
Hari kembali berganti. Terlihat matahari mulai naik dan terlihat di antara celah-celah gunung. Sinarnya masih belum terlalu terang, tapi sudah bisa melihat apa saja dengan cahaya itu.
Beberapa penduduk bumi sudah mulai bangun dan meninggalkan tempat tidur mereka. Ada juga yang masih setia berbaring di atas kasur yang nyaman miliknya.
Seperti di kamar utama mansion Smith. Terlihat daddy Hasbu mengerjapkan matanya dan menoleh di sisi kirinya. Di mana ada sang putri yang tengah memeluk sang istri. Dia bangun dan sedikit mengintip wajah putrinya, tapi matanya membulat melihat putrinya tengah menyusu di salah satu gunung istrinya.
Ohh..astaga.. _Batin daddy Hasbu_
Dia menggoyangkan lengan istrinya agar bangun.
" Hmmm..kenapa, dad ?" tanya mom Awah dengan suara khas bangun tidur.
" Bangunlah. Putrimu berulah lagi " setelah mengatakan itu, daddy Hasbu pergi ke kamar mandi.
Mom Awah yang mendengar itu, menoleh ke bawah. Benar saja, putrinya sedang menyusu padanya. Salah satu tangannya juga memegang gundukan lainnya.
" Dia kambuh lagi " gumam mom Awah. Ia mengusap rambut putrinya. " Sayang, bangun" mom Awah berbisik di telinga Dista.
" Hmmm.." Dista hanya berbunyi saja.
" Ayo bangun. Ini sudah cukup " mom Awah menarik miliknya dari mulut putrinya. Barulah Dista membuka matanya.
" Enak yah ?" mom Awah menggoda Dista, karena sudah diam-diam menyusu.
" Maaf, mom. Itu refleks " Dista bangun dan berjalan sempoyongan ke kamarnya.
" Jangan tidur lagi. Langsung mandi yah ?" mom Awah berteriak, saat Dista sudah setengah berjalan ke kamarnya.
" Iya, mom " sahut Dista.
Dista membuka pintu kamarnya dan tidak melihat sahabatnya di atas kasur. Kasur masih terlihat rapih seperti semalam.
" Cepat juga dia bangun " gumam Dista.
Ia mengira Ayla sudah bangun sejak tadi. Ia berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah itu, ia keluar untuk mencari sahabatnya. Dista mencari di berbagai tempat. Mulai di ruang keluarga, ruang tamu, kemudian ke taman belakang dan terakhir di dapur, namun ia tidak menemukan keberadaan sahabatnya.
" Kak Tila " panggil Dista. Tila menoleh. " Kak Tila melihat sahabatku, Ayla ?"
" Tidak. Belum ada yang turun sejak tadi. Baru anda yang turun dari lantai 2 " Tila menjawab seraya menggeleng.
" Masa sih ?" Dista bingung sendiri.
Dia kembali naik ke lantai 2 dan mengecek kamarnya dengan teliti, tapi sahabatnya tidak ada. Dia kemudian ke kamar orang tuanya untuk menanyakan keberadaan sahabtnya.
" Mom, dad " Dista menghampiri keduanya. Mereka menoleh saat putrinya memanggil.
" Kenapa ?" tanya mom Awah.
" Apa kalian liat di mana Ayla ?"
" Loh, bukannya Ayla tidur di kamarmu ?" mom Awah heran.
" Iya mom, tapi Ayla nggak ada. Dista juga sudah mencarinya ke mana-mana, tapi Dista tidak menemukannya "
__ADS_1
" Mungkin Ayla kesasar di mansion " daddy Hasbu menduga.
" Bisa jadi "
" Ayok kita mencarinya. Nanti dia panik sendiri, kalau tidak tahu jalan kembali !" ajak daddy Hasbu.
Mereka berpencar mencari keberadaan Ayla. Seluruh ruangan dan sudut-sudut mansion sudah mereka cari, tapi tidak menemukan keberadaan Ayla.
" Daddy tidak melihatnya " daddy Hasbu memberi tahu putrinya dan istrinya saat bertemu di ruang tamu.
" Mommy juga tidak " mom Awah juga menggeleng.
" Terus Ayla ke mana. Masa Ayla pulang ke rumahnya ? itu tidak mungkin " Dista menghempaskan bokongnya di sofa.
Dista memangku wajahnya dan mulai berfikir kira-kira di mana keberadaan Ayla saat ini.
" Dista akan tanya kak Dimas, mungkin kakak tahu " Dista berdiri dan berjalan cepat ke kamar sang kakak.
Saat sampai di depan pintu, Dista tidak mengetuk pintunya. Ia langsung membuka pintu itu begitu saja. Saat ia melihat ke dalam, betapa kagetnya ia melihat sahabatnya tengah berbaring dengan kakaknya.
Dista menutup mulutnya seraya menggeleng tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Ia berjalan mundur dengan pelan, kemuadian berbalik dan berlari dengan terburu-buru menemui kedua orang tuanya.
"Mommy, daddy " Dista memanggil keduanya dengan panik.
" Kamu kenpa ?" mom Awah jadi ikutan panik. Ia berfikir terjadi sesuatu yang buruk.
" Kalim harus melihat ini, cepat !" Dista berlari menaiki tangga.
Mom Awah dan daddy Hasbu saling pandang, kemudian ikut berlari. Mereka sangat penasaran apa yang di lihat oleh putrinya.
Daddy Hasbu dan mom Awah mengintip bersamaan ke dalam kamar putranya. Mom Awah juga shok dan menutup mulutnya. Dia memegang tangan suaminya.
" Dad, putramu " mom Awah tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
Daddy Hasbu yang melihat itu, pandangannya menjadi dingin. Ia mersa marah dengan putranya. Ia berjalan masuk dan membangunkan Dimas dengan kasar.
" Bangun ! " daddy Hasbu menggoyangkan tubuh putranya dengan kasar.
" Cepat bangun !" dari nadanya, daddy Hasbu terdengar sangat marah.
" Dad, mom, Dista, ada apa ?" Dimas menyebut keluarganya satu persatu, saat melihat mereka semua ada di sana.
" Apa ini ?" tanya daddy Hasbu dingin. Ia menunjuk ke arah Ayla yang berbaring di sebelah putranya.
Dimas menoleh dan betapa kagetnya ia melihat sahabat adiknya berada di sebelahnya. Ingatannya kembali berputar semalam. Ia mengingat tubuhnya yang panas dan menarik sahabat adiknya ke kamar miliknya.
" Pakai pakaianmu " daddy Hasbu memberikan celana putranya yang tergeletak di kamar.
Dimas memakainya di dalam selimut, karena masih ada adiknya di sana.
" Ikut daddy !" daddy Hasbu berjalan keluar menuju ruang kerjanya.
Sepeninggalan kedua pria beda usia itu, Mom Awah dan Dista naik ke atas kasur dan mencoba membangunkan Ayla, namun tidak juga bangun.
__ADS_1
Mom Awah bisa melihat bekas kiss Mark di leher Ayla. Bekas itu sangat banyak. Ia membuka sedikit selimut Ayla bagian atas untuk melihat sejauh mana tanda itu. Ternyata berkasnya memenuhi dadanya.
" Mom, apa kakak menodai Ayla ?" mata Dista sudah berkaca-kaca.
Mom Awah menoleh dan tahu, kalau putrinya tengah merasa bersalah.
" Bisa kamu kembali ke kamarmu. Mommy sama daddy yang akan mengurus ini " mom Awah mengusap pipi putrinya yang basah.
Dista mengangguk dan menurut.
Setelah kepergian putrinya, mom Awah menelpon sang adik yang biasa anaknya panggil dengan onty Caca. Aunty Caca adalah seorang dokter kandungan, mom Awah memanggilnya, karena hanya ingin mengecek bagaimana kondisi bagian bawah Ayla saja.
****
Di ruang kerja, daddy Hasbu menatap putranya tajam, sedangkan Dimas hanya menunduk dan tidak berani menatap daddy-nya.
" Kamu memaksanya?" tanya daddy Hasbu.
" Maaf, dad " Dimas masih tidak berani menatap wajah daddy-nya.
Mendengar itu, wajah daddy Hasbu sudah memerah, karena menahan amarahnya.
" Kenapa kamu melakukannya ? Bukankah daddy sudah memperingatimu ? Dan kenapa kamu melakukannya dengan Ayla bukan dengan kekasihmu?"
" Aku tidak sadar dalam melakukannya, dad. Aku terpengaruh obat perangsang...bla..bla.." Dimas menceritakan bagaimana ia bisa bersama Ayla di kamarnya.
Daddy Hasbu yang mendengar cerita putranya mengerutkan keningnya. Ia merasa ada yang janggal. Sepertinya putranya juga di jebak oleh seseorang, tapi daddy Hasbu belum bisa memastikan hal itu.
" Kamu tahu konsekuensi dari perbuatanmu bukan ?"
Dimas menatap daddy-nya dengan perasaan campur aduk.
" Maksud daddy ?"
" Daddy tahu kamu mengerti maksud daddy. Kamu harus menikahi Ayla "
" Apa !!!" Dimas kaget. " Dimas nggak bisa, dad. Dimas masih punya Sinta dan juga umur Dimas masih 20 tahun " Dimas menolak untuk menikah.
Dimas tidak menyadari akibat dari kesalahannya.
Daddy Hasbu yang mendengar penolakan putranya dan masih memikirkan kekasihnya membuat daddy Hasbu geram dan marah.
Brakkk...
.
.
NEXT..
Apa yang terjadi ?...
Apakah Dimas akan tetap kekeh untuk tidak menikah dengan sahabat adiknya?...
__ADS_1
Tunggu cerita selanjutnya..