Sahabatku Berubah Menjadi ADIK IPARKU

Sahabatku Berubah Menjadi ADIK IPARKU
Bab 91. Kedatangan Felix ke sekolah


__ADS_3

" Apakah begini sikap seorang siswa ?" ucap orang itu. Dia masih pada posisinya membelakangi tiga sekawan.


" Ma..ma..maafkan kami om. Kami tidak berniat melempar anda, tapi kami akan melempar gadis miskin yang ada di depan anda" ucap Sifa takut-takut.


Saat pria itu berbalik dan menatap ke arah tiga sekawan, bersamaan itu pula kedatangan kepala sekolah dengan berlari menghampiri pria itu. Kepala sekolah tampak ngos-ngosan.


" Tuan... hufft..Felix" ucap pak Dula dengan nafas naik turun.


Pria itu adalah paman Felix. Dia adalah sekertaris daddy Hasbu di perusahaan. Kedatangannya kali ini untuk menjalankan perintah dari daddy Hasbu semalam.


" Pak Dula" Felix berbalik melihat ke arah pak Dula sang kepala sekolah.


" Apa Dista membuat masalah pada anda, tuan Felix" Pak Dula mengira Dista membuat kekacauan pada tuan Felix, karena ia melihat tuan Felix mengarah ke arah Dista sebelumnya.


" Kenapa anda langsung mengatakan kalau gadis ini yang membuat masalah?" tanya Felix dengan mengangat sebelah alisnya.


" Dia memang selalu membuat masalah di sekolah ini, tuan. Dia juga pernah di skors, karena melukai temannya"


" Apakah teman yang anda maksud adalah mereka?" tunjuk Felix pada tiga sekawan.


" Iya, tuan" Pak Dula menoleh ke arah tiga sekawan. Matanya membulat ketika melihat putrinya duduk di tanah dan tengah kesakitan.


" Tasya ada apa denganmu?" pak Dula menghampirinya dan membantu Tasya berdiri.


" Dista menendang ku, pak"


Dista yang mendengar itu memutar bola matanya malas. Ia sudah tahu Tasya akan mengadu yang tidak-tidak. Tasya akan menyalahkan semunya padanya, sedangkan Felix wajahnya berubah datar.


" Tenang nona, kali ini saya yang akan mengurusnya" bisik Felix pada Dista.


Dista mendongak menatap paman Felix yang lebih tinggi darinya. "Sebenarnya apa yang paman lakukan di sini?" tanya Dista dengan berbisik juga.


" Saya menjalankan perintah dari tuan Hasbu, nona" Dista mengangguk-angguk.


" Anda bisa mendengarnya sendiri tuan, dia memang selalu melukai temannya sendiri" pak Dula lagi-lagi menunjuk ke arah Dista.


" Benarkah begitu?" tanya Felix.


" Benar tuan, anda bahkan mendengarnya sendiri"


" Bagaimana kalau ternyata gadis yang ada di sebelah anda itu berbohong?"


" Itu tidak mungkin tuan. Tasya adalah siswi yang baik di sekolah ink, benarkah anak-anak?" tanya pak Dula pada para siswa yang masih berkumpul di sekitar mereka.

__ADS_1


Mereka tidak ada yang menjawab sama sekali. Mereka hanya saling pandang dan bingung ingin mengatakan apa, karena mereka semua tahu bagaimana 3 sekawan itu di sekolah.


" Kalian ini nggak sopan sekali!! kepala sekolah nanya tu" Sofia membentuk mereka.


" Ii...iya" jawab mereka.


Lagi-lagi Felix tersenyum miring mendengar jawaban para murid lain. Ia sudah bisa menebak bagaimana para gadis di depannya ini jika berada di sekolah.


" Semua murid juga mengatakan seperti itu"


" Baiklah, mari kita buktikan" Felix berjalan meninggalkan mereka dan berjalan ke arah ruang kepala sekolah.


" Maksud anda, tuan?" pak Dula tidak mengerti.


" Saya ingin melihat CCTV yang ada di sekolah ini" ucap Felix tanpa menoleh sedikitpun. Ia tetap melanjutkan langkahnya.


Pak Dula tentu mengikutinya, sedangkan 3 sekawan menjadi panik mendengar kata CCTV.


" Oh ya...kalian berempat ikut juga" Felix menoleh dan menatap mereka satu persatu.


Dista mengangguk dan berjalan mengikuti langkah paman Felix, sedangkan 3 gadis itu masih diam.


" Bagaimana ini Tasya?" tanya Sifa panik.


" Kalian tenang saja, ayahku tidak akan menghukum kita" ucap Tasya santai. Ia berjalan menyusul mereka ke ruang kepala sekolah. Begitupun dengan Sifa dan Sofia.


Ruang kepala sekolah


Mereka kini berhadapan dengan Felix. Felix duduk di kursi kepala sekolah, sedangkan kepala sekolah duduk bersebelahan dengan Felix. Ke-empat gadis itu duduk berhadapan langsung dengan kepala sekolah dan Felix.


"Pak Dula, apakah kejadian seperti tadi sering teejadi?" tanya Felix seraya menoleh ke arah pak Dula.


" Sangat sering taun. Dan yang selalu mencari masalah adalah Dista" pak Dula melirik Dista yang duduk dengan tenang.


Felix mengangguk dan menatap ke-empat gadis itu satu persatu. "Kalian ber-empat, apa yang membuat kalian bertengkar sampai kalian ingin melempar Dista?" Felix menatap Sifa dan Sofia dengan wajah santai, tapi membuat Sifa dan Sofia takut.


Felix belum tahu nama mereka, Felix berani menyebut nama Dista, karena sejak tadi pak Dula selalu menyebut nama Dista.


"Karena Dista sudah menendang Tasya, jadi kamu ingin membalasnya dengan cara melemparnya" jawab Sifa.


"Ohh... kamu menyebut Dista apa tadi?" Felix mengingat perkataan Sifa yang mengatakan Dista adalah gadis miskin. Ia ingin mendengarkannya lagi dan bagaimana Sifa mengatakannya.


" Kami menyebutnya gadis miskin"

__ADS_1


" kenapa kamu menyebutnya gadis miskin? apa kamu sudah pernah menghitung uangnya dan membandingkan dengan uangmu?"


" Tidak" Sifa menggeleng.


" Terus kenapa kamu bisa menjulukinya gadis miskin?" Felix mencondongkan tubuhnya agar ia bisa melihat dengan jelas wajah salah satu gadis yang ada di depannya.


Felix ingin menggali informasi tentang apa saja yang ketiga gadis itu lakukan di sekolah dan ia juga ingin tahu bagaimana sikap mereka pada Dista dan Ayla.


Sifa menjadi bungkam. Ia tidak tahu mau mengatakan apa, karena mereka memberikan julukan itu pada Dista, karena mereka tidak pernah melihat Dista menggunakan kendaraan ke sekolah ataupun di antar. Mereka semakin melekatkan julukan itu, karena pernah melihat Dista dan Ayla menggunakan sepeda.


Felix mengangkat alisnya dan masih menunggu jawaban Sifa.


" Apa kamu tidak bisa menjawabnya?" tanya Felix.


Sifa menggulung bibirnya dan melirik kedua sahabatnya yang ada di sebelahnya serta mencolok Tasya menggunakan telunjuknya secara sembunyi-sembunyi.


Bibir Sifa bergerak tanda ia meminta bantuan, Tasya yang melihat itu hanya menggeleng, karena sejujurnya Tasya juga tidak tahu harus memberikan alasan seperti apa. Yang ada mereka yang akan terpojok dan dicap siswi yang tidak memiliki sikap yang baik.


"Oke baiklah" Felix menyandarkan tubuhnya di kursi dan beralih menoleh ke arah Dista yang terlihat sudah sangat bosan.


" Dan untuk Dista, kenapa kamu menendang Tasya?" tanya Felix.


Dista menarik nafas kesal. Ia sudah merasa sangat bosan dan muak melihat drama yang dilakukan 3 sekawan.


" Tidak ada gunanya aku berbicara, karena saya tidak memiliki bukti alasan aku menendangnya" jawab Dista datar.


" Dista berbicaralah yang sopan!!" pak Dula sedikit membentak Dista.


" Hahft... terserah anda, pak" Dista menjadi tambah kesal.


" Kamu ini!!" pak Dula secara spontan berdiri dari duduknya dan menatap Dista tajam.


"Wait.. stop" Felix menghalangi pak Dula yang terlihat ingin membentak Dista lagi.


" Maaf tuan, saya tidak suka dengan sikapnya yang tidak sopan pada anda"


"Saya sendiri tidak mempermasalahkannya. Kenapa anda yang menjadi emosi? apakah begini sikap anda pada seorang siswi?" tanya Felix dengan menohok. Ia bahkan menatap pak Dula dengan sangat datar.


Pak Dula yang di tatap seperti itu menjadi kelabakan sendiri. Ia tidak mungkin mengatakan jika selama ini ia selalu berbicara dengan nada tinggi pada Dista, karena ia juga tidak suka pada Dista. Sama seperti putrinya Tasya.


.


.

__ADS_1


NEXT


__ADS_2