
Kejadian yang tidak terduga saat malam pesta ulang tahun sang putri, membuat daddy Hasbu sangat marah pada putranya. Mengingat siapa yang putranya nodai, membuat daddy Hasbu memiliki rasa bersalah yang besar pada Ayla. Apalagi pada nenek Moya, sejak ia tahu jika nenek Moya telah meninggal, ia bertekat akan menjaga Ayla dengan sangat baik.
Tapi baru semalam Ayla tinggal di rumahnya, ia sudah gagal menjaganya. Apalagi yang membuat Ayla seperti itu adalah putranya sendiri. Daddy Hasbu merasa terkena bongkahan batu besar mengenai dadanya.
Daddy Hasbu saat ini meminta pada putranya yang bertanggung jawab.
" Daddy tahu kamu mengerti maksud daddy. Kamu harus menikahi Ayla "
" Apa !!!" Dimas kaget. " Dimas nggak bisa, dad. Dimas masih punya Sinta dan juga umur Dimas masih 20 tahun " Dimas menolak untuk menikah.
Dimas tidak menyadari akibat dari kesalahannya.
Daddy Hasbu yang mendengar penolakan putranya dan masih memikirkan kekasihnya membuat daddy Hasbu geram dan marah.
Brakkk...
" Kau masih memikirkan kekasihmu, sementara KAU MERENGGUT MILIK ORANG LAIN SEMALAM, Dimas" daddy Hasbu sangat marah dan berbicara dengan intonasi yang sangat keras.
Daddy Hasbu menatap putranya sangat tajam, bahkan matanya memerah. Ia yakin sangat geram, ingin sekali memukul putranya, tapi ia masih bisa berfikir. Alhasil daddy Hasbu memukul meja kerjanya sendiri dengan tinjuannya. Hingga kaca yang melapisi meja kerjanya menajdi retak.
Dimas terlonjak kaget dengan tindakan daddy-nya. Jantung berdetak tak karuan, karena takut melihat wajah daddy-nya yang terlihat sangat marah. Apalagi kata-katanya berubah. Yang awalnya kamu malam menjadi kau.
" Kau tidak memikirkan kesalahanmu sama sekali. Apa kau tahu merenggut mahkota wanita itu adalah kesalahan yang sangat besar. Jadi, kamu harus menikahi Ayla, mengerti !" intonasi suara daddy Hasbu sudah berkurang, tapi raut wajahnya masih tetap sama.
" Di...Dimas mengerti, dad " jawab Dimas dengan menunduk. Ia masih takut dengan daddy-nya.
" Bagus...itu yang daddy tunggu sejak tadi. Bukan jawaban yang nyeleneh. Kau harus memutuskan hubunganmu dengan Sinta, SEKARANG JUGA..! " daddy Hasbu menekan kata terakhirnya Agara putranya segera melakukannya.
Setelah mengatakan itu, daddy Hasbu meninggikan putranya sendiri di ruang kerjanya.
Dimas yang melihat kepergian daddy-nya membuang nafas kasar. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, perasaannya kalut. Ia masih sangat mencintai Sinta. Ia tidak mau hubungannya berakhir, tapi ia tidak mungkin mengabaikan perintah daddy-nya.
Daddy-nya akan merah besar nantinya. Kemampuannya yang sangat mudah mengetahui kebohongan pada anak-anaknya sendiri.
Arkhhh...
Dimas menjambak rambutnya sendiri. Ia benar-benar di lema.
" Kenapa semuanya bisa seperti ini " gumam Dimas.
______________
__ADS_1
Lain halnya dengan Dimas yang sedang kalut, di dalam kamarnya tampak Ayla belum juga sadar. Aunty Caca sudah terlihat di kamar itu bersama mom Awah. Dia tengah memeriksa kondisi bagian bawah Ayla.
Saat aunty Caca memeriksanya, dia sangat keget dengan apa yang dia lihat. Mom Awah juga ikut melihat dan tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini.
" Ini sangat parah, kak " kata aunty Caca setelah melihat milik Ayla.
" Astaghfirullah...Caaa...Dimas sangat kasar " mom Awah sampai mengelus dada. Ia tidak sanggup melihatnya. Kelakuan putranya sangat kejam.
Bagaimana tidak, melihat kondisi milik Ayla yang sangat membengkak. Miliknya juga robek lumayan besar dan masih tersisa banyak darah di sekitarnya.
" Apa kita harus membawanya ke rumah sakit, Ca..?" tanya mom Awah.
" Ini tidak perlu, kak. Ini hanya perlu salep saja" aunty Caca mengeluarkan salep dari tas yang ia bawa dan mengoleskannya di sekitar milik Ayla.
" Tapi aku butuh tiang infus. Sepertinya Ayla belum sadar, karena belum makan sejak semalam. Di tambah dengan kajadian ini, membuatnya tidak sanggup untuk menahannya "
" Tunggu sebentar, aku masih punya Ting infus di gudang " mom Awah keluar dengan terburu-buru.
Ia menuruni tangga dan melihat suaminya sedang duduk di depan TV bersama Dista. Suaminya terlihat banyak pikiran.
" Dad, ambilkan tiang infus di gudang dan bawa ke kamar Dimas nanti !" pinta mom Awah.
Daddy Hasbu mengangguk dan berlari ke gudang. Mom Awah juga kembali ke kamar Dimas di mana Ayla berada.
" Kak, kita harus memindahkan Ayla dulu dan membersihkan tubuhnya. Seprei ini juga sangat kotor bekas mereka "
" Kita angkat bersama-sama ?" tanya mom Awah.
" Iya, kak. Kakak juga ambil pakaian untuknya dulu !" mom Awah mengangguk dan pergi ke kamar Dista udah mengambil pakaian Ayla di sana.
Setelah itu, mom Awah meletakkan baju itu di sofa. Kedua wanita itu, memindahkan Ayla ke sofa terlebih dahulu. Lalu mom Awah Menganti seprei kasurnya, sedangkan aunty Caca mengelap tubuh Ayla.
Di saat aunty Caca mengelap tubuh Ayla, ia merasa kasihan. Ia melihat banyak sekali jejak ***** di badan Ayla.
Setelah semuanya selesai, mereka memindahkan Ayla kembali ke kasur dan aunty Caca memasang infus di tangan Ayla.
__________
Di luar kamar, lebih tepatnya di ruang keluarga. Daddy Hasbu dan Dista tengah berbincang bersama.
" Kenapa kak Dimas sangat jahat, dad ?" tanya Dista sendu. Ia tidak menyangka dengan perlakuan kakakny pada sang sahabat.
__ADS_1
" Aku benci dengannya " ucap Dista lagi.
" Jangan seperti itu, dia masih kakakmu. Kamu boleh marah padanya, tapi tidak dengan membencimu. Kamu juga boleh memukulnya " daddy Hasbu malam memberi saran yang salah. Ia juga merasa kesal dengan Dimas, tapi tidak untuk memukulnya. Alhasil ia menyarankan putrinya melakukannya untuk memberikan pelajaran.
" Boleh, dad ?" mendengar kata boleh memukulnya mata Dista menjadi berbinar. Ia sangat ingin melampiaskan semuanya pada sang kakak.
" Boleh " jawab daddy Hasbu.
Bertepatan dengan itu, Dimas terlihat menuruni tangga dan masih menggunakan celana pendek saja tanpa atasan.
Dimas duduk di salah satu sofa. Dista yang melihat kesempatan itu langsung berdiri dan memukul paha Dimas dengan sangat keras, sehingga suar pukulan itu sangat terdengar di telinga.
Daddy Hasbu juga sampi ngilu sendiri melihatnya. Itu pasti sangat perih dah panas _batin daddy Hasbu_
"Arkhhh... DISTA.." Dimas mengusap-usap pahanya yang terasa perih dan panas. Matanya sampai terpejam, karena terlalu perih.
" Apa ! "Dista malam menatap Dimas dengan menantang.
" Kakak jahat sih..Ayla kan sahabat Dista dan kakak melukainya, jadi kakak juga melukaiku " Dista berkacak pinggang di depan kakaknya.
Dimas ingin protes, tapi melihat tatapan tajam daddy-nya membuat nyali Dimas ciut. Dimas akhirnya diam saja tanpa protes.
Tak berselang lama, tampak kedua wanita menuruni tangga. Itu adalah mom Awah dan aunty Caca. Mereka bergabung dengan yang lainnya. Mom Awah menatap putranya datar, tidak ada senyuman dan tatapan lembut. Membuat Dimas yakin jika sang mommy juga kecewa padanya.
" Kamu sudah berbicara dengan daddy kan ? jadi mommy tidak perlu untuk membahasnya. Sekarang, kamu hanya perlu mempersiapkan dirimu untuk pernikahan kalian LUSA.."
" Secepat itu, mom " Dimas lagi-lagi membantah.
" Apa ? kamu mau menundanya ? tidak ada. Jika kamu tidak mau bertanggung jawab, silahkan angkat kakimu dari rumah ini. Mommy tidak memiliki seorang putra yang tidak bertanggung jawab " mom Awah bersifat tegas. Ia menatap menatap putranya yang terlihat kaget dengan perkataanya.
Sama dengan yang lainnya. Mereka tidak menyangka mom Awah akan mengeluarkan kata-kata seperti itu. Itu tandanya dia sangat kecewa pada putranya.
Dimas hanya diam saja. Mata mom Awah sudah mulai berkaca-kaca. Air matanya sudah menggenang di pelupuk matanya. Aunty Caca mengusap bahu kakaknya untuk menenangkannya.
" Kamu punya mommy dan juga seorang adik perempuan. Apa kamu rela jika adikmu di perlakukan seperti itu dan pria tersebut tidak mau bertanggung jawab pada adikmu?" mom Awah memberikan perumpamaan.
" Tentu saja tidak "
" Terus, kenapa kamu tidak mau bertanggung ? berikan alasannya pada mommy "
Dimas sebenarnya ingin menjawab alasannya, tapi jika ia mengatakan karena kekasihnya. Yang ada daddy-nya akan menelannya hidup-hidup.
__ADS_1
" Dimas....mommy menunggu jawabanmu. Jika kamu tidak bersedia, silahkan berdiri dan hengkang dari rumah ini. Kamu bukan anak mommy lagi " mom Awah meninggal mereka begitu saja tanpa mendengar perkataan putranya lagi.