Sahabatku Berubah Menjadi ADIK IPARKU

Sahabatku Berubah Menjadi ADIK IPARKU
Bab 63. Nggak sanggup


__ADS_3

" Bed rest itu apa onty ?" tanya Dista.


" Bed rest itu istirahat total saat hamil dilakukan dengan membatasi aktivitas ibu hamil selama beberapa waktu " jelas aunty Caca.


Dista hanya ber Oh saja mendengarnya.


" Tapi bagaimana dengan sekolahku nanti? 2 hari lagi aku sudah masuk sekolah " Ayla sangat menghawatirkan sekolahnya. Ia sangat takut, kalau ia malas ke sekolah akan di cabut beasiswa yang di berikan padanya.


" Kita bisa meminta izin dulu pada kepala sekolah " ucap mom Awah.


" Aku tidak akan di izinkan, mom. Apalagi ini adalah hari pertama masuk sekolah setelah libur beberapa hari "


" Kamu akan di izinkan. Mommy yang akan mengurusnya nanti, jadi kamu tidak perlu khawatir " mom Awah tersenyum seraya mengusap pipi Ayla yang masih bersandar di dada Dimas.


Mendengar itu Ayla menjadi diam, dia melihat ke arah dinding. Pikirannya menerawang, raut wajahnya berubah menjadi sedih.


" Aku ingin tidur !" pinta Ayla.


Dimas yang mendengar itu dengan sigap membantu Ayla untuk berbaring. Ayla yang sudah berbaring di atas brankar, membalik tubuh menghadap dinding. Dia membelakangi mereka dan menaruh kedua tangannya di pipi seakan menjadi bantalannya.


Mereka bisa melihat raut perubahan wajah Ayla. Mom Awah mengela nafas berat, inilah yang dia takutkan sejak awal jika Ayla hamil. Sekolahnya akan terganggu dan itu akan membuatnya sedih. Aktivitasnya juga akan terhambat oleh kehamilannya, apalagi mengingat kandungan Ayla yang lemah membuatnya harus istirahat.


Mom Awah memberi Koda kepada Dimas dan Dista serta aunty Caca untuk keluar dengan gerakan kepalanya mengok ke arah pintu. Mereka yang mengerti memilih mengikuti perintah sang mommy.


" Ayla, kamu istirahat yah, kami ada di luar " mom Awah memegang bahu Ayla seraya mengusapnya lembut.


" Iya, Mom" sahut Ayla tanpa menoleh sedikitpun.


Setelah mendengar jawaban Ayla, Mom Awah akhirnya keluar menyusul anak-anaknya serta adiknya. Ia bisa melihat mereka tengah duduk bersama di kursi tunggu .


" Ayla sangat sedih ya, mom ?" tanya Dista saat ia melihat mommy menghampiri mereka.


" Iya. Wajar Ayla sedih, aktivitasnya akan sedikit terhambat dan tidak bisa ke sekolah dengan kamu untuk beberapa hari ke depan " mom Awah menoleh ke arah Dista.


Dista hanya diam mendengar, ia menoleh ke arah Dimas dengan tatapan yang sulit diartikan dan kebetulan melihatnya juga.


" Kenapa kamu melihatku seperti itu? kakak juga tidak sengaja melakukannya dengan Ayla hingga membuatnya hamil " Dimas mengartikan tatapan adiknya seperti menyalahkan dirinya.

__ADS_1


" Dista nggak nanya lo kak " Dista heran kakaknya berkata seperti itu.


"Tatapan kamu seperti menyalahkan kakak "


" Ihh.. nggak tu, kakak aja yang berfikir negatif sama Dista "


" Mana..." perkataan Dimas lagi-lagi di hentikan oleh mom Awah.


" Sudah-sudah, jangan bertengkar terus. Mommy pusing dengernya. Tidak ada yang perlu di salahkan di sini, ini memmang sudah menjadi takdirnya "


Kedua adik-kakak itu menjadi bungkam mendengar perkataan sang mommy. Yang di katakan oleh mom Awah memanglah benar, tidak ada yang patut untuk di salahkan dengan kemhamilan Ayla. Walaupun secara garis berasa Dimas lah yang membuat Ayla bisa hamil dan itu juga atas persetujuan yang Maha Kuasa.


Sementara di dalam ruang penanganan, Ayla tampak menangis. Dia memikirkan dirinya yang tidak bisa pergi sekolah, karena hamil. Ayla mengusap perutnya mengingat ada sebuah janin di dalam perutnya.


" Kenapa semua ini terjadi padaku, satu persatu cobaan menimpaku. Ya Tuhan..kenapa engkau memberikan aku begitu banyak cobaan ? apa pundakku sangat kuat memikul berbagi cobaan yang engkau berikan ? tapi bagiku itu sangat berat Ya Tuhan, aku tidak sanggup memikulnya sendiri. Engkau sudah mengambil semua keluargaku dan meninggalkanku sendiri. Sekarang.. engkau menitipkan seoarang bayi lagi di perutku, apa aku bisa merawatnya ? sedangkan tubuhku yang kecil ini masih sangat sulit untuk aku jaga sendiri "


Berbagai keluuh kesah Ayla keluarkan dari mulutnya. Cobaan selalu datang menghampirinya tiada henti. Ia masih tidak menyangka akan menjadi seorang ibu di umur yang terbilang sangat kecil.


Anak-anak seusianya masih sibuk bermain dan berkumpul dengan keluarga mereka, sementara dirinya harus terjabak dalam pernikahan yang dilakukan tanpa dasar suka sama suka. Dan kini harus terjabak lagi, karena kehamilannya.


Akhhh..


Rintih Ayla. Perutnya terasa sangat sakit, ia memegang perutnya seraya meringkuk.


Arkhhh... mommy, onty...


Ayla berteriak memanggil mereka, sementara di luar Dimas samar-samar mendengar suara.


Mommy....sakithh...


Mata Dimas membulat saat menyadari suara siapa itu.


" Mommy, onty, Ayla sepertinya kesakitan " Dimas tidak menunggu mereka, ia langsung beari dengan terburu-buru masuk ke dalam ruang penanganan Ayla.


" Ayla.." panggil Dimas panik.


Ia medekati Ayla dan membalik tubuhnya.

__ADS_1


" Sakit, kak " rintih Ayla saat menyadari suara siapa itu. Ia tidak membuka matanya, karena berusaha menahan rasa sakit pada perutnya.


Mom Awah, aunty Caca serta Dista mereka juga berlari dengan panik masuk ke dalam ruangan Ayla.


" Kenapa ?" tanya mom Awah panik, saat melihat Dimas sedang berusaha menenangkan Ayla.


" Sepertinya perut Ayla sakit, mom. Dia memegang perutnya " ucap Dimas.


Mom Awah dan aunty Caca mendekati brankar Ayla. Aunty Caca mengambil alat medisnya untuk memeriksa keadaan Ayla.


" Kalian kelurlah dulu !" pinta mom Awah.


Dimas menarik adiknya keluar, setelah mendengar permintaan sang mommy. Kedua saudara itu kompak menunggu di depan pintu.


Sementara di dalam, aunty Caca tengah sibuk memeriksa keadaan perut Ayla. Mom Awah hanya memegang kedua tangan Ayla agar tidak meremas perutnya terus.


" Ayla, kamu jangan terlalu banyak pikiran " ucap aunty Caca setelah memeriksa keadaan Ayla.


Perut Ayla mengalami keram dan itu kemungkinan karena dia terlalu banyak pikiran.


Ayla yang di beritahu hanya diam saja. Dia tidak menjawab perkataan aunty Caca. Sementara mom Awah yang mendengar itu, ia hanya mengusap kepala Ayla untuk menenangkan perasaannya.


" Mommy tahu ini berat untukmu sayang, tapi jangan sampai kamu sakit karena terlalu memikirkannya. Mommy akan membantumu. apapun yang kamu minta, mommy akan berusaha mewujudkannya. Maafkan mommy, karena kamu bisa hamil di usiamu yang sekarang " mom Awah tidak hentinya mengusap kepala Ayla.


Ayla meneteskan air matanya mendengar perkataan mom Awah.


" Kenapa, Mom ? kenapa harus Ayla ? Ayla nggak sanggup untuk mejalani ini, Ayla nggak bisa mom..hikss.."Ayla menatap mom Awah dengan air mata yang mengalir deras.


Mom Awah tidak bisa mengatakan apapun, ia hanya memeluk Ayla. Ia tahu bagaimana rasanya menjadi Ayla yang memiliki beban hidup yang luar biasa. Cobaan yang datang menimpanya di umur yang masih sangat mudah. Ia pun mengakui dirinya tidak akan sanggup menjalaninya sendiri.


" Maafkan mommy, sayang. Mommy tidak bisa membantumu, mommy hanya bisa menjadi sandaran untukmu di saat kamu membutuhkan mommy. Hanya itu yang bisa mommy lakukan " mom Awah mengecup kening Ayla singkat, kemudian mengusap tangannya yang berada di atas perut Ayla sendiri.


.


.


NEXT..

__ADS_1


__ADS_2