
Mom Awah tersenyum dan ikut bahagia mendengar perkembangan Ayla. Apalagi Ayla sudah mengingat semuanya. Sekarang tugas mereka hanya membantu Ayla untuk lepas dari bayang-bayang traumanya.
Mendengar keadaan Ayla yang sudah membaik, membuat mom Awah tersenyum senang. Melihat nenek Moya yang juga tidak surut senyum dari wajahnya. Kebahagiaan sangat terlihat di dalam kamar rawat itu.
Mendengar suara tawa kedua gadis, membuat nenek Moya dan mom Awah tersenyum melihatnya. Ada kebahagiaan tersendiri yang terpancar dari wajah keduanya. Saat mereka tengah asik bercanda dan tertawa bersama, terdengar suara pintu dibuka.
" Permisi, boleh dokter masuk " ucap dokter Winston. Ia akan memeriksa keadaan pasiennya hari ini untuk meleihat perkembangannya lebih lanjut.
" Masuklah dok! " ucap nenek Moya.
Dokter Winston mengangguk dan melangkah ke arah Ayla.
" Halo nona, bagaimana kabarmu ?" ucap dokter Winston. Ia menyapa Ayla untuk sekedar membuat dia tersenyum dan senang dengan dirinya.
" Aku baik dok " jawab Ayla.
" Baguslah kalau begitu " ucap dokter Winston. Ia melihat infus Ayla, apakah aliran masih lancar atau tidak.
Dokter Winston menarik kursi untuk duduk di dekat kasur Ayla. Ia ingin bertanya-tanya tentang bagaimana ingatan dan pikirannya saat ini.
" Apa yang kamu rasakan sekarang? apakah ada sesuatu yang berbeda dalam pikiranmu ?" tanya dokter Winston.
"Aku terkadang merasa pusing pada kepalaku. Perasaanku kadang berputar-putar pada kejadian waktu itu. Aku merasa mereka masih ada di sekelilingku, tapi pada saat ada gerakan atau tindakan mereka yang sama, ketika berada di sekitarku " jawab Ayla.
" Boleh kamu jelaskan seperti apa contohnya ?" tanya dokter Winston.
" Seperti kemarin. Pada saat dokter, Daddy dan pria itu menahanku. Kalian membawaku dengan paksa ke kasur ini, membuat aku ingatanku berputar pada kejadian itu " jawab Ayla.
Dokter Winston terdiam mendengar jawab pasiennya. Tebakannya benar, bahwa pasiennya mengalami putaran ingatan pada saat kejadian yang menimpanya. Hanya saja pada gerakan-gerakan yang sama saja.
" Mereka melakukan hal yang sama seperti yang kami lakukan ?" tanya dokter Winston.
" Hampir mirip seperti itu. Mereka melemparku ke tumpukan jerami " jawab Ayla.
" Kamu sudah mengingat semuanya? kamu sudah tahu, siapa saja di sekelilingmu saat ini ?" tanya dokter Winston.
" Aku sudah mengingat semuanya. Aku juga sudah tahu siapa saja mereka " jawab Ayla.
Jawaban Ayla membaut mata Dista berbinar. Dia tidak menyangka sang sahabat sudah mengingat semuanya. Dia tidak harus berusaha memperkenalkan dirinya dan siapa Ayla sebenarnya.
Ingin rasanya dia berlari memeluk sahabatnya. Rasa seperti sangat lema tidak pernah bertemu dengan sahabatnya. Padahal dia setiap hari selalu bertemu, tapi kali ini berbeda. Dia tidak datang lagi sebagai orang lain yang tidak di kenal oleh sahabatnya, tapi sekarang ia akan datang sebagai sahabtnya.
Senyuman tidak pernah luput dari wajah Dista. Perasaan tidak bisa ia gambarkan. Sangat-sangat bahagia, itulah yang hanya bisa di ungkapkan hatinya.
" Kamu sudah tahu siapa saja mereka? coba kamu sebutkan, dokter ingin mendengarnya !" pinta dokter Winston.
__ADS_1
" Itu tentu saja nenekku " tunjuk Ayla pada nenek Moya yang sedang duduk di sofa melihat ke arahnya.
" Yang di samping nenekmu itu siapa?" tanya dokter Winston.
" Di samping nenek itu adalah mommy " jawab Ayla. Mom Awah tersenyum dan melambai ke arahnya.
" Kalau gadis yang di sebelah sana ?" tanya dokter Winston seraya menunjuk ke arah Dista yang tidak jauh berdiri dekat kasur.
" Dia...." Ayla menahan ucapannya, sedangkan Dista menunggu dengan harap-harap cemas.
" Dia adalah sahabatku yang paling baik. Aku bertemu dengannya di SMA jaya biru " lanjut Ayla.
Tampak senyuman merekah dari bibir Ayla. Dista terbaru mendengarnya. Ia langsung berlari dan memeluk Ayla.
" Akhirnya kau mengingatku, Ay..." ucap Dista. Matanya terasa perih, ia ingin menangis, tapi ia menahannya.
" Maafkan aku yang melupakanmu, Dista. Aku benar-benar tidak mengingat tentangmu beberapa hari belakangan ini " ucap Ayla merasa bersalah pada Dista.
" Tidak apa-apa. Yang penting, sekarang kamu mengingatku " ucap Dista.
Ayla mengangguk dan mereka masih setia dalam posisi berpelukan. Mereka sampai lupa, kalau masih ada dokter Winston di sana.
" Ekhmmm..." dokter Winston berdehem, membuat kedua gadis itu sadar dan melepas pelukannya.
" Maaf dokter Winston " ucap Ayla dan Dista bersamaan.
"Dokter memaafkan kalian, tapi bisakah dokter melanjutkan tugas dokter ?" tanya dokter Winston.
"Tentu dok. Silahkan " ucap Dista. Ia berjalan menghampiri sang mommy dan duduk di sebelahnya.
" Sepertinya kamu sudah mengingat semuanya. Apa kamu siapa untuk keluar dari rumah sakit hari ini ?" tanya dokter Winston.
" Aku siap " jawab Ayla dengan semangat.
" Siap bertemu dengan orang-orang banyak di luar sana ? " tanya dokter Winston.
Ayla menjadi terdiam mendengar kata orang banyak , ia merasa gundah untuk bertemu orang-orang.
" Bagaimana? kamu siapa?" tanya dokter Winston lagi saat tidak mendengar jawaban Ayla.
" Amm..aku..si..ap " jawab Ayla ragu.
" Loh..kok ragu ?" ucap dokter Winston, saat mendengar jawaban Ayla yang tidak seperti tadi yang penuh semangat.
Ayla menjawabnya dengan pelan dan lambat.
__ADS_1
" Aku tidak tahu apakah aku yakin atau tidak, tapi aku ingin cepat pulang " jawab Ayla.
" Kamu tidak akan bisa melewatinya jika kamu tidak ingin mencobanya dan melawannya " ucap dokter Winston.
" Baiklah. Aku akan mencobanya " ucap Ayla.
"Itu harus. Persiapkan dirimu, kamu bisa pulang sore nanti " ucap dokter Winston.
" Benarkah, Dok ?" tanya Ayla tidak percaya.
" Iya, benar. Kamu bisa pulang, tapi dengan syarat kamu harus bisa melawan rasa takutmu" jawab dokter Winston dan memberi syarat pada Ayla.
" Aku akan berusaha, dok " ucap Ayla.
"Baiklah, kalau begitu. Tugas dokter sudah selesai " ucap dokter Winston seraya berdiri dari duduknya.
" Nyonya-nyonya, saya permisi " ucap Dokter Winston pada mom Awah dan nenek Moya.
Keduanya mengangangguk dan nenek Moya mengucapkan terimakasih pada dokter Winston.
" Akhirnya kau bisa pulang, Ayla "ucap Dista.
Ayla tersenyum dan mengangguk untuk merespon ucapan sahabatnya.
" Nenek akan merapikan pakaian kita sebelum pulang " ucap nenek Moya. Ia berdiri dan memasukkan sarung yang ia pakai selama di sini.
Nenek Moya menggunakan sarung itu untuk mengelap tubuhnya sesudah mandi. Ada juga sarung untuk cucunya yang ia bawa sebelum ke rumah sakit.
" Aku akan membantu, Bu " ucap mom Awah. Ia mendekat ke arah nenek Moya dan membantunya.
" Kau sebenarnya tak perlu membantuku. Ini hanya sedikit saja dan membuatmu repot " ucap nenek Moya.
" Nggak apa-apa, ,Bu " ucap mom Awah.
Nenek Moya akhirnya membiarkan mom Awah membantunya.
****
Tak terasa jam sudah berputar cukup lama, sehingga jarum jam menunjuk angka 4. Jarum pendek menunjuk angka 5. Dokter Winston sudah ada di dalam kamar rawat Ayla. Ada juga dua suster bersamanya untuk membuka infus yang menempel di punggung tangan Ayla.
Setelah selesai, mereka berjalan keluar dari ruangan itu. Awlanya Ayla di minta untuk naik ke kursi roda, tapi Ayla menolaknya. Dia ingin berjalan bersama dengan yang lainnya.
Pintu sudah dibuka oleh Joni yang masih setia menjaga di luar pintu ruangan Ayla. Kedua pintu ruangan itu sudah terbuka. Tampak penjaga Joni dan Jono sudah terlihat berdiri di sana untuk menunggu mereka keluar, namun saat mereka semua sudah melangkah keluar, Ayla hanya diam saja. membuat mereka heran. Mereka mengajak Ayla untuk keluar, tapi dia hanya diam.
Ayla menatap lurus kedepan, entah apa yang dia lihat dan apa yang ada dia pikiran. Ayla seakan ragu untuk meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1
.
NEXT..