Sahabatku Berubah Menjadi ADIK IPARKU

Sahabatku Berubah Menjadi ADIK IPARKU
Bab 50. Mau menikah


__ADS_3

" Dimas....mommy menunggu jawabanmu. Jika kamu tidak bersedia, silahkan berdiri dan hengkang dari rumah ini. Kamu bukan anak mommy lagi " mom Awah meninggal mereka begitu saja tanpa mendengar perkataan putranya lagi.


Mata Dimas membulat. Dia tidak percaya dengan apa yang di dengar oleh telinganya. Mommy-nya benar-benar marah dan membencinya. Dimas hanya menatap sang mommy dengan nanar, ia tidak menyangka akan perbuatannya membuat keluarganya mengucilkan dirinya.


" Aku..." Dimas ingin berbicara, tapi terhenti karena kedatangan Sinta.


" Assalamualaikum.." Sinta muncul dari pintu.


Mereka semua menjawabnya bersama, walaupun ada yang menjawabnya di dalam hati.


" Maaf mengganggu " Sinta melihat wajah mereka tampak tegang terutama sang kekasih.


" Duduklah Sinta, saya ke atas dulu " ucap mom Awah. Ia benar-benar menghilang di balik tangga.


" Sayang.." panggil Sinta pada Dimas.


Dimas menjadi pusing sendiri. Masalahnya belum selesai, tetapi kekasihnya tiba-tiba datang.


" Emm...yah..?"


" Kita jalan-jalan yuk! kamu belum pernah mengajakku keluar selama kita di sini " Sinta memegang tangan Dimas.


Dimas menjadi gelabakan, ia menoleh dan menatap keluarganya yang menatapnya datar. Terutama sang daddy yang menatapnya tajam.


" Kami tinggal dulu. Kalian lanjutkan lah " aunty Caca juga meninggalkan mereka.


Melihat kepergian mereka, daddy Hasbu juga ikut berdiri dan meninggalkan mereka.


" Daddy juga ada kerjaan. Dimas, ingat pesan mommy !" daddy Hasbu memperingati putranya lalu pergi.


Dimas menunduk dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Sinta yang melihat itu menjadi bingung.


" Kamu kenapa ?" tanya Sinta.


" Sinta.." panggil Dimas. Ia ingin memberitahu Sinta perihal dirinya yang harus menikah.


" Yah..?"


" Maafkan aku " Dimas memegang kedua tangan Sinta dan menatapnya sendu.


" Aku tidak bisa menepati janjiku. Aku tidak bisa membawamu pergi jalan-jalan hari ini. Dan aku mungkin juga tidak akan ikut pulang bersama lusa nanti "


" Why..?"


" Ada yang harus aku selesaikan di sini. Kamu bisa menungguku di sana " Dimas mengatakannya dengan berbisik. Ia tidak menceritakan tentang kejadian semalam dan pernikahannya lusa.


Ternyata Dimas akan pulang ke negara S lusa nanti, bertepatan dengan hari pernikahannya, tapi itu akan ia tunda. Dimas butuh waktu untuk memberitahu kekasihnya.


Sinta yang mendengar jawaban kekasihnya menghela nafas berat.

__ADS_1


" Kamu tidak pernah bisa meluangkan waktumu untukku. Kamu yang mengajakku ke sini. Seharusnya kamu yang mengantarku pulang juga, tapi ini malah sebaliknya. Kamu seakan mempermainkan ku, Dimas. Aku kecewa denganmu " Sinta menghempaskan tangan Dimas dengan kasar dan berjalan keluar dengan terburu-buru. Ia kecewa dengan kekasihnya.


Dimas yang melihat itu membuang nafas kasar dan mengusap kepalanya frustasi. Ia berdiri dari duduknya dan berjalan naik.


Sementara para wanita, tengah menonton dari atas lantai dua. Apa yang akan di lakukan pria muda itu dengan kekasihnya.


Melihat Dimas menaiki tangga, ke 3 wanita beda usia itu lari kocar-kacir masuk ke kamar Dimas agar tidak ketahuan.


" Untung saja" mom Awah mengusap dadanya.


" Dista kira mommy ada di kamar, karena marah dengan kak Dimas?" kata Dista.


" Mommy memang marah dengannya, tapi kata yang keluar dari mulut mommy itu hanya ancaman saja. Masa iya, mommy usir anak mommy sendiri. Mommy susah-susah keluarin Dimas dari dalam perut "


" Hehe..muka mommy sangat menyakinkan sih.." Dista cengegesan.


Tak lama terdengar suara ketukan pintu. Mom Awah berdiri dan membuka pintu. Ternyata Dimas lah yang mengetuknya .


"Ada apa ?" tanya mom Awah ketus. Raut wajahnya kembali berubah. Ia tidak membiarkan putranya masuk.


" Di..Dimas mau menikah dengan Ayla " ucap Dimas terbata-bata.


" Kamu serius ?" mom Awah ingin memastikan pendengarannya.


" Iya, mom. Dimas serius "


" Baguslah kalau kamu sadar " mom Awah ingin menutup pintunya.


" Kenapa ?"


" Dimas mau mandi. Masa Dimas nggak pake baju "


" Kamu tidak boleh masuk ke kamar ini sampai pernikahanmu selesai. Mommy yang akan menemani Ayla di sini "


" Ini kan kamar Dimas, mom. Lagian masih ada kamar yang lain untuknya. Baju Dimas juga ada di dalam " Dimas menjadi bingung sendiri, karena sang mommy melarangnya masuk ke kamarnya sendiri.


Mom Awah tidak mengatakan apapun. Ia menutup pintu dan mengambil beberapa pakaian putranya di lemari.


" Nihh..kamu yang pindah ke kamar lain. Itu hukuman untukmu " mom Awah memberikan pakaian putranya, lalu mengunci pintunya.


Dimas melongo melihat itu. Dia membuang nafasnya kasar dan berjalan turun dengan lesuh. Dia akan tidur di kamar tamu untuk 2 hari ini.


" Nasip-nasip " gumam Dimas. Ia meratapi nasibnya sendiri.


" Kak Awah jago banget sandiwaranya " puji aunty Caca.


" Ohh.. tentu " mom Awah merasa bangga.


Ketiga wanita beda usia itu tengah nonton TV bersama di dalam kamar Dimas. Karena masalah di pagi-pagi buta ini, membuat mereka lupa kalau mereka belum sarapan, karena mereka menunggu Ayla untuk sadar.

__ADS_1


Tak berselang lama terdengar suara lenguhan dari arah kasur. Mereka menoleh secara bersamaan dan mendekat.


Ekhhhh...


Ayla tampak membuka matanya perlahan.


" Ayla " panggil mom Awah.


Ayla belum menjawab. Ia masih berusaha menyesuaikan cahaya saat membuka matanya. Saat matanya terbuka sempurna, ia tampak ling-lung.


" Ayla..ini mommy " mom Awah mengusap pipi Ayla.


Lama Ayla menatap wajah mom Awah, hingga akhirnya ia menangis.


" Sakit..mommy " lirih Ayla. Ia masih membayangkan kejadian dan rasa sakit pada bagian bawahnya hingga sekarang.


Mom Awah juga merasa sedih dan prihatin. Ia memeluk Ayla dan meminta maaf.


" Maafkan mommy yang tidak bisa menjagamu "


Ayla tidak menjawab dan hanya terdengar Isak tangis saja. Ia juga memeluk mom Awah. Mom Awah bersyukur, karena Ayla tidak trauma. Apalagi dulu Ayla hampir mengalami pelecehan dan membuatnya trauma.


Lama mereka hanya diam saja, akhirnya Ayla sudah mulai merasa tenang. Ia melepaskan pelukannya dan mom Awah mengusap air mata Ayla yang membasahi pipinya.


" Kamu bersihkan tubuhmu dulu yah ? mommy akan membantumu " bujuk mom Awah.


" Tap..tapi..Ayla malu, mom " Ayla menunduk malu mengingat jika tubuhnya di lihat oleh mereka.


Ayla tidak tahu jika tubuhnya sudah di lihat oleh mom Awah dan aunty Caca.


" Tidak apa-apa. Kita sama-sama perempuan. Mau yah.." mom Awah berusaha menyakinkan Ayla.


Setelah berfikir-fikir, Ayla akhirnya mengangguk. Ia juga sudah merasa lengket pada tubuhnya. Mom Awah tersenyum, ia membantu Ayla untuk bangun. Walaupun aunty Caca sudah melap tubuhnya, tapi tidak bersih.


" Dista..kamu pergi ambil pakaian ganti untuk Ayla !" perintah mom Awah. Dista mengangguk dan pergi ke kamarnya.


Mom Awah membantu Ayla untuk berdiri. Terlihat kedua kaki Ayla bergetar saat berdiri. Raut wajahnya terlihat menahan sakit.


" I..n..i sangat..s..aki...t, mom " ucap Ayla terbata-bata. Bagian bawahnya sangat sakit.


" Pelan-pelan saja " kata mom Awah .


Mom Awah memegang ketiak Ayla untuk berjalan, sedangkan aunty Caca memegang tiang infus dan membawa handuk.


Dengan hati-hati Ayla melangkah ke kamar mandi dan duduk di closed. Aunty Caca menutup pintu dan mom Awah membantu Ayla membuka bajunya. Bagian atasnya sudah tidak memakai apapun dan bagian bawahnya di tutup oleh bajunya.


Mom Awah menyiram Ayla dan membantunya menggosok badannya. Setelah selesai, mereka membawa Ayla keluar dan memajukan bajunya.


.

__ADS_1


.


NEXT..


__ADS_2