
Hari baru telah terganti. Hari ini adalah hari ke dua Dista lebur sekolah. Dia tengah berada di kamar kedua orang tuanya. Dista tampak cemberut, karena mommy dan daddy-nya akan pergi bersama, walaupun mereka tidak menginap.
Dista ingin ikut dengan mereka, karena dia akan merasa kesepian berada di manssion sendiri tanpa keluarganya. Padahal masih banyak pekerja, tapi mereka sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.
" Dista mau ikut, mom " rengek Dista.
" Kamu di rumah aja, sayang. Mommy sama daddy hanya sebentar "
" Sebenarnya sampai kapan?"
"Siang nanti mommy sudah pulang "
" Lama itu. Ini baru jam 08:00 pagi " Dista menghentakkan kakinya di lantai dan merebahkan tubuhnya di kasur.
Dista merasakan ada yang basah di tangannya. Ia meraba-raba tempat itu.
" Kok kasurnya basah ?"
Mom Awah dan daddy Hasbu saling pandang, kemudian mereka panik. Itu pasti air sisa permainan mereka semalam.
" Ini apa ?" tanya Dista lagi saat tidak dapat jawaban dari orang tuanya.
" Ahh..itu..emmm" mom Awah bingung mau mengatakan apa. Otaknya jadi ngelek.
" Itu hanya air, sayang. Setelah mandi tadi, daddy duduk di sana jadi basah deh " ucap daddy Hasbu.
" Ohh.." sahut Dista.
Dista ingin keluar dari kamar orang tuanya, tapi di hentikan oleh sang daddy.
" Mau kemana ?"
"Rumah Ayla "
" Jangan kemana-mana. Tunggu Daddy Sam mommy pulang, baru kamu boleh pergi " daddy Hasbu melarang putrinya pergi.
" Daddy kok gitu. Lagian kan hanya ke rumahnya Ayla saja "
" Jangan. Kamu harus tetap di rumah. Terserah mau lakuin apa"
" Isss... daddy nyebelin deh " Dista menutup pintu dengan kasar. Sampai-sampai mom Awah terlonjak kaget.
Mom Awah dan daddy Hasbu hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah putrinya. Dista memang selalu seperti itu kalau dia di larang.
Mereka turun ke bawah dan ternyata Dista ada di bawah juga sedang menonton TV.
" Sayang, mommy pergi dulu, yah. Ingat pesan daddy-mu " pamit mom Awah.
" Hmmm.." sahut Dista dengan wajah kesalnya. Ia tidak mau melihat wajah kedua orang tuanya.
...----------------...
Daddy Hasbu dan mom Awah saat ini berada di airport. Mereka tengah menunggu seseorang di sana. Tak berselang lama terdengar suara pemberitahuan pesawat akan mendarat.
Mom Awah dan daddy Hasbu berdiri dan menunggu seseorang itu keluar dari dalam pesawat. Sudah nampak seorang pria dan wanita yang tengah celingak-celinguk mencarinya.
Mom Awah mengangkat tangannya keatas dan melambai. Pria itu melihatnya dan berjalan cepat ke arahnya.
__ADS_1
" Mommy.." ucap pria itu. Dia memeluk mom Awah dengan rindu.
" Kamu semakin tinggi, sayang " mom Awah mendongak melihat wajah putranya.
Ternyata mereka menjemput Dimas. Dimas memberitahu orang tuanya semalam untuk menjemputnya di bandara besok pagi.
" Hai..dad " Dimas memeluk sang daddy dengan ala lelaki.
Daddy Hasbu menepuk bahu putranya dengan sedikit keras.
" Aman kan ?" tanya daddy Hasbu.
" Tentu saja, dad. Semuanya aman "
Maksud dari pertanyaan daddy Hasbu adalah, sang putra tidak melakukan hal-hal bebas. Apalagi sang putra sulung sudah memiliki kekasih. Ia hanya waspada, karena Dimas sudah pernah mengajak kekasih datang ke apartemen miliknya.
" Oh yah. Kenalin, ini Sinta " Dimas memperkenalkan kekasihnya pada orang tuanya.
" Sinta, tante " singa bersalam dengan mom Awah dan melakukan cipika-cipiki.
" Sinta, om " kali ini Sinta bersalaman dengan daddy Hasbu, tapi tidak ada cuplikan.
Daddy Hasbu menerima uluran tangan Sinta dengan wajah datar dan kakunya. Membuat sinta agak takut-takut.
" Ayo pulang. Adikmu sudah kesal dari tadi, karena dia ingin ikut " ajak mom Awah.
" Dista tidak tahu kan mom, kalau Dimas mau pulang ?" tanya Dimas.
Mereka berbicara sambil berjalan ke mobil.
" Tidak. Dista tidak tahu "
Manssion
Mereka sudah sampai. Satu persatu mereka turun dari mobil. Dimas sudah sangat tidak sabar melihat raut wajah kaget adiknya. Dista pasti cemberut melihatnya, karena tidak memberitahu padanya kalau dia akan pulang hari ini.
Sebenarnya Dimas berencana pulang satu hari sebelum pesta ulang tahun adiknya, tapi ia tidak ingin membuat Dista marah padanya.
Mereka berjalan masuk dengan pelan, agar Dista tidak menyadari kedatangan mereka. Ternyata saat mereka sampai di ruang TV, Dista sedang tertidur di sofa dengan TV yang masih menyala.
Dimas mendekati adiknya yang terlihat sangat pulas. Ia berjongkok di depannya dan melihat wajahnya.
" Dia tidur, mom " Dimas berkata dengan berbisik.
" Bangunkan saja. Ini masih pagi, nggak baik tidur pagi-pagi " ucap daddy Hasbu.
Dimas yang mendengar itu merasa mendapat sebuah lotre. Ia dengan jahil menggosok-gosok hidung mancung adiknya. Dista mengibaskan tangannya. Dia mengira itu ada hewan terbang yang mengganggunya.
Sekali lagi Dimas melakukannya, sampai Dista memukul wajahnya sendiri. Dimas tertawa dengan keras melihat itu.
Buahhahah..
" Hei.. bocah tidur..bangun " Dimas menggoyangkan tubuh adiknya.
" Apaan sih " Dista bangun dengan kesal, karena tidur terganggu.
Dista belum menyadari siapa yang ada di depannya.
__ADS_1
" Siapasih yang...." Dista ingin marah, tapi terhenti saat melihat wajah sang kakak yang tersenyum jahil ke arahnya.
Dista mengucek-ngucek matanya untuk memastikan penglihatannya. Ia mengira ia bermimpi, tapi wajah itu masih ada di depannya.
" Kak Dimas " Dista mencoba memanggilnya.
" Yahh..ada apa ?" Dimas dengan jahil memajukan wajahnya dan melototkankan matanya.
" Ihhh...plakk..." Dista yang kesal menampar wajah Dimas.
" Autsss..kenapa kamu memukulku ?"
" Ehhh..nyata yah ? Dista kira hantu " sahut Dista dengan wajah cengo.
" Ini kakak, Dista "
" Kak Dimas kok bisa ada di sini ?"
" Kakak terbang kesini " sahut Dimas kesal.
" Dista merindukanmu, kak " Dista akhirnya memeluk Dimas. Ia benar-benar rindu dengan kakaknya.
Dulu, setiap hari dia akan selalu bertengkar dengan sang kakak. Hal kecil saja dia sudah ribut dengan kakaknya. Sampai-sampai para pekerja yang ada di mansion menghindari mereka saat bertengkar.
Karena, mereka akan menjadikan para pekerja yang ada di dekat mereka sabagai kambing hitamnya.
" Kakak juga. Wajah cemberut mu selalu menghantui kakak selama di negara S "
" Ohh yah, mana yang kakak janjikan padaku. Jangan-jangan kakak lupa, yah ?" Dista mendorong Dimas agar pelukan mereka terlepas. Ia meminta sesuatu yang Dimas janjikan padanya.
" Tenang, kakak tidak lupa. Oleh-olehnya ada di dalam koper kakak. Nanti kamu ambil, karena kakak ingin mengenalkanmu sama seseorang "
" Seseorang ?" tanya Dista bingung.
" Iya. Seseorang itu akan menemanimu berbelanja nantinya. Kamu juga punya teman di sini "
" Memang siapa ?"
" Itu dia " Dimas menoleh ke belakang dan memanggil Sinta dengan gerakan tangannya.
" Kenalin ini Sinta. Dia yang bersama kakak, saat Vidio call waktu itu " Dimas memperkenalkan Sinta pada adiknya.
" Haji..aku Sinta. Siapa namamu ?" Sinta memperkenalkan dirinya dan ingin berjabat tangan dengan Dista.
Dista hanya diam saja memperhatikan tangan yang bergelantungan di depannya. Raut wajah nya berubah menjadi datar seperti wajah daddy Hasbu yang pertama kali bertemu Sinta tadi.
Tanpa mengatakan apapun, Dista meninggalkan mereka dan naik ke kamarnya. Sinta menurunkan tangannya yang hanya di senggol sedikit oleh Dista saat melewatinya.
Dimas memperhatikan adiknya yang terlihat datar. Ia heran dengan sikap adiknya. Dimas merasa tidak enak hati dengan kekasihnya.
" Maafkan adikku. Sepertinya dia kaget aku membawamu ke sini "
" Tidak apa-apa, aku mengerti "
.
.
__ADS_1
NEXT