
Ayla tampak membuka matanya perlahan, membuat mom Awah segera menekan tombol nurse call. Suster dan dokter muncul di balik pintu dan segera melihat kondisi Ayla.
" Nona, apa anda mendengar saya?" tanya dokter. Ayla berusaha menetralkan matanya yang silau akibat cahaya lampu.
Saat mata Ayla terbuka sempurna, dia begitu kaget dan langsung terduduk.
"Dok..dokter.. to..tolong saya" ucap Ayla ketakutan. Ia memegang tangan dokter begitu erat seakan dia masih berada di dalam gubuk itu
"Tenang nona, kami sudah menolongmu. Anda sudah aman di sini" Dokter berusaha menenangkan.
"Tidak-tidak, mereka masih ada di sini" ucap Ayla menggeleng. Dia masih nampak ketakutan.
"Mereka sudah tidak ada di sini nona. Lihatlah baik-baik, mereka semua keluarga anda!" ucap dokter. Ia menunjukkan kepada Ayla yang ada di sekelilingnya saat ini.
"Bukan, mereka bukan keluargaku. Aku hanya punya nenek. Di mana nenekku? tidak mereka bukan keluargaku DOKTER..." Ayla kehilangan kendali. Ia tidak mengingat sahabatnya, ia hanya mengingat neneknya saja.
Dokter yang melihat itu, meminta obat bius pada suster dan menyuntikan pada Ayla. Seketika Ayla mulai kehilangan kesadarannya kembali. Dista sangat sedih melihat kondisi Ayla.
"Mom, Ayla tidak mengingat kita sama sekali..hikss..hiks.." ucap Dista sedih. Ia menatap mommy yang juga tampak sedih melihat kondisi Ayla.
"Ayla pasti mengingat kita kembali sayang. Dokter pasti membuat Ayla kembali sehat" ucap mom Awah.
Dokter dan suster memperhatikan mereka. Dia ingin memberi tahu perihal kondisi Ayla saat ini. Daddy Hasbu yang mengerti memberi kode pada dokter untuk membahasnya di luar. Mereka keluar dan daddy Hasbu meninggalkan anak dan istrinya.
"Bagaimana kodisinya?" tanya daddy Hasbu.
" Seperti yang saya bilang tadi, kalau putri anda mengalami trauma. Putri anda di bawa ke rumah sakit ini, saat dia tidak sadarkan diri. Jadi dia masih menganggap, kalau dia masih berada di tempat kejadian" jelas dokter.
"Tapi kenapa putriku bisa mulapakan kami?" tanya daddy Hasbu.
"Lupa ingatan itu hanya sementara saja. Kalau anda dan keluarga memberinya dukungan dan selalu berinteraksi dengan pasien, dia bisa mengingatnya kembali" kata dokter. Daddy Hasbu mengangguk tanda mengerti.
" Lakukan yang terbaik untuk putriku. Berikan dia dokter yang profesional untuk merawatnya!" pinta daddy Hasbu.
"Pasti tuan. Kami permisi" pamit dokter. Daddy Hasbu mengangguk dan kembali masuk ke dalam kamar rawat Ayla.
" Dad, apa kata dokter?" tanya mom Awah. Daddy Hasbu menghela nafas dan menceritakan apa yang di sampaikan dokter padanya.
" Kasian dia. Putri kita juga sangat sedih, apalagi ini pertama kalinya dia punya teman dan Ayla langsung lupa pada putri kita" ucap mom awah.
Daddy Hasbu dan mom Awah melihat Dista yang masih menangis menatap Ayla sambil memegang tangan Ayla.
"Ay, kumohon saat kamu membuka matamu jangan histeris seperti tadi dan aku mohon, jika kamu membuka mata jangan melupakanku" lirih Dista. Ia membenamkan kelapanya di atas kasur rumah sakit.
__ADS_1
Di dalam kamar Ayla bukan menggunakan brankar, tapi kasur yang agak besar. Dapat menampung dua orang di atasnya.
Daddy Hasbu mendekat ke arah putrinya dan mengusap kepalanya dengan sayang.
"Sayang, jangan sedih seperti ini. Daddy yakin Ayla tidak ingin melihatmu sedih seperti ini. Bantu dia untuk mengingatmu, lakukan hal yang sering kamu lakukan dengannya" ucap daddy Hasbu.
"Tapi Ayla sangat takut melihatku, dad, hiksss...." ucap Dista.
"Makanya kamu harus berusaha. Bagaimana saat kamu pertama kali bertemu dengan Ayla? kamu bisa lakukan seperti itu lagi untuk kembali mengingatmu, sayang" ucap daddy Hasbu.
Dista terdiam, ia mengingat bagaimana dulu ia berusaha agar Ayla mau berteman dengannya. Ayla yang begitu dingin padanya, tapi berhasil ia taklukkan dan dapat berteman dengannya.
"Daddy benar, aku harus bisa menaklukkan hati Ayla kembali agar dia bisa mengingatku" ucap Dista dengan penuh semangat.
"Ini kan baru anak daddy, nggak mudah menyerah" ucap daddy Hasbu. Ia mencium puncuk kepala putrinya.
"Mom, dad. Kita menginap di sini, yah? kalau kita pulang tidak ada yang akan menjaga Ayla" kata Dista.
"Kan ada dokter dan suster yang akan menjaganya, sayang" ucap mom Awah.
"Iya, memang ada, tapi kan beda. Kata daddy juga aku haru membantu Ayla untuk mengingatku kembali, kalau aku tidak ada di sini nanti akan semakin sulit" bantah Dista.
"Besok kamu harus sekolah, di sini tidak ada bajumu. Kamu mau pakai apa nantinya? pulang ke manssion lagi? kamu akan terlambat, sayang" ucap mom Awah.
Daddy Hasbu dan mom Awah saling pandang. Mom Awah bingung harus bagaimana lagi, kalau putrinya sudah seperti itu dia pasti akan merengek. Apalagi ini sahabatnya, dia pasti tidak mau mendengarkan.
Daddy Hasbu yang melihat kebingungan di wajah istrinya, mengusap punggungnya.
"Izinkan saja, dia hanya sehari izin dari sekolah" bujuk daddy Hasbu. Mom Awah menghela nafas.
"Baiklah kamu boleh izin, tapi hanya sehari saja, mengerti!" mom Awah memberi peringatan pada putrinya.
"Sungguh? aku bisa tidak pergi ke sekolah besok, mom?" tanya Dista memastikan.
"Iya, boleh, tapi hanya sehari saja!" ucap mom Awah.
"Terimakasih mommy" Dista sangat bahagia dan memeluk sang mommy.
"Iyah. Mommy sama daddy pulang dulu, nanti malam mommy akan kembali lagi untuk membawa pakaian untukmu. Gak apa-apa, yah?" ucap mom awah.
"Iya, nggak apa-apa" jawab Dista tersenyum.
"Ada Joni dan Jono di luar, kalau kamu butuh sesuatu beritahu mereka, mengerti!" ucap daddy Hasbu.
__ADS_1
"Mengerti, dad" jawab Dista.
"Baiklah, kami pulang dulu, yah?" pamit mom Awah. Dista mengangguk.
Daddy Hasbu memeluk putrinya dan keluar dari kamar Ayla. Saat di luar masih ada Joni dan Jono yang berdiri di dekat pintu.
"Dista hanya sendiri di dalam. Kami akan pulang terlebih dahulu. Jaga dia dengan baik!" Perintah daddy Hasbu pada keduanya.
"Baik tuan" Joni dan Jono membungkuk sampai tuan dan nyonya pergi.
"Dad, kita harus memberitahu nenek Ayla. Dia pasti khawatir cucunya belum pulang" ucap mom Awah. Mereka berjalan keluar dari rumah sakit menuju parkiran.
"Kita hampir melupakan itu. Nanti aku akan mencari tahu nomor telpon milik nenek Ayla" ucap daddy Hasbu.
Mereka sudah sampai di parkiran dan akan menaiki mobilnya. Mobil daddy Hasbu meninggalkan area rumah sakit.
"Hp-ku ada di mana, mom?" tanya daddy Hasbu. Ia mencari handphone-nya dan tidak menemukannya.
"Ini.." mom Awah memberikan pada suaminya. Ia menyimpan di tas yang ia bawa tadi.
"Halo pak Dula" ucap daddy Hasbu di balik telpon.
"Bisa anda kirimkan pada saya, biodata tentang siswi yang bernama Ayla"
"Iya, benar pak Dula".
"Baik" sambungan terlpon berakhir.
.
.
.
.
.
.
.
NEXT...
__ADS_1