
****Pagi hari****
Matahari sudah terlihat di ufuk timur, bahkan matahari sudah mulai berada di tengah-tengah menyinari bumi. Di salah satu kota metropolitan di negara I, terlihat sepasang suami istri muda tengah berpelukan di atas brangkar dengan sangat pulas.
Ayla mengerjapkan matanya. Ayla memperhatikan sekitarnya dan mengingat jika saat ini dia masih berada di rumah sakit. Ayla merasa sedikit pusing akibat terlalu lama tidur. Ayla juga sudah merasa perutnya sangat keroncongan.
Ayla menoleh di mana Dimas masih tertidur lelap. Dengan hati-hati Ayla menurunkan tangan Dimas dari atas perutnya. Ketika Ayla memindahkan tangan Dimas, Dimas merasa terusik. Dia membuka matanya dan menatap Ayla dengan sayu, khas bangun tidur.
" Jam berapa sekarang?" tanya Dimas dengan suara serak.
" Tidak tahu" jawab Ayla ketus seraya bangun.
Entah kenapa Ayla merasa kesal pada Dimas. Jika di tanya apa alasannya Ayla pun tidak tahu. Setiap melihat wajahnya saja sudah membuat Ayla kesal.
Dimas tidak terlalu menghiraukan sikap Ayla yang menjawab ketus padanya. Dimas memilih bangun dan menatap Ayla yang tengah berusaha untuk turun dari brangkar.
" Apa lihat-lihat?" ucap Ayla dengan melirik Dimas tajam.
" Kamu kenapa si ketus begitu? sikapmu berubah-ubah. Kamu seperti orang hamil saja"
Mendengar kata hamil, tiba-tiba wajah Ayla menjadi murung. Ayla baru mengingat jika saat ini dirinya sudah tidak hamil lagi. Tangan Ayla memegang perutnya dan merasa sedih.
Tiba-tiba Ayla menangis membuat Dimas menjadi bingung sendiri. Dimas tidak menyadari ucapanya membuat Ayla menjadi sedih.
" Ka..kamu kenapa ?kenapa kamu menangis? apa perutmu sakit" Dimas menjadi panik. Ia mendekat dan ingin memegang bahu Ayla, namun Ayla menepisnya.
" Jangan menyentuhku!! " Ayla menatap Dimas dengan marah serta mata yang tampak basah. " Nanti aku hamil lagi. Aku nggak mau hamil"
Dimas menjadi kaget mendengar Ayla yang begitu marah padanya. Bahkan suara Ayla sedikit meninggi.
" Nggak ada orang hamil hanya dengan memegang mu saja, Ayla" Dimas tidak habis fikir dengan pikiran Ayla.
" pokoknya aku nggak mau. Kak Dimas tidak boleh menyentuhku sedikitpun!!" Ayla mendorong Dimas dengan keras, tapi dorongan itu hanya mampu membuat Dimas sedikit bergeser.
Dimas yang melihat Ayla sudah tidak terkontrol lagi memilih mengikuti kemauan Ayla. Ia tidak ingin kejadian buruk terjadi.
" Baiklah-baiklah. Aku tidak akan menyentuhmu" Dimas memilih menjauh dari Ayla.
" Kak Dimas keluar!!" Ayla sedikit berteriak dan menyuruh Dimas keluar dengan menunjuk ke arah pintu.
__ADS_1
" Oke-oke...aku akan keluar, tapi kamu harus tenang oke?" Dimas membuat gerakan degan telapak tangannya mengarah ke bawah dan membuatnya naik turun seperti pompa.
Nafas Ayla naik turun serta matanya melotot. Dimas akhirnya keluar dan meninggalkan Ayla sendirian. Padahal Dimas belum membasuh wajahnya.
sedangkan di dalam kamar rawatnya, Ayla kembali menangis. Bahunya terlihat naik turun.
" Ya Allah.. lagi-lagi kamu mengambil keluargaku. Aku baru saja mendapatkan pengganti dari sang nenek dengan adanya bayi di dalam rahimku, tapi kenapa engkau mengambilnya lagi? " ucap Ayla di sela tangisannya. Ia mendongak dan menatap langit-langit ruang rawatnya.
Ayla seketika diam ketika mengingat sesuatu. Ia mengingat ketika ia sangat frustasi dan menginginkan menggugurkan bayinya.
" Ya Allah...apa Engkau mengabulkan perkataan waktu itu? tapi Engkau pun tahu jika saat itu hamba hanya frustasi dengan keadaanku"
Cukup lama Ayla menangis, akhirnya ia mulai merasa tenang kembali.
Hufftt....
Ayla menghembuskan nafasnya untuk menenangkan dirinya. Ayla kemuadian memilih turun dari brangkar dan melangkah ke kamar mandi dengan hati-hati.
Beberapa menit kemudian Ayla keluar dari kamar mandi dan terlihat sudah ada suster yang tengah menata sarapan paginya.
" Mari makan siang nona" ajak suster.
" Iya nona ini sudah siang. Saya tadi pagi datang ke sini untuk membawakan anda sarapan, tapi anda masih tertidur dan saya tidak enak untuk membangunkan anda. Apalagi masih ada suami anda juga"
Ayla menjadi bodoh sendiri. Ia berfikir ini masih pagi. Pantas saja ia sudah merasa sangat lapar, ternyata sudah siang.
" Memang ini sudah jam berapa, sus?" tanya Ayla sambil mendekat ke arah suster.
" Ini sudah setengah satu siang, nona"
" Lama juga aku tidur" gumam Ayla. Dan gumaman nya di dengar oleh suster, tapi suster hanya tersenyum dan tetap fokus menyiapkan sarapan untuk Ayla.
" Apa di luar suster melihat seorang pria?" tanya Ayla ketika ia sudah duduk di sofa dengan makanan di depannya.
" Maksudnya suami anda nona?" suster memastikan pria yang Ayla maksud.
" Iii...iya" jawab Ayla canggung.
" Saya tidak melihat suami anda di luar, tapi saya berpapasan dengannya di depan ruangan dokter Caca"
__ADS_1
Suster tahu Dimas adalah suami Ayla, karena itu tidak mungkin kakak dari Ayla. Mengingat Ayla di rawat di rumah sakit sebab mengalami keguguran .
" Oohh.." Ayla membulatkan bibirnya ketika mendengar jawaban suster.
Ayla akhirnya memilih sarapan padahal ini sudah siang, tapi waktu ini adalah sarapan baginya, karena Ayla baru saja makan.
...----------------...
Di SMA Jaya biru, terlihat halaman sekolah tampak ramai dengan siswa-siswa yang tengah berkumpul. Lebih tepatnya mereka tengah menonton pertengkaran Dista dengan Tasya, Sifa dan sofia yang di juluki dengan 3 sekawan.
Bisa dilihat rambut tiga sekawan itu sudah sangat berantakan, karena Dista sudah menjambak mereka habis-habisan, sedangkan Dista rambutnya masih terlihat rapi.
Dista tidak memberi celah pada mereka untuk menyentuh rambut indahnya. Walaupun Dista sempat terpojok ketika Sifa dan Sofia menahan tangannya. Membuat Tasya memiliki kesempatan menampar dan memukul perutnya. Namun, setelah Tasya memberikan pukulan pada perut Dista, Dista langsung mengangkat kedua kakinya dan menendang tepat di ulu hati Tasya.
Tendangan itu begitu keras, sehingga membuat Tasya mundur lumayan jauh kebelakang bahkan bokongnya mendarat dengan sangat kasar di atas tanah.
" Auttchhh...." Tasya mengaduh kesakitan dan memegang bokongnya yang terasa sangat sakit.
Sifa dan sofia yang melihat sahabatnya terjatuh, langsung melepaskan cekalan pada tangan Dista dan menghampiri Tasya.
Dista tersenyum miring melihatnya dan merasa sangat puas.
" S***n" umpat Tasya.
" Beri dia pelajaran!" perintah Tasya pada kedua sahabatnya.
Sifa dan Sofia pun berbalik dengan memegang botol air minum di masing-masing tangan mereka. Mereka ingin melempar Dista menggunakan botol tersebut. Namun, saat mereka melepar botol itu, bukan Dista yang terkenal botol tersebut, tapi ada seseorang yang tiba-tiba menjadikan tubuhnya sebuah tameng agar botol itu tidak mengenai Dista.
Tiga sekawan itu menjadi kaget. Mereka tidak berfikir akan ada seseorang yang akan melindunginya Dista.
" Apakah begini sikap seorang siswa ?" ucap orang itu. Dia masih pada posisinya membelakangi tiga sekawan.
" Ma..ma..maafkan kami om. Kami tidak berniat melempar anda, tapi kami akan melempar gadis miskin yang ada di depan anda" ucap Sifa.
.
.
NEXT
__ADS_1