
Nenek Moya sudah melihat sang cucu yang berbaring di rumah sakit. Walaupun hanya sebuh infus saja yang tertancap di jari sang cucu, tapi mendengar kata bahwa cucunya mengalami pelecehan sampai trauma, membuat hatinya terasa pedih.
Ia merasa sang cucu selalu mendapatkan cobaan yang begitu berat. Mulai dari kedua orang tuanya yang meninggal, membuat Ayla kehilangan kasih sayang dari kedua orangtuanya.
Dirinya yang terkena serangan jantung dan harus di rawat pada saat ini, membuat sang cucu harus mencari uang untuk membayar biaya rumah sakit dan obat-obatan yang sampai kini dia konsumsi.
Sang cucu yang harus bekerja untuk membeli obat untuknya pada hari libur sekolah. Ia kadang merasa kasihan melihat cucunya yang tidak dapat menikmati hari libur seperti teman-temannya yang lain.
" Ayla, nenek sudah ada di sini. Apa kamu tidak ingin membuka matamu, nak?" ucap nenek Moya. Ia berada di sini sang cucu untuk menunggunya sadar.
Sedangkan Dista, mom Awah dan daddy Hasbu hanya menatapnya dari sofa yang ada di dalam kamar itu.
Nenek Moya mengusap-usap kepala cucunya dan hanya diam menatapnya. Tak terasa Ayla tampak mengerjapkan matanya, membuat nenek Moya memanggil nama sang cucu.
" Ayla" panggil nenek Moya.
Dista ingin mendekat mendengar nenek Moya memanggil Ayla. Apalagi dia juga melihat mata Ayla yang mengerjap, tapi mom Awah menahan tangannya seraya menggeleng.
" Biarkan nenek moya yang mengatasinya" ucap mom Awah pelan.
Dista mengurungkan niatnya untuk mendekat. Dia mengingat Ayla akan histeris nantinya, kalau dia melihatnya.
"Nak, ini nenek" ucap nenek Moya.
Mendengar suara yang tidak asing baginya Ayla langsung memeluk sang nenek dengan sangat erat.
"Nenek. nenek sudah datang? Ayla takut sendirian di sini, nek" ucap Ayla lirih.
"Tidak apa-apa, nak. Nenek sudah ada di sini" ucap nenek Moya menenangkan.
" Kenapa nenek lama sekali menolongku?" tanya Ayla. Ia menganggap neneknya lah yang menolongnya.
"Maafkan nenek" ucap nenek Moya. Ia mengusap punggung kepala cucunya.
" Nek, kita harus cepat pergi dari sini. Nanti mereka kembali dan menangkap kita" ucap Ayla panik. Ia melepaskan pelukan neneknya dengan cepat, mengingat ia masih berada di gubuk itu.
Nenek Moya diam melihat cucunya yang mulai panik.
"Ayo nek, jangan diam saja!" ucap Ayla. Ia sudah menurunkan kedua kakinya dari kasur dan berencana ingin lari.
"Nak, kita sudah tidak berada di sana. Kita sudah aman di sini" ucap nenek Moya. Ia menahan cucunya yang ingin lari.
"Tapi ini bukan rumah kita, nek" ucap Ayla saat menyadari ruangan di sekitarnya.
"Ini memang bukan rumah Kita tapi ini di rumah sakit" jawab nenek Moya. Ia kembali membaringkan cucunya di kasur.
Mendengar itu Ayla kembali menatap ruangan di sekitarnya dengan teliti. Tidak ada satupun yang terlepas dari penglihatannya, hingga akhirnya matanya menangkap beberapa orang yang duduk di sofa berdekatan dengan kasurnya saat ini.
__ADS_1
Ayla kaget dan mendorong tubuhnya ke pinggir tembok.
" Nek, mereka ada di sini" Ayla panik dan menunjuk kearah Dista dan kedua orang tuanya.
Nenek Moya menoleh ke belakang dan menatap mereka yang juga terlihat panik, menatap Ayla yang mulai histeris.
" Ayla..." nenek Moya ingin memberitahunya tapi Ayla lebih dulu memotong perkataannya.
" Mereka melihat kita nek. Kita harus segera lari sebelum mereka menangkap kita" Ayla mulai panik. Ia kembali menarik tangan neneknya untuk pergi dari sana.
" Ayla dengarkan nenek dulu!" nenek Moya berusaha menenangkan Ayla.
" Tidak nek. Kita harus segera lari. Ayo...!" kepanikan Ayla semakin menjadi. Dia selalu menyela perkataan neneknya dan tidak mau mendengarkannya.
" Ayla dengarkan nenek.. !" suara nenek Moya mulai meninggi. Ia menahan tubuhnya agar dia dapat melihatnya.
" Dengarkan nenek..!" nenek Moya memegang kedua pipi cucunya agar dia dapat mendengar perkataannya dengan jelas. Ayla pun terdiam dan menatap mata neneknya.
" Jangan seperti ini. lihat wajah mereka baik-baik, apa mereka yang menahanmu di tempat itu?" ucap nenek Moya. Ia menyuruh cucunya untuk melihat Dista dan kedua orang tuanya dengan teliti.
" Lihat, apa mereka yang membawamu ke tempat itu?" tanya nenek Moya. Ayla menatap mereka. Ayla memperhatikannya dengan intens.
Ayla diam menatap mereka entah apa yang ada di pikirannya. Melihat Ayla yang terdiam, Dista berdiri dan mencoba berjalan mendekat kearah Ayla.
" Ayla.." panggil Dista pelan.
" Ay, ini aku.., Dista" sekali lagi Dista mencoba memanggilnya. Ia sudah sangat dekat dengan Ayla dan menatap matanya dalam.
" Ayla.." ketiga kalinya Dista memanggil nama
Ayla. Kali ini ia mencoba memegang tangannya.
" Apa kau mendengarku?" tanya Dista. Ayla masih diam, tapi alisnya mengkerut.
" Aku Dista, sahabatmu" ucap Dista.
" Dista?" Ayla akhirnya merespon, membuat mereka yang ada di sana tersenyum.
Mereka berharap Ayla dapat mengingatnya kembali.
" Iya, aku Dista" ucap Dista. Ia memegang menepuk-nepuk dadanya.
" Apa kau lngat?" tanya Dista. Ayla menggeleng mendengar jawaban itu. Dista merasa kecewa.
" Aku Dista, sahabatmu. Kita satu kelas di SMA jaya biru" ucap Dista. Ia tidak putus asa untuk mencoba.
" Aku tidak mengingatmu" ucap Ayla. Dista ingin berbicara lagi, tapi daddy Hasbu menarik tangannya dan memintanya untuk berhenti.
__ADS_1
"Jangan di paksa. Ayla baru sadar" ucap daddy Hasbu.
" Daddy benar sayang, jangan terlalu memaksa Ayla untuk mengingatnya. Pelan-pelan saja, Ayla pasti akan mengingatmu" ucap mom Awah. Dista diam mencerna perkataan kedua orang tuanya.
" Lihat Ayla, dia masih tampak bingung!" ucap mom Awah. Dista menoleh kearah Ayla yang masih diam duduk menatapnya.
"Dista minta maaf mom, dad. Aku sangat senang melihat Ayla sadar dan tidak histeris lagi melihat kita, walaupun dia sempat histeris sebentar" ucap Dista menunduk.
" Tidak apa-apa. Lain kali jangan seperti ini lagi. Kamu bisa mengajak Ayla berbicara, tapi jangan memaksa untuk mengingatmu. Lakukan saja hal-hal yang menyenangkan bersama" mom Awah memberi petuah pada putrinya.
" Iya, mom. Dista janji tidak akan melakukannya lagi" ucap Dista. Mom Awah dan daddy Hasbu tersenyum mendengar jawaban putrinya.
" Itu baru putri daddy" ucap daddy Hasbu. Dista hanya tersenyum mendengar perkataan daddy'nya.
"Sepertinya kita harus memanggil dokter, dad" usul mom Awah.
" Iya, mom. Kita harus memanggilnya untuk mengetahui perkembangan Ayla saat ini" ucap daddy Hasbu.
"Aku akan menyuruh Joni untuk memanggil dokter" ucap daddy Hasbu lagi.
" Kenapa gak pake nurse call aja, dad?" tanya Dista.
" Nurse call-nya ada di dekat kasur Ayla. Daddy takut Ayla akan histeris jika kita mendekat ke sana" ucap daddy Hasbu. Dista ber Oh ria mendengar jawab daddy'nya.
Daddy Hasbu berdiri dan menyuruh Joni untuk memanggil dokter dan setelah itu dia kembali duduk di samping istrinya.
" Mom, Dista laper" ucap Dista.
" Oh iya, mommy lupa. Kamu belum makan ternyata" ucap mom Awah. Ia mengambil kotak berisi makanan dan membawanya kehadapan putrinya.
"Bu, sepertinya kita berikan Ayla makan dulu, mumpung dia sudah merasa baik saat ini"ucap mom Awah.
" Kamu benar, tapi di mana makanannya?" tanya nenek Moya.
" Ini, Bu. Aku sudah membuatnya tadi, khusus untuk Ayla" mom Awah memberikan satu kota berisi makanan untuk Ayla. Nenek Moya tersenyum menerimanya.
" Terimakasih ya, nak" ucap nenek Moya.
.
.
.
.
NEXT...
__ADS_1