
Kejadian buruk tadi pagi membuat semua orang sedih termasuk sang calon ibu. Walaupun dia terpukul, tapi dia menyembunyikannya dari orang-orang. Ayla memilih untuk tidur menyembunyikan perasaan sedihnya. Ayla juga masih mendengar saat mommy dan daddy serta Dista meninggalkan ruang rawatnya.
Setelah Ayla terbangun dari tidurnya dan melewatkan makan siangnya. Ayla terbangun saat jam 19:00, saking lelahnya membuat Ayla tidur berjam-jam. Apalagi masih ada efek obat bius yang belum hilang dengan sempurna, membuatnya tidur lebih lama.
Saat Ayla bangun dan membuka matanya, yang Ayla lihat hanyalah ruangan kosong. Tidak ada siapapun di kamar rawat itu bersamanya. Ayla berusaha untuk duduk, tapi perutnya terasa nyeri.
Shhhh...
Ayla berdesis di kala dia berusaha untuk duduk. Ayla memiringkan tubuhnya dan menjadikan kedua tangannya sebagai tumpuan. Ayla menggunakan kedua tangan untuk mendorong tubuhnya agar bisa duduk. Di kala Ayla berusaha untuk bangun, terdengar suar pintu kamar terbuka. Muncullah sosok pria tinggi dengan bulu-bulu halus di pipinya. Pria yang masih sangat muda, tapi sudah berstatus sebagai seorang suami.
Dimas yang melihat Ayla berusaha untuk bangun, dia berjalan lebih cepat dan membantu Ayla duduk. Dimas memegang kedua bahu Ayla agar tubuhnya bisa lurus. Dimas juga mengambil bantal dan menaruh bantal itu di dinding agar Ayla bisa bersandar dengan kaki hampir lurus. Kaki Ayla juga melewati brankar sehingga sedikit menjuntai.
" Terimakasih" ucap Ayla tanpa melihat ke arah Dimas. Ia hanya menatap ke arah lain.
Dimas mengangguk dan berbalik. Dia melangkah ke arah sofa dan duduk di sana saraya bermain ponsel. Tinggallah Ayla duduk dengan diam menatap ke arah Dimas.
Aku lapar sekali, tapi kenapa tidak ada makanan di sini_batin Ayla_
Ayla memegang perutnya sambil melihat kanan kirinya untuk mencari makanan yang biasanya di sediakan pihak rumah sakit, tapi Ayla tidak melihat apapun.
Kenapa kak Dimas hanya diam saja? apa dia lupa, kalau aku belum makan? apa aku harus memberitahunya, tapi aku yakin kak Dimas pasti tidak mau. Mengingat dia tidak menyukaiku_batin Ayla lagi_
Akhirnya Ayla memilih untuk tetap diam dan tidak memberitahu Dimas.
Krukkk..
Namun sayangnya perut Ayla tidak bisa menahan malunya seperti pemiliknya. Dia malah berbunyi, karena butuh makanan.
Aduhhh...malah bunyi lagi_batin Ayla_
Ayla memegang perutnya dengan wajah takut Dimas akan mendengarnya. Ia melirik Dimas yang terlihat masih asik bermain ponselnya. Ayla bernafas lega, ia berfikir Dimas tidak mendengar suara perutnya.
Ayla memilih berbaring kembali untuk mengurangi rasa laparnya.
Namun dugaannya salah, Dimas sebenarnya mendengar suara perutnya, tapi Dimas membekas pesan dari Kenan lebih dulu baru ia meletakkan ponselnya di sofa dan berdiri menghampiri Ayla.
" Apa kamu lapar?" tanya Dimas di depan Ayla.
Ayla yang mendengar itu menatap Dimas dengan wajah cengo. Ia tidak menyangka Dimas mendengarnya. Ternyata dia mendengarnya_ batin Ayla_ Ayla mengulum bibirnya merasa malu.
__ADS_1
" Ayla " panggil Dimas. Ia menatap Ayla bingung, karena hanya diam saja dan menatapnya kaget.
" Ehh..apa?" Ayla tersadar dari lamunannya.
" Kamu lapar?" Dimas mengulang pertanyaan-nya lagi.
Mendengar pertanyaan Dimas kedua kali membuat Ayla menjadi sebal. Ia sampai memincak-mincak.
" Masi nanya lagi. Yaiyalah aku lapar, aku akan belum makan dari siang" Ayla memanyunkan bibirnya, tapi Dimas tidak melihatnya karena ia membelakanginya.
" Kamu ingin makan apa?"
" Terserah" jawab Ayla ketus.
" Yaa..terserah nya apa?" Dimas jadi bingung untuk membeli apa, karena ia tidak tahu apa yang Ayla suka dan dia tidak suka.
" Ya apa aja" sahut Ayla lagi.
Dimas terdiam dan akhirnya memilih pergi. Ia akan tahu nanti akan membeli apa. Setelah kepergian Dimas, Ayla membalik tubuhnya.
" Dia menyebalkan sekali. Kalau perutku tidak berbunyi mungkin aku akan mati kelaparan di sini" gerutu Ayla.
Namun tak berselang lama kepergian Dimas, terdengar suara pintu ruang rawat Ayla di ketuk. Ayla menoleh ke arah pintu dan ternyata itu seorang suster dengan mendorong troli makanan.
" Malam juga suster" jawab Ayla dengan tersenyum pula. Ia merasa bahagia melihat makanan sudah datang. Ia sudah tidak kuat menahan lapar menunggu Dimas pulang membeli makanan.
" Maaf nona, makanannya sediki lambat " ucap suster seraya mengambil meja khusus untuk di gunakan Ayla saat makan di atas brangkar.
" Tidak apa-apa, sus" Ayla berusaha kembali bangun. Suster yang melihat itu membantu Ayla lebih dulu, kemudian melanjutkan menyajikan makanan untuk Ayla dia atas meja.
" Perlu ku bantu nona?" tanya suster ketika Ayla mulai menyendok makan masuk ke dalam mulutnya.
" Tidak perlu, sus" Ayla menggeleng dan memasukkan sesuap bubur ke dalam perutnya.
Ayla benar-benar menikmati makanannya, walaupun itu terbilang sedikit hambar, tapi itu sudah cukup bagi Ayla. Ayla yang baru menyadari suster masih setia berdiri tidak jauh darinya dan memperhatikannya.
" Suster kenapa berdiri di situ? suster bisa keluar. Aku bisa makan sendiri kok"
" Saya menunggu anda nona"
__ADS_1
" Apa suster tidak punya tugas lain?"
" Ada nona, tapi setelah saya memastikan Anda selesai makan"
" Umm..baikla" Ayla memilih mengabaikan suster itu dan melanjutkan makannya hingga habis. Setelah habis suster membereskan bekas makanan Ayla dan menyimpannya kembali ke troli.
" Saya permisi nona" suster pamit undur diri.
" Iya, suster" Ayla mengangguk.
Suster pun mendorong trolinya keluar dari ruang rawat Ayla dan secara kebetulan, saat suster ingin membuka pintu, pintunya sudah terbuka lebih dulu dari luar.
Yang membuka pintu ternyata adalah Dimas yang baru saja kembali dari membeli makanan. Suster hanya mengangguk sebagai sapaan pada Dimas dan melanjutkan mendorong troli.
" Ada apa suster datang?" tanya Dimas setelah ia menutup pintu.
" Suster datang membawa makanan" jawab Ayla sambil matanya melihat kresek yang ada di tangan Dimas.
" Hah? jadi kamu sudah makan?"
" Iya. Kak Dimas lama banget sih"
" Jadi makanan ini mau di apakan?" Dimas mengangkat kantung kresek itu dan menunjukkannya pada Ayla.
" Yaa kak Dimas makanlah" jawab Ayla santai. " Kak Dimas kan belum makan"
" Iya, tapi makanan ini aku beli untuk porsi dua orang. Kamu makan lagi aja yah?" Dimas ingin Ayla kembali makan. Padahal makan yang baru saja masuk ke dalam mulut Ayla belum sempurna turun ke dalam lambungnya.
" Nggak bisa gitu dong. Aku udah kenyang banget"
" Tapi ini banyak banget, kalau hanya aku yang menghabiskannya sendiri"
" Ya mau bagaimana lagi" Ayla menganguk kedua bahunya.
" Tapi ini....OMG.." Dimas mengangat kedua tangannya, karena bingung sendiri.
Dimas akhirnya memilih duduk di sofa dan membuka makanan yang dia beli. Dimas memakan makanan itu sendiri, sedangkan Ayla ingin tertawa melihat Dimas berusaha menghabiskan semua makanan itu.
.
__ADS_1
.
NEXT