Sahabatku Berubah Menjadi ADIK IPARKU

Sahabatku Berubah Menjadi ADIK IPARKU
Bab 44. Kepergian nenek Moya


__ADS_3

Hari baru kembali berganti. Pagi yang cerah membuat penduduk Kota H gembira melakukan pekerjaan mereka dengan senang hati. Seperti di mansion Smith saat ini, semua penghuninya sudah nampak terbangun.


Keluarga inti Smith tengah sarapan bersama. pagi ini, daddy Hasbu akan pergi bekerja, sedangkan istri dan kedua anaknya akan keluar bersama nantinya.


Setelah sarapan mereka pergi ke tujuan masing-masing dan berpisah di tengah jalan. Mobil yang dikenakan daddy Hasbu hanya melaju kurus ke depan, sedang yang dikemukakan Dimas berbelok ke kota menuju gang rumah Ayla.


" Mommy kira Ayla bekerja di toko ?" tanya mom Awah pada Dista.


" Iya, mom. Ayla memang bekerja di toko kue setiap hari selama libur sekolah"


" Jadi Ayla nggak ada di rumah dong?"


" Dista nggak tahu. Dista juga tidak tahu toko kue mana Ayla bekerja. Kita coba saja ke rumahnya dulu, kalau Ayla nggak ada, kita tanya sama tetangganya di mana Ayla bekerja. Mereka pasti tahu " jawab Dista


" Kamu benar " mom Awah membenarkan perkataan putrinya.


" Rumahnya yang mana, mom ?" tanya Dimas.


" Maju lagi sedikit " mom Awah mengarahkan.


Di depan sudah nampak rumah kayu milik nenek Moya.


" Berhenti, kak !" seru Dista.


Mobil mereka berhenti. Mom Awah dan Dista turun dari mobil dan mengetuk pintu rumah nenek Moya sambil memberi salam.


Dari dalam terdengar sahutan yang sepertinya suara Ayla.


" Ayla nya ada, mom " mom Awah mengangguk membenarkan perkataan putrinya.


" Ehh..mommy, Dista, ternyata kalain. Ayo masuk !" ajak Ayla setelah melihat siapa yang bertamu di rumahnya.


" Aku kira kamu pergi bekerja " ucap Dista.


" Tidak. Aku sudah berapa hari ini tidak bekerja. Aku izin dulu "


Dista hanya ber Oh saja mendengar jawaban Ayla.


" Oh iya, ini Mommy bawa makanan. Mommy pindahkan ke piring, yah " mom Awah menunjukkan tempat makanan bersusun itu. Ia ingin memindahkannya ke piring.


" Biar Ayla saja yang memindahkannya, mom" Ayla ingin mengambil alih makanan itu.


" Tidaj perlu, biar mommy saja" mom Awah berjalan ke dapur dan memindahkan semua makanan itu ke piring.


Selama di dapur mom Awah celingak-celinguk. Ia mencari keberadaan nenek Moya. Biasanya dia akan di dapur ini, setiap ia datang berkunjung kemari. Setelah memindahkannya, mom Awah kembali ke depan.


" Di mana nenek Moya ? Kenapa mommy tidak melihatnya di dapur. Apa dia ada di kamar ?" tanya mom Awah.

__ADS_1


Mendengar nama sang nenek, wajah Ayla menjadi sendu.


" Nenek udah nggak di sini " jawab Ayla pelan.


" Nggak di sini ? kemana dia ?" mom Awah tidak mengerti maksud dari perkataan Ayla.


Ayla menunduk. Tampak air mata mengalir deras ke pipinya. Bahunya tampak bergetar dan terdengar Isak tangis. Mom Awah dan Dista menjadi kaget.


" Ehh..kamu kenapa menangis ? apa ada perkataan mommy yang salah dan membuatmu sedih ?" tanya mom Awah. Ia mengangkat wajah Ayla untuk menatapnya.


" Ayla, kamu kenapa ?" Dista juga ikut khawatir.


" Mommy...nenek " Ayla memeluk mom Awah, kemudian mengucapakan kata nenek.


" Kenapa dengan nenek Moya ?" mom Awah tidak mengerti sama sekali. Ia hanya mengusap punggung Ayla.


" Nenek ninggalin Ayla sendirian di sini. Ayla nggak punya siapa-siapa lagi. Nenek ninggalin Ayla disisnj dan pergi menemui Mama dan papa Ayla...hikss.." Ayla menjawab dengan segugukan.


Mom Awah dan Dista saling pandang dengan kaget. Mereka ingin memastikan maksud dari perkataan Ayla.


" Mak.. maksud kamu apa ? mommy kurang mengerti " tanya mom Awah.


" Nenek udah meninggal, mom "


Jawaban Ayla berhasil membuat mom Awah menjadi patung. Ia tidak menyangka mendengar berita ini. Dirinya tidak tahu sama sekali dan tidak ada di sisi Ayla untuk menguatkannya.


" Empat hari yang lalu " jawab Ayla dengan masih banyak air mata yang mengalir.


Mom Awah memeluk Ayla dengan erat. Ia tahu bagaimana kondisi Ayla saat ini. Ditinggal oleh sang nenek yang merawatnya setelah kedua orangtuanya meninggal. Dan kali sang nenek kembali meninggalkannya.


Dista juga ikut bersedih dan merasa bersalah. Tidak ada di sisinya saat sang sahabat sedang rapuh. Dista sadar saat ini Ayla butuh sandaran. Ia juga ikut memeluk sahabatnya yang berada di pelukan sang mommy.


Setelah beberapa lama hanya saling memeluk dan hanya terdengar suara Isak tangis saja. Ayla sudah kembali tenang dan melepas pelukannya pada mom Awah.


" Apa penyebab nenek Moya meninggal ?" mom Awah masih begitu penasaran.


" Waktu itu......"


Flashback


Ayla yang tengah bekerja siang itu dan tengeh fokus melayani pembeli. Tiba-tiba dari arah pintu ada yang memanggilnya dengan terburu-buru.


" Putri..putri..." Itu adalah tetangga Ayla yang memang hanya mengenal nama putri.


" Tante may, ada apa ?" tanya Ayla.


" Kamu harus pulang sekarang !" tante ma menarik tangan Ayla.

__ADS_1


" Tapi Ayla sedang bekerja "


" Tinggalkan dulu pekerjaanmu "


" Ada apa sebenarnya tante may?" Ayla benar-benar bingung, karena tante may tampak terburu-buru dan panik.


" Nenek Moya meninggal "


Duarrrr..


Bagai di sambar petir yang mengenainya, Ayla begitu shokk. Ia berlari dengan kencang ke arah rumahnya. Air mata tampak keluar bersamaan dengan larinya. Semakin dekat Ayla dengan rumahnya, kakinya muali terasa lemas.


Melihat keadaan rumahnya yang sudah di penuhi oleh orang-orang. Perasaan Ayla semakin tak karuan. Ia masih berlari untuk sampi dengan cepat, namun dia terjatuh.


Para ibu-ibu yang melihat itu membantu Ayla untuk berdiri. Mereka semua tahu bagaimana perasaan Ayla. Dengan langkah gontai Ayla memasuki rumahnya yang sudah sangat banyak orang di dalamnya.


Melihat sesuatu yang terbungkus kain di depannya, tangisan Ayla akhirnya pecah.


" Nenek, ini Ayla. Ayla tahu nenek hanya tidur, jadi Ayla mohon buka mata nenek" Ayla memeluk jenazah nenek Moya seraya mengguncangkan tubuhnya.


Tante may yang melihat itu tak kuasa menahan tangisannya juga. Ia menghampiri Ayla dan memeluknya.


" Ikhlaskan nenekmu, nak "


" Tidak tante may. Nenek hanya tidur. Nenek sendiri yang mengatakannya pada Ayla, dia bilang hanya akan tidur sebentar " Ayla merasa tidak terima.


" Tenang, nak. Jangan seperti ini. Nenek moya pasti sedih melihatmu seperti ini " tante may berusaha menenangkan Ayla.


Ayla menjadi diam dan menatap jenazah nenek Moya sampai nenek Moya di makamkan. Sudah tidak ada suara yang keluar dari mulut Ayla. Hanya air mata yang terus saja mengalir di matanya.


Semua orang mulai meninggalkan are pemakaman. Ayla masih tinggal dan duduk di dekat gundukan tanah di mana nenek Moya di kebumikan.


Mengusap batu nisan di depannya dan memeluknya.


" Kenapa nenek tinggal Ayla di sini? Kenapa nenek juga pergi seperti mama dan papa ninggalin Ayla? siapa yang akan temani Ayla di sini ? siapa yang akan memasak untuk Ayla lagi ? Siapa yang akan Ayla panggil saat pulang sekolah nanti ? Ayla tidak punya siapa-siapa sekarang, nek " berbagai pertanyaan Ayla lontarkan di pusaran nenek Moya.


" Ya Allah..kenapa engkau mengambil mereka semua dariku. Tidak cukupkah engkau mengambil mama dan papa ku ?" Ayla benar-benar menangis sejadi-jadinya.


Dia hanya tinggal di sana. Setelah merasa puas, dia kembali berjalan ke rumahnya. Ayla memasuki rumah di mana ia menghabiskan waktunya dengan sang nenek. Rumah itu sekarang sangat sepi, tidak ada lagi senyuman yang menyambutnya pulang. Tidak ada lagi Sura lembut yang ia dengar. Semuanya hilang dalam sekejap.


Ayla berjalan memasuki kamar nenek Moya. Ia duduk di pinggiran kasur dan mengusapnya. Ia membayangkan masih ada sang nenek yang berbaring di sana. Ia merebahkan tubuhnya seakan sedang tidur bersama sang nenek di sana. Ia menutup matanya bersamaan dengan air mata yang mengalir kembali.


Flashback off


.


.

__ADS_1


NEXT..


__ADS_2