
" KAMU DI MANA ? AKU SUDAH ADA DI SINI " Dimas lagi-lagi berteriak sambil berlari mencari kekasihnya.
Dimas melihat FIDS (Flight Information Display System) untuk mengetahui apakah pesawat yang menuju ke negara S sudah terbang. Dan ternyata pesawat yang menuju negara S sudah kelas landas 2 menit yang lalu.
Arkhhh...
Dimas mengacak-acak rambutnya, karena merasa frustasi. Dia terlambat menemui kekasihnya. Dia juga tahu, Sinta pasti marah dan benar-benar tidak mau berhubungan lagi dengannya.
" Ini semua karena pernikahan bodoh itu. Kalau pernikahan ini tidak terjadi, gua dengan Sinta sudah kembali ke negara S sekarang dan menikmati hari-hari kami. " gumam Dimas. Ia menyalakan pernikahannya, karena kepergian kekasihnya.
Dimas tidak menyadari kalau pernikahan ini terjadi, karena perbuatannya dirinya sendiri. Tidak ada yang akan menyuruhnya menikah jika dia tidak melakukannya pada malam itu.
Dimas berjalan keluar dari bandara dan mengendari mobilnya kembali ke mansion. Dia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, karena mereka emosi. Orang-orang yang melihat mobil Dimas sangat kencang melaju di jalanan mengumpat pemilik mobilnya.
Saat sudah hampir memasuki gerbang mansion, perjaga yang melihat itu buru-buru membuka gerbangnya, tapi belum terbuka sempurna Dimas sudah menerobos sehingga pintu gerbang membuat mobilya lecet.
Bretssss...
Suara gesekan bodi mobil dengan pintu gerbang terdengar lumayan kerasa.
Dimas keluar dari mobilnya dengan emosi yang masih belum stabil.
" Penjaga putih, urus mobilku " Dimas melemparkan kunci mobilnya tanpa menoleh sama sekali.
Dia hanya melempar kuncinya ke belakang tanpa tahu, apakah penjaga putih sudah menangkapnya.
" Oh..astaga..." Pekik penjaga putih saat ia buru-buru menangkup kucing yang terbang di udara, karena tuan mudanya.
" Ada apa dengan tuan muda? tidak biasanya dia seperti itu " tanya penjaga putih pada penjaga lainnya.
" Mana gua tahu..." kata penjaga merah tak acuh.
Penjaga putih hanya mincak-mincak melihat penjaga merah yang biasa saja.
**
Dimas ingin naik ke atas tangga dengan terburu-buru, sehingga dia menabrak kak Tila yang baru saja turun dari lantas atas mengantarkan cemilan untuk Dista dengan memegang sebuah nampan yang ada gelas di atasnya. Dia ingin mengambilkan air untuk Dista.
" Astaghfirullah.." pekik kak Tila, karena gelas yang ia bawa hampir terjatuh.
" Kalau jalan itu lihat-lihat, jangan lihat gelas terus " bukannya minta maaf Dimas malah kesal, karena Tila menabraknya. Padahal itu adalah kesalahannya yang tidak melihat Tila turun dari tangga.
" Tuan muda kenapa malah marah-marah ? padahal dia yang salah" gumam Tila saat Melia Dimas naik ke atas kamarnya. Ia menggelengkan kepalanya dengan sikap tuan mudanya.
Dimas membuka pintu dengan kasar, sehingga membuat Ayla yang sedang nonton TV terlonjak kaget.
__ADS_1
Brakk...
" Astaghfirullah.." pekik Ayla. Ia memegang dadanya seraya menoleh ke arah pintu.
" Kak Dimas kenapa?" tanya Ayla saat melihat wajah Dimas yang tidak bersahabat.
" Keluarlah. Aku muak melihat wajahmu !" bukannya menjawab, Dimas malah mengusir Ayla dari kamarnya dengan sedikit kasar.
Ayla yang kaget, langsung berdiri dari duduknya dan berjalan keluar dari kamar tanpa membantah sama sekali .
" Kenapa kak Dimas datang-datang malah marah-marah" gumam Ayla seraya melangkah turun dari tangga.
Ayla tidak merasa sakit hati dengan Dimas yang menyuruhnya keluar. Ia berfikir, mungkin Dimas tidak suka melihatnya hanya tinggal di dalam kamarnya.
" Sekarang, apa yang akan aku lakukan ? Dista pasti masih tidur" tanya Ayla pada dirinya sendiri saat sudah sampai di bawah tangga.
" Aku lanjut nonton saja deh.." Ayla berjalan dan menyalakan TV yang ada di ruang keluarga. Dia hanya bisa melakukan hal itu, karena tidak memiliki pekerjaan lain.
Saat Ayla sedang asik nonton TV, terdengar teriakan Dimas dari atas memanggil namanya.
" AYLA..." teriak Dimas dari pintu kamarnya.
Ayla yang mendengar namanya di panggil buru-buru berlari naik ke atas.
" Buatkan aku jus apel. Kamu bisakan ?" pinta Dimas.
" Bisa, kak "
" Yaudah, kamu buat sana !" Dimas mengibaskan tangannya untuk menyuruh Ayla pergi. Dia kemudian masuk kembali ke kama dan menunggu Ayla membawa jus miliknya.
Beberapa menit kemudian, Ayla sudah datang dengan membawa segelas jus apel.
" Ini kak, jusnya " Ayla memberikan jus itu kepada Dimas.
" Hmmm.." Dimas mengambil jus itu dan meminumnya. Dia sedikit melirik Ayla yang masih berdiri di dekatnya.
" Kami tidak marah kan, aku menyuruhmu untuk membuatkan ku jus ? lagi pula itu adalah tugasmu sebagai istri yang harus mematuhi perintah suami " kata Dimas dengan sedikit ketus.
Dia masih kesal mengingat dirinya terlambat menemui kekasihnya, karena pernikahannya dengan Ayla. Sehingga Dimas juga merasa kesal dan marah pada Ayla.
" Engga, kak. Ayla nggak marah kok" Kata Ayla di sertai gelengan kepala. " Ayla malah senang bisa membantu . Mengingat saat ini Ayla sudah menjadi istri kak Dimas " lanjut Ayla lagi.
" Baguslah jika kamu sudah paham akan tugasmu sendiri" kata Dimas dengan sedikit sinis.
" Iya, kak. Apa kak Dimas butuh sesuatu lagi ?"
__ADS_1
Dimas melirik Ayla dengan ekor matanya. Dia tidak langsung menjawabnya, dia malah sedang mencari sesuatu agar bisa menyuruh Ayla lagi.
" Bahuku terasa pegal. Kau bisa memimijit kan ?" Dimas memegang bahunya yang yang tersa pegal. Padahal itu hanya alasan saja untuk menyuruh Ayla.
Dimas merasa senang jika melihat Ayla sibuk mengabulkan perintahnya.
" Ayla akan mencobanya. Ayla tidak tahu apakah kak Dimas suka dengan pijatan ku " Ayla mendekati Dimas dan berdiri di belakangnya, lalu mulai memijit bahu Dimas.
Saat tangan itu mulai menyentuh tubuh Dimas, dia merasa sangat nyaman dengan pijatan itu. Dia memejamkan matanya.
" Kalau kita jadi istri itu harus serba bisa jika suami sudah meminta. Kamu mengerti ?" Dimas selalu menyinggung kata istri agar Ayla patuh dan sadar dengan statusnya saat ini. padahal dia sedang mengerjai Ayla.
" Ayla mengerti, kak " jawab Ayla dengan masih sibuk memijit bahu Dimas.
Kedua pasangan suami-istri yang baru saja menikah 2 jam yang terlihat sibut dengan pijatan, sehingga mereka tidak menyadari jika ada sang mommy yang membuka pintu kamar mereka.
Mom Awah ingin memanggil Ayla untuk sekedar berbincang saja, tapi saat melihat keduanya tampak mesra dengan Dimas menikmati pijatan Ayla, membuat mom Awah menguntungkan niatnya.
Dia malah tersenyum melihat keduanya dari pintu. Mom Awah berfikir, mereka sudah saling menerima satu sama lain. Padahal kenyataannya tidak seperti itu.
Syukurlah, mereka tampak akur. Semoga pernikahan mereka bertahan sampai maut memisahkan mereka dan bisa berdamai dengan kejadian yang menyatukan mereka secara mendadak seperti ini _batin mom Awah_
Dia menutup pintunya kembali dan membiarkan sepasang pengantin baru itu.
" Leherku juga pegal, Ayla" Dimas meminta Ayla untuk berpisah memijit lehernya.
Ayla mengangguk, padahal Dimas tidak melihat anggukannya. Ayla meminta tangannya untuk memijit leher Dimas. Mengusap leher itu dengan gerakan naik turun.
Sial..pijatannya malah membuat pusakaku bangun _batin Dimas_
Dimas merasakan bagian bawahnya memberontak ingin bangun dari posisinya saat merasakan sentuhan tangan Ayla yang lembut pada lehernya.
Ini tidak bisa di biarkan_ batin Dimas lagi_
" Ckk..pijatamu tidak enak" Dimas secara mendadak berduri dari duduknya, sehingga membuat Ayla kaget dan membuatnya mundur sedikit ke belakang.
Padahal itu hanya alasan Dimas saja, karena miliknya malah bangun dan dia akan malu saat Ayla melihatnya.
Lahh..kenapa baru bilang sekarang? perasaan kak Dimas sejak tadi menikmatinya ? kenapa sekarang malah bilang nggak enak ? aneh... _ batin Ayla dengan bingung_
.
.
NEXT..
__ADS_1