Sahabatku Berubah Menjadi ADIK IPARKU

Sahabatku Berubah Menjadi ADIK IPARKU
Bab 95. Menjalani pernikahan sebagai mestinya


__ADS_3

"Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak menyadarinya, itu terjadi dengan sendirinya. Lagi pula aku tidak sempat mencium-mu, karena kamu lebih dulu mendorongku"


"Tapi kalau aku tidak mendorong kak Dimas, kak Dimas pasti akan melakukannya kan? dan aku akan hamil lagi" ucap Ayla marah.


"Ciuman tidak akan membuatmu hamil. Bagaimana caranya agar kamu bisa mengerti, kalau hanya mencium dan hanya menyentuhmu saja tidak akan pernah bisa membuatmu hamil!" Dimas menjadi kesal. Dimas bahkan sampai menjambak rambutnya sendiri, karena saking kesalnya.


Dimas sendiri bingung bagaimana menjelaskannya pada Ayla jika hanya menyentuhnya saja tidak akan pernah membuatnya hamil.


"Tapi waktu itu___"


"Stopp!! berhenti membahasnya" Dimas memotong ucapan Ayla dan melarangnya untuk berbicara lagi.


Dimas memilih duduk di sofa dan bermain handphone, sedangkan Ayla menjadi bungkam. Ia menunduk dan menatap kakinya yang menjuntai. Ia menggoyang-goyangkannya dengan pikiran entah ke mana.


"Maaf" kata itu keluar dari mulut Ayla.


Dimas yang mendengar itu menoleh dan mengerutkan keningnya.


"Aku hanya takut hamil kembali. Aku belum siap untuk merawat seorang bayi. Aku tidak bisa menjaganya dengan baik. Aku tidak mau, karena kelalaianku, aku kembali keguguran" ucap Ayla lirih. Suaranya terdengar ingin menangis. Ia masih menunduk dan tidak mau melihat ke arah Dimas.


Dimas membuang nafas berat. Ia jadi merasa bersalah, tapi kejadian waktu itu bukan keinginan. Ia juga tidak menyangka, baru sekali ia melakukannya sudah ada janin yang tinggal di dalam perut Ayla.


Dimas kemuadian menyimpan handphonenya di sofa dan berjalan mendekati Ayla. Tanpa mengatakan apapun, Dimas langsung menarik Ayla ke dalam pelukannya.


Ayla terlonjak kaget, tapi ia tidak memberontak. Ayla hanya diam dan bingung sendiri. Kenapa Dimas tiba-tiba memeluknya.


"Aku juga minta maaf. Selama ini aku terlalu cuek padamu dan selalu menyalahkan mu dengan kejadian ini"


Dimas kemudian melepas pelukannya dan menegang kedua lengan Ayla.


"Aku ingin pernikahan ini menjadi lebih baik dan aku ingin kita memperbaikinya"


"Maksud kak Dimas?" Ayla belum bisa menangkap maksud dari perkataan Dimas.


"Kita jalani pernikahan ini sebagaimana mestinya. Apa kamu mau?"


Ayla diam sejenak" Bagaimana dengan kak Sinta? aku tidak ingin menjadi perusak hubungan kalian"


"Itu menjadi urusanku. Aku hanya minta kamu percaya padaku. Apa yang kamu lihat nanti, jangan langsung berasumsi yang tidak-tidak, tunggu penjelasan dariku. Apa kamu mengerti?"


"Iya, Ayla mengerti. Kalau memang kak Dimas mengingatkan seperti itu, tentu saja aku setujui, tapi aku belum bisa menjadi istri yang baik untuk kak Dimas" Ayla menunduk.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, itu bukan masalah"


Ayla mengangguk mengerti. Ada perasaan senang di hati Ayla mendengar Dimas ingin pernikahan ini berjalan dengan baik. Ia menjadi punya tujuan untuk hidup sekarang. Bukan hanya sekadar pulang dan kembali bersekolah. Ia juga tidak merasa enak hati lagi, setiap menerima perlakuan mommy, daddy, Dista dan aunty Caca kepadanya.


Sekarang dirinya sudah diterima baik oleh Dimas sebagai istrinya. Walaupun sebenarnya ia masih Belum mengerti tugas seorang istri apa saja. Yang hanya Ayla tahu, ia harus mematuhi semua perintah dan permintaan suaminya yang menurutnya baik.


Sepasang suami-istri itu hanya diam dengan pikiran mereka masing-masing. Bahkan mata mereka masih saling bersitatap. Sampai akhirnya suara yang sangat familiar bagi mereka terdengar. Mereka bersamaan menoleh ke arah pintu.


" Yuhuu....selamat siang kakak-kakak ku" suara Dista begitu keras memasuki ruang rawat Ayla.


"Husstt... jangan berisik " ucap mom Awah dari belakang Dista.


"Hehe maaf, mom" Dista menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Ayla!!" pekik Dista dengan suara yang kembali keras. Ia berlari ke arah Ayla dan mendorong Dimas dari hadapan Ayla. Ia memeluk Ayla dengan sangat erat, bahkan menggoyang-goyangkan badan Ayla.


"Dista" ucap mom Awah dan Dimas bersamaan.


Mom Awah memanggil nama putrinya, karena kembali berteriak, sedangkan Dimas tidak terima adiknya mendorongnya sampai ia menabrak lemari kecil di sana.


"Kompak amat" ucap Dista seraya melepaskan pelukannya dan berbalik melihat ke arah mommy dan Dimas. "Kalian kenapa si?" tanya Dista.


"Kamu jangan berisik, ini di rumah sakit sayang" ucap mom Awah


"Karena kakak menghalangiku untuk bisa memeluk kakak ipar ku yang cantik ini" ucap Dista seraya menoel pipi Ayla.


"Ihh..Dista" ucap Ayla sambil memegang pipinya.


Mom Awah menggeleng. Ruang rawat Ayla menjadi berisik dan rusuh, karena kedatangan Dista. Dimas dan Dista ketika bertemu pasti akan selalu bertengkar dengan masalah sepele. Seperti sekarang, kakak beradik itu memperdebatkan Dista yang mendorong sang kakak dan Dimas yang tidak terima adiknya mendorongnya.


"Kamu bisa memberitahu kakak terlebih dahulu kak? jangan langsung main dorong aja" ucap Dimas.


"Kelamaan" ucap Dista menyebalkan. Ia kemudian naik ke atas brangkar dan duduk di sebelah Ayla.


"Heh..ngapain kamu naik ke situ?" Dimas menunjuk dan mendekati Dista.


"Suka-suka aku"


"Turun!" perintah Dimas.


"Nggak mau" Dista melipat tangannya dan membuang wajahnya.

__ADS_1


"Turun nggak!" Dimas melototkan matanya agar Dista mah turun.


" Dista nggak mau" Dista berpindah duduk menjadi di belakang Ayla. Ia menjadikan tubuh Ayla sebagai tamengnya.


"Ckk..kamu yah" Dimas kesal. Ia menarik Dista yang berada di belakang Ayla, sehingga Ayla berada di tengah-tengah kakak beradik itu.


"Ihh..kakak lepasin!!" Dista berusaha melepaskan cengkraman tangan Dimas dari tangannya.


"Makanya turun cepat!! Kamu tidak boleh naik ke atas brangkar. Kaki dan pakaianmu kotor dari luar. Nanti Ayla terkena penyakit yang kamu bawa"


"Ihhh...Dista hanya duduk doang"


Mereka saling tarik manarik. Dista berusaha menarik tangannya dari cengkraman Dimas dan Dimas berusaha meraih badan Dista agar ia bisa menurunkan Dista dari brangkar.


Jika di lihat mereka terlihat saling berpelukan dengan Ayla yang berada di tengah, tapi ini berbeda. Bukannya kenyamanan saat di peluk, Ayla merasa engap, karena terhimpit oleh keduanya.


Raut wajah Ayla krasak-krusuk, karena tidak merasa nyaman. Mom Awah yang melihat itu malah bengong sejak tadi. Ia baru tersadar ketika melihat Ayla yang sudah tidak nyaman.


"Kalian nggak mau berhenti?" ucap mom Awah dengan penuh penekanan.


"Mommy hitung sampai tiga. Satu...dua....tii" mom Awah mengangat jari telunjuknya sampai jari tengah. Saat ia akan mengangkat jari manisnya, Kakak beradik tersebut akhirnya berhenti, karena takut.


"Iya mom, kami berhenti" ucap kedua-nya.


Dimas langsung melepaskan adiknya dan berbalik dengan mengangat kedua tangannya tanda ia benar-benar berhenti. Mereka takut dengan hukuman sang mommy nantinya.


"Kalian ini, bisa nggak kalau ketemu nggak berantem?"


Dista dan Dimas sama sama menggeleng. Tentu saja hal itu membuat mom Awah memutar bola matanya.


"Ayla terhimpit gara-gara kalain"


"Benarkah? maaf Ayla" sahut Dista. Ia memeluk Ayla dari belakang.


Dimas juga ingin meminta maaf pada Ayla, namun saat ia berbalik, ia melihat adiknya memeluk Ayla. Ada perasaan tidak terima melihat adiknya memeluk Ayla. Dirinya saja sangat jarang bisa memeluk Ayla seperti itu.


Dimas melangkah mendekati mereka dan melepaskan secara paksa tangan Dista yang memeluk Ayla. Dimas sedikit mendorong Dista dan dirinyalah yang kini memeluk Ayla.


"KAKAK!!!"


.

__ADS_1


.


NEXT


__ADS_2