
Masih di malam yang sama
Akhhh
Dimas menyandarkan tubuhnya di sofa setelah menghabiskan semua makanan yang dia beli.
" Aku kenyang sekali" Dimas memegang perutnya, karena sudah terasa sangat penuh.
Sedangkan Ayla, dia masih setia memperhatikan Dimas sejak tadi. Dua masih di posisi yang sama yaitu duduk. Tak berselang lama, Ayla merasa ingin buang air kecil.
Ayla pun berusaha untuk turun dari brankar. Saat Ayla sudah berhasil turun, Ayla mendorong tiang infusnya sendiri dan melangkah. Namun, saat Ayla melangkah, ia merasa aneh pada perutnya. Ada sedikit rasa nyeri yang ia rasakan.
Shhhh
Ayla bersedia dan memegang perutnya. Badannya sedikit membungkuk akibat perutnya yang terasa nyeri. Dimas yang tadinya menutup matanya karena merasa mengantuk setelah makan, kini membuka matanya saat mendengar desisan Ayla.
Dimas buru-buru menghampiri Ayla dan berniat membantunya, namun Ayla menepis tangannya saat Dimas ingin memegang tangan Ayla.
" Aku bisa sendiri" Ayla melirik Dimas sekilas.
" Kamu kenapa turun dari brankar? kamu memang mau ke mana?" Dimas berdiri disisi Ayla.
" Kamar mandi" jawab Ayla datar dan kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.
" Biar aku bantu " Dimas tetap kekeh ingin membantu Ayla dan ingin beralih mengambil tiang infusnya.
" Aku bilang, aku bisa sendiri" lagi-lagi Ayla menepis tangan Dimas dan menatapnya dengan kesal.
" Kamu akan kesusahan. Perutmu saja masih terasa sakit, kan?" Dimas melihat ke arah tangan Ayla yang memegang perutnya.
" Aku tidak butuh bantuan. Aku sudah terbiasa sendiri"
" Ckk...kamu ini bandel banget si" Dimas ikut kesal melihat Ayla sulit di atur. Padahal ia melihat Ayla kesusahan berjalan.
Ayla tidak menggubrisnya. Dia tetap melanjutkan langkahnya ke kamar mandi. Namun, tiba-tiba Ayla merasa tubuhnya melayang.
Akhhh...
Ayla berteriak, karena kaget saat Dimas tiba-tiba menggendongnya ala bridal style.
" Kak Dimas apa-apaan si. Turunin gak!" Ayla melototkankan matanya agar Dimas mau menurunkannya
" Ckk.. diam saja. Udah tahu susah, malah bandel"
"Haiiss..terserah. Sekarang siapa yang mau dorong tiang infusnya" Ayla melirik ke arah tiang infus yang ada di sebelahnya.
__ADS_1
" Kamulah. Kamu nggak liat tanganku full, karena menggendongmu?"
" Nggak" sahut Ayla kesal. Ia pun memegang tiang infusnya dengan Dimas membawanya ke dalam kamar mandi.
Sesampai di dalam, Dimas mendudukkan Ayla di atas closed dan sedikit menjauh.
" Kak Dimas ngapain tinggal berdiri di situ? aku mau buang air kecil" Ayla menatap Dimas yang berdiri sedikit jauh di depannya.
" Tunggu kamu selesai" jawab Dimas enteng
" Ihh..dasar mesum"
" Mana ada. Tidak ada suami mesum sama istrinya sendiri"
" Kak Dimas keluarlah" Ayla menunjuk ke arah pintu. " Aku udah kebelet ini" Ayla meremas pakaiannya, karena sudah tidak tahan.
" Yaudah" Dimas berjalan keluar, tapi kembali menoleh. " Panggil aku jika kamu sudah selesai"
" Iya-iya, cepat keluar sana. Jangan lupa tutup pintunya" usir Ayla lagi.
Dimas pun menutup pintu dan berdiri di dekat pintu agar ia bisa mendengar suara Ayla saat memanggilnya. Dimas melihat jam di pergelangan tangannya yang kini sudah menunjuk angka 9. Itu tandanya hari semakin larut malam. Dan biasanya di mansion mereka sudah tidur di jam seperti ini.
Sesekali Dimas menguap, karena sudah merasa mengantuk. Apalagi ia tidak sempat istirahat saat baru pulang dari negara S.
Tak berselang lama pintu kamar mandi di buka. Terlihat Ayla berdiri dengan memegang infusnya.
" Eitss..kak Dimas mau ngapain?"
" Membawamu kembali ke brangkar"
" Kak Dimas tidak perlu menggendong ku"
" Baiklah, tapi kamu harus mau aku bantu?"
" Terserah" jawab Ayla ketus.
Dimas pun menegang bahu Ayla dan satu tangannya lagi memegang tiang infus. Dengan langkah pelan mereka berjalan ke arah brankar.
Sesampainya di dekat brangkar Dimas mengangat Ayla dan mendudukkannya di pinggir brangkar. Dimas pun memperbaiki posisi bantal Ayla dan membantu Ayla merebahkan tubuhnya. Saat Ayla sudah berbaring Dimas pun ikut naik juga.
" Eh eh eh..kak Dimas mau ngapain?" tanya Ayla panik saat melihat Dimas ikut naik.
" Aku ingin tidur. Aku sangat capek dan mengantuk" jawab Dimas seraya merbahkan tubuhnya di sebelah Ayla.
" Tapi kenapa harus naik di sini? ini sempit"
__ADS_1
" Terus aku harus tidur di mana? kamu tidak lihat Sofanya sangat kecil, mana muat aku tidak di situ" jawab Dimas. Ia memiringkan tubuhnya menghadap ke arah Ayla.
Ayla pun terdiam dan membenarkan ucapan Dimas di dalam hatinya, tapi ia merasa risih sangat dekat seperti ini. Walaupun di mansion ia tidur seranjang dengan Dimas, tapi di sana kasurnya sangat besar.
" Lagi pula brangkar nya cukup besar" tambah Dimas.
Brankar itu memang cukup besar dari brangkar pada umumnya. Dan itu muat untuk dua orang, mengingat tubuh Ayla yang kecil. Jadi itu tidak akan membuat sesak.
Ayla pun memilih diam dan membiarkannya ketika melihat Dimas sudah memejamkan matanya. Ayla memperhatikan wajah Dimas dengan intens, keningnya berkerut dengan mata yang menyipit untuk memastikan apa yang ia lihat.
Kenapa pipi dan sudut bibirnya lebam? tanya Ayla dalam hati ketika melihat wajah Dimas yang lebam.
Ayla baru menyadari jika wajah Dimas lebam. Ia tidak memperhatikanya tadi, padahal saat Dimas menggendongnya ia tidak melihat lebam itu sama sekali.
Apa yang terjadi? dia juga terlihat sangat lelah_ batin Ayla lagi_
Entah dorongan dari mana dan Ayla tidak menyadari, tangannya terulur ke arah wajah Dimas. Ia mengusap pipi Dimas dengan jari telunjuknya. " Ini pasti sakit" gumam Ayla.
Saat Ayla terlalu fokus menatap wajah Dimas, Ayla tiba-tiba merasakan seseorang memeluk perutnya.
Ehhh...
Ayla tersentak kaget. Ia menoleh ke arah Dimas yang memeluknya. " Kak Dimas apa-apaan si" Ayla menurunkan tangan Dimas dari atas perutnya.
Namun, Dimas kembali memeluk Ayla bahkan mendekatkan tubuhnya, sehingga mereka saling menempel.
" Kak Dimas" panggil Ayla kesal dan kembali menurunkan tangan Dimas.
" Biar begini dulu, aku lelah sekali" Dimas semakin mempererat pelukannya dan menempelkan wajahnya di lengan Ayla. Mengingat posisi Ayla yang terlentang dengan tangan kanannya menempel wajah Dimas. Tangan kirinya berada di atas perutnya berdekatan dengan tangan Dimas yang ada di atas perut Ayla.
Ayla yang mendengar itu akhirnya kembali diam. Ayla juga bisa melihat wajah Dimas yang tampak kelelahan. Ayla yang juga merasa mengantuk memilih untuk memjamkan matanya menyusul Dimas yang sudah masuk ke alam mimpi.
Sepasang suami istri muda itu terlihat sudah tertidur dengan tenang. Mereka terlihat sangat romantis, tidur dengan saling berpelukan. Mungkin orang-orang yang tidak tahu bagaimana pernikahan keduanya, mereka akan menganggap kedua pasang itu saling mencintai dan harmonis.
**
Sedangkan di luar ruang rawat Ayla, terlihat aunty Caca mengintip di balik pintu dan tersenyum melihat ponakan-ponakanya tampak akur.
" Mereka sudah tidur, kak. Dimas benar-benar menjaga Ayla dengan baik. Bahkan mereka tidur di brangkar bersama dengan Dimas memeluk Ayla" ucap aunty Caca pelan dengan memegang handphone di tangannya dan menempelkannya di telinga.
Ternyata aunty Caca sedang menelpon dengan mom Awah. Mom Awah meminta aunty Caca untuk mengecek Ayla dan Dimas secara diam-diam untuk mengetahui apa yang sedang mereka berdua lakukan.
" Baguslah, kalau begitu" ucap mom Awah di sebrang telpon.
.
__ADS_1
.
NEXT