
Dimas membuang nafasnya kasar mendengar perkataan sang daddy. Dia mulai menimbang-nimbang untuk memilih pilihan yang daddy berikan.
Dimas belum mau untuk bekerja, tapi jika ia harus membagi uang jajannya dengan Ayla itu juga adalah hal yang rumit.
Dia yang biasanya menghabiskan 90% uangnya hanya untuk membelanjakan kekasihnya apa saja yang dia minta, walaupun terkadang permintaannya tidak masuk akal.
Dan sekarang dia harus membaginya dengan Ayla, sebenarnya dia bisa saja, tapi entah kenapa ia sangat berat untuk berbagi. Berbeda saat dengan kekasihnya. Apa kerena ia tidak mencintai Ayla, itulah yang ada di fikiran Dimas saat ini.
" Baiklah-baiklah, Dimas akan berbagi uang jajan dengan Ayla " Dimas akhirnya pasrah dan mau untuk berbagi. Ia melirik Ayla yang hanya sibuk dengan adiknya.
Ckkk..enak sekali dia. Gua harus kehilangan separuh uang jajanku, sementara dia hanya sibuk bermain _ Batin Dimas_
Dia masih tidak rela membiarkan uang jajannya di berikan pada Ayla.
" Baguslah, itu pilihan yang bagus. Daddy bangga padamu" ujung-ujungnya daddy Hasbu memuji putranya seraya menepuk bahunya, lalu meninggalkan mereka ke kamarnya dengan menggandeng sang istri yang hanya diam saja sejak tadi dan menurut.
Melihat kepergian kedua orangtuanya, Dista ingin menarik Ayla untuk bermain di kamarnya. Namun, Dimas menghentikan kedua-nya.
" Mau kemana kalian?"
" Kita ingin ke kamarku, kak. Dista ingin bermain dengan Ayla di kamar " jawab Dista yang masih setia memegang tangan Ayla untuk ia tarik ke kamarnya, sedangkan Ayla hanya diam saja menatap kedua-nya.
" Nggak bisa, Ayla harus ikut kakak " Dimas melarang adiknya untuk membawa Ayla pergi. Ia melepaskan tangan Ayla yang di genggam oleh adiknya.
" Ihh..kakak apa-apaan sih, Dista yang lebih dulu ajak Ayla tau" Dista tidak mau kalah dengan sang kakak. Ia kembali menarik tangan Ayla yang Dimas rampas dari tangannya.
" Nggak bisa Dista, Ayla harus ikut kakak. Ayla itu istri kakak, jadi kakak berhak dengannya " lagi-lagi Dimas menarik tangan Ayla, tapi kini tangan yang berbeda sehingga kedua tangan Ayla di pegang oleh adik-kakak itu.
Dista yang tidak mau kalah akhirnya menarik tangan Ayla, sehingga aksi tarik manarik terjadi di antara keduanya.
" Ayla harus sama Dista !" tarik Dista.
" Nggak, dia sama kakak !" Dimas kembali manariknya.
Ayla yang pusing di tarik ke kanan dan kekiri oleh mereka, memilih untuk melepaskan tangannya dari pegangan kedua-nya.
"Cukup!!" Ayla menghempaskan kedua tangannya agar mereka melepaskannya.
" Kepalaku pusing di tarik-tarik seperti ini " Ayla sedikit kesal dan menatap kedua-nya secara bergantian.
" Maaf, Ay " Dista merasa bersalah, sedangkan Dimas hanya diam saja.
" Aku nggak bisa ikut denganmu, Ta. Aku harus mengikuti kak Dimas " Ayla menatap Dista.
Dimas yang mendengar itu tersenyum penuh kemenangan dan menjulurkan lidahnya mengejek adiknya. Dista yang melihat itu melorotkan matanya serta menghentakkan kakinya.
__ADS_1
" Tapi kan aku lebih dulu yang mengajakmu "
" Iya. Aku tahu, tapi kak Dimas memanggilku dan aku harus menurutinya. Kita bisa main besok, yah ?" Ayla membujuk Dista agar tidak merajak.
" Tuu..dengar. Ayla itu ISTRI kakak, jadi dia harus menurut pada kakak" Dimas sengaja menekan kata istri agar Dista mengingat jika sahabatnya sudah menjadi istrinya.
Dista mendengus mendengarnya. " Yaudah, kalian pergi aja sanah " Dista kesal dengan kakak. Ia meninggalkan mereka dengan menghentakkan kedua kakinya di lantai. Bahkan bibirnya sudah maju 5 cm, karena cemberut.
" Kakinya jangan seperti itu, nanti sakit loh.." ledek Dimas.
" Diam lah !!!" sahut Dista dengan menoleh ke bawah tangga.
Hahahaha...
Dimas tertawa melihat adiknya yang kalah dengannya dan melihat wajahnya yang cemberut.
Dia kemudian menatap Ayla yang juga melihatnya. Dimas tidak mengatakan apapun dan berjalan menaiki tangga. Ayla hanya mengikuti Dimas dari belakang.
Saat di dalam kamar, Dimas menatap Ayla yang hanya diam.
" Sekarang..katakan padaku, berapa uang jajan yang kamu mau ?"
" Kakak tidak perlu memberiku uang jajan karena aku bekerja saat hari libur. Sebenarnya aku saat ini sedang bekerja, tapi aku meminta izin pada bosku untuk bekerja di hari Sabtu dan Minggu saja" Ayla menolak untuk di berikan uang.
Dimas yang mendengar itu menjadi kaget. Ia tidak percaya jika Ayla bekerja di umurnya yang sekarang.
" Iya, kak. Ayla bekerja di toko kue "
" Apa mommy dan daddy tahu ?"
" Aku tidak tahu, tapi Dista tahu kalau aku bekerja "
Kalau Dista sudah tahu, pasti mommy dan daddy juga tahu, karena Dista memberitahu mereka _ batin Dimas_
" Baguslah kalau begitu, jadi aku tidak perlu memberimu uang jajan " Dimas merasa senang mendengarnya saat Ayla menolak untuk diberikan uang jajan darinya.
" Iya, kak "
Setelah mengatakan hal itu, Dimas berbalik dan meninggalkan Ayla yang masih berdiri untuk ke kamar mandi. Dia akan menggosok gigi untuk bersiap tidur.
Melihat Dimas yang pergi ke kamar, Ayla berinisiatif untuk membersihkan kasur Agara nyaman untuk di tiduri nantinya. Ia memukul-mukul kasur agar debunya pergi.
Tak berselang lama Dimas sudah selesai dan nampak keluar dari kamar mandi. Ia bisa melihat Ayla yang membersihkan tempat tidurnya. Awalnya Dimas merasa tersentuh, namun itu tidak jadi mengingat ia sangat kesal dengan Ayla.
Ayla yang melihat Dimas sudah selesai di kamar mandi, kini giliran dirinya untuk menggosok gigi serta mencuci kaki.
__ADS_1
Saat dia keluar, dia bisa melihat Dimas yang sudah berbaring di atas kasur dengan membelakanginya. Dimas yang menyadari Ayla sudah selesai, merubah posisi tidurnya dengan terlentang sehingga dia bisa melihat Ayla.
Ayla yang sempat sedikit bingung untuk tidur di mana, karena ia sedikit takut untuk tidur dengan Dimas dan juga takut membuat sang pemilik kamar marah padanya.
" Kami tidur di sofa saja !" suruh Dimas. Ia memberikan bantal pada Ayla.
Ayla menerima bantal itu dengan senang hati. Dia tidak masalah untuk tidur di Sofa, karena melihat sofa itu juga empuk dan panjang. Cocok untuk dirinya yang pendek.
Ayla berjalan ke sofa dan membaringkan tubuhnya di sana tanpa menggunakan selimut. Dia tidur menghadap sandaran sofa.
Dimas yang melihat Ayla sudah berbaring, akhirnya menutup matanya dan tidur. Kamar mereka menjadi hening, hanya suara jam dinding saja yang terdengar.
Lima menit berlalu, Dimas masih belum tidur. Dia mengintip Ayla di sofa yang entah sudah tidur atau belum. Ada rasa kasihan melihat Ayla yang tidur di sofa tanpa menggunakan selimut. Dia juga merasa takut Ayla akan terjatuh nantinya.
Kasihan juga tu bocah tidur di sofa. Gua Jahan banget kali tak membiarkan istri gua sendiri tidur di sofa _ batin Dimas_
Kalau daddy sama mommy tahu, yang ada gua akan di marahi oleh mereka. Lagi pula dia adalah istriku, jadi tidak masalah untuk satu ranjang dengannya _ lanjut Dimas lagi dalam hatinya_
Dia bangun dari tidurnya dan menghampiri Ayla.
" Ayla...apa kamu sudah tidur ?" memegang bahu Ayla yang memunggunginya.
" Emm..belum, kak. Memang kenapa ? apa kakak butuh sesuatu ?" Ayla berbalik dan menghadap Dimas.
" Tidak ada. Pindahlah ke kasur ! nanti mommy dan daddy melihatmu tidur di sini, mereka akan memarahiku nantinya "
Ayla sebenarnya sangat ragu untuk satu ranjang dengan Dimas, tapi ia juga tidak ingin melihat Dimas di marahi oleh mommy dan daddy nantinya.
" Baiklah.." Ayla berjalan dengan ragu menyusul Dimas ke ranjang.
Saat Ayla akan naik ke kasur, ia mengambil bantal guling dan menaruhnya di tengah.
"Kenapa kamu menaruh bantal guling di tengah ?" tanya Dimas.
" Emm..itu batas agar kak Dimas tidak berdekatan denganku " jawab Ayla seraya menoleh ke arah Dimas yang barbaring di sebelahnya.
" Memang kenapa jika aku berdekatan denganmu ? Kitakan suami istri dan itu sah-sah saja " Dimas mendekati Ayla dan memeluk bantal guling yang ada di tengah.
.
.
NEXT..
Khusus hari ini, author up 2 bab yah..
__ADS_1
selamat membaca dan semoga kalian suka dengan ceritanya.