
"Jangan panggil tante dong. Panggil mommy, seperti Dista memanggilku" ucap mom Awah.
"Ehh..jangan, tante. Ayla jadi tidak enak"
"Tidak apa-apa. Kamu sahabatnya Dista, kan?" tanya mom Awah. Ayla menggangguk.
"Jadi kamu harus memanggilku seperti itu"
"Tapi...."
"Tidak apa, coba lah!" ucap Dista
"Maaf. Apa kamu tidak keberatan?" tanya Ayla pada Dista. Ia ragu untuk mencobanya, apalagi ini baru kedua kalinya ia bertemu dengan mom Awah.
"Buat apa aku merasa keberatan? malahan aku merasa senang, dengan begitu aku punya tambahan saudara lagi" jawab Dista tersenyum. Ia menggenggam tangan Ayla dan menatapnya penuh haru.
"Benarkah? aku juga senang mempunyai sahabat sepertimu " ucap Ayla.
"Sekarang tidak lagi. Kita akan menjadi saudara, benarkan mom, dad?" Dista memberikan pendapat itu pada mommy dan daddy nya.
"Tentu sayang" jawab mom Awah. Ia juga menatap suaminya yang juga menatapnya. Daddy Hasbu merengkuh pundak istrinya.
" Kalian kemarilah!" pinta mom Awah. Ia merentangkan sebelah tangannya dan daddy Hasbu juga melakukan hal yang sama, agar kedua gadis perempuan itu masuk kepelukan mereka.
Ayla dan Dista saling pandang. Ayla bingung dengan hal yang dilakukan kedua orang tua Dista. Dista beringsut masuk kedalam pelukan kedua orang tuanya dan Dista yang melihat Ayla kebingungan mengangukan kepalanya padanya.
Dengan penuh ragu, Ayla dengan pelan melangkah ke arah ketiganya. Saat sudah dekat dengan mereka, Dista tanpa ragu langsung menarik Ayla dan masuk kedalam pelukan mereka.
Mereka berpelukan dengan erat. Ayla merasa terharu, mendapatkan perlakuan seperti itu dari keluarga sahabatnya.
"Mulai sekarang, jangan panggil om dan tante lagi. Panggil mommy dan daddy, yah?" ucap mom Awah. Pelukan mereka sudah terlepas dan ia menatap Ayla yang juga menatapnya.
"Iyah, mo..mommy" jawab Ayla canggung. Mom Awah tersenyum mendengar itu. Ia menarik lengan Ayla dan memeluknya kembali.
Ayla tersentak kaget, dengan pelan Ayla membalas pelukan itu. Ayla semakin mempererat pelukannya, ia merasakan kehangatan saat mom Awah memeluknya.
"Mulai sekarang kamu anak mommy juga. Jangan sungkan untuk selalu datang ke rumah ini. Pintu rumah ini akan selalu terbuka untukmu" ucap mom Awah sambil mengusap-usap punggung Ayla.
Ayla yang mendengar perkataan mom Awah membuat hatinya tersentuh. Tanpa ia sadari air matanya menetes dan mengenai pakaian mom Awah.
"Terimakasih, mom" ucap Ayla lirih. Ayla semakin membenamkan wajahnya di bahu mom Awah.
Mom Awah yang mengetahui Ayla menangis hanya membiarkannya saja sampai Ayla merasa tenang.
"Sudah! jangan merasa sedih seperti ini" ucap mom Awah. Ia mengusap air mata Ayla yang masih membekas di pipinya.
"Mommy benar, jangan sedih terus dong" ucap Dista dari sebelah Ayla. Ia berada di pangkuan sang daddy dan menyaksikan pelukan keduanya.
"Menginaplah di sini, yah?" tanya mom Awah. Mereka sudah kembali ke tempat duduk mereka masing-masing.
"Aku nggak bisa, mom. Kasian nenek di rumah sedirian" jawab Ayla.
__ADS_1
"Astaga jam berapa sekarang?" tanya Ayla. Dia baru ingat kalau hari ini ia berencana untuk pergi kerja.
"Sudah jam tiga sore" jawab mom Awah yang beru saja melihat jam dinding di depannya dan kebetulan posisi Ayla memang membelakanginya.
"Ohh.. sudah terlambat" batin Ayla.
"Kalau begitu, aku harus pulang. Ini sudah sore, takut nenek cariin" ucap Ayla lagi.
"Yasudah, pulang lah, nak" ucap mom Awah.
Mereka melangkah ke luar manssion bersama-sama untuk mengantar Ayla sampai depan pintu.
"Sepedaku mana, Dis?" tanya Ayla saat ia tidak melihat sepedanya di sana.
"Iya yah, kok nggak ada di sini. Kan tadi disini" ucap Dista. Ia melangkah ke depan tempat di mana sepeda itu terparkir saat mereka baru sampai di manssion.
"Dad, apa kamu yang menyimpan sepedanya?" tanya mom Awah. Daddy Hasbu menganguk seraya tersenyum.
"Pak Jang!" teriak daddy Hasbu.
"Iyah tuan" jawab pak Jang.
"Bawa sepeda Ayla ke sini!" perintah daddy Hasbu. Pak Jang membungkuk dan segera berlari ke garasi untuk mengambil sepeda Ayla.
"Daddy menyimpannya di mana?" tanya Dista.
"Di garasi" jawab daddy Hasbu singkat.
"Ini sepedanya, nona Ayla" ucap pak Jang. Ia membawa sepeda itu ke hadapan Ayla.
"Aku pulang dulu yah, dis" ucap Ayla.
"Hmmm..." Dista memeluk Ayla.
"Aku juga pamit pulang dulu, mom, dad" ucap Ayla. Ayla menyakini keduanya.
"Hati-hati di jalan" ucap mom Awah dan Dista bersamaan. Saat Ayla sudah menaiki sepedanya.
" Iyah" jawab Ayla. Ia melambaikan tangannya.
Ayla mulai mengayuh sepedanya keluar dari kawasan manssion. Pintu gerbang sudah terbuka sejak tadi, saat mereka sudah mengetahui, kalau Ayla akan keluar.
"Pak Jang, ikuti Ayla dari belakang!" perintah daddy Hasbu.
"Baik tuan" jawab pak Jang.
Pak Jang pergi mengendarai sepeda motor dan mengikuti Ayla dari belakang. Ia menjaga jarak agar tidak ketahuan oleh Ayla.
"Kenapa daddy menyuruh pak Jang mengikuti Ayla?" tanya Dista. Ia mendekat kearah sang daddy dan menggenggam tanganya.
"Untuk berjaga-jaga saja. Kita tidak tahu apa yang terjadi nanti di perjalanan, apalagi Ayla baru pertama kali ke sini" jawab daddy Hasbu.
__ADS_1
Mereka kembali masuk kedalam manssion setelah Ayla menghilang di balik tembok pagar.
"Makasih daddy sudah menjaga sahabat Dista" ucap Dista. Ia menyenderkan kepalanya pada bahu sang daddy sambil berjalan.
"Apapun untuk putri kesayangan daddy" jawab Daddy Hasbu sambil mengusap-usap kepala Dista.
Mom Awah yang ada di belakang mereka hanya tersenyum. Ia bahagia melihat interaksi keduanya. iya juga merasa senang karena akhirnya sang Putri memiliki seorang teman setelah sekian lama dia tidak pernah memilikinya.
...----------------...
Ayla yang tengah mengayuh sepedanya pulang menuju rumahnya, namun di tengah perjalanan sebelum pendakian, dia dihadang oleh sekelompok preman di sana.
"Woh woh woh, guys ada gadis cantik nih" ucap salah satu preman yang memiliki tato di tangannya.
Ayla berusaha menghindar dari mereka dengan mengayuh sepedanya kembali, namun salah satu dari preman itu menahan sepeda Ayla dari belakang.
"Jangan pergi dulu dong cantik" ucap preman bertindak di hidung.
"Apaan sih lepasin sepedaku!" ucap Ayla kesal. Ia menggoyang-goyangkan sepedanya agar preman bertindik itu melepasnya.
"Baru pulang sekolah, ya" tanya preman itu sok ramah.
"Bukan urusan anda" Jawab Ayla.
"Jutek amat, nona" goda preman bertato. Dia mencolek dagu Ayla.
"Apaan sih. Anda jangan macam-macam, ya" Ayla memperingati dan menunjukkannya dengan mata melotot.
"Woooo... serem guys, hahahha..." Mereka pura-pura takut dan tertawa.
"Turun dulu nona cantik! kita duduk-duduk dulu di sana" ucap preman bertindik. mereka menarik paksa Ayla untuk turun dari sepeda dan menyeretnya ke tempat mereka duduk.
"Lepaskan" Ayla memberontak meminta untuk di lepaskan.
.
.
.
.
.
.
.
NEXT....
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK KALIAN SETELAH MEMBACA.
__ADS_1
AYO DUKUNG KARYA AUTHOR DAN BERI APRESIASI JIKA KALIAN SUKA DENGAN CERITANYA. AGAR OUTER LEBIH SEMANGAT UP-NYA.
LIKE, COMMENT, AND VOTE.....