Sahabatku Berubah Menjadi ADIK IPARKU

Sahabatku Berubah Menjadi ADIK IPARKU
Bab 64. Suka membantah


__ADS_3

Mendengar kabarnya dirinya hamil membuat Ayla sangat kepikiran. Dia menganggap dirinya tidak sanggup untuk menjalani kehamilan untuk pertama kali baginya. Di usia yang masih sangat muda, dia harus menjalani sebuah pernikahan yang bisa di bilang terpaksa untuk di lakukan.


Perasaan takut menghantui Ayla mengingat ada sebuah janin di dalam perutnya. Takut janin itu kenapa-napa dan juga takut kehilangan masa sekolah, karena kehamilannya.


Ayla hanya bisa pasrah menerima takdir yang sudah Tuhan berikan padanya. Walaupun dirinya tidak tahu apakah dia sanggup menjalaninya atau tidak.


Ayla yang sempat merasakan keram pada perutnya dan menumpahkan segala ketakutannya pada mom Awah, kini Ayla sudah tertidur kembali. Terlalu lama menangis membuatnya kelelahan hingga tertidur. Mom Awah juga selalu berada di samping Ayla agar dia tidak merasa kesepian dan mengingatkan padanya bahwa masih ada mereka yang akan selalu ada untuknya.


Ayla juga sudah di pindahkan ke ruang perawatan sehingga mereka bisa ikut istirahat. Di dalam ruangan Ayla ada sebuah tikar yang menghampar di bawah lantai, ada juga Dimas yang sedang duduk bersama sang onty di sofa yang hanya bisa duduk 2 orang saja.


Dista yang sedang berada di ruangan sang onty untuk istirahat juga, karena tidak ada tempat untuk istirahat di ruangan Ayla.


" Dimas " mom Awah menghampiri anaknya dan duduk di bawah lantai yang dilapisi sebuah tikar.


" Iya, mom " Dimas turun dari sofa dan duduk di depan sang mommy.


" Ayla sedang hamil muda saat ini, gejala-gejala kehamilan pertama sudah dia rasakan. Mommy minta, kamu harus selalu ada untuknya, jangan mengabaikannya. Ayla hanya butuh perhatian "


Mom Awah mengatakan seperti itu, karena ia tahu putranya pasti belum mengerti bagaimana memperlakukan ibu hamil yang mengalami morning sickness.


" Bagaimana kalau Ayla nggak suka ?"


" Ayla nggak mungkin nggak suka, dia pasti malah senang "


" Dan yang perlu kamu tahu, wanita hamil itu mood-moodnya berubah-ubah setiap saat. Dia kadang mudah marah, menangis atau ngambek. Kamu harus punya cara untuk bisa meredam amarahnya, menghentikan tangisannya hingga membuatnya senang kembali " aunty Caca menambahkan.


" Berubah-ubah setiap kapan saja, onty?" tanya Dimas. Ia bertanya seperti itu agar nanti ia bisa tahu waktunya dan itu akan memudahkannya.


" Nggak pasti. Bisa saja 1 menit dia marah, namun tiba-tiba beberapa detik kemudian dia nangis "


" Susah amat yah.. kayaknya Dimas nggak bisa deh. Mommy saja yang menemani Ayla tidur, mommy kan lebih tahu " Dimas merasa sangat sulit untuk meladeni Ayla nantinya. Jadi ia malah menyuruh mom Awah untuk tidur bersama Ayla selama dia hamil.


Plak...plakk..


Mom Awah dan aunty Caca bersamaan memukul paha Dimas yang sedang duduk sila.


" Aduhh..kanapa kalian memukulku ?" Dimas mengusap-usap kedua pahanya yang terkena pukulan.


" Kamu ini sebenarnya kenapa ? suami Ayla itu kamu" aunty Caca menunjuk telat di depan wajah Dimas. " Anak yang yang di kandung Ayla itu juga anak kamu, bisa-bisanya kamu suruh mommy-mu tidur bersama Ayla. Kamu ini bodoh atau bagaimana ?" Aunty Caca sangat kesal pada keponakannya yang selalu berfikir pendek.


Dimas benar-benar tidak menghawatirkan keadaan Ayla sama sekali.

__ADS_1


" Benar yang di katakan onty Caca. Mommy tidak mungkin tidur dengan Ayla, bagaimana dengan daddy nanti "


" Daddy kan bisa tidur sendiri. Dia pasti mengerti " Dimas benar-benar tidak paham sama sekali bagaimana perasaan wanita hamil jika tidak bersama suaminya sendiri.


" Yang ada daddy akan menghukummu, karena tidak bertanggung jawab " sahut aunty Caca dengan masih kekesalannya.


Dimas tersentak, benar juga, daddy pasti akan memarahiku habis-habisan _ batin Dimas_


" Dimas akan berusaha, tapi nggak janji yah ?" Dimas menampilkan deretan giginya.


Aunty Caca semakin kesal pada Dimas, dia ingin mencubitnya, tapi Dimas lebih dulu menghindar sebelum cubitan itu mendapatkannya. Dimas bersembunyi di belakang mom Awah.


" Sini kamu!" panggil aunty Caca dengan kesal.


"Nggak ah..nanti onty mencubitu, itu sakit onty "


" Siapa suruh kamu membuat onty kesal. Kamu harus menjaga Ayla "


" Iya onty, iya " Dimas memilih mengalah, ia Pasti tidak akan menang melawan aunty Caca yang sangat galak.


" Sudahlah..kalian jangan bertengkar terus " ucap mom Awah.


" Kamu pergi beli makanan di luar untuk kita makan nanti " mom Awah mengambil dompetnya dan memberikan 3 lembar uang merah.


" Makanan apa aja yang harus Dimas beli ?" tanya Dimas seraya menerima uang itu.


" Apa aja. Jangan lupa beli air dan buah untuk Ayla "


" Oke, mom " Dimas keluar dari ruangan Ayla dan pergi mencari makanan di luar.


Keesokan harinya


Hari sudah pagi menjelang siang. Mom Awah tinggal di rumah sakit menemani Ayla, sedangkan Dista dan Dimas tidak tinggal di rumah sakit, karena mom Awah melarang.


Kini mereka kembali berkumpul di ruangan Ayla. Ayla baru saja selesai makan dengan mom Awah yang menyuapi. Seperti pagi-pagi sebelumnya, Ayla lagi-lagi mengeluarkan isi perutnya pagi tadi, sehingga air liurnya terasa pahit dan tiba-tiba meminta bakpao.


Mom Awah menelpon Dimas untuk membelikannya, sehingga saat ini Dimas sudah ada di rumah sakit dengan membawa sekantong bakpao.


" Mom, aku ingin pulang " ucap Ayla. Ia merasa bosan di rumah sakit dan juga merasa mual setiap mencium bau rumah sakit.


" Kamu belum bisa pulang, sayang. Keadaanmu masih lemah "

__ADS_1


"Onty Caca bilang aku hanya perlu bed rest saja, itu kan bisa di rumah Mom. Ayla bosen di sini, Ayla juga merasa pengap di dalam sini, Ayla ingin hirup udara segar " Ayla sangat tidak betah berada di rumah sakit.


Mom Awah menoleh ke arah aunty Caca untuk meminta persetujuan.


" Baiklah, onty mengezinkanmu pulang, tapi kamu harus berjanji sama onty untuk tidak terlalu capek saat sudah berada di rumah dan selat ingat untuk meminum vitaminmu. Kamu berjanji ?" aunty Caca membuat perjanjian.


" Ayla janji, onty "


" Baiklah, tunggu sebentar!! " aunty Caca keluar dari ruangan untuk mengambil sesuatu.


Tak berselang lama aunty Caca sudah kembali dengan mendorong kursi roda. Di atas kursi roda ada sebuah kantong plastik yang berisi cairan infus dan vitamin.


" Kenapa ada cairan infus lagi, onty ?" tanya Dista.


" Ayla masih membutuhkannya. Dia kekurangan cairan, karena selalu muntah-muntah dan sulit untuk minum air putih "


" Kamu duduk di korsi roda ini " aunty Caca menepuk-nepuk kursi roda itu.


" Aku bisa jalan kok, onty. Aku tidak perlu naik kursi roda " Ayla menolak untuk naik.


" Kamu harus naik Ayla, nanti kamu kelelehan"


" Tapi, onty...." Ayla ingin protes lagi, tapi langsung berhenti karena Dimas ikut menimpali.


" Kamu ingin jangan bandel. Onty sudah bilang, kamu harus naik kursi roda. Kamu suka sekali membantah. Andai saja kamu mengikuti perkataan mommy untuk tidak ikut ke mall kemarin, kamu tidak akan masuk rumah sakit " Dimas marah-marah pada Ayla. Ia kesal, karena Ayla selalu menolak. Padahal itu juga untuk kebaikannya.


" Maaf " Ayla menunduk dan menyadari kesalahannya.


" Dimas..." mom Awah melarang Dimas agar jangan terlalu kerasa, tapi Dimas sudah memotongnya lebih dulu sebelum ia melanjutkannya.


" Sudahlah, mom. Ayla jangan terlalu di manja" Dimas menggendong Ayla dan memindahkannya ke atas kursi roda.


.


.


NEXT..


Ayla bandel banget nihh...


wajarkan kalau Dimas marah..

__ADS_1


__ADS_2