Sahabatku Berubah Menjadi ADIK IPARKU

Sahabatku Berubah Menjadi ADIK IPARKU
Bab 94. Menyusahkan kalian


__ADS_3

Siang hari di rumah sakit, Ayla tengah berbaring di atas brangkar nya dengan melamun. Entah ala yang sedang dia lamunkan. Di dalam ruang rawatnya, Ayla hanya sendirian. Ayla pun juga tidak tahu ke mana Dimas pergi setelah Ayla menyuruh Dimas keluar.


Saat Ayla tengah asik menatap langit-langit ruang rawatnya, Ayla tidak menyadari ketika aunty Caca masuk bersama seorang suster.


" Ayla"panggil aunty Caca saat ia sudah berada di dekat brangkar Ayla.


"Ehh.." sontak saja Ayla menoleh dengan kaget. "Onty, sejak kapan onty masuk"


"Baru saja" jawab aunty Caca seraya mengambil suntikkan yang ia akan isi dengan cairan vitamin.


"Kamu kenapa melamun?" tanya aunty Caca.


"Heheh..Ayla hanya bingung mau melakukan apa" Ayla cengegesan dan merasa malu, karena onty Caca mengetahui ia sedang melamun.


"Kamu ini, jangan sering melamun! nanti ada yang menculik mu" canda aunty Caca sambil menyuntikan vitamin ke selang infus Ayla.


"Nggak pa-pa Ayla di culik. Nanti juga punculiknya yang akan memulangkan Ayla dengan sendirinya, karena menculik gadis yang tidak punya apa-apa. Hahah..." Ayla tertawa lucu membayangkan seseorang menculiknya dan meminta uang tebusan padahal ia tidak punya apa-apa selain dirinya sendiri.


Berbeda dengan aunty Caca yang merasa kasihan dan sedih dengan kehidupan Ayla. Ia tetap tersenyum kecil untuk menghargai lawakan Ayla.


"Sudah" aunty Caca telah selesai menyuntikan vitamin. "Kamu bisa keluar lebih dulu, sus" ucap aunty Caca pada suster yang menemaninya. Ia hanya ingin bercerita dengan Ayla sambil menemaninya agar Ayla tidak merasa kesepian.


"Baik, dok" suster pun pergi lebih dulu dan meninggalkan aunty Caca bersama Ayla berdua di sana.


"Apa kamu merasa sakit perut?" tanya aunty Caca seraya mengambil buah apel diatas lemari kecil dan mengupasnya.


"Iya onty. Ayla juga kadang-kadang merasa mual, tapi Ayla menahannya"


"Tidak apa-apa. Itu memang efeknya. Kamu hanya perlu waktu untuk pemulihan saja"


"Berapa lama, onty?"


"Satu Minggu atau lebih, tergantung dari kondisimu"


Ayla yang mendengar itu membuang nafas lesu. Ia sudah sangat bosan dengan masa pemulihan.


"Lagi dan lagi. Kenapa aku harus selalu merasakan pemulihan. Ayla sudah bosan, onty. Ayla capek tidak bisa melakukan apapun selain istirahat di atas kasur. Aku ingin bebas onty" Ayla mengeluh dengan kondisinya.


"Mau bagaimana lagi Ayla, itu sudah seharusnya kamu lakukan agar kondisimu lebih baik. Kita memang tidak tahu apa yang terjadi dengan hidup kita" aunty Caca mengerti dengan keluhan Ayla. Apalagi Ayla masih terbilang sangat labil, jadi wajar dia masih memiliki pemikiran yang pendek.

__ADS_1


Aunty Caca juga mengerti kondisi Ayla yang sempat mengalami depresi saat hamil.


"Kenapa ya onty? Ayla selalu saja masuk rumah sakit. Tahun kemarin Ayla masuk rumah sakit karena mengalami trauma. Tahun pertama Ayla masuk rumah sakit lagi, karena hamil. Sekarang Ayla masuk lagi, karena keguguran dan ketiganya sama-sama harus istirahat di rumah untuk pemulihan. Aku berfikir, aku sangat lemah ya onty?"


Mendengar itu aunty Caca bungkam dan hanya menatap Ayla dengan wajah yang tak terbaca.


"Ayla selalu menyusahkan kalian semenjak Ayla masuk kedalam kehidupan kalian. Ayla pertama kali berteman dengan Dista dan bermain ke rumahnya, Ayla sudah membuat mommy dan daddy repot ketika Ayla masuk rumah sakit pada saat itu. Sekarang, saat Ayla sudah menikah dengan kak Dimas, Ayla lebih banyak merepotkan kalian. Apa Ayla pergi saja dari kalian dan kembali ke rumahku sendiri dan tidak mengenal kalain? Ayla tidak ingin merepotkan kalain" Ayla menatap mata aunty Caca yang diam menatapnya.


Aunty Caca menggeleng mendengar perkataan Ayla. "Tidak!! Kamu tidak merepotkan kami sama sekali Ayla. Jangan pernah berfikir seperti itu dan jangan pernah berfikir untuk pergi, jangan!!"ucap aunty Caca dengan menangkup kedua pipi Ayla.


"Tapi onty...."


"Stop!! kamu tidak boleh mengatakan hal itu lagi" aunty Caca menghentikan Ayla dengan mengangat kelima jarinya di depan wajah Ayla.


Aunty Caca langsung memeluk Ayla. "Kami semua menyayangimu. Onty, mommy, daddy, Dista akan sangat marah padamu kalau kamu mengatakannya lagi" ucap aunty Caca disela pelukannya.


"Ii...iya onty"


Aunty Caca melepaskan pelukannya dan memberikan buah yang ia sudah potong-potong pada Ayla. Ayla memakan putongan buah itu.


"Jadi, kapan aku bisa pulang onty?" tanya Ayla sambil mengunyah potongan buah yang ada di dalam mulutnya.


"Apa kamu ingin pulang sekarang?"


"Kalau keadaan kamu tetap baik hari ini sampai besok, kamu boleh pulang. Tapi belum boleh untuk kembali ke sekolah dulu"


"Iya, onty"


Tak berselang lama Dimas kembali dan masuk ke dalam ruang rawat dengan baju yang sudah terganti dan sudah terlihat tampan dengan rambut yang sedikit berantakan.


"Lama sekali" gerutu aunty Caca melihat keponakannya terlalu lama meninggalkan Ayla.


"Dimas tunggu pakaian ganti yang dikirim pak Jang, onty" ucap Dimas sambil mencomot potongan buah yang ada di piring Ayla.


Namun, ketika tangannya mengambil potongan buah itu, aunty Caca memukul tangan Dimas hingga potongan buah itu jatuh kembali ke dalam piring.


Plakk...


"Itu untuk Ayla, jangan di ambil. Ambil yang utuh saja sana" aunty Caca menunjuk buang yang masih utuh di atas lemari kecil.

__ADS_1


"Dimas hanya mencobanya onty"


"Alasan"


"Yaudah onty keluar" aunty Caca berdiri dari duduknya.


"Iya" jawab Dimas singkat.


Aunty Caca pun meninggalkan mereka dan kembali ke pekerjaannya.


"Kamu sudah makan?" tanya Dimas.


"Sudah" jawab Ayla tanpa melihat ke arah Dimas.


"Siapa yang membawa makanan?"


"Suster" lagi-lagi Ayla menjawab seadanya tanpa melihat ke arah Dimas.


Dimas membuang nafasnya melihat sikap Ayla. "Kalau di tanya itu jangan nunduk. Aku paling nggak suka saat aku berbicara dengan orang, tapi dia tidak melihat ke arahku" Dimas mengangat wajah Ayla set memegang dagunya, sehingga mata mereka saling bertatapan.


Mata mereka saling mengunci dan menatap satu sama lain. Mereka diam dengan pikiran mereka masing-masing. Hingga tanpa sadar Dimas memajukan wajahnya lebih dekat ke wajah Ayla.


Tinggal 3 cm saja bibir Dimas bisa bersentuhan dengan bibir Ayla. Namun Ayla yang lebih cepat sadar langsung mendorong dada Dimas dengan kuat.


"Kak Dimas jangan macam-macam!!" mata Ayla melotot dan menatap Dimas tajam.


Dimas juga kaget dengan dirinya sendiri. Hampir saja ia mencium Ayla, entah apa yang ada dipikirannya sehingga ia begitu berani untuk melakukan hal itu.


"Ma..maaf aku nggak sengaja"


"Kak Dimas jelas-jelas sengaja!!"


"Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak menyadarinya, itu terjadi dengan sendirinya. Lagi pula aku tidak sempat mencium-mu, karena kamu lebih dulu mendorongku"


"Tapi kalau aku tidak mendorong kak Dimas, kak Dimas pasti akan melakukannya kan? dan aku akan hamil lagi" ucap Ayla marah.


"Ciuman tidak akan membuatmu hamil. Bagaimana caranya agar kamu bisa mengerti, kalau hanya mencium dan hanya menyentuhmu saja tidak akan pernah bisa membuatmu hamil"


.

__ADS_1


.


NEXT


__ADS_2