
" Ngapa lu ?" tanya Kenan dan kembali fokus ke handphonenya.
" Gua bingung dengan permintaan daddy untuk memutuskan Sinta"
" Lu seharusnya menjelaskannya, bagaimana Sinta. Lu juga harus mengatakannya, kalau lu sangat mencintainya" Kenan melihat ke arah Dimas dan mematikan handphonenya.
" Gua sudah pernah mengatakannya, tapi daddy tetap tidak terima. Sebelum Sinta kembali ke sini dan dia datang ke rumah gua, mereka menyuruhku untuk memutuskan Sinta detik itu juga, tapi gua tidak melakukannya"
" Apa mereka tahu, kalau lu masih berhubungan dengan Sinta ?"
" Gua rasa tidak, tapi gua tidak yakin dengan daddy-ku" Dimas membuang nafasnya lesuh mengingat sang daddy.
" Terus apa yang akan lu lakuin"?
" Itu juga yang membuat gua bingung. Gua harus tetap memutuskan Sinta, tapi bagaimana caranya? Sinta orang yang baik. Selama bersama gua, gua tidak pernah melihat Sinta melakukan kesalahan, bahkan dia tidak pernah berselingkuh dariku"
Dimas tidak tahu jika selama ini Sinta selingkuh darinya. Walaupun Sinta sekarang tidak memiliki partner lagi dan kita tidak tahu, apakah Sinta akan tetap mencari seorang partner lagi nantinya.
" Gua ikut prihatin dengan lu, tapi gua tidak bisa bantu apapun" Kenan menepuk-nepuk bahu Dimas, kemuadian berjalan ke kamarnya.
Dimas membuang nafasnya kasar, kemudian ia masuk ke kamarnya juga.
****
Hari sudah larut malam, kini waktunya semua penduduk harus tidur dan menyambut hari esok, tapi berbeda dengan Dimas yang masih belum juga tidur.
Dimas masih putar kanan, putar kiri untuk mencari posisi yang nyaman. Dimas sangat sulit untuk tidur, ia pun tak tahu ada apa dengan
dirinya.
Matanya sudah sangat mengantuk, tapi tidak dengan hati dan pikirannya yang masih berkeliaran kemana-mana.
" Sial.." umpat Dimas. Ia menggaruk kepalanya Dengan kasar, padahal ia tidak merasa gatal.
" Kenapa gua terus memikirkannya " entah siapa yang Dimas pikirkan hingga membuatnya sulit tidur, hanya Dimas lah yang tahu jawabannya.
Pagi harinya
Pagi ini Dimas dan Kenan tengah sarapan yang di buat oleh pelayan yang khusus hanya datang saat pagi saja. Pelayan itu kadang datang di malam hari juga, saat Dimas maupun Kenan memintanya datang.
Pelayan itu hanya membuat sarapan dan membersihkan rumah di pagi hari saja, karena Dimas maupun Kenan malas memesan makanan. Kalau mereka harus memesan makanan tidak ada restaurant yang buka pagi-pagi sekali, hanya pedagang-pedagang pinggir jalan saja. Maka dari itu, mereka memesan khusus pelayanan yang bekerja di pagi hari saja dan pelayan itu juga tidak menginap. Setelah pekerjaannya selesai, pelayan itu akan pulang. Walaupun seperti itu, dia tetep di bayar setiap bulan saja.
Setelah mereka selesai sarapan, mereka pergi ke kampus dengan menggunakan motor mereka masing-masing.
Saat mereka sudah sampi di kampus, perhatian mahasiswa ke arah dua pria yang menggunakan motor. Mereka sangat terpukau melihat ketampana kedua pria itu.
" Kenan sangat tampan yah? Mata birunya sangat indah, gua ingin sekali menatapnya lebih dekat" ucap salah satu mahasiswi.
__ADS_1
" Dimas juga sangat tampan. Kau lihat bulu-bulu halus di pipinya, itu sangat gagah.." mahasiswi lainnya ikut mengagumi mereka.
" Dimas sudah memilih Sinta, kau sangat kalah dengannya"
" Yahh..gua tahu itu. Gua kan hanya kagum saja, mana mungkin gua berhayal bisa menjadi kekasihnya " mahasiswi itu meninggalkan temannya dan pergi ke kelasnya. Temannya berlari menyusulnya, karena meninggalkannya.
Dimas dan Kenan menjalankan kulaih seperti biasanya. Mendengarkan penjelasan dosen dan memberikan tugas kuliah. Setelah beberapa jam mereka di kampus kini saatnya mereka kembali pulang.
Dimas dan Kenan tidak langsung ke apartemen melaikan ke cafe dekat kampus di mana Sinta kemarin berada.
Mereka memesan kopi dan cemilan untuk menemani kopi mereka.
Tringgg.....
Deringan telpon berbunyi membuat keduanya dan pengunjung cafe menoleh ke arah Dimas dan Kenan. Deringan handphone Dimas sedikit keras, sehingga pengunjung yang lain sedikit terganggu ada juga yang biasa saja.
" Gua angkat telpon dulu" Dimas memberitahu Kenan dan keluar dari cafe.
" Halo, mom" ucap Dimas Setelah telponya ia angkat.
Apa kamu sibuk ?
" Tidak, mom. Memang ada apa ?" Dimas duduk di motornya yang terparkir di luar cafe. Ia juga masih bisa melihat Kenan di dalam.
Kamu ingat bukan, kalau saat ini kamu sudah menikah dan punya istri ? _Mom Awah mengingatkan putranya_
Kamu ingatkan, daddy menyuruhmu memutuskan hubungan dengan Sinta dan mommy pun setuju akan hal itu, karena kamu sudah menikah.
" Jadi maksud mommy apa?" Dimas masih sedikit bingung maksud dari mommy.
Dimas, mommy tidak tahu apakah kamu sudah memutuskan hubunganmu dengan Sinta, tapi kalau memang belum kamu harus melakukannya. Jangan sampi daddy-mu yang turun tangan menanganinya dan akan marah padamu
" Mom, Dimas tidak tahu bagaimana caranya memutuskan hubungan dengan Sinta. Dimas tidak memiliki alasan untuk hal itu " Dimas lupa, kalau ia bisa mengatakan ia sudah menikah. Otomatis Sinta akan terima, mungkin.
Maksudmu apa tidak memiliki alasan? kamu bisa mengatakan, kalau kamu sudah menikah. Sinta pasti akan mengerti
" Hufftt... akan Dimas katakan nanti" Dimas membuang nafas berat. Walaupun ia tidak tahu kapan akan memberitahu Sinta.
Harus secepatnya sayang. Ingat kamu akan segera menjadi seorang ayah. Kamu juga sama saja sedang menduakan istrimu
Tut..
Setelah mengatakan hal itu, Mom Awah langsung memutuskan sambungan telponnya tanpa mendengar perkataan putranya lagi.
Sedangkan Dimas benar-benar dibuat pusing akan hal ini. Ia jadi teringat tentang Ayla yang mual di pagi hari. Ia sampai lupa menanyakan hal itu. Dimas ingin mengirim pesan ke mommy untuk menanyakan keadaan Ayla, tapi ia mengurungkan niatnya kembali.
Padahal Dimas sudah membuka kontak sang mommy dan siap untuk mengirim pesan.
__ADS_1
Dimas kembali menyimpan handphone di saku jaketnya dan masuk ke dalam cafe.
" Siapa yang meneleponmu? Sinta?"
Dimas menggeleng. " Mommy-ku"
" Apa ada masalah lagi?" Kenan menebak seperti itu, karena ia mengingat Dimas mengatakan ada masalah di keluarganya sehingga dia tidak bisa kembali ke sini lebih cepat.
" Yahh.. seperti itu lah" wajah Dimas benar-benar terlit lesuh. Ia meminum kopinya hingga habis. Ia sudah tidak berselera berlama-lama di sana. Mood tiba-tiba berubah mengingat permintaan mommy dan juga mengingat Ayla yang saat ini tengah hamil, otomatis ia akan menjadi Ayah.
Sebenarnya Dimas tak menyangka akan memiliki bayi secepat ini, di mana umurnya baru saja akan memasuki dua puluh satu tahu.
Dimas yang ingin berdiri mengurungkan niatnya, karena Kenan memperlihatkan sebuah video yang dia lihat di sosial media.
" Lihat ini, bayinya sangat lucu" Kenan memperlihatkan Dimas sebuah vidio reels yang menampilkan kegemasa. Seorang bayi laki-laki.
Perasaan Dimas menjadi tidak menentu melihat Vidio itu. Ia jadi membayangkan seperti apa wajah dari bayinya bersama Ayla.
( Apa yang gua pikirkan)_ batin Dimas_
Dimas memukul kepalanya, karena membayangkan hal itu.
" Lucu kan? Gua jadi pengen nikah liat bayi ini. Pasti anak gua nggak kalah tampan dari bayi ini" Kenan membayangkan dirinya memiliki sebuah bayi juga, tapi bedanya ia belum memiliki istri untuk ia ajak membuat bayi.
" Ckk..banyak cewek tu yang bisa lu nikahin" Dimas menunjuk para pengunjung wanita yang ada di sana, lalu meninggalkan Kenan.
" Enak aja, gua nggak mah sembarangan" Kenan berjalan sedikit cepat untuk menyusul Dimas.
" Emang lu nggak mau punya anak dengan Sinta?" Tanya Kenan saat mereka sudah di depan motor mereka.
Dimas berbalik dan menatap Kenan tajam.
" Diam lu. Kalau lu bahas bayi lagi, lama-lama gua tonjok lu" Dimas menunjukkan kepalan tangannya tepat di depan wajah Kenan.
" Slow bro, gua hanya bertanya saja" Kenan menurunkan kepalan tangan Dimas dari depan wajahnya.
Dimas tidak mengatakan apapun, ia hanya memakai helmnya dan menyalakan motornya, meninggalkan Kenan di sana.
" Sensitif amat tu bocah" gumam Kenan melihat kepergian Dimas yang sudah sangat jauh.
Kenan yang tidak ingin ambil pusing menaiki motornya juga dan menyusul Dimas yang sudah sangat jauh.
.
.
NEXT
__ADS_1