Sahabatku Berubah Menjadi ADIK IPARKU

Sahabatku Berubah Menjadi ADIK IPARKU
Bab 96. Insiden di kamar mandi


__ADS_3

Dimas juga ingin meminta maaf pada Ayla, namun saat ia berbalik, ia melihat adiknya memeluk Ayla. Ada perasaan tidak terima melihat adiknya memeluk Ayla. Dirinya saja sangat jarang bisa memeluk Ayla seperti itu.


Dimas melangkah mendekati mereka dan melepaskan secara paksa tangan Dista yang memeluk Ayla. Dimas sedikit mendorong Dista dan dirinyalah yang kini memeluk Ayla.


"KAKAK!!!"


Teriak Dista tidak terima. Dista menatap Dimas tajam dan penuh permusuhan.


" Apa?" tantang Dimas. Ia mengangkat kedua alisnya dan semakin mempererat pelukannya pada Ayla.


"Kenapa kakak dorong Dista?"


"Kamu tidak boleh peluk-peluk Ayla. Ayla itu lagi sakit, dia nggak boleh di peluk"


"Tapi kakak peluk Ayla tu.."


"Karena Ayla istri kakak. Iyakan Ayla?" tanya Dimas dengan menjauhkan wajahnya agar bisa melihat wajah Ayla.


Ayla mendengar itu mengangguk kaku. Ia sendiri sebenarnya bingung dengan sikap Dimas. Dia tiba-tiba memeluknya dan melarang Dista untuk memeluknya. Ayla hanya memilih diam di pelukan Dimas tanpa membalasnya maupun protes. Ia hanya melihat ke arah mom Awah yang juga terlihat hanya diam memperhatikan putra dan putrinya berdebat.


"Nggak bisa gitu dong" Dista tidak terima. "Ayla adalah kakak iparku dan dia adalah sahabat Dista juga. Dista yang lebih dulu bertemu dengan Ayla dari pada kakak"


"Memang, tapi Ayla tetap milik kakak. Kapanpun kakak membutuhkan Ayla, dia harus cepat menemui kakak"


"Tapi..."


"Pindah!!" ucapan Dista terhenti, karena mom Awah tiba-tiba datang ke dekat mereka dan menyuruh Dimas untuk bergeser.


Mom Awah melototkan matanya ke arah Dimas agar segera melepas pelukannya. Dimas jadi ciut dan langsung melepaskan pelukannya serta sedikit menjauh dari Ayla.


"Dista, turun!" perintah mom Awah dengan diikuti gerakan tangannya menunjuk ke bawah.


Dista menurut dan berdiri di sebelah sang kakak. Mereka berdua diam memperhatikan apa yang akan di lakukan oleh mommy mereka.


"Apa onty Caca sudah datang memeriksa keadaanmu tadi?" tanya mom Awah pada Ayla.


"Sudah mom. Onty bilang, kalau keadaan Ayla baik-baik saja sampai besok, Ayla sudah bisa pulang"


"Baguslah" Ayla mengangguk sebagai respon ucapan mom Awah.


"Kamu sudah membersihkan diri?" tanya mom Awah lagi.


"Belum, mom. Ayla lambat bangun dan baru selesai sarapan"


"Mau mommy bantu?" mom Awah menawarkan dirinya.


Ayla menunduk. Ia sebenarnya sudah merasa gerah, tapi ia malu jika mommy melihat tubuhnya.


"Kamu masih malu sama mommy? kamu nggak perlu malu. Mah yah?"


Ayla sedikit berfikir, kemudian mengangguk setuju. Lagi pula mom Awah adalah seorang wanita, jadi buat apa ia harus malu dan siapa lagi yang akan membantunya membersihkan diri. Mana mungkin ia meminta bantuan pada Dimas, yang ada ia akan semakin malu.


Mom Awah tersenyum saat Ayla setuju.


"Ayo, mommy akan membantu" mom Awah mengajak Ayla turun dari brangkar. Namun di hentikan oleh Dimas.


"Tidak perlu turun" ucap Dimas.

__ADS_1


"Loh kenapa ? Ayla mau membersihkan diri" ucap mom Awah.


"Dimas yang akan membawanya ke kamar mandi. Mommy pegang tiang infus Ayla aja"


" Baiklah" tanpa pikir panjang mom Awah setuju.


Ia tidak mungkin menghalangi putranya untuk membantu. Itu adalah hal baik untuk pernikahan mereka kedepannya. Mom Awah tersenyum sangat kecil melihat Dimas sudah mulai membuktikan jika dia benar-benar bertanggung jawab.


"Ehh.. tidak perlu. Aku bisa jalan sendiri ke kamat mandi" Ayla menolak. Ia tidak ingin Dimas menggendongnya lagi. Ia akan sangat gugup setiap Dimas menggendongnya.


"Jangan bandel" Dimas tidak menggubris penolakan Ayla.


Dimas langsung menggendong Ayla ala bridal style. Ayla yang belum siap tentu kaget dan memeluk leher Dimas dengan erat, sehingga wajah mereka sangat dekat. Hanya menyusahkan 5 cm saja.


Sejenak mata mereka bersitatap dengan pikiran mereka masing-masing. Sampai akhirnya mereka tersadar ketika mendengar suara sang mommy.


"Ayok" ucap mom Awah dengan mendorong tiang infus agar lebih dekat dengan sepasang suami istri tersebut.


"Iya mom" Dimas mengangguk dan berjalan membawa Ayla ke kamar mandi.


Di gendongan Dimas, Ayla memperhatikan wajah Dimas dengan intens. Entah keberapa kalinya ia bisa melihat wajah Dimas: sedekat ini. Dan ini pertama kalinya ia merasakan hal aneh dengan hatinya. Jantung berdebar-debar tak karuan.


Ayla buru-buru mengalihkan perhatian dari wajah Dimas dan fokus melihat ke depan.


****Kamar mandi****


Dimas mendudukkan Ayla di atas kloset, setelah itu Dimas keluar dan duduk di sebelah adiknya.


Tak berselang lama suara dering handphone berbunyi dan itu berasal dari tas mom Awah. Dista mencari handphone sang mommy dan saat ia sudah menemukannya, ada nama sang daddy yang tertera di layar handphone.


"Siapa?" tanya Dimas.


"..........."


"Mommy di kamar mandi, lagi bantuin Ayla. Emang kenapa dad?"


"..........."


"Ohh.. tunggu, Dista panggil mommy dulu"


"........"


"Mommy...daddy nelpon" teriak Dista di depan pintu kamar mandi.


Tak berselang lama mom Awah keluar. Ia melihat putrinya berdiri di depan pintu dan memberikannya handphone.


Mom Awah menerima handphone tersebut dan metakkan di telinganya.


"Kenapa dad?" ucap mom Awah


"..........."


"Iya. Tunggu sebentar" mom Awah berbalik dan menatap putranya.


"Dimas, mommy mau ke kantor daddy. Kamu bantuin Ayla di dalam. Dia sudah selesai, hanya tinggal pakai baju saja"


Dimas kaget dengan permintaan mommy. Ia sampai bengong sendiri. Bagaimana tidak, mommy memintanya membantu Ayla berpakaian. Padahal ia tidak pernah membantu hal seperti itu sebelumnya.

__ADS_1


Pikiran Dimas menjadi kotor dan terbayang-bayang tentang Ayla yang akan ia bantu.


Plakkkk...


Dimas menampar pipinya sendiri untuk menghilangkan pikiran kotor di otaknya.


Ckkk...apa yang gua pikirin_batin Dimas_


"Kamu kenapa tampar pipimu sendiri? apa ada nyamuk?" tanya mom Awah yang sejak tadi memperhatikan Dimas.


"Iya, mom. Ada nyamuk" ngeles Dimas.


"Baiklah, mommy pergi dulu. Daddy udah nunggu mommy. Besok mommy akan kesini lagi jemput kalian"


"Iya mom" Dimas menganguk.


"Mommy..tungguin Dista" ucap Dista sambil mengambil tasnya dan memasukkan handphonenya.


Tinggallah Dimas di ruang rawat Ayla. Dimas kamudian melangkah ke kamar mandi, tapi dia tidak langsung masuk. Dimas hanya tinggal berdiri di depan pintu. Dia ragu untuk masuk.


"Apa yang akan Ayla katakan nanti" gumam Dimas.


Beberapa menit Dimas berdiri di depan pintu, akhirnya Dimas memberanikan dirinya untuk membuka pintu kamar mandi.


Saat Dimas sudah membuka pintu dan masuk ke dalam, tiba-tiba Ayla berteriak.


Arkhhhh....


Ayla berteriak kerasa. Bagaimana tidak ia belum memakai maju dan Beru selesai menggunakan celana da***m. Ayla bahkan tidak memakainya penutup apapun di badannya, sehingga dua gunung kembar miliknya terpampang nyata.


Melihat Dimas tiba-tiba masuk membuat Ayla buru-buru menyimpangkan kedua tangannya di dada dan meyilangkan kedua kakinya.


" KAK DIMAS" pekik Ayla.


Dimas tentu saja kaget. Ia sampai membeku di tempatnya. Ini pertama kalinya ia melihat Ayla tidak memakai pakaian, karena dulu ia dalan keadaan tidak sadar. Jadi ia tidak tahu seperti apa tubuh Ayla.


Tapi kali ini berbeda. Ia sempat melihat bende kenyal yang sangat menggoda imannya. Dimas tersadar setelah mendengar Ayla berteriak. Dimas buru-buru membalik badannya menghadap pintu.


"Maaf-maaf. Aku nggak bermaksud. Mommy tadi menyuruhku untuk membantumu, karena mommy sedang pergi ke kantor daddy" Dimas menjelaskan.


"Seharusnya kak Dimas beritahu aku lebih dulu sebelum masuk"


"Bagaimana caranya? " Dimas mendadak ngeblank.


"Kak Dimas kan bisa berteriak dari luar" ucap Ayla kesal.


Oh iya yah, kenapa gua nggak bertanya lebih dulu padanya_batin Dimas_


"Kak Dimas keluar sana. Jangan berbalik yah...awas loh" ancam Ayla.


"Iya-iya, aku keluar" Dimas membuka pintu kamar mandi dan keluar tanpa berbalik badan.


"Sial... punya gua bangun lagi" ucap Dimas seraya menunduk melihat celananya yang menonton.


.


.

__ADS_1


NEXT


__ADS_2