Sahabatku Berubah Menjadi ADIK IPARKU

Sahabatku Berubah Menjadi ADIK IPARKU
Bab 97.......


__ADS_3

****Keesokan harinya****


Setelah insiden di kamar mandi kemarin siang, membuat Ayla dan Dimas menjadi canggung. Mereka hanya diam dengan pikiran mereka masing-masing hingga mom Awah datang.


Ayla masih merasa sangat malu kepada Dimas. Ayla benar-benar tidak ingin menatap wajahnya. Sedangkan Dimas, ia sangat ingin membicarakan hal itu kembali, tapi ia juga ragu, karena melihat Ayla yang hanya diam saja.


Dimas bahkan selalu memikirkan kejadian di kamar mandi. Sampai-sampai Dimas terbawa mimpi. Dan saat di pagi hari, milik Dimas berdiri tegak dan hal itu sempat di lihat oleh Ayla.


Ayla bergidik ngeri melihat sesuatu yang menonjol di balik celana Dimas. Hingga Dimas sudah bangun dan menyadari miliknya, ia segera bergegas ke kamar mandi, serta umpatan yang keluar dari mulutnya.


Benar-benar gila. Kenapa malah kebawa mimpi sih_ batin Dimas_


Dimas berlari cepat ke kamar mandi. Setelah beberapa menit Dimas di dalam kamar mandi untuk menuntaskan sesuatu yang sangat memalukan jika di ketahui oleh orang lain dan sekalian membersihkan dirinya.


Dimas selesai dan keluar dari kamar mandi. Ia melirik Ayla yang tidur membelakanginya dan nampaknya masih tidur.


 Dimas mengelus dadanya sambil berkata, "Untung saja Ayla tidak melihatku" gumamnya.


Padahal kenyataannya tidak seperti itu. Nyatanya Ayla sudah bangun sejak tadi. Ayla hanya pura-pura tidur saat melihat Dimas sudah bangun. Ayla buru-buru membelakangi Dimas agar dia tidak melihatnya.


Dimas kembali ke sofa dan bermain handphone. Beberapa menit kemudian, aunty Caca dan suster kembali datang ke kamar rawat Ayla.


"Loh...Ayla belum bangun?" tanya aunty Caca ketika ia melihat Ayla yang masih tidur.


"Belum onty" Dimas menggeleng dan melanjutkan bermain handphone.


Sedangkan Ayla yang mendengar itu, sangat takut jika dirinya ketahuan hanya pura-pura tidur. Ayla memjamkan matanya erat-erat dan pura-pura tidak mendengar pembicaraan mereka.


"Padahal ini sudah jam tujuh" ucap aunty Caca seraya melihat arlojinya.


"Jadi bagaimana, dok? apa kita tetap melanjutkan pemeriksaan?" tanya suster.


"Tidak perlu. Kita tunda dulu sampai Ayla bangun" aunty Caca berjalan kembali ke pintu.


Langkahnya terhenti karena mengingat sesuatu. "Oh yah.. beritahu onty, kalau Ayla sudah bangun!" perintah aunty Caca pada Dimas.


" Oke.." Dimas mengangat jempolnya.


Ruangan itu kembali hening. Dimas kembali fokus dengan Handphonenya, tapi tidak dengan Ayla. Ayla sudah tidak tahan berpura-pura tidur. Ayla sangat ingin buang air kecil. Dia sejak tadi menahannya saat aunty Caca datang.


Aduhh...aku mau pipis_batin Ayla_


Jika di perhatikan kaki Ayla tampak sedikit bergerak, karena susah payah menahan buang air. Dimas sama sekali tidak menyadarinya.


Ayla yang sudah tidak tahan langsung bangun dan grasak-grusuk untuk turun dari brangkar. Brangkar yang lumayan tinggi untuk kaki Ayla yang pendek, tanpa pikir panjang Ayla lompat dari brangkar.


Dimas yang menyadari Ayla lompat dari brangkar tentu saja kaget. Dia langsung berdiri dari duduknya. Dia memperhatikan Ayla yang berjalan dengan sangat cepat mendorong tiang infusnya ke kamar mandi. Dimas menjadi khawatir.


Dimas mengikuti Ayla dan ingin bertanya, tapi Ayla lebih dulu menutup pintu kamar mandi.

__ADS_1


Brakkk...


Ayla menutup pintunya lumayan keras. Tak berselang lama Ayla sudah selesai.


" Ahh..leganya" ucap Ayla setelah selesai.


Ayla kemudian membuka pintu kamar mandi dan betapa kagetnya ia melihat wajah Dimas tepat saat ia baru membuka pintu.


"Kak Dimas bikin kaget" ucap Ayla seraya memegang dadanya.


"Kamu kenapa?" tanya Dimas panik. Ia memegang kedua bahu Ayla dan membolak-balik badannya.


"Ihh..kak Dimas kenapa sih? kepala Ayla pusing"


"Kepalamu pusing? aku akan panggul onty Caca untuk memeriksamu" Dimas salah menangkap maksud Ayla. Ia berlari keluar dari kamar rawat dan memanggil onty Caca.


Sedangkan Ayla bingung sendiri. Ia ingin menahan Dimas, tapi keburu pergi.


Tak berselang lama aunty Caca datang dengan sedikit terburu-buru.


" Ayla...apa kamu baik-baik saja?" tanya aunty Caca. Ia juga ikut panik mendengar cerita Dimas.


"Ayla baik-baik saja onty"


"Kamu yakin?"


"Sangat yakin, onty"


"Iya, kepala Ayla pusing karena kak Dimas membolak-balik badan Ayla" ucap Ayla kesal dengan melirik Dimas.


Aunty Caca bernafas lega dan juga kesal pada Dimas, karena telah membuatnya berlari ke kamar rawat Ayla.


Aunty Caca kemudian memilih memeriksa keadaan Ayla lebih lanjut. Apakah hari ini Ayla sudah bisa pulang atau tidak.


"Kamu sudah bisa pulang hari ini" ucap aunty Caca.


"Sungguh?"


"Iya. Semuanya sudah bagus, hanya tinggal masa pemulihan saja di rumah" Ayla mengangguk senang.


Tak berselang lama mom Awah datang sesuai janjinya kemarin untuk menjemput Ayla pulang.


"Apa keadaan Ayla sudah membaik, Ca?" tanya mom Awah sambil berjalan mendekat.


"Sudah, kak. Ayla sudah bisa pulang hari ini" jawab aunty Caca seraya melepas infus Ayla.


"Dimas, ambil kursi roda di ruangan onty. Ada satu di sana!"


" Ayla rasa nggak perlu onty. Di rumah kan masih masih ada kursi roda Ayla yang dulu. Ayla bisa pakai yang itu saja"

__ADS_1


Aunty Caca menoleh ke Mom Awah untuk meminta persetujuan. Mom Awah pun mengangguk.


"Baiklah, kalau begitu" ucap aunty Caca.


"Kalau begitu, ayo kita pulang!" ajak mom Awah.


Ayla mengangguk dan ingin turun dari brangkar, tapi Dimas tiba-tiba menggendongnya.


"Ehhh...." Ayla kaget. Ia tidak terfikir Dimas akan menggendongnya.


"Sebagai gantinya, karena kami tidak mau menggunakan kursi roda" ucap Dimas seraya berjalan keluar dari kamar rawat.


"Ihh...turunin nggak!! aku malu tahu di liatin orang" Ayla menggoyangkan kedua kakinya.


"Kalau malu, diam. Orang-orang mihatmu, karena kamu bandel" Dimas berbohong agar Ayla bisa diam ketika di gendong


" Benarkah?"


"Iyalah"


Ayla akhirnya memilih diam di sepanjang lorong rumah sakit sampai di depan mobil. Ayla menyembunyikan kepalanya wajahnya di dada Dimas, karena merasa sangat malu di tatap seperti itu oleh setiap orang yang mereka lewati. Mom Awah dan aunty Caca hanya mengikuti mereka dari belakang.


Setelah semuanya naik, mobil pun kini berjalan kembali pulang ke mansion. Di dalam perjalanan Ayla hanya diam duduk di tengah-tengah antara mom Awah dan Dimas.


Setelah beberapa menit, mereka akhirnya sampai di mansion. Dan lagi-lagi Dimas menggendong Ayla.


"Kenapa kak Dimas masih menggendongku? kita sudah ada di rumah dan ada kursi roda di dalam"


"Kelamaan" jawab Dimas singkat.


Dimas membawa Ayla dengan santai ke kamar mereka tanpa berbicara dengan sang mommy. Mom Awah pun tidak mempermasalahkan sikap putranya.


Saat Dimas menaiki tangga, matanya malah salah fokus ke dada Ayla yang sedikit terbuka. Pikirannya menjadi teringat tentang kejadian di kamar mandi.


Siall...baru memikirkannya saja milikku sudah bangun_batin Dimas_


Dimas berusaha menghilangkan pikiran kotornya, tapi ia tidak bisa melupakannya.


Sesampainya di kamar, Dimas membaringkan Ayla dengan hati-hati di atas kasur. Wajahnya sangat dekat dengan Ayla. Matanya melihat ke arah bibir Ayla yang membuatnya tergoda.


Tampa Dimas dan Ayla sadari, wajah Dimas lebih dekat dan tiba-tiba...


Cupp...


.


.


NEXT

__ADS_1


Maaf yah.. author telat up. Soalnya author benar-benar sibuk, karena sudah mulai kuliah. Tugas author lagi banyak-banyaknya. Jadi mohon maklum yah... teman-teman.


Tetap setia di karya author yah...


__ADS_2