Sahabatku Berubah Menjadi ADIK IPARKU

Sahabatku Berubah Menjadi ADIK IPARKU
Bab 29. Sanksi


__ADS_3

" Dista, tunggu ayah di ruang BK " ucap Dista.


" Baik, nona " ucap pak Jang.


Sambungan telponnya terputus dan Dista hanya tinggal menunggu pak Jang datang.


" Apa orang tuamu sudah mau datang ?" tanya pak Dula.


" Iya pak. Ayah saya sudah di perjalanan, sebentar lagi akan sampai " jawab Dista.


" Baiklah. Setelah orang tuamu datang, kita akan memberitahu hukumanmu " ucap pak Dula.


" Baik, pak " ucap Dista.


Tak berselang lama terdengar suara pintu di ketuk. Guru BK membuka pintunya dan ternyata itu adalah pak Jang.


" Maaf, ada keperluan apa anda datang ke mari tuan ?" tany guru BK. Ia tidak tahu, kalau pak Jang adalah orang tua yang Dista telpon tadi.


" Saya orang tua Dista " jawab pak Jang.


" Maaf, saya tidak tahu ,tuan. Silahkan masuk " ucap guru BK dan mempersilahkan pak Jang masuk.


Dista yang melihat pak Jang sudah datang menghampirinya.


" Ayah.." panggil Dista.


Pak Jang menjadi gugup. Ia merasa sangat aneh. Dista yang melihat kegugupan pak Jang segera membisikkan sesuatu di telinganya.


" Jangan gugup pak Jang. Anggap aku anakmu " bisik Dista. Pak Jang mengangguk dengan yakin dan tersenyum.


" Silahkan duduk, tuan " ucap guru BK, mempersilahkan pak Jang untuk duduk.


" Terimakasih, pak " ucap pak Jang. Ia bersamamu terlenih dahulu dengan guru BK dan kepala sekolah.


Dista duduk di sebelah pak Jang, sedangkan Tasya duduk di samping sang papah atau kepala sekolah.


" Sebelumnya, kami meminta maaf karena telah mengganggu waktu anda " ucap guru BK.


" Tidak apa-apa, pak. Jika itu menyangkut tentang putri saya, saya akan meluangkan waktu saya untuknya " jawab pak Jang. Ia menoleh ke arah Dista dan tersenyum kepadanya.


Dista yang mendengar jawaban pak Jang, tersenyum dalam hati. Ia mengakui kehebatan acting pak Jang.


" Pak Jang memang hebat mengeluarkan kata-katanya " puji Dista dalam hati.


" Begini tuan. Dista sudah bertengkar dengan teman sekelasnya dan membuat lengan tasya sampai lebam. Kami meminta anda datang ke mari, kerena anda harus mengetahui perbuatan Dista " guru BK menyampaikan.


Mendengar hal itu, pak Jang menoleh ke arah Dista yang mengangkat sebelah bahunya. Pak Jang tahu, kalau nona mudanya tidak akan melukai orang lain jika bukan mereka yang lebih dulu mengganggunya. Apalagi jika orang itu menyinggung orang-orang terdekatnya.


" Benarkah? tapi setahu saya, Dista tidak akan melukai seseorang jika bukan mereka yang lebih dulu mengganggunya " ucap pak Jang.

__ADS_1


" Kami juga tidak mengerti akan hal itu tuan, tapi sangat jelas perbuat Dista melukai temannya sampai lebam seperti itu " ucap guru BK.


Pak Jang menoleh ke arah Tasya yang duduk dengan sombongnya. Dia melioat tangannya di dada.


" Boleh saya lihat lengan Anda yang lebam ?" tanya pak Jang pada Tasya.


Belum sempat pak Jang mendengar jawaban Tasya, terdengar suara pintu kembali di ketuk. Muncullah salah satu guru dan memanggil pak Dula.


" Maaf mengganggu. Pak, tamunya sudah datang " ucap guru itu pada pak Dula.


" Oh..oke. Saya akan ke sana " ucap pak Dula.


Guru itu menggangguk dan pergi lebih dulu ke ruang guru.


" Kalian lanjutkan saja " ucap pak Dula. " Maaf tuan, saya pergi lebih dulu, karena saya ada tamu " pamit pak Dula pada pak Jang.


" Oh iya, silahkan pak" ucap pak Jang. Mereka berjabat tangan sebentar sebelum pak dulu meninggalkan mereka.


" Boleh saya lihat, nona ?" tanya pak Jang kembali.


" Anda ini tidak percaya sekali " ucap Tasya ketus. Ia tetap menunjukkan lengannya yang tampak lebam.


" Wow, lumayan keras benturannya " menolok pak Jang dalam hati melihat lebam itu.


" Anda percayakan sekarang? " tanya Tasya masih dengan nada ketusnya.


" Maafkan putri saya kalau begitu " ucap pak Jang.


" Harusnya memang begitu " ucap Tasya dengan sinis.


Dista geram melihat sikap Tasya yang begitu tidak sopan.


" Saya akui itu memang perbuatan putri saya, tapi apa anda tahu alasan dari perbuatan Dista ?" tanya pak Jang pada guru BK.


" Dista sudah menjelaskannya tadi, tapi tindakan Dista tidak di benarkan. Dia sudah melukai teman sekelasnya. Seharusnya, jika memang dia di ganggu oleh Tasya, Dista harus melapor pada kami, bukan main hakim sendiri " jawab guru BK.


Pak Jang yang kembali ingin membantah, di hentikan oleh Dista. Pak Jang menoleh ke arah Dista yang menggeleng ke arahnya. Pak Jang yang tahu dengan kode nona mudanya akhirnya pasrah.


" Dista harus di hukum dengan anda harus membayar biaya pengobatan Tasya " ucap guru BK.


" Tapi itukan hanya lebam dan saya lihat itu sudah di obati, terus apa lagi yang harus saya bayar ?" ucap pak Jang.


" Itu sudah peraturan di sekolah ini, tuan. Jika salah satu murid melukai temannya, maka dia harus membayar biaya pengobatannya. Dista juga bisa di skorsing dari sokalah, kalau dia sudah terlewat batas " jelas guru BK.


" Baiklah saya akan membayarnya " ucap pak Jang.


Ia tidak ingin memperpanjang masalah lagi. Apalagi mendengar hukuman hanya membayar biaya pengobatan saja. Menurutnya itu bukan masalah.


" Terimakasih, tuan. Silahkan anda menandatangi surat ini dan kirimkan uangnya melalui nomor rekening yang terterah di sana " ucap guru BK seraya menyodorkan selebar kertas perjanjian.

__ADS_1


Pak Jang menerima kertas dan membaca isinya, setelah itu pak Jang menandatanganinya.


" Terimakasih tuan " ucap guru BK.


" Apa sudah tidak ada lagi ?" tanya pak Jang.


" Sudah tidak ada tuan, tapi Dista tidak bisa mengikuti pelajaran untuk hari ini. Besok baru dia bisa mengikutinya. Itu termasuk sanksi ringan untuknya" ucap guru BK.


"Baiklah. Terimakasih " ucap pak Jang.


Mereka berjabat tangan sebelum pak Jang dan Dista meninggalkan ruang BK. Tasya dan kedua temannya yang mendengar sanksi yang di berikan pada Dista, tersenyum penuh kemenangan.


Dista berdiri dari duduknya dan memegang tangan pak Jang keluar dari ruang BK. Dista menoleh sebentar ke arah Tasya dan kedua temannya yang tersenyum mengejek ke arahnya.


Dista menatap mereka tajam, kemudian meninggalkan mereka.


" Aku akan ambil tasku di kelas dulu " ucap Dista pada pak Jang.


" Biar saya saja, nona. Anda menunggu saya di mobil " ucap pak Jang.


Mereka sudah mengubah panggilan mereka, karena sudah tidak ada lagi orang lain di sekitar mereka.


" Terimakasih pak Jang, tapi Dista tunggu pak Jang di sini saja " ucap Dista.


" Baiklah, nona. Saya ke kelas anda terlebih dahulu " pamit pak Jang.


Dista mengangguk mendengar perkataan pak Jang. Ia duduk di salah satu bangku yang tidak jauh dari ruang Bk.


Tak berselang lama, tampak pak Jang berlari ke arahnya dengan menenteng tas sekolahnya. Dista ingin mengambil tas itu, tapi pak Jang tidak memberikannya. Dia ingin membawanya sampai di mobil.


" Biar saya saja yang membawanya, nona " ucap pak Jang.


" Tapi itukan tas Dista " ucap Dista.


" Tidak apa-apa, nona. Biar saya saja " ucap pak Jang.


" Terimakasih, pak Jang " ucap Dista.


Pak Jang mengangguk. Mereka berjalan bersama keluar dari sekolah, hingga sampai di mobil. Pak Jang meletakkan tas Dista di kursi belakang tempat di mana Dista duduk. Mobil itu meninggalkan area sekolah.


.


.


.


.


NEXT...

__ADS_1


__ADS_2