diri untuk Mas Rian nikahi," ucap Amanda tersenyum jahil sedangkan Fiza mempelototi Amanda.
"Serius kamu Manda?" tanya Rian.
"Iya seriuslah tapi harus kudu bawa Ayam berbulu putih tiga ekor, Benang warna hitam dan Kepeng Bolong ( Uang bolong ). Jika sudah syarat itu dipenuhi dijamin dah. ... !" jawab Amanda mengantungkan kalimat selanjutnya.
"Dijamin apa?" tanya Rian penasaran.
"Dijamin kekenyangan makan Ayam Panggang," jawab Amanda serius setelah itu memperdengarkan tawa kemenangannya.
"Hahahahaha."
"Tak pikir kamu tadi mau jadi dukun beranak," sewot Rian cemberut.
Fiza hanya tertawa kecil menanggapi guyonan mereka. Fiza saat ini belum memahami keinginan hatinya. Dia mengakui kalau Rian adalah Laki-laki baik, lembut dan juga terlihat bertanggungjawab. Rian memiliki senyum manis yang mampu memikat hati para Gadis dan ditambah kemapanannya. Lantas apalagi yang hendak dicari? Fiza benar-benar gamang, dia terlanjur jatuh cinta kepada Laki-laki berparas Timur tengah itu, Putra Bangsawan Pencity. Hatinya terlalu jauh memilih padahal dia sadar Lalu Mandala Juna itu sangat sulit digapai. Fiza tahu tentang Bangsawan Pencity dan dia tidak menyangka bertemu salah satu Penghuninya dan Jatuh Cinta kepadanya. Apa dia salah menyukainya? tidak ada yang salah bukan? hanya saja dia tidak terlahir dari keturunan Menak. Akankah dia mengharapkan Laki-laki itu akan dibuang oleh keluarganya jika ingin bersamanya.
__ADS_1
Fiza tahu Para Bangsawan Pencity harus menikah dengan keturunan yang sama dengan mereka kalau tidak maka harus siap dibuang oleh keluarganya. Bukan sebuah cerita tapi ini kenyataan. Banyak dari mereka yang menikah dengan orang yang biasa dan seketika itu mereka dibuang oleh keluarganya. Apakah itu yang diinginkannya untuk Juna? Entahlah!.
Bersambung.