
" Kalian semua naik ke kamar Dimas. Ada yang mau mommy bicarakan dengan kalian, terutama kamu Dimas " setelah mengatakan itu mom Awah naik ke atas tangga tanpa mendengar jawaban mereka.
Mendengar seruan sang mommy si nyonya Smit, mereka sama-sama berdiri dan berjalan naik ke kamar Dimas.
Daddy Hasbu mengetuk pintu terlebih dahulu barulah setelah itu membukanya. Saat pintu itu terbuka sempurna, mereka bisa melihat sang mommy tengah membantu Ayla untuk berjalan.
Daddy Hasbu yang melihat itu buru-buru menghampiri kedua-nya dan tanpa sepatah katapun, daddy Hasbu menggendong Ayla dan membawanya duduk di sofa. Mom Awah mengikutinya dengan mendorong infus Ayla.
Ayla yang menyadari kedatangan mereka sejak tadi merasa malu. Ia tidak menyangka bahwa sang daddy akan menggendongnya. Ayla yang kaget dengan gendongan yang tiba-tiba hampir berteriak, tapi ia bisa menguasainya dirinya dan alhasil suara itu tidak keluar.
" Apa kamu sudah merasa baik ?" tanya daddy Hasbu pada Ayla.
" Ak.. aku baik, dad " jawab Ayla dengan menunduk.
Daddy Hasbu yang duduk di sebelah Ayla, mengangkat wajah Ayla agar tidak menunduk dengan memegang salah satu pipinya.
" Jangan menunduk seperti ini, kamu tidak memiliki kesalahan di sini "
Ayla diam saja menatap sang daddy di depannya, kamudian ia mengangguk.
" Kenapa mommy meminta kalian datang ke sini, karena Ayla tidak bisa turun ke bawah " mom Awah menatap mereka satu persatu dan kemudian menatap putranya yang menunduk.
" Jangan menunduk, Dimas!" seru daddy Hasbu.
Dimas buru-buru menganguk wajahnya dan tidak sengaja bertabrakan dengan manik mata milik Ayla. Untuk beberapa saat mereka saling bertatapan, entah apa yang ada di pikiran mereka masing-masing.
Ekkhhmmmm.....
Daddy Hasbu berdehem, membuat kedua manusia itu tersadar sang mengalihkan pandangan mereka ke arah sang mommy.
" Mommy meminta kalian untuk berkumpul di sini, karena mommy menyampaikan bahwa lusa pernikahan Dimas dan Ayla akan d..i a..d..a..kan " mom Awah sengaja mengatakan dengan pelan kata terakhirnya, agar putranya lebih jelas mendengarnya.
Setelah mom Awah menyampaikan hal tersebut, tidak ada yang berkomentar sama sekali. Mereka hanya diam saja. Mereka tidak tahu harus merespon seperti apa, terutama Dimas.
Hiksss...
Namun, tiba-tiba terdengar suara Isak tangis. Mereka sama-sama menoleh ke asal suara tersebut. Dan ternyata suara Isak tangis itu berada bdari sang nona muda Smith, Dista.
__ADS_1
" Kamu kenapa ?" tanya Dimas.
Dista tidak menjawab. Dia kemudian berlari dan menghampiri sang sahabat.
" Maafkan aku, Ay, Ini semua salahku. Tidak seharusnya aku meninggalkanmu sendirian semalam. Aku yang mengajakmu untuk datang ke sini, tapi aku malam mengabaikanmu..hikss.." Dista memeluk Ayla dan menangis.
Ayla yang sempat kaget dengan gerakan Dista, mengusap punggungnya.
" Aku tidak apa-apa. Ini juga bukan salahmu, tapi ini sudah menjadi takdirku " Ayla berusaha menenangkan sang sahabat.
" Tapi kak Dimas tidak akan melakukan hal ini jika aku selalu bersamamu " Dista melepas pelukannya dan menatap wajah Ayla.
" Tidak apa-apa, itu sudah berlalu. Tidak ada gunanya kamu menangis seperti ini, karena waktu tidak akan terulang kembali. Semuanya sudah terjadi, yang penting aku baik-baik saja dan tidak perlu untuk membahasnya lagi" Ayla mengusap pipi Dista dan melarangnya untuk membahas masalah ini, karena sudah berlalu.
Mereka yang mendengar itu kecuali Dimas menjadi terenyuh. Mereka masih merasa bersalah pada gadis baru beranjak remaja itu., sedangkan Dimas entah apa yang ada di dalam pikirannya, dia hanya bisa menunduk.
" Baiklah, aku tidak akan menangis" Dista mengusap air matanya. " Sakali lagi aku minta maaf " Ayla hanya mengangguk sebagai jawabannya.
Daddy Hasbu dan mom Awah serta aunty Caca hanya tersenyum melihat interaksi kedua-nya.
" Darahku ? Untuk apa onty ?" tanya Dimas bingung.
" Onty ingin tahu seberapa besar obat perangsang yang masuk ke dalam tubuhmu. Siapa tahu akan berakibat pada tubuhmu juga" aunty Caca sebenarnya sudah tahu bagaimana ceritanya Dimas bisa meminum obat itu dari kakak iparnya, tapi ia ingin memastikan obat itu aman.
" Ohh.. baiklah " Dimas mau untuk melakukannya.
" Dista, ambilkan tas onty yang ada di atas meja !" aunty Caca menyuruh keponakannya untuk mengambil tas berisi perlengkapan medisnya.
Dista mengambil tas tersebut dan memberikan kepada sang onty. Aunty Caca menerimanya dan mengeluarkan alat suntik untuk mengambil darah Dimas. Setelah itu menyimpan di tempat yang khusus untuk menyimpan darah.
" Onty akan membawa ini ke rumah sakit " ucap aunty Caca seraya menyimpan tempat darah itu.
...----------------...
Hari-hari telah berlalu, tak terasa jam sangat cepat berputar. Pergantian siang dan malam menjadi saksi setiap kegiatan mahluk di bumi.
Bertepatan dengan hari ini, hari di mana telah di rencanakan sebuah pernikahan yang tanpa di dasari oleh sebuah cinta dari kedua belah pihak. Tapi pernikahan itu terjadi, karena sebuah kesalahan yang terjadi pada malam hari.
__ADS_1
Kesalahan dari salah satu pihak dan menyeret pihak lainnya, sehingga kedua belah pihak tersebut harus bersatu dalam ikatan pernikahan yang suci.
Di salah satu kamar yang berada di mansion Smith, terlihat seorang wanita remaja yang tengah duduk di depan cermin yang lumayan besar. Terlihat juga salah satu wanita dewasa yang tengah mendandani gadis remaja tersebut.
" Sudah selesai nona " penata rias telah selesai dengan tugasnya.
Ayla yang mendengar itu membuka matanya dan menatap wajahnya di pantulan cermin. Dia terlihat berbeda di dalam sana. Dia seakan melihat bukan dirinya.
Ayla akan menikah hari ini Mah, Pah. Pernikahan yang tidak seharusnya terjadi pada Ayla, tapi ini takdir yang telah Tuhan berikan pada Ayla. Ayla berharap Mama, papa, dan nenek setuju dengan pernikahan ini. Dan mendoakan Ayla agar pernikahan ini bisa bertahan seperti kalian. Ayla merindukan kalian _batin Ayla_
Tak terasa air mata itu kembali menetes tanpa ia minta. Ayla buru-buru menghapusnya sebelum ada yang melihatnya.
Ceklekkk...
Pintu kamar di buka. Ayla menoleh ke arah pintu yang ternyata sang mommy yang membukanya. Mom Awah datang dengan penuh senyuman dan menghampirinya.
" Kamu sangat cantik, sayang " puji mom Awah.
" Terimakasih, mom " jawab Ayla dengan senyuman.
Mom Awah kembali diam dan menatap Ayla dengan mata teduhnya. Dia tidak menyangka bahwa sahabat putrinya akan menjadi menantunya dan itu terjadi, karena kesalahan putranya. Mom Awah yang menatap Ayla terlalu lama membuat dia menangis.
" Kenapa mommy menangis? " Ayla yang melihat air mata sang mommy tumpah, mulai menghapusnya.
" Ayla tidak apa-apa, mom. Jangan merasa bersalah terus seperti ini "
Mom Awah tidak menjawa. Dia hanya menggeleng dan menghapus air matanya sendiri.
" Ayo kita ke bawah ! semuanya sudah siap dan tinggal menunggumu saja " mom Awah menarik tangan Ayla untuk berdiri.
" Baik, mom " Ayla berdiri dan berjalan bersama dengan mommy. Melangkah keluar dengan pelan dan pasti.
.
.
NEXT..
__ADS_1