
Setelah drama pijat-pijat siang tadi dan berakhir dengan milik Dimas yang bangun, karena sentuhan Ayla.
Dan saat ini Dimas dan Ayla sedang berada di meja makan bersama dengan yang lainnya untuk makan malam . Posisi duduk Ayla kini berpindah di sebelah Dimas dan Dista di sebelah sang mommy.
Mereka makan dengan tenang tanpa mengeluarkan suara apapun. Hanya suara sendok dan piring yang beradu.
Setelah mereka selesai makan, kini mereka kembali berkumpul di ruang keluarga sambil nonton TV.
" Kapan kalian akan naik sekolah lagi?" Tanya daddy Hasbu pada Dista dan Ayla.
" 3 hari lagi, dad " jawab Dista.
" Apa kalian butuh sesuatu untuk kenaikan kelas ini ?"
" Ahh..iya, dad. Dista lupa kalau buku tulis Dista sudah habis dan tidak ada yang kosong lagi "
" Bagaimana denganmu, Ayla ?" Daddy Hasbu kini beralih menatap Ayla.
" Sepertinya buku Ayla masih ada yang kosong, dad " Ayla mengingat-ingat tumpukan buku di rumahnya.
" Begini saja, besok kalian pergi ke mall untuk beli perlengkapan sekolah dan sekalian ke rumah Ayla dulu untuk mengambil semua perlengkapannya di sana " usul mom Awah.
" Oke, Dista setuju. Kamu maukan, Ay ?" Tanya Dista.
" Iya " jawab Ayla di sertai anggukan.
" Emm...tapi.." Ayla sedikit ragu untuk mengatakannya sesuatu pada mereka.
" Ada apa, sayang ? Katakan saja " ucap mom Awah.
" Emm..boleh nggak Ayla bawa sepeda Ayla ke sini ? Sebentar lagi sekolah akan di mulai dan sepedaku tidak ada di sini untuk aku pakai ke sekolah " Ayla meminta izin pada mereka untuk membawa sepedanya ke mansion.
Dia takut mereka tidak mengizinkan dirinya untuk membawa sepeda miliknya.
" Tentu saja boleh. Buat apa kami melarang kamu membawanya. Kalau perlu kamu bawa semua barang ke sini, ini sudah rumahmu juga " mom Awah tentu mengizinkannya. Dia tidak mungkin melarang Ayla untuk membawa semua barangnya ke mansion.
" Benar yang di katakan mommy-mu, kamu bisa membawa semua barangmu kalau perlu. Dan untuk mengendarai sepeda ke sekolah, daddy tidak mengizinkannya " daddy Hasbu tidak setuju jika Ayla mengendarai sepeda ke sekolah, karena itu terlalu jauh.
__ADS_1
" Kami harus berangkat dengan Dista ke sekolah. tidak boleh menggunakan sepeda, karena itu sangat jauh " lanjut daddy Hasbu kembali.
Daddy Hasbu juga kembali mengingat di mana Ayla di hadang preman sehingga menyebabkan dia trauma.
Ayla yang mendengar itu menjadi bungkam.
"Bukannya mommy ingin mengingatkanmu pada kejadian kelam itu, tapi kami takut itu terjadi lagi padamu" seru mom Awah.
Ayla menatap mom Awah dan daddy Hasbu secara bergantian. Ingatannya kembali berputar saat kejadian itu terjadi. Dia baru menyadari, kalau apa yang di alaminya bersama Dimas hampir sama dengan kejadian beberapa bulan yang lalu. Bedanya mereka lebih dari satu orang, hal itulah yang membuatnya takut.
" Iya mom, dad, Ayla nggak akan naik sepeda ke sekolah "
Mom Awah tersenyum seraya mengangguk, sedangkan Dista, ia merangkul pundak Ayla tanpa mengatakan apapun.
Dimas yang tidak tahu kejadian yang pernah menimpa Ayla hanya diam saja, dengan pikiran yang bertanya-tanya, tapi dia juga tidak ingin bertanya kepada kedua orang tuanya.
" Dimas..." Panggil daddy Hasbu.
" Iya, dad "
" Antar adik dan istrimu besok pergi belanja perlengkapan sekolah ! "
"Memang kenapa kamu tidak mau mengantar mereka ? Apa kamu sibuk?" Raut wajah daddy Hasbu berubah mendengar penolakan putranya.
" Enggak sih, dad, tapi...."
" Tapi apa ?" Daddy Hasbu menatap putranya datar.
Dimas yang melihat perubahan wajah daddy menggaruk lehernya yang tidak gatal. Salah ngomong gua_ batin Dimas_
" Iya, dad, iya. Dimas akan mengantar mereka " Dimas akhirnya pasrah saja. Padahal ia merasa sangat malam untuk pergi. Mengingat adiknya jika berbelanja akan sangat lama.
" Ingat Dimas! Kamu sudah punya istri sekarang, kamu sudah punya tanggung jawab dalam hidupmu. Yang akan membelanjakan istrimu itu kamu, bukan daddy " ucap daddy Hasbu.
" Loh, kok aku dad. Daddy kan tahu, Dimas belum bekerja dan masih kuliah. Bagaimana caranya Dimas mau memberi Ayla uang, sedangkan Dimas belum punya penghasilan " Dimas bingung dengan permintaan daddy-nya untuk memberi Ayla nafkah.
" Benar itu yang di katakan daddy, kak Dimas yang harusnya memberi uang jajan untuk Ayla " Dista ikut menimpali.
__ADS_1
" Diam kamu " Dimas kesal, Dista ikut-ikutan mengompori dirinya.
" Apa yang kamu pakai jajan selama ini dan kamu berikan pada kekasihmu ? bukankah itu uang juga" daddy Hasbu menyinggung putranya yang sering membelanjakan kekasihnya saat di negara S.
" Yahh..itu uang juga dad, tapi kan itu uang yang selalu daddy kirim setiap bulan, bukan dari pendapatan Dimas"
" Nahh..itu dia. Maksud daddy itu, kak Dimas harus membagi uang jajan kakak ke Ayla" lagi-lagi Dista ikut menimpali perkataan daddy. " Dista benarkan, dad?" tanya Dista lagi pada daddy Hasbu.
" Iya, sayang " jawab daddy Hasbu lembut.
Dista tersenyum bangga. Berbeda dengan Dimas yang tampak melongo tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
" Yang benar saja, dad. Uang jajanku berkurang dong, itu mana cukup ' Dimas tidak terima jika ia harus membagi uang jajannya dengan Ayla.
" Dad....Ayla nggak..." Ayla tidak melanjutkan kata-katanya, karena daddy langsung menyela.
" Diam Ayla. Ini urusan daddy dengan suamimu " daddy Hasbu menyuruh Ayla untuk diam. Ia tahu jika Ayla jadi melanjutkan kata-katanya, yang ada akan terdengar suara penolakan darinya.
Ayla menajdi bungkam dan tidak jadi berbicara, sedangkan Dista yang berada di dekatnya malah berbisik.
" Daddy emang gitu, orangnya tegas. Daddy nggak suka di bantah " bisik Dista pada Ayla.
Ayla hanya tersenyum kaku mendengat bisikan Dista seraya membuang nafas pasrah.
" Itu bukan urusan daddy. Daddy akan memberikanmu pilihan, kamu pilih cari kerja sendiri tanpa bantuan daddy, tapi daddy tudak akan memberimu uang jajan lagi atau daddy tetap mengirimkan kamu uang jajan, tapi bagi itu dengan Ayla. Silahkan di pilih"
Daddy Hasbu benar-benar memberikan pilihan yang berat pada putranya sendiri. Dimas yang mendengar itu hanya bisa geleng-geleng tidak percaya dengan pilihan rumit yang daddy berikan.
" Daddy yang benar saja. Itu pilihan yang rumit, dad " Dimas selalu saja protes.
" Kamu yang membuatnya rumit, Dimas. Kamu hanya tinggal memilih saja, apa susahnya"
Daddy Hasbu sengaja memberikan pilihan seperti itu pada putranya, agar Dimas belajar untuk bertanggung jawab dan tidak mudah menghambur uang begitu saja. Bisa belajar untuk mengelola uang nya sendiri.
Sebenarnya juga tidak mau Dimas untuk bekerja dulu. Daddy Hasbu ingin Dimas tetap sekolah dan menyelsaikan pendidikannya, walaupun sudah menikah.
.
__ADS_1
.
NEXT..