Sahabatku Berubah Menjadi ADIK IPARKU

Sahabatku Berubah Menjadi ADIK IPARKU
Bab 73. Mom Awah, muak.


__ADS_3

Dimas berusaha menenangkan Sinta yang terus menangis, karena merasa sangat sakit pada bahunya. Dengan berbagai bujuk rayuan dari Dimas, Sinta akhirnya berhenti menangis.


Dimas meminta handphone Sinta untuk menghubungi keluarganya. Setelah itu, Dimas keluar dan kini bergantian dengan teman-teman Sinta.


 Dimas keluar, ternyata sudah ada Kenan yang duduk di kursi tunggu.


" Sejak kapan lu sampai?" Dimas duduk di sebelah Kenan.


"Sudah 7 menit gua duduk di sini" Kenan menoleh, melihat wajah Dimas yang terlihat banyak beban.


" Bagaimana keadaan Sinta ?" Tanya Kenan lagi.


" Bahunya patah dan yang lain baik-baik saja" Dimas menyandarkan punggungnya dan menutup matanya seraya mendongak.


Mereka hanya diam saja seperti itu, sampai keluarga Sinta pun berdatangan. Dimas yang sejak tadi memejamkan matanya, kini menyadari suara langkah yang sedikit berisik.


" Di mana Sinta?" Tanya mommy Sinta dengan sangat khawatir.


" Dia berada di dalam aunty" Kenan menunjuk ruangan yang berada di samping mereka.


Keluarga Sinta yang mendengar itu buru-buru masuk ke dalam. Mereka sangat tidak sabar untuk melihat keadaan anak mereka.


Kenan yang ingin memberitahu mereka jika tidak di perbolehkan masuk terlalu banyak, tapi tidak sempat. Keluarga Sinta sudah masuk lebih dulu sebulan Kenan mengatakannya.


" Bagaimana ini?" Tanya kenan pada Dimas yang sejak tadi hany diam saja .


"Biarkan saja, tidak ada dokter yang melihat. Sinta juga butuh keluarganya" Dimas kembali duduk.


Beban pikiran Dimas sudah sangat banyak. Ia yang awalnya ingin menemui Sinta sepulang kuliah menjadi tidak jadi. Ia ingin membicarakan tentang permintaan sang daddy untuk memutuskannya, tapi lagi-lagi ada saja gangguan. Ia tidak mungkin membicarakannya, sedangkan Sinta sedang sakit.


" Jadi besok lu tetap ingin pulang?" Pertanyaan Kenan membuat Dimas yang melamun kini tersadar dari lamunannya.


" Harusnya seperti itu. Orang tuaku akan marah, terutama daddy-ku"


" Tapi bag..." Kenan yang ingin bertanya lagi, terhenti dengan suara seseorang yang memanggil Dimas.


" Dimas" panggil Ornando. Ornando juga berada di sana. Ia datang dengan orang tuanya.


" Iya, kak" Dimas berdiri dan menghampiri Ornando.

__ADS_1


" Gua dengar lu ingin pulang ke negaramu?" Dimas mengangguk.


" Jangan pulang dulu! Kau ingin Sinta kecewa denganmu? Masa kau ingin meninggalkan Sinta yang sedang sakit saat ini, seharusnya kau selelu berada di sampingnya, bukan malah lari dari tanggung jawabmu sebagai kekasihnya " Ornando sangat geram mendengar Dimas yang ingin kembali ke negaranya, sedangkan dia meninggalkan Sinta yang tengah sakit di sini.


Dimas hanya diam saja, ia tidak tahu harus menjawab seperti apa. Mendengar kata tanggung jawab, ia juga menjadi teringat tentang Ayal yang juga adalah tanggung jawabnya.


Setelah memberitahu Dimas, Ornando pun masuk kembali. Meninggalkan Dimas yang melamun dengan segala beban pikirannya


Dreet......


Handphone Dimas bergetar, itu tandanya ada seseorang yang menelponnya.


Dimas berlalu dari sana, mencari tempat yang sedikit sunyi.


"Hai mom" Dimas berusaha tersenyum menyapa Mommy, walaupun pikirannya sedang tidak baik-baik saja.


***


Sedangkan di negara I, tepatnya di mansion Smith. Mom Awah menelpon sang putra.


" Hai sayang, apa kamu sibuk?" Mom Awah bertanya melalui sambungan vidio call


Mom Awah tidak menjawab, dia mengalihkan handphonenya ke arah Ayla.


" Emm..hai kak Dim" Ayla malu-malu dan sedikit ragu untuk menyapa Dimas.


Dimas yang berada di sebrang sana tersentak kaget dengan panggilan Ayla. Padahal itu hanya singkat namanya saja, tapi entah kenapa ada perasaan aneh yang menjalar di tubuhnya.


" Kak Dim, boleh Ayla meminta sesuatu?" ucap Ayla dengan pelan.


Dimas tersadar dari lamunannya. " Kamu mau apa?" tanya Dimas. Ini pertama kalinya Ayla meminta sesuatu padanya.


" Saat kak Dim kembali besok, beliin Bircher müesli untukku yah?"


Bircher müesli adalah makanan khas negara S. Bircher müesli terbuat dari kombinasi serpihan gandum, berbagai macam buah, kacang-kacangan, perasan lemon, dan susu.


Dimas tidak menjawab, ia malah menjadi bungkam. Dimas bingung untuk mengatakannya, kalau ia tidak bisa kembali besok akbit Sinta yang sedang sakit.


" Nggak bisa yah, kak Dim? " Ayla yang melihat Dimas hanya diam saja, berfikir Dimas tidak bisa membeli makanan itu untuknya.

__ADS_1


" Maaf Ayla" Dimas merasa bersalah. Ia tahu permintaan Ayla bukanlah hal sulit untuk ia lakukan. Ia juga tahu, kalau permintaan Ayla ada sangkut pautnya dengan bayi mereka. Itu tandanya Ayla sedang mengidamkan ingin makan bircher müesli.


" Baiklah, Ayla mengerti " Ayla sedikit kecewa mendengarnya. Padahal ia ingin sekali makan makanan itu.


" Kenapa kamu tidak bisa membelinya, Dimas? makanan itu sangat banyak di jual di sana " daddy Hasbu yang mendengar Dimas tidak bisa membeli makanan itu, langsung mengambil handphone itu dari tangan Ayla.


" Dimas tahu, dad, tapi..." Dimas sangat ragu untuk mengatakannya.


" Tapi apa?" tanya mom Awah. Ia langsung muncul di layar handphone untuk mengetahui alasan Dimas.


" Maafkan Dimas Mom, Dad. Dimas tidak bisa menepati janji Dimas untuk pulang besok " di layar itu, Dimas terlihat menunduk dan merasa bersalah kepada kedua orang tuanya.


Daddy Hasbu yang mendengar itu sangat kesal. Ia memberikan handphonenya pada mom Awah, ia sangat malas melihat wajah putranya.


" Ambil handphonenya, mom. Daddy malas melihat wajah putramu"


Mom Awah menerima handphonenya. Ia tahu suaminya kes pada Dimas.


" Apa lagi alasanmu, Dimas. Jangan bilang alasan tidak pulang, karena Sinta" mom Awah tidak akan terima alasan Dimas yang seperti itu.


" Maafin Dimas, mom. Sinta kecelakaan dan Dimas tidak bisa meninggalkannya "


" Sinta punya keluarga yang bisa merawatnya, Dimas. Itu bukan tugasmu untuk merawatnya, ada dokter juga di sana. Kamu lebih mementingkan Sinta dari pada Ayla yang jelas-jelas adalah istrimu?" mom Awah mulai marah pada Dimas. Ia sudah berbicara sedikit cepat, karena sedikit marah mendengar alasan Dimas yang masuk akal.


Sedangkan daddy Hasbu semakin geram. Ia sudah menduga Dimas tidak akan menepati janjinya dan lebih mementingkan Sinta dari pada Ayla istrinya sendiri.


" Dimas tahu, mom. Dimas diminta oleh mereka untuk selalu berada di dekat Sinta. Dimas belum bisa mengatakan pada Sinta, kalau Dimas sudah menikah. Tapi Dimas janji akan mengatakannya setelah Sinta mulai membaik "


" Terserah kamu Dimas. Terserah kamu, mommy sudah malas mendengar janjimu yang tidak pernah kamu tepati. Kamu lebih mematuhi perintah keluarga Sinta dari pada kami. Mommy kecewa Dimas, mommy muak mendengar alasanmu yang tidak masuk ajal" mom Awah sudah sangat kecewa dan marah pada putranya yang tidak bisa melepas Sinta demi Ayla. Dimas benar-benar tidak memikirkan Ayla yang tengah hamil saat ini.


" Kamu lebih mementingkan Sinta yang sedang sakit, padahal jelas-jelas dia memiliki orang tua. Ayla sangat mengidam-idamkan untuk makan makanan itu dan menunggumu pulang. Ayla sedang hamil anakmu Dimas, apa kamu lupa?" tambah mom Awah.


" Dimas mengingatnya, mom, tapi ini tanggung jawab Dimas " Dimas tidak menyadari perkataannya sendiri. Sinta bukanlah tanggung jawabnya, tapi Ayla.


" Tanggung jawab kami bilang? Dimas, tanggung jawabmu ada di sini. Ayla adalah tanggung jawabmu, karena Ayla adalah istrimu. Sinta bukan siapa-siapa kamu, Dimas. Sinta hanya kekasihmu, yang seharusnya bukan lagi kekasihmu" mom Awah semakin marah. Nada bicaranya mulai meninggi. Matanya bahkan sedikit melotot menatap putranya.


.


.

__ADS_1


NEXT


__ADS_2