
" Para siswa dan siswi SMA jaya biru untuk hari ini di izinkan untuk pulang lebih awal, di karenakan sekolah akan mengadakan rapat hingga sore nanti. Jadi seluruh siswa boleh untuk pulang lebih cepat hari ini. Hati-hati di jalan dan datang kembali besok" kata dari pembesar suara milik sekolah.
Dista yang mendengar itu sangat bahagia.
"Ahh..Ay, kita cepat pulang hari ini" ucap Dista.
"Yah, kau benar"
"Ayo kita pulang" Dista menarik tangan Ayla. Ayla yang tidak siap hampir saja terjatuh akibat tarikan Dista.
"Ehhh..."
Dista berlari dengan masih memegang tangan Ayla. " Pelan-pelan, Dista" . Ayla kesusahan berlari, karena Dista menariknya kuat.
" Ayo cepat ambil tas kamu, kita pulang!" Dista melemparkan tas milik Ayla. Ayla langsung menangkapnya dengan kedua tangannya dan memeluknya di dada. kemudian menggendong nya di punggung
" Kamu kenapa buru-buru sekali?" Ayla kebingungan dengan sikap Dista yang sangat terburu-buru.
"Aku ingin bermain di rumahmu" jawab Dista.
"Ayo cepat!" Dista kembali menarik tangan Ayla. Dista tidak melepas tangan Ayla sampai di parkiran sepeda.
" Cepat ambil sepedamu!" Perintah Dista. Dista sudah melepas tangan Ayla, kemudian dia menunjuk sepeda itu.
"Dista... dengarkan aku dulu" Ayla tidak langsung mengambil sepedanya sesuai perintah Dista. Ia ingin menjelaskan sesuatu pada sahabatnya itu.
"Oke-oke, aku akan mendengarkanmu" Dista akhirnya mau diam dan mendengarkan ucapan Ayla. Dia memegang kedua tali tasnya yang ada di pundaknya.
"Aku tidak bisa bermain denganmu hari ini" ucap Ayla.
" Memangnya kenapa? Aku tidak boleh ,ya pergi main ke rumah kamu? Aku tidak masalah dengan kondisi rumahmu" Dista berfikir Ayla tidak mengizinkannya, karena Ayla tidak ingin membuatnya tidak nyaman datang ke rumahnya.
" Bukan seperti itu, hari ini aku harus pergi kerja" jelas Ayla. Ayla selalu pergi bekerja saat pulang sekolah. Kebetulan hari ini dia ingin cepat ke sana agar cepat pulang nantinya.
"Kamu kerja?" tanya Dista, kaget.
"Bukankah kau mendapatkan beasiswa di sekolah ini? Terus, kenapa kamu masih bekerja lagi?" Tanya Dista bingung. Setahunya, jika kita mendapatkan beasiswa kita juga mendapatkan tunjangan untuk kehidupan sehari-hari, walaupun tidak sebanyak uang untuk biaya sekolah.
" Aku memang mendapatkannya, tetapi ada sesuatu hal yang mengharuskan aku mengeluarkan biaya besar di saat-saat tertentu" jawab Ayla.
"Apa itu?" tanya Dista penasaran.
__ADS_1
"Belum saatnya kau tahu" Ayla tidak ingin memberitahu Dista tentang kondisinya, karena menurutnya itu bukan hal yang harus diketahui oleh Dista. Dia juga tidak ingin orang lain merasa kasihan padanya.
"Baiklah" Dista sebenarnya agak kecewa mendengar jawaban Ayla, tapi ia juga tidak ingin memaksa dan membuat Ayla risih padanya.
"Aku akan mengantarkanmu sampai mobil saja, yah?" Ayla menawarkan hal itu sebagai gantinya.
"Oke, tapi... bonceng aku sampai mobil!" Dista menaik turunkan alisnya.
"Hah...Baiklah, ayo naik" Ayla membuang nafasnya sebentar, sampai akhirnya dia setuju untuk membawa Dista sampai di mobilnya.
Dista tersenyum senang, dia langsung duduk di belakang dan memeluk Ayla.
"Siapa..,ayo jalan!" Seru Dista.
Ayla mengayuh sepedanya keluar dari sekolah. Para siswa yang melihat keduanya hanya saling pandang satu sama lain. Apalagi Dista yang melambai kepada semua siswi yang ia lewati.
"Sudah sampai, turunlah!" Mereka sudah sampai di depan mobil Dista. Pak Jang yang melihat nona mudanya ada di atas sepeda geleng-geleng kepala.
"Yahh...., kok cepat banget? kamu sih, ngayuhnya sangat cepat" Dista tidak rela cepat sampai. Dia menyalahkan Ayla yang sangat cepat mengayuh. Ia masih ingin naik sepeda dengan Ayla. Wajahnya bahkan tertekuk saking tidak relanya.
"Aku mengayuhnya dengan normal, Dista"
"Ahh..., gak seru" Dista menghentakkan kedua kakinya ke tanah dengan kesal sampai ke dalam mobil. Di dalam mobil dia mendudukkan dirinya dengan kasar dan melipat tangannya di dada.
"Kami duluan, nona Ayla" pamit pak Jang pada Ayla.
"Iya, pak. Dadah Dista, jangan cemberut terus, yah!" Ayla mengangguk pada Pak jang. Ia menoleh ke arah Dista dan melambai ke arahnya, tapi Dista hanya melirik dengan ekor matanya. Ayla sampai meringis melihat itu.
Mobil itu berjalan dengan normal. Ayla tempat di belakang mobil milik Dista. Namun mobil itu bertambah kecepatan membuat Ayla kebingungan melihatnya. Ayla tertinggal jauh di belakang, Dista menoleh ke arah belakang dengan wajah yang masih tanpa kesal.
Ayla sudah tidak nampak oleh pandangan Dista, namun tiba-tiba mobil milik Dista oleng dan terdengar suara seperti ban pecah. Asap juga nampak keluar dari mobil kap mobil.
"Ehh... mobilnya kenapa pak jang?" Tanya Dista. ia memegang pada kursi yang ada di depannya dan untung saja, dia mengenakan sabuk pengaman.
" Saya akan mengeceknya terlebih dahulu, nona" ucap Pak jang Dista juga ikut turun dan melihat keadaan mobilnya.
"Bagaimana?" tanya Dista pada Pak jang.
" Ban mobilnya meletus, nona dan sepertinya ada mesin yang bermasalah sehingga mengeluarkan asap" pak Jang menjelaskannya.
"Yah.. gimana dong, pak Jang?"
__ADS_1
" Saya akan menelpon montir dulu, nona"
" Pasti lama?"
" Tergantung, nona" pak Jang menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Tapi saya akan menelpon seorang di manssion untuk datang menjemput anda" pak Jang mengajukan solusi.
"Ehh.. tidak perlu pak Jang" Dista menahan pak Jang agar tidak menelpon orang di manssion.
" Memangnya kenapa, nona?" tanya pak Jang bingung.
"Tuh, lihat" Dista menunjuk kearah jalanan.
Pak Jang mempertajam penglihatannya. Ia melihat seseorang sedang mengayuh sepeda ke arah mereka.
" Bukankah itu nona Ayla, nona muda?" Tanya pak Jang, setelah mengetahui siapa yang mengayuh sepeda ke arah mereka.
"Benar" Dista membenarkan.
*****
Ayla dari jauh melihat mobil milik Dista terparkir di pinggir jalan segera menghampirinya. Dia bingung kenapa Dista berhenti di sana.
"Kenapa kamu berhenti di sini, padahal tidak ada apa-apa di sini?" Tanya Ayla.
" Mobil aku mogok terus bannya pecah" jawab Dista.
" Jadi sekarang kamu ngapain?" Tanya Ayla. Dia bertanya seperti itu karena Dista hanya berdiri di pinggir jalan.
" Tungguin montir untuk memperbaiki mobil ini, tapi itu sangat lama apalagi banyak kerusakan pada mobilnya" Jawab Dista.
" Jadi kamu harus mengantarku pulang" Dista cara tiba-tiba naik di sepeda. Ayla sampai kaget, dia hampir saja jatuh dari sepeda jika dia tidak menahannya.
" Astaga Dista yang benar saja, rumahmu pasti jauh, kan?" Ayla tidak habis fikir dengan ucapan Dista.
" Tidak hanya dua puluh lima menit saja" jawab Dista enteng.
" Ayolah Ayla antar aku, kamu jahat banget!" Dista melipat tangannya di dada dan wajahnya sangat kesal.
" Baiklah aku akan mengantarmu" Ayla akhirnya pasrah. Dia melupakan tentang pergi bekerja. Sebenarnya Ayla hanya bekerja pada hari libur, karena dia hanya di gaji harian saja.
__ADS_1
"Nona muda.., bagaimana jika tuan Hasbu marah pada saya" teriak pak Jang, karena nona mudanya sudah menjauh dari tempatnya saat ini.
" Aku yang akan menjelaskannya pada daddy nanti" Dista juga berteriak menjawabnya.