
"Kami mohon pak jangan keluarkan kami dari sekolah. Seharusnya yang dikeluarkan itu Dista bukan kami. Kami tidak pernah menyakiti siapapun" ucap Tasya dengan masih memutar balikkan fakta.
Felix tentu saja semakin geram. urat-urat lehernya terlihat menegang.
"Anda dengar sendiri ?" Felix melihat ke arah pak Dula dengan marah. "Putri yang anda bela sejak tadi kini berbohong. Apa ini yang anda maksud anak yang baik?"
"Ma..maafkan saya tuan" pak Dula mengatupkan kedua tangannya di depan wajahnya.
"Maksud bapak apa? apa yang saya bilang itu fakta bukan kebohongan" Tasya tidak terima di bilang anak pembohong.
Plakkk...
Pak Dula menampar pipi Tasya. "Berbicaralah yang sopan, Tasya!!" ucap pak Dula marah.
"Ayah!!" Tasya menegang pipinya yang terasa sangat panas. Ia melihat ke arah ayahnya dengan kaget .Ia tidak percaya ayahnya akan menamparnya.
"Diam kamu!!" pak Dula menggertak Tasya.
Felix yang melihat itu tersenyum miring, sedangkan kedua sahabat Tasya tentu saja kaget dengan tindakan kepala sekolah. Ini adalah pertama kalian Sifa dan Sofia melihat Tasya di tampar seperti itu.
Berbeda dengan Dista yang hanya diam saja memperhatikan semunya. Dia tidak membela ataupun melerai. Dia juga bingung harus bersikap seperti apa.
"Cukup!" ucap Felix seraya menatap ayah dan anak itu secara bergantian.
Felix kemuadian memutar leptop yang ada di atas meja dan mengarahkan layarnya ke arah Tasya dan kedua sahabatnya. Mereka melihat diri mereka sendiri yang tengah membully Dista, Ayla dan teman-teman yang lain.
Tak...
Felix menghentikan Vidio tersebut dan menatap mereka. "Sekarang kalian sudah tahu alasan kalian di keluarkan dari sekolah ini?"
Mereka bungkam, mereka shok. Mereka tidak menyangka tindakan mereka selama ini terekam CCTV sekolah. Akibat dari perbuatan mereka, kini di keluarkan dari sekolah.
Sifa dan Sofia menjadi ketakutan. Mereka takut orang tuanya akan memberikan mereka hukuman yang berat. Mereka juga takut ayah-ayah mereka akan sangat marah, karena dikeluarkan dari sekolah.
Dista juga ikut kaget. Pantas saja semalam sang daddy tahu, kalau ia sering diganggu oleh mereka.
"Tunggu apa lagi? silakan kalian keluar"
"Pak... jangan keluarkan kami. Kami masih ingin sekolah di sini" secara bersamaan Sifa dan Sofia memeluk kaki Felix dan memohon.
"Kami hanya mengikuti Tasya saja. Kami mohon jangan keluarkan kami" ucap Sifa dan Sofia bersamaan.
"Itu sama saja" ucap Felix datar.
__ADS_1
"Kalian berdirilah dan pergi dari sini sekarang. Jangan sampai saya memanggil satpam dan menyeret kalian keluar dari sini" tambah Felix.
Mendengar itu Sifa dan Sofia langsung berdiri. Mereka pasti akan malu ketika mereka di seret keluar, sedangkan di luar sangat banyak siswa lain.
Mereka pun dengan terpaksa melangkah keluar dari ruang kepala sekolah. Begitupun dengan pak Dula yang membereskan barang-barangnya yang ada di dalam ruangannya.
"Paman" panggil Dista seraya menghampiri Felix.
Sontak saja panggilan Dista membuat mereka ber-empta menoleh secara serentak dan juga kaget.
" Paman?" ucap Tasya, Sofia dan Sifa bersamaan.
Dista melirik mereka dan kembali melihat ke arah paman Felix.
"Paman tidak perlu mengeluarkan mereka" Dista memegang lengan paman Felix.
"Ini sudah perintah dari tuan Hasbu, nona. Saya tidak bisa membantah perintah itu"
"Dista yang akan bicara pada daddy nanti"
Lagi-lagi mereka kaget mendengar Dista menyebut kata daddy.
"Ba.. bagaimana mungkin?" tanya Tasya dengan kaget.
"Maksud lu apaan?" Dista tidak mengerti maksud Tasya.
" Kenapa kau tertawa?" Dista menghadap ke arah Tasya dengan melipat kedua tangannya dan mengerutkan keningnya.
"Kau mimpi terlalu tinggi Dista, hahah. Tuan Hasbu adalah orang terkaya di negara ini dan bahkan sekolah ini adalah miliknya dan kamu mengatakan dia adalah daddy-mu? yang benar saja, sedangkan kau adalah anak miskin di sekolah ini, hahah"
Tasya lagi-lagi mengejek Dista dan tidak belajar dari kesalahannya. Padahal dia sudah dikeluarkan dari sekolah, karena perbuatannya.
"Haiss..padahal gua ingin berbaik hati tadi dengan meminta pada daddy-ku agar kalian tidak di keluarkan dari sekolah, tapi karena kau mengejek dan merendahkan gua, gua nggak jadi membantu kalian" Dista berjalan ke arah pintu keluar dengan kesal. Namun, langkahnya kembali tertentu dan berbalik.
" Paman, cepat selesaikan pekerjaanmu! daddy akan marah jika paman terlalu lama meninggalkan perusahaan" ucap Dista santai.
"Baik, nona" Felix membukakan sedikit badannya.
Pak Dula dan 3 gadis itu menganga tidak percaya dengan apa yang mereka lihat dan dengar. Mereka melihat Dista memerintah Felix yang notabenenya tangan kanan pemilik sekolah.
Felix kemuadian menatap mereka satu persatu yang masih terlihat menganga.
"Perlu saya tegaskan kepada kalian" Felix menunjuk ke arah Tasya dan Sifa serta Sofia. "Gadis yang selalu kalian sebut miskin adalah anak pemilik sekolah ini. Kalian merasa diri kalian sangat kaya, padahal kalian berada jauh di bawahnya"
__ADS_1
" Dan satu lagi" Felix mengangat jari telunjuknya. "Apa yang kalian ketahui saat ini, jangan sekali-kali kalian membocorkannya kepada teman-teman kalian yang lain! jika kalian berani membocorkannya, kalian akan menerima konsekuensinya"
Setelah mengatakan itu, Felix meninggalkan ruang kepala sekolah dan berjalan ke atas mimbar. Di mana di sekolah itu, memanh di sediakan sebuah tempat seperti panggung untuk mengumumkan sesuatu jika ada hal yang penting.
" Perhatian semuanya" ucap Felix di microphone.
Sontak saja para siswa dan siswi menoleh ke sumber suara dan berbondong-bondong berjalan kedepan panggung. Begitupun dengan para guru.
"Saya selaku utusan dari pemimpin sekolah ini untuk memberitahukan kepada kalian, bahwa kepala sekolah kalian akan di ganti mulai besok"
Terdengar sedikit kericuhan dari para murid dan para guru. Mereka bertanya-tanya kenapa kepala sekolah diganti secara dadakan.
"Dan yang paling kalian tunggu-tunggu adalah, kalain di izinkan pulang lebih awal hari ini dan kembali lagi besok"
Horeeee....prok..prok...
Suara teriakan dan tepuk tangan terdengar setelah Felix berbicara. Tampak raut wajah bahagia terpancar dari para murid-murid, para guru pun tak mau kalah.
"Besok juga kalian belum belajar, karena besok adalah acara penyambutan kepala sekolah baru dan kita akan mengadakan berbagai perlombaan untuk para siswa dan siswi yang ingin mengikuti perlombaan tersebut. Macam-macam perlombaan itu akan di sampaikan di social media sekolah. Terimakasih dan hati-hati di jalan"
Felix turun dari panggung dan berjalan ke mobilnya meninggalkan para murid yang berhamburan berlari ke kelas mereka masing-masing untuk mengambil tas mereka.
Sesampainya Felix di mobil dan duduk di kursi kemudi, ia dibuat kaget dengan Dista yang tiba-tiba saja muncul di belakang.
"Paman" panggil Dista dengan tangannya memegang kursi kemudi dan kepala yang menonjol keluar.
"Astaga, nona" Felix memegang dadanya.
"Hehe..maaf paman. Paman kaget yah?" Dista cengegesan.
Felix tidak menjawab, tapi hanya membuang nafas saja. "Ada apa nona?"
"Paman mau ke kantor kan? Dista ikut yah?"
"Apa tuan Hasbu tahu?"
"Tidak. Dista ingin memberikan surprise" ucap Dista dengan membuat gerakan tangan membentuk pelangi.
"Baiklah. Anda boleh ikut" Felix menyalakan mesin mobilnya dan meninggalkan halam sekolah.
.
.
__ADS_1
NEXT
Para murid dan guru menjadj