
"Baiklah nenek tidur duluan, kalau kamu butuh bantuan kasi bangun nenek, yah" ucap nenek Moya.
" Iya, nek. Dista akan membangunkan nenek, kalau Dista kesulitan mengurus Ayla" jawab Dista.
Nenek Moya berbaring di salah satu kasur yang ada dia kamar rawat Ayla yang memang di khususkan untuk penjaga yang menemani pasien, sedangkan Dista bermain Hp untuk mengusir kebosanannya. Sampai-sampai Dista tertidur.
Tepat pada pukul 03: 00, Ayla bangun lebih dulu. Ia melihat di sekelilingnya, ia melihat sang nenek tengah tertidur dan satu gadis yang berkata dia adalah sahabatnya.
Ayla bangun dan mengambil air mineral di sebelah tempat tidurnya. Kemudian ia turun dari kasur untuk ke kamar mandi.
Nenek Moya dan Dista tidak mendengar suara sama sekali. Tidur mereka terlalu nyenyak. Ayla keluar dari kamar mandi dan mendekat kearah nenek Moya.
Ayla memperbaiki selimut yang di pakai nenek Moya, setelah itu ia duduk di sofa dan di tangannya masih memegang tiang infus.
Ayla sudah tidak merasa mengantuk. Ia duduk termenung di sana.
" Ayah, bunda, Ayla rindu" batin Ayla.
" Kenapa kalian tinggalin Ayla sama nenek berdua di sini?"
" Ayla ingin ayah dan bunda ada di sini. Merawat Ayla seperti dulu. Di peluk, di usap-usap, Ayla juga rindu tidur bertiga dengan kalian" batin Ayla
Ayla sangat merindukan kedua orang tuanya. Dia butuh sosok orang tua untuk menemaninya saat sakit seperti ini. Lama Ayla duduk di sofa hingga jam sudah menunjukkan 04:00 subuh.
Ia berdiri dan mendekat kearah Dista yang tidur membelakangi tembok.
" Kenapa aku tidak begitu asing dengan wajahmu. Kalaupun kamu memang sahabatku, tapi kenapa aku tidak mengingat apapun tentangmu" gumam Ayla. Ia menyentuh hidung Dista yang mancung
Ayla mulai mengingat-ingat tentang Dista.
" Ahh..kepala pusing memikirkannya" gumam Ayla. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya untuk mengusir rasa pusing pada kepalanya.
" Ehh..Ayla, kamu bangun?" tanya Dista. Ayla yang masih menggeleng-gelengkan kepalanya berhenti mendengar suara Dista.
" Ohh..maaf, aku membuatmu terbangun" ucap Ayla.
" Tidak apa-apa" jawab Dista. " Kenapa kamu turun dari kasur? Apa kau butuh sesuatu?" tanya Dista.
" Enggak. Aku hanya capek tidur terus" jawab Ayla.
" seharusnya kamu jangan terlalu banyak gerak dulu. Lihat, darahmu sudah naik di selang infus!" ucap Dista. Ayla melihat infusnya dan benar saja darahnya sudah mulai naik, karena dia terlalu banyak bergerak.
" Ayo kembali lagi ke kasurmu! Aku akan membantu" ucap Dista. Ia mengambil alih tiang infusnya dari tangan Ayla. Ayla hanya diam dan ikut saja.
Dista membantu Ayla naik ke atas kasur dan menumpuk bantal di punggungnya agar dia bisa nyaman saat bersandar.
" kamu mau apa? aku akan mengambilkannya" tawar Dista.
" Nggak ada. Aku tidak butuh apapun" jawab Ayla seraya menggeleng.
__ADS_1
" Baiklah. Kamu tunggu disini, jangan kemana-mana, oke?. Aku ingin ke kamar mandi dulu" ucap Dista. Ayla mengangguk sebagai jawaban.
Dista pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka. Setelah selesai dia kembali lagi bersama Ayla. Dia duduk di pinggir kasur dan mereka saling tatap-tatapan.
" Kenapa?" tanya Ayla bingung melihat Dista yang hanya menatapnya saja.
" Nggak apa-apa. Aku hanya senang melihatmu baik-baik saja" jawab Dista.
" Siapa namamu? aku lupa siapa namamu tadi" Tanya Ayla.
" Nggak apa-apa kalau kamu lupa. Aku akan selalu menjawabnya kalau kamu bertanya lagi nanti" jawab Dista. " Namaku Dista, D I S TA" Dista kemudian mengeja namanya.
" Ohh, Dista" ucap Ayla.
" Yahh.. Apa ada yang ingin kau tanyakan lagi?" tanya Dista.
" Emm.. kamu bilang kamu adalah sahabatku, boleh kau ceritakan apa saja yang sering kita lakukan bersama?" tanya Ayla.
" Yentu saja boleh. Aku bahkan sangat senang menceritakannya kembali" jawab Dista. Ayla tersenyum mendengar jawaban Dista.
" Awal kita ketemu itu di SMA Jaya biru. kita satu kelas, dulu kamu sangat dingin. Aku berusaha mendekatimu sampai aku berhasil membuatmu tidak lagi dingin sama aku"
"Kita selalu ke kantin bersama, ke perpustakaan dan saat pulang sekolah kamu selalu mengantarku menggunakan sepeda sampai mobil" ucap Dista.
" Ohh iya, aku ingat kalau aku punya sepeda. Ke sekolah aku selalu pakai sepeda" ucap Ayla. " Apa aku pernah memboncengmu pake sepeda?" tanya Ayla.
" Pernah, tapi baru sekali. Kemarin kamu mengantarku naik sepeda ke rumahku, Karena ban mobilku pecah" jawab Dista.
" Tentu saja kau tidak mengingatnya. Kau saja lupa denganku" ucap Dista sendu.
" Maafkan aku. Aku benar-benar tidak mengingatmu. Bantu aku untuk mengingat semuanya, tapi selalu ada kepingan-kepingan tentangmu yang membuatku bingung" ucap Ayla.
" Kenapa kamu bingung?" tanya Dista.
" Karena kepingan itu tidak beraturan. Yang aku ingat hanya kamu menarikku pergi dan kita tertawa bersama menaiki sepeda" jawab Ayla.
" Hanya itu saja?" tanya Dista.
" Hanya itu" jawab Ayla.
" Aku akan membantumu untuk mengingat semuanya" ucap Dista
"Terimakasih" jawab Ayla. Dista tersenyum dan ingin memeluk Ayla.
"Apa boleh?" tanya Dista. Ayla mengangguk dan mereka saling berpelukan.
...----------------...
...Di manssion Smith....
__ADS_1
Hari sudah pagi, mom Awah tengah bersiap untuk ke rumah sakit membawa makanan untuk putrinya, nenek Moya dan Ayla, sedangkan daddy Hasbu tengah bersiap berangkat ke kantor. Dia akan ke rumah sakit pada jam 09:00 nanti.
Tringg....
Suara handphone mom Awah berbunyi dan menampilkan layar video call.
" Siapa, mom?" tanya daddy Hasbu.
" Dimas" jawab mom Awah. Daddy Hasbu mengangguk dan mom Awah mengangkat telponnya.
" Hai, sayang" sapa mom Awah.
" Hai, mom" sapa Dimas balik. " Di mana daddy?" tanya Dimas.
" Ini, Daddy lagi bersiap pergi ke kantor" jawab mom Awah sambil memperlihatkan wajah suaminya.
" Hai, boy. Bagaimana kabarmu?" tanya daddy Hasbu.
" Aku baik" jawab Dimas.
"Ada apa kamu menelpon sepagi ini? bukankah di sana sudah tengah malam?" tanya mom Awah. Kini wajah keduanya bersamaan muncul di layar handphone sehingga Dimas dapat melihatnya.
" Nggak ada, Dimas hanya ingin melihat wajah kalian" jawab Dimas.
" Makanya cepat pulang" ucap mom Awah.
" Memangnya kapan kamu pulang?" tanya daddy Hasbu.
" Tahun depan Dimas pulang, saat Dista libur sekolah" jawab Dimas. Daddy Hasbu mengangguk.
" Oh yah, di mana adikku, mom?" tanya Dimas. Ia mencari adiknya. Biasanya saat ia menelpon pasti dia akan muncul walau hanya mengejeknya.
Ia merindukan suara keras adiknya yang selalu berteriak setiap dia bangun dan datang dari luar. Apalagi wajah cemberut adiknya itulah yang paling Dimas ingin lihat.
" Adikmu ada di rumah sakit. Ini mommy bersiap mau ke rumah sakit antar makanan" jawab mom Awah.
" Apa! adikku masuk rumah sakit, mom?" pekik Dimas
" Bukan adikmu yang sakit, tapi sahabatnya. Dia tinggal semalam untuk merawatnya" jawab mom Awah.
" Ahh.. syukurlah. Dimas kira Dista yang sakit" ucap Dimas. Ia mengusap dadanya.
.
.
.
.
__ADS_1
NEXT...