
" Ambillah cepat !" seru Dimas.
" Ehh..nggak usah kak, Ayla hanya melihat saja " Ayla ingin pergi, tapi Dimas menarik bajunya.
" Pilih saja yang mana kamu suka, jangan membuatku marah dengan kamu tidak mau mengambilnya " Dimas menatap Ayla tajam.
" Iii..Iyah " Ayla menjadi gugup di tatap seperti itu.
Ayla dengan asal mengambil tas yang ada di depannya dan membawanya ke kasir. Dimas yang melihat itu tersenyum miring dan menyusul Ayla ke kasir.
" Kamu hanya beli tas saja, nggak mau beli buku ?" tanya Dista saat Ayla sudah sampai di kasur.
" Nggak, aku ambil ini saja " Ayla meletakkan tas itu di meja kasir dengan barang-barang Dista tengah di hitung.
" Kamu ambil buku 1 pack saja sana, rugi banget nggak ambil buku " Dista mendorong Ayla pelan untuk mengambil buku tulis baru.
" Tapi..Ta" Ayla yang ingin protes, tapi Dista menyuruhnya untuk lebih cepat. Alhasil ia pasrah dan mengambil buka tulisnya.
" Cepetan, Ay.."
Hanya beberapa datik saja, Ayla sudah kembali dengan membawa 1 pack buku di tangannya dan menaruhnya di meja kasir.
Tak berselang lama Dimas menghampiri kedua-nya, ia juga terlihat membawa sesuatu di tangannya.
" Ngapain kakak beli pulpen sebanyak itu ?" tanya Dista ketika melihat Dimas menaruh 1 pack pulpen di meja kasir.
" Buat kakak pake lah..." jawab Dimas ketus, tapi Dista tidak mempermasalahkannya.
" Bukankah kakak hanya pakai leptop saja ?"
" Yahh.. terserah kakak lah "
Dista yang mendengar jawaban Dimas seperti itu menjadi bungkam dan sebal.
" Barang ini harganya di pisah, kak ?" tanya penjaga kasir.
" Iya, itu di pisah saja "jawab Dimas.
" Yang ini totalnya 972 " penjaga kasir menunjuk paper bag yang berisikan barang Ayla dan Dimas. " Dan yang ini totalnya 1.345 juta " kini harga barang-barang Dista.
" Kamu bayar barang kami sendiri sana ! kamu di kasi kartu kan sama daddy ?" Dimas sengaja memisahkan harganya, karena ia tahu Dista diberi kartu oleh daddy tadi. Lagipula ia nggak mau membelanjakan adiknya, karena ia berfikir sudah ada Ayla yang harus ia beri uang.
" Iya-iya, dasar pelit " Dista menggerutu seraya menyerahkan kartu bank yang diberikan oleh sang daddy.
Setelah selesai mereka berjalan keluar dari toko.
" Kita mau ke mana lagi, Ta ?" tanya Ayla pada Dista.
__ADS_1
" Temani aku liat skincare dong, punyaku udah ada yang habis " Dista menarik Ayla lagi ke toko cosmetics.
Mereka berkeliling di sana hampir 10 menit, tapi tidak ada yang Dista beli dengan alasan tidak ada barang yang ia cara.
" Kita liat baju yuk.." lagi-lagi Dista menarik tangan Ayla masuk ke dalam toko.
Ayla hanya pasrah di tarik-tarik seperti itu. Mereka berkeliling di dalam toko itu hampir setengah jam dan dari lamanya mereka berkeliling, Dista hanya membeli 1 topi saja.
Mereka sudah keluar dari toko dan entah ke mana lagi Dista akan pergi. Ayla sudah merasa sangat lelah dan kepalanya sudah mulai pusing. Ayla tidak memberitahu mereka dan tetap berjalan. Namun, perasaannya semakin tidak enak, penglihatannya mulai buram.
" Dista..." panggil Ayla lirih dengan mengangkat tangannya sedikit untuk meraih tangan Dista. Untung saja Dimas melihat Ayla yang hampir jatuh dan segera menangkap tubuhnya.
Belum sempat Ayla meraih tangan Dista, ia sudah jatuh pingsan.
" AYLA.." panggil Dista panik.
Dista menghampirinya Ayla yang berada di gendongan Dimas. Dimas tidak mengeluarkan suara apapun, ia berlari keluar dari mall dengan terburu-buru. Ayla yang masih berada di gendongannya dan merbahkan tubuh Ayla di kursi belakang.
Dista naik ke atas mobil dan memangku kepala Ayla dengan perasaan sangat khawatir sedangkan Dimas melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit.
" Telpon mommy, Dista. Mommy pasti masih di rumah sakit !" perintah Dimas.
" Iii..yah" Dista mengambil handphonenya dengan tangan bergetar.
" Mom..mommy..Ayla pingsan, kami sedang menuju ke rumah sakit " kata Dista setelah sambungan telponnya tersambung.
Dista menunduk melihat wajah Ayla yang begitu pucat. Dista mencoba menepuk pipi Ayla pelan agar dia bangun, tapi usaha itu sia-sia.
" Kak.. cepatlah kak.." Dista sangat takut dengan keadaan Ayla.
Dimas juga sangat fokus menyetir untuk bisa melewati berbagai kendaraan.
Rumah sakit
Mobil mereka sudah sampai di rumah sakit. Di depan pintu sudah ada brankar dengan mom Awah dan aunty Caca menunggu di sana. Saat mobil mereka sudah sampai, 2 perawat dengan buru-buru membawa brankar ke depan mobil agar Ayla bisa di pindahkan.
Setelah itu mereka berlari masuk ke dalam rumah sakit ke ruangan penanganan. Aunty Caca yang menangani Ayla di dalam, karena setelah Dista menelpon mommy, mom Awah memberitahu aunty Caca tentang keadaan Ayla pagi tadi. Dan ia sudah menduga tentang kondisi Ayla, sehingga mom Awah menyuruh aunty Caca untuk menanganinya.
" Mommy..." panggil Dista sedih.
Mom Awah yang tahu jika Ayla kenapa-napa Dista akan sangat sedih dan khawatir. Mom Awah menarik Dista ke dalam pelukannya
" Tidak apa-apa, sayang. Ayla hanya kelelahan" mom Awah mengusap rambut Dista.
" Kenapa setiap Ayla bersama Dista, Ayla pastikan akan kenapa-napa..hikss " kata Dista segugukan.
Dista berfikir seperti itu, karena setiap Ayla bersamanya dia pasti terjadi sesuatu. Seperti saat ia mengajak Ayla datang ke mansion pertama kali dan saat mengajak Ayla menginap dia mansion, semua terjadi insiden pada saat itu.
__ADS_1
" Apa Dista yang membuat Ayla sial, mom?" Dista lagi-lagi menyalahkan dirinya.
" Tidak seperti itu sayang " mom Awah melepaskan pelukannya dan menangkup kedua pipi putrinya. " Ayla memang sedang tidak enak badan pagi tadi. Jangan pernah sekali-kali menyalahkan dirimu atas apa yang terjadi pada Ayla, itu bukan karena salahmu. Kamu mengerti ?" mom Awah tidak ingin putrinya selalu terbelit rasa bersalah setiap Ayla kenapa-napa.
" Tapi..mom.."
Shuuthh..
Mom Awah menghentikan ucapan Dista dengan menaruh telunjuknya di bibir Dista.
" Mommy tidak ingin mendengar kamu menyalahkan dirimu lagi. Kita tunggu saja onty Caca selesai memeriksa Ayla " mom Awah kembali menarik Dista ke dalam pelukannya.
Dista akhirnya bungkam dan hanya air matanya yang masih mengalir, sedangkan Dimas sejak datang dari ke rumah sakit hanya diam saja. Dia sedang duduk di kursi tunggu dengan kepala menunduk serta tangannya berada di dahi untuk memangku kepalanya sendiri.
Dimas terlihat tampak banyak pikiran dan entah apa yang tengah dia pikirkan, hanya dia yang tahu.
Tak berselang lama aunty Caca tampak sudah selesai memeriksa keadaan Ayla. Mereka yang melihat itu langsung menghampirinya.
" Onty, bagaimana keadaan Ayla ?" Dista yang lebih dulu bertanya.
Aunty Caca menatap mereka satu persatu dan lebih lama menatap Dimas.
" Kalian masuklah ! kita bicara di dalam " aunty Caca menagajk mereka masuk.
Di dalam ruangan itu mereka berdiri menatap Ayla yang masih pingsan di atas brankar dengan jarum infus kembali tertanam di tangannya.
" Onty, bagaimana keadaannya ?" kini giliran Dimas yang bertanya, entah kenapa ia sangat ingin tahu kondisi Ayla.
Mendengar itu aunty Caca terlihat menghela nafas berat. " Onty sebenarnya juga bingung, ini kabar bahagia atau kabar kurang mengenakkan "
" Memang kenapa dengan keadaan Ayla, onty ?" tanya Dista.
" Keadaan Ayla sangat lemah. Ia harus bed rest untuk beberapa waktu kedepan "
" Apa selemah itu keadaannya, onty ?" tanya Dimas.
" Iya, kita harus benar-benar memantau keadaannya " jawab onty Caca seraya melihat ke arah Ayla di brankar.
.
.
NEXT..
Ada apa dengan Ayla yang teman-teman?
Sepertinya sakitnya sangat parah deh.
__ADS_1