
Roni, Dista dan Ayla kini makan bersama di dalam kelas. Menikmati makanan yang di buat oleh sang mommy. Ayla sampai memejamkan matanya, karena saking enaknya di lidah. Ayla tidak merasa mual memakan nasi gorengnya, apalagi saladnya.
Berbeda dengan Roni yang sibuk memperhatikan Ayla dengan intens, tapi Ayla tidak menyadarinya. Ada sebuah pertanyaan yang mengganjal di pikirannya. Ia ingin sekali bertanya, tapi takut Ayla maupun Dista tidak akan nyaman dengan pertanyaannya.
" Gua liat kalian datang ke sekolah bareng-bareng dan gua juga udah nggak pernah liat sepeda kamu, Ayla"
Ayla menghentikan makannya sejenak dan melihat ke arah Roni.
" Aku memang sudah tidak pakai sepeda ke sekolah" jawab Ayla dan kembali melanjutkan makan nya.
" Kenapa ?" tanya Roni penasaran.
Ayla bingung menjawabnya, ia hanya diam dan menatap Roni.
" Itu karena Ayla sudah tidak di perbolehkan naik sepeda lagi, karena orang tuanya takut Ayla kenapa-kenapa. Apalagi Ayla masih dalam masa penyembuhan" Dista yang melihat kebingungan Ayla untuk menjawab pertanyaan Roni, memilih angkat bicara dan menjawabnya.
Ayla yang mendengar Dista menjawabnya, menoleh ke arah Dista dan tersenyum sebagai tanda ia berterima kasih, sedangkan Roni hanya mengangguk tanda mengerti. Dia tidak lagi bertanya, walaupun di kepalanya dia masih ingin bertanya.
Setelah beberapa menit waktu istirahat, kini bell kembali berbunyi tanda waktu pelajaran akan kembali di mulai. Semua siswa yang ada di kantin maupun di halaman sekolah kembali ke kelas mereka masing-masing.
Pelajaran yang menghabiskan waktu beberapa jam, hingga akhirnya waktu pulang sekolah. Setelah guru mengucapkan terimakasih kepada murid-muridnya, para siswa pun keluar termasuk Ayla dan Dista.
" Ayo pulang " Dista memegang tangan Ayla meninggalkan kelas.
Hingga mereka berjalan melewati halaman sekolah dan berpapasan dengan tiga sekawan yang suka mencari gara-gara.
" Heii anak miskin !!" Tasya berteriak sangat kerasa memanggil Ayla dan Dista.
Tasya memang menganggap Ayla dan Dista adalah anak miskin, karena Ayla menggunakan sepeda ke sekolah. Tidak seperti dirinya yang menggunakan mobil dan di antar oleh supir.
Teriakan Tasya membuat para siswa yang lain menoleh. Mereka juga tahu, siapa yang Tasya panggil dengan anak miskin. Mereka selalu mendengar julukan itu dari 3 sekawan.
Berbeda dengan Ayla dan Dista yang tidak menggubris panggilan Tasya. Mereka tetap berjalan tanpa menghentikan langkah mereka maupun menoleh. Tasya yang kesal panggilannya di abaikan, berjalan cepat menghampiri mereka dan berdiri tepat di hadapan Ayla serta Dista.
" Kalian ternyata tuli yah?" ejek Tasya dengan senyuman mengejek.
" Ckk..minggir" Dista mendorong tubuh Tasya ke samping agar menghindari dari hadapannya. Ia malas meladeni 3 sekawan itu, terutama Tasya si ketua geng.
__ADS_1
" Eeee..anak muskin!! sepeda lu mana ? kenapa udah nggak ada di parkiran? apa sepeda jelekmu sudah di larang masuk ke sekolah ini, karena bisa mengotori sekolah? hahahh" berbagai pertanyaan Tasya losntarkan kepada Ayla dan tertawa mengejek.
Tasya berniat usil membuat ban sepeda Ayla kempes, tapi ia tidak melihat sepeda Ayla di parkiran seperti biasanya Ayla parkir.
Dista yang mendengar itu ingin memberi pelajaran pada mereka, tapi Ayla lagi-lagi menahan tangannya seraya menggeleng.
" Jangan meladeni mereka. Ayo pulang saja" Ayla menarik tangan Dista.
Tasya yang kesal di abaikan menghentakkan kakinya. Sekali lagi dia berteriak mengejek mereka.
" Dasar..udah miskin, tuli lagi" Tasya berteriak sangat keras, karena saking kesalnya.
Sampai ada guru yang mendengar Tasya berteriak seperti itu dan menghampirinya.
" Tasya.." panggil guru itu. Ia tidak suka melihat seorang murid membully murid lainnya.
Tasya yang tahu siapa memanggilnya sedikit kaget. Dia membalik tubuhnya dengan takut. Dia takut guru itu akan memberitahu ayahnya.
Sedangkan Dista yang melihat itu tertawa senang.
" Rasakan, makanya jangan suka ganggu orang " ucap Dista, tapi perkataannya hanya di dengar oleh Ayla.
" Pak Jang.." panggil Ayla setelah mobil sudah melaju.
" Kenapa nyonya?" tanya pak Jang dan melihat Ayla melalui kaca depan.
" Haiss..jangan memanggilku nyonya pak Jang. Ayla nggak suka" Ayla sangat tidak suka dengan panggilan itu. Ia merasa risih dan sangat tidak cocok untuk dirinya.
" Tapi nyo..."
" Ikuti saja perkataan Ayla, pak Jang" Dista menyela perkataan Pak Jang yang ingin protes.
" Baiklah nona. Anda kenapa nona Ayla?" pak Jang akhirnya menurut saja. Dan kembali mengulang pertanyaan-nya.
" Bisakah kita singgang di pemakaman terlebih dahulu baru kita pulang? Ayla sudah lama tidak mengunjungi pemakaman orang tua dan nenek Ayla"
Ayla sangat rindu dengan keluarganya. Biasanya saat nenek Moya masih ada, Ayla selalu pergi ke pemakaman dengan sang nenek untuk mengunjungi makam orang tuanya. Apalagi saat ia rindu dan menumpahkan semua bebannya di atas pusaran sang Mama.
__ADS_1
" Tentu bisa nona " jawab pak Jang.
Dista yang tahu tujuan Ayla ke pemakaman ikut merasa sedih. Ia tahu Ayla pasti sangat merindukan keluarganya. Dista meraih tangan Ayla yang berada di atas pahanya dan menggenggamnya. Ayla menoleh saat merasakan genggaman di tangannya.
Dista melemparkan senyuman kepada Ayla, dan Ayla pun merebahkan kepalanya di pundak Dista.
" Aku merindukan mereka. Tidak salah bukan?" ucap Ayla pelan.
" Mana mungkin itu salah. Siapa yang akan melarangmu untuk merindukan keluargamu sendiri. Kamu bebas melakukannya, Ay"
Ayla menjadi bungkam, ia tetap betah menyandarkan kepalanya di pundak Dista sampai mobil berhenti di depan pemakaman.
" Perlu aku temani?" tanya Dista saat mereka sudah turun dari mobil.
" Tidak perlu. Aku ingin sendiri "
" Baiklah " Dista membiarkan Ayla pergi sendiri agar Ayla punya ruang menghabiskan waktunya dengan keluarganya. Kalau ia ada di sana, Ayla pasti akan canggung.
Sambil menunggu Ayla, Dista dan pak Jang duduk di salah satu warung yang ada di dekat pemakaman itu. Mereka akan menunggu Ayla di sana.
Sedangkan Ayla, ia berjalan dengan langkah pelan ke arah pemakaman keluarganya. Namun, saat ia sudah hampir dekat, ia melihat seorang pria tengah berdiri di pemakaman nenek Moya.
Ayla mengerutkan keningnya. " Siapa itu ?" gumam Ayla.
Setahunya, Ayla tidak memiliki keluarga lain, tapi kenapa ada seseorang yang tengah berjongkok di sana. Dengan pelan Ayla mendekat pria itu.
" Maaf, paman siapa ?" tanya Ayla saat ia sudah berada tepat di belakang pria itu.
Pria itu menoleh, hingga membuat Ayla kaget. " Dokter Winston" ucap Ayla saat pria itu menoleh.
" Ayla, kamu ada di sini ?" ucap dokter Winston seraya berdiri.
Ternyata pria yang Ayla lihat adalah dokter Winston. Dokter yang menangani Ayla saat dia mengalami trauma.
" Iya. Ayla ingin mengunjungi keluarga Ayla "
.
__ADS_1
.
NEXT