
"Kenapa kalian bisa ada di sini ?" tanya Ayla
" Nenek mencarimu " ucap nenek Moya masih dengan kepanikannya.
" Maafkan Ayla, nek. Ayla hanya ingin jalan-jalan dan mencoba malawan banyang-bayang itu " Ayla menunduk dan merasa bersalah.
" Apa tidak ada masalah ?" tanya dokter Winston.
Ia juga sangat khawatir Ayla mengalami histeris lagi. Walaupun beberapa hari belakangan ini sudah jarang Ayla seperti itu. Tapi, itu berbeda, karena masih dalam pengawasannya.
" Aku tidak apa apa" jawab Ayla.
Ia menoleh ke belakang di mana pria remaja itu terkapar, tapi di sana ada ibu tadi yang terlihat khawatir dengan remaja itu.
" Saya rasa anak ini harus di bawa ke kantor polisi, karena sudah merampas milik ibu " ucap dokter Winston.
" Jangan tuan. Sebenarnya ini anak saya " ibu itu menolak. Ternyata remaja itu putra ibu itu.
" Ini anak ibu ?" tanya Ayla kaget.
" Iya, nona. Ini anak saya " jawab ibu itu.
" Dia harusnya di bawa ke kantor polisi. Agar anak ibu tidak semena-mena terhadap anda dan juga agar dia jera " ucap dokter Winston.
" Dia akan di tahan paling lama 1 bulan, karena hanya untuk membuatnya jera saja"
" Tidak perlu tuan. Saya yang akan memberinya hukuman nanti " ibu itu tetap kekeh untuk tidak membawa anaknya ke kantor polisi.
" Baiklah. Kami permisi " Dokter Winston tidak ingin memaksa. Itu haknya untuk menolak.
Dokter Winston meraih bahu Ayla dan pergi dari sana. Ayla memegang tangan sang nenek.
" Boleh kita ke taman dulu, baru pulang ?" pinta Ayla.
" Tentu, nona. Ayo kita ke sana " dokter Winston setuju. Ini juga untuk mengetahui perkembangan Ayla setelah dia dengan berani pergi sendiri.
Taman
Mereka bertiga duduk di salah satu bangku taman yang berbentuk lingkaran. Mereka duduk di sana bersama sama. Dengan sedikit jajanan.
" Bagaimana perjalananmu tadi ?" tanya dokter Winston pada Ayla.
" Awalnya baik-baik saja sampai aku keluar dari lorong jalan rumah. Namun saat melihat remaja tadi yang merasa milik ibunya, di situlah kepalaku mulai sakit dan bayang-bayang itu muncul lagi "
__ADS_1
" Bagaimana bisa kamu kembali dan tidak mengalami histeris?" tanya dokter Winston penasaran.
" Ayla berusaha untuk tetap sadar dan tidak menutup mata, tapi aku tidak sanggup melawannya. Sampai akhirnya ada bisikan di telingaku. Bisikan itu dari kedua orang tuaku yang memberiku semangat. Ayla berusaha melawannya dan akupun berhasil " Ayla menjawabnya dengan senyum yang merekah.
Ia sangat bahagia kedua orang tuanya selalu ada di saat ia butuh dan selalu ada di sisinya.
" Kamu sudah bisa melawan bayang-bayang mu sendiri. Itu hal yang sangat bagus. Kamu sudah bisa melakukannya tanpa bantuan dokter " ucap dokter Winston dengan bangga.
" Terimakasih dokter, sudah membantu Ayla untuk keluar dari trauma itu " Ayla memeluk dokter Winston yang ada di sebelah kirinya.
Dokter Winston yang selalu menemani hari-harinya. Jalan bersama setiap hari, walaupun itu hanya untuk menghilangkan trauma saja, tapi Ayla sangat senang.
Dokter Winston yang mendapat pelukan tiba-tiba itu, ikut membalasnya. Ini pertama kalinya ada pasien yang ia rawat memperlakukannya seperti ini. Biasanya mereka akan pergi begitu saja setelah mereka sembuh. Jika ia bertemu dengan pasien yang pernah ia rawat, mereka seakan tidak mengenalinya.
" Sama-sama nona. Ini sudah menjadi tugas saya untuk membuat kamu sembuh. Kamu tidak akan sembuh jika itu bukan dari kerja kerasmu sendiri " dokter Winston mengusap rambut panjang Ayla yang masih memeluknya.
" Jadi, apa besok aku sudah bisa pergi ke sekolah ?" tanya Ayla antusias. Ia sudah melepas pelukannya dan menatap dokter Winston.
" Wahh.. kamu sangat bersemangat nona, tapi dokter rasa untuk besok belum. Dokter masih ingin melihat perkembanganmu. Dokter akan mengetesmu lagi besok. Jika itu berhasil, lusa kamu bisa ke sekolah " jawab Ayla.
" Hmm.. baiklah " Ayla menjadi sendu.
" Sabar nona. Besok dokter akan datang pagi hari, jadi kamu harus bersiap "
" Bagaimana kalau kita pulang sekarang ? Hari sudah mau sore, bagaimana kalau dokter Winston makan bersama kami di rumah ?" usul nenek Moya.
" Nenek benar, dok. Dokter maukan makan di rumah Ayla? mekanan buatan nenek enak-enak loh " Ayla setuju dengan usulan neneknya.
Dokter Winston yang melihat Ayla yang begitu senang mengajaknya, mau untuk ikut. Padahal ia berencana untuk makan di luar bersama teman seprofesinya.
Mereka berjalan pulang ke rumah Ayla. Dengan Ayla berada di tengah-tengah mereka. Nenek Moya berada sebelah kanan dan dokter Winston di sebelah kiri. Ayla menggenggam tangan keduanya.
Ke esokan paginya
Dista sedang duduk dengan lesuh mendengarkan penjelasan guru di depan. Dia tidak pernah bersemangat selama sang sahabat tidak bersekolah.
Teng..teng..teng...
Suara bell berbunyi, tanda para siswa istirahat. Suara itu sangat di tunggu-tunggu oleh semua murid. Guru mengakhiri sesi mengajarnya dan meninggalkan kelas 10 satu.
Teman-teman sekelas Dista berhamburan keluar menuju kantin. Termasuk tiga sekawan ( Tasya, Sifa dan Sofia).
Dista keluar dari kelas seorang diri. Berjalan sendiri menuju kantin. Itulah yang dia lakukan selama Ayla tidak ke sekolah. Saat Dista tengah berjalan di lorong koridor sekolah, ada seseorang yang memanggil namanya.
__ADS_1
" Dista " panggil orang itu.
" Ada apa, Roni ?" Dista menoleh pada ke belakang.
Ternyata yang memanggil Dista adalah sang ketua kelasnya Roni.
" Kita bereng ke kantin " ucap Roni.
" Ohh.." sahut Dista.
Mereka berjalan berdua menuju kantin. Saat mereka sampai di kantin, banyak anak-anak yang memperhatikan mereka. Roni sangat terkenal dengan perilakunya yang sangat tegas.
Roni tidak pernah bersama wanita selama ini. Dia hanya bergabung dengan gengnya. Roni juga menjadi primadona para siswi-siswi. Wajahnya yang tampan membuat dia digilai para siswi.
Dan kali ini mereka melihat Roni berjalan dengan seorang wanita, itu adalah hal yang langka bagi mereka.
" Kenapa mereka melihat kita seperti itu ?" tanya Dista heran. Ia tidak tahu, kalau Roni menjadi incaran para siswi.
" Entahlah. Biarkan saja mereka " jawab Roni.
Mereka mengantri untuk mengambil makan.
" Yahh, beef nya habis " Dista kecewa. Beef adalah makanan kesukaan di kantin sekolah. Setiap istirahat pasti ia akan selalu mengambilnya.
" Yang lain aja. Itu ayam masih ada " tunjuk Roni pada setumpuk ayam kecap.
" Gua kurang suka " Dista lebih memilih mengambil sosis dengan saus pedas.
Dista berjalan ke meja dan duduk untuk makan dengan Roni mengikutinya. Roni duduk di depan Dista dan memberikan beef nya.
" Loh, kenapa kau memberikannya padaku ? " tanya Dista.
" Nggak pa-pa makan saja. Aku kasihan melihatmu hanya makan sosis sama sayur saja "
" Terimakasih " ucap Dista senang.
Ia langsung memotong beefnya dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Roni tersenyum sangat kecil. Tidak ada yang tahu kalau dia tersenyum. Saking kecilnya.
.
.
NEXT..
__ADS_1