Sahabatku Berubah Menjadi ADIK IPARKU

Sahabatku Berubah Menjadi ADIK IPARKU
Bab 72. Patah tulang


__ADS_3

Hari-hari baru kembali berganti, tak terasa kini Dimas sudah 3 hari berada di negara S. Itu tandanya Dimas harus kembali ke negara I besok, sesuai kesepakatan dengan sang daddy hari itu. Apakah Dimas akan pulang atau mencari alasan lain agar bisa lebih lama bersama dengan kekasihnya.


Seperti biasanya, hari ini Dimas sedang fokus memperhatikan dosen di depannya dan membahas tugas yang di berikan ke mahasiswa.


Ting...


Sebuah pesan masuk, membuat Dimas mengalihkan perhatiannya ke Handphonenya yang berada di atas meja. Untung saja suara notifikasinya tidak terlalu keras, sehingga tidak menganggu yang lain. Dimas lupa silent handphonenya.


Aku tidak jadi ikut bersamamu nanti. Aku ada urusan di luar dengan teman-temanku. Lain kali saja kita pergi yah? _ pesan dari Sinta_


"Baiklah" setelah mengirim pesan itu, Dimas kembali fokus melihat ke depan.


Setelah beberapa menit mereka berada di dalam ruangan, kini para mahasiswa yang berada satu ruangan dengan Dimas dan Kenan keluar dari ruangan itu. Mereka akan menunggu mata kuliah selanjutnya.


" Mau makan di mana lu?" Kenan menghampiri Dimas yang sedang memasukkan leptop ke dalam tasnya.


" Di dalam kampus aja lah. Gua malas keluar" Dimas menggendong tasnya dan melangkah keluar dengan di susul Kenan.


" Lu jadi keluar dengan Sinta setelah ini kuliah selesai?" Tanya Kenan setelah mereka selesai memsan makan di kantin kampus.


" Nggak jadi. Sinta pergi dengan teman-teman tadi. Dia bilang lain kali kita akan keluar"


" Lah.. bukannya besok pagi lu harus kembali ke negera I?" Kenan heran, Dimas mengatakan akan pergi lain kali. Padahal dia sudah akan kembali besok pagi.


Brak..


Dimas memukul meja kantin dengan keras, sehingga membuat Kenan terlonjak kaget, sampai-sampai dia pindah dari duduknya dengan memegang dadanya. Para mahasiswa lain yang berada di kantin itu ada juga yang kaget dan ada yang hanya menoleh ke arah Dimas.


" Lu kenapa sih? Bikin orang kaget aja" Kenan kembali duduk di kursi.


" Gua lupa, kalau besok harus balik" Dimas menatap Kenan dengan raut wajah yang sangat kaget. Ia benar-benar lupa jika besok ia harus pulang ke negara I.


" Gua kira lu kenapa sampai pukul meja seperti itu"


" Bagaimana sekarang?" Tanya Dimas.


" Yah..lu pulang lah, pake nanya lagi" Kenan heran, kenapa sahabatnya tiba-tiba menjadi tolol.


Hauhhh...

__ADS_1


Dimas membuang nafas malas. Ia belum ingin kembali, ia masih ingin di sini. Kalau ia di negara I, ia hanya akan berada di mansion saja dan itu membuatnya bosan. Berbeda kalau ia berada di sini, ia memiliki kesibukan dan bisa bermain dengan teman-temannya.


Dimas akhirnya diam dan tidak bertanya lagi. Mereka hanya sibuk dengan handphone merek sambil menunggu makan di hidangkan.


Tringggg...


Lagi-lagi handphone Dimas berbunyi. Melihat telopon itu tidak ada nama yang tertera di sana membuat dahi Dimas mengkerut.


" Angkat teleponmu!! berisik Dimas" Kenan melirik Dimas.


" Apa!!! Di mana kalain sekarang ?" Pekik Dimas.


Lagi-lagi Dimas membuat Kenan kaget, karena dia tiba-tiba memekik kaget dan langsung berdiri.


" Tunggu gua di sana!" Dimas menyimpan handphonenya dan mengambil tasnya. Ia buru-buru ingin berlari, tapi Kenan menahannya.


" Mau ke mana lu?"


"Lu mau tahu ikut aja" setelah mengatakan itu, Dimas langsung berlari dengan sangat terburu-buru. Entah siapa yang menghubunginya dan Dimas terlihat sangat kaget dan khawatir.


Kenan ingin menyusul Dimas, tapi pemilik kantin sudah meletakkan pesanan mereka di atas meja.


" Saya ada urusan di luar"


" Bagaimana dengan makanan ini?"


" Ckkk..." Kenan berdecak. Ia kemudian merogoh saku celananya dan mengeluarkan selembar uang.


" Nih..sisanya ambil saja" Kenan meletakkan uang itu di atas meja, lalu berlari keluar dari kantin.


" Apanya yang mau di ambil? Uangnya saja pas" pemilik kantin melihat selembar uang itu yang sudah cukup dan tidak ada lebihnya.


Pemilik kantin menggeleng melihat ke arah Kenan yang berlari keluar dari kantin. Ia mengambil makan itu kembali.


***


Beralih ke Dimas yang terlihat berlari terburu-buru memasuki rumah sakit.


" Di mana Sinta?" Tanya Dimas saat ia sudah berada di depan teman-tema Sinta.

__ADS_1


" Sinta masih di tangani dokter di dalam" jawab salah satu teman Sinta.


Ternyata yang menelpon Dimas tadi adalah teman Sinta untuk memberitahu Dimas, kalau Sinta mengalami kecelakaan saat mereka akan pergi ke butik.


" Kenapa Sinta bisa kecelakaan? setahu Sinta tidak pernah membawa mobil dengan kecepatan tinggi dan ugal-ugalan"


" Sebenarnya Sinta belum mengendarai mobilnya. Saat kami akan pulang, Sinta mengambil mobilnya yang terparki. Namu, saat Sinta baru memundurkan mobilnya, tiba-tiba ada mobil oleng yang menghantam dari arah kiri, sehingga tabrakan itu tepat mengenai Sinta yang berada di depan kemudi" teman Sinta menceritakan kejadian yang sebenarnya terjadi.


Dimas merasa lemas mendengarnya. Pikirannya sudah berkeliaran kemana-mana. Ia sangat takut keadaan Sinta sangat parah, mengingat mobil menabrak tepat ke arahnya. Dimas bersandar di dinding sambil menunggu dokter selesai memeriksa keadaan Sinta.


" Keluarga pasien?" dokter keluar dan mencari keluarga Sinta.


" Saya kekasihnya, dok" Dimas seketika menoleh dan menghampiri dokter tersebut.


" Bagaimana keadaan kekasih saya?" tanya Dimas dengan sangat tidak sabar.


" Hantaman dari arah kiri membuat tulang bahu pasien mengalami patah tulang, sehingga pasien tidak bisa menggunakan tangan kirinya untuk sementara, tapi untuk yang lainnya semua baik-baik saja" dokter menjelaskan kondisi Sinta saat ini.


Mendengar itu, Dimas sampai menutup mulutnya tidak percaya. Sekeras itu tambrakan yang mengenai Sinta.


" Apa itu sangat parah, dok?"


" Yahh, karena butuh beberapa bulan agar bisa sembuh dan kami sudah memasangkan gips pada bahunya untuk membantu menahan dan menjaga ujung tulang yang patah tetap pada posisi yang tepat. Gips juga akan mencegah area di sekitarnya bergerak selama proses penyembuhan"


" Baik dok. Saya akan menghubungi orang tuanya dan memberitahunya pada anda " dokter mengangguk tanda ia setuju.


" Apa boleh saya melihat keadaannya?" Dimas ingin melihat kondisi Sinta seperti apa.


" Silakan, tapi hanya satu orang saja. Biarkan pasien istirahat " Dimas mengangguk dan masuk kedalam . Dokter pun meninggalkan mereka dan kembali ke pekerjaannya.


Saat sampai di dalam, Dimas bisa melihat Sinta yang terlihat sedang menangis memegang bahunya. Dimas tahu sesakit apa rasanya, walaupun ia tidak pernah merasakannya, tapi ia tahu itu sangat sakit. Bahunya tidak bisa di gerakkan.


" Sayang.." panggil Dimas seraya mendekat kearah brangkar Sinta.


" Dimas... hikkks, tanganku" Sinta menangis sejadi-jadinya melihat keberadaan kekasihnya di sana.


.


.

__ADS_1


NEXT


__ADS_2