
"Aku memben....hammpttt" Dimas tahu apa yang akan Ayla katakan. Ia langsung membungkam mulut Ayla dengan bibirnya agar Ayla tidak bisa melanjutkan ucapannya.
Dimas me***t bibir Ayla sedikit cepat. Ayla melototkankan matanya, karena saking kagetnya. Ayla memberontak.
"Hmmm..." Ayla berbunyi agar Dimas mau melepaskan ciuamannya, tapi Dimas semakin memperdalam ciumannya. Ia mengunci kedua tangan Ayla. Ayla tidak bisa bergerak dan akhirnya memilih pasrah.
Setelah beberapa saat, Dimas melepaskan ciumannya. Nafas mereka tersengal-sengal. Mereka sama-sama berebut oksigen untuk mengisi paru-paru mereka.
Dimas tersenyum kecil melihat Ayla berusaha menetralkan pernafasannya. Ia merasa puas melihat bibir Ayla yang membengkak, karena ia m*****tnya terlalu lama.
"Apa yang kak Dimas lakukan?" tanya Ayla dengan dada naik turun dan menatapnya marah.
"Apa yang aku lakukan? aku tidak melakukan kesalahan. Kamu adalah istriku, aku berhak atas dirimu. Aku lelaki normal, Ayla. Jangan sampai aku mencari pelampiasan diluar sana, karena kamu selalu menolak aku sentuh. Mommy dan daddy pasti akan marah padaku, karena melakukannya dengan wanita lain, tapi bagaimana aku tidak melakukannya jika istriku saja tidak ingin aku menyentuhnya" Dimas menatap mata Ayla yang masih berada di bawah kungkungannya.
"Kamu sepertinya sangat suka ketika mommy dan daddy memarahiku, bahkan membenciku. Pertama kalinya mommy melarangku kembali ke rumah dan menyuruhku meninggalkan rumahku sendiri, semenjak kamu menjadi istriku. Apa pernah aku menyalahkanmu atas kejadian itu, tidak kan?" tambah Dimas
Ayla menjadi bungkam dan mengalihkan matanya ke arah lain.
Apa aku salah melarang kak Dimas menyentuhku?. Aku memang istrinya, tapi aku tidak terbiasa dengan hal itu. Aku juga begitu takut setiap kak Dimas menyentuhku. Apa traumaku belum hilang sepenuhnya?_batin Ayla_
Dimas yang melihat Ayla hanya diam saja memilih bangun dari posisinya saat ini. Ia kemudian berdiri dan menatap Ayla yang masih melamun.
"Bersihkan dirimu! Kamu akan mulai home schooling pagi ini. Aku akan mandi di kamar Dista. Kamu mandilah!" Dimas kemuadian meninggalkan kamarnya
Ayla tersadar dari lamunannya. Ia membuang nafas berat dan turun dari kasur menuju kamar mandi.
Setelah beberapa menit Ayla telah selesai membersihkan dirinya dan kemudian berpakaian. Setelah selesai Ayla pun turun ke lantai bawah.
Saat Ayla akan menuruni tangga, ada mom Awah yang muncul di belakangnya.
"Kamu baru bangun, sayang" ucap mom Awah.
"Eh..iya, mom" Ayla sedikit kaget dengan kemunculan mom Awah yang tiba-tiba.
"Ohh. Ayo ke meja makan! kamu pasti lapar. Mommy sudah memasak untukmu tadi" mom Awah menggandeng tangan Ayla.
"Terimakasih, mom" ucap Ayla dengan tersenyum.
Sesampainya di meja makan, Ayla mulai mengambil piring dan mengisinya dengan makanan.
"Oh iya, apa Dimas belum bangun?" tanya mom Awah.
"Udah, mom. Kak Dimas sedang mandi tadi, tapi mungkin sudah selesai"
"Bisa kamu tolang panggil. Nanti makanannya keburu dingin. Biasanya dia main game terus, sampai-sampai lambat makan"
" Iya, mom"
__ADS_1
Ayla segera berdiri dan kembali naik. Ia mengecek terlebih dahulu apakah Dimas sudah kembali ke kamarnya atau tidak.
Ceklekkk...
Ayla membuka pintu.
Ehhh...
Ayla tersentak kaget. Ternyata Dimas tengah memakai celananya. Ia kaget melihat sesuatu yang menjuntai seperti belalai.
Dimas juga ikut kaget dengan kadatangan Ayla yang tiba-tiba. Ia buru-buru meraih handuknya yang tergeletak di lantai.
"Maaf-maaf" Ayla langsung balik badan menghadap pintu. Ia sangat malu dan merutuki kebodohannya.
"It...itu mommy menyuruh kak Dimas untuk sarapan" setelah mengatakan hal tersebut, Ayla langsung lari terbirit-birit keluar dari kamar.
"Kamu kenapa Ayla?" tanya mom Awah heran melihat Ayla yang berlari menuruni tangga.
"Hehe.. tidak ada mom. Ayla sudah sangat lapar, makanya Ayla lari" ucap Ayla dengan sedikit ngos-ngosan.
Mom Awah hanya manggut-manggut. Tak berselang lama Dimas pun terlihat sudah selesai memakai baju dan ikut bergabung dengan Ayla di meja makan.
Ayla yang menyadari kedatangan Dimas, lebih menundukkan kepalanya. Ia tidak berani menoleh sedikitpun. Ia masih sangat malu mengingat kejadian tadi, sedangkan Dimas mulai menyantap makanannya dan sesekali melirik Ayla.
Mereka makan dengan diam. Sampai akhirnya mom Awah datang.
"Ayla, apa kamu belum selesai?" tanya mom Awah seraya berjalan mendekati Ayla.
"Ohh..kalau begitu cepatlah keluar, sudah ada guru yang akan mengajarimu hari ini"
"Wah.. benarkah, mom" Ayla jadi begitu semangat.
"Iya, makanya cepatlah"
Ayla berdiri dengan tergesa-gesa menyusul mom Awah yang sudah pergi lebih dulu. Dimas kembali hanya melirik Ayla, tapi ia juga buru-buru menghabiskan makanannya.
Setelah selesai Dimas buru-buru minum hingga ia minum sambil berdiri. Ia kemudian bergegas menyusul Ayla dan mom Awah.
"Di mana Ayla belajar, mom?" tanya Dimas ketika tidak melihat Ayla dengan mom Awah di ruang keluarga.
"Dia di belakang"
Dimas pun langsung bergegas ke belakang. Ia berjalan dengan terburu-buru.
Apa-apaan itu, kenapa gurunya seoarang pria? masih muda lagi_ batin Dimas_
Dimas sudah sampai di belakang. Ia melihat Ayla begitu fokus mendengarkan penjelasan guru di depannya, tapi bukan itu yang Dimas perhatikan. Ia lebih fokus melihat guru yang mengajari Ayla.
__ADS_1
Wajah Dimas terlihat masam dan menatap guru itu tak suka. Ia kemudian kembali menemui sang mommy.
" Mommy!!" panggil Dimas dengan keras. Jaraknya dengan mom Awah masih lumayan jauh.
"Apasih?" mom Awah kesal, karena teriakan Dimas yang membuatnya kaget.
"Kenapa guru Ayla itu pria? kan masih banyak guru wanita di luar sana, kenapa harus pria itu" protes Dimas.
" Memang kenapa? dia itu guru yang sangat pintar yang sudah daddy pilih. Dia sudah S3 dan menjadi lulusan terbaik di Amerika"
"Ckk...masih ada yang lebih hebat darinya" ucap Dimas sambil duduk di dekat sang mommy.
"Kamu cemburu yah?" tunjuk mom Awah.
"Enggak. Buat apa Dimas cemburu"
"Yakin?" tanya mom Awah dengan wajah meledek.
"Iya. Dimas bahkan lebih tampan darinya"
"Masa...?"mom Awah semakin memprovokasi Dimas. Ia tahu putranya pasti cemburu pada Ayla, karena dia melihat pria itu sangat tampan.
"Iss..terserah mommy lah" Dimas kesal dan berjalan naik ke atas kamarnya.
Mom Awah yang melihat itu tertawa geli. "Dasar anak muda. Udah tahu cemburu, masih ngeles aja" ucap mom Awah setelah Dimas pergi.
"Baguslah kalau dia sudah menyukai Ayla" tambah mom Awah.
Beberapa menit telah berlalu. Dimas tampak gelisah di atas kasurnya. Ia melempar handphonenya dengan kesal.
"Ckk..ada apa denganku? kenapa gua merasa gelisah" Dimas menghempaskan tubuhnya ke kasur.
"Sial. Kenapa gua malah memikirkan mereka?"
Arkhh....
Dimas mengacak rambutnya dan langsung bergegas turun ke bawah di mana Ayla sedang belajar.
Mom Awah menatap putranya heran, karena berjalan terburu-buru.
" Tidak suaminya tidak istrinya, mereka sama saja" ucap mom Awah. Ia berkata seperti itu, karena Ayla juga berlari terburu-buru menuruni tangga dan sekarang Dimas yang berjalan terburu-buru.
"Sudah cukup!! kalian bisa melanjutkannya lagi besok" ucap Dimas tiba-tiba dan menarik tangan Ayla yang sedang fokus mencatat apa yang sedang guru itu jelaskan.
"Kak Dimas apa-apaan sih?" Ayla menghempaskan tanganya, karena kesal Dimas datang tiba-tiba mengganggunya.
.
__ADS_1
.
NEXT