Sahabatku Berubah Menjadi ADIK IPARKU

Sahabatku Berubah Menjadi ADIK IPARKU
Bab 35. bisikan


__ADS_3

" Maaf yah, kamarku berantakan " Ayla merasa tidak enak, karena kamarnya berantakan.


Buku berserakan di atas kasur. Itu memang kebiasaannya saat mau berangkat sekolah. Ia mengacak-acak bukunya untuk mencari buku yang akan dia bawa pagi itu. Dan akan membereskannya setelah pulang sekolah.


" Tidak apa-apa. Santai saja " ucap Dista.


Dista menatap sekeliling kamar Ayla. Tidak ada yang istimewa di kamar ini dan tidak ada juga hal berharga di dalamnya. Matanya menelisik satu bingkai foto di atas meja. Ia melangkah dan mengambil bingkai itu.


" Ini siapa , Ay ?" tanya Dista sambil menunjukkan 3 orang dalam bingkai foto.


" Itu aku dan kedua orang tuaku "


" Benarkah? Kamu sangat lucu di foto ini, Ay " Dista berjalan ke arah Ayla dan duduk di sebelahnya seraya menunjukkan foto kecilnya.


" Semua orang pasti lucu saat mereka kecil. Termasuk kamu "


" Hehehe..iya sih " Dista cengegesan dan menampilkan deretan giginya.


Dista memperhatikan foto mama-nya Ayla dan juga memperhatikan Ayla.


" Kamu kenapa melihatku seperti itu ?" tanya Ayla.


Dista memangku tangannya menelisik wajah Ayla. " Kamu sangat mirip dengan mama-mu " ucap Dista.


" Orang-orang memang bilangnya seperti itu. Aku sangat mirip dengan mama. Hanya mataku yang mirip dengan papa ku " Ayla mengusap wajah kedua orangtuanya di foto itu.


Dista yang tahu kesedihan sahabtnya, mengusap punggungnya untuk menenangkannya. Ayla tersenyum ke arah Dista.


***


Berbeda dengan keadaan di luar kamar Ayla. Mereka tengah membicarakan bagaimana keadaan Ayla kedepannya.


" Setiap hari saya akan selalu datang untuk mengecek kondisi nona Ayla, tapi kalau masalah waktunya, saya tidak bisa memastikan. Bisa saja saya datang siang, pagi atau sore " ucap dokter Winston.


" Baik, dok " ucap nenek Moya.


" Kalau begitu, saya izin kembali ke rumah sakit " izin dokter Winston seraya berdiri dari duduknya.


" Kami akan mengantar anda, dok " usul mom Awah.


" Tidak perlu nyonya. Saya sudah menyuruh seseorang di rumah sakit untuk menjemput saya " tolak dokter Winston halus. Ia tidak ingin membuat mom Awah tersinggung.


" Ohh..baiklah "


" Mobil saya sudah datang. Saya permisi nyonya-nyonya, tuan " dokter Winston pamit kepada mereka, setelah mobil jemputan nya datang.


" Terimakasih, dok " ucap nenek Moya.

__ADS_1


Dokter Winston mengangguk sebagai jawabannya.


1 Minggu kemudian


Tak terasa satu Minggu telah berlalu. Sudah satu Minggu pula Ayla meninggalkan rumah sakit. Hampir memasuki dua Minggu, Ayla tidak pernah menginjakkan kakinya di SMA Jaya biru.


Selama satu Minggu ini, Ayla berusaha berdamai dan melepas bayang-bayang kejadian yang menimpanya. Dokter Winston yang setiap hari datang memantau keadaannya. Dokter Winston juga selalu mengajaknya ke taman dan bertemu orang-orang baru.


Mengajarkannya berinteraksi dengan masyarakat. Saat mereka ingin membeli sesuatu, dokter Winston selalu memintanya untuk berbicara pada penjual itu.


Hari-hari di laluinya tidaklah mudah. Saat pertama kali dokter Winston mengajaknya pergi, bayang-bayang itu tiba-tiba menghampirinya, tapi dokter Winston memberinya semangat dan mengajar ia bagaimana keluar dari bayang-bayang itu.


Ayla yang memiliki tekat untuk sembuh. Berusaha semaksimal mungkin untuk terus mencoba. Pernah pada suatu hari, ia dengan berani mencoba berjalan keluar dari rumahnya seorang diri. Kepala pusing tiba-tiba menghampirinya lagi, tapi Ayla mencoba bertahan dengan pikirannya. Ia meyakinkan dirinya sendiri, bahwa banyak orang baik di sekelilingnya dan banyak pula yang akan melindunginya.


Dengan langkah pasti, Ayla berjalan keluar dari gang rumahnya menuju jalan raya. Barbagai orang yang ia temui. Namun matanya melihat seorang ibu-ibu yang berjualan di pinggir jalan, tapi ada seorang pria remaja yang meminta uang pada ibu itu


" Nak, jangan ambil punya nak. Itu modal ibu buat jualan ibu besok " ibu itu memohon.


" Akhh...berikan Bu.. aku ingin beli sepatu seperti teman-teman ku " pria remaja itu merampas uang di tas milik ibu penjual itu.


" Tapi, ibu belum punya uang nak " ibu itu berusaha menahan uangnya Agara tidak di ambil.


Ayla yang memperhatikan itu sejak tadi, merasa kasihan. Ia ingin membantu, tapi ia takut pada pria itu. Tiba-tiba kepalanya pusing. Ayla berusaha untuk tidak menutup matanya, karena jika ia menutupnya bayangan itu akan muncul.


" Ya Tuhan, kepalaku sakit sekali. Mah, pah, bantu Ayla " ucap Ayla di sela rasa sakitnya.


Ayla menggeleng-gelengkan kepalanya untuk mengusir rasa sakitnya. Namun, ada suara yang sangat familiar membisik teringanya. Suara itu sangat mirip dengan suara kedua orang tuanya.


Lawan rasa takutmu dan dengarkan suara di sekitarmu. Kamu tidak pernah kembali ke tampat yang gelap itu. Kamu selalu di tempat terang ini.


Semangat sayang. Papah dan mamah selalu ada di sisimu. Kami selalu ada di dekatmu. Percayalah semuanya baik-baik saja.


Semangat putri mama dan papa.


Bisikan di telinganya sudah hilang. Ayla tersadar dan membuka matanya.


" Mamah, papah, kalian di mana ?" Ayla mencari orang tuanya.


Dia menoleh ke berbagai arah. Mencari kedua orang tuanya yang membisik di telinganya.


Hufft...


Ayla membuang nafas.


" Terimakasih mah, pah, sudah menyemangati Ayla.


" Akhh..jangan nak " suara teriakan ibu tadi.

__ADS_1


Ayla melihat ke arahnya dan berlari menghampirinya.


" Heii..hentikan " teriak Ayla pada pria remaja itu.


" Siapa lu. Jangan ikut campur " ucap remaja itu.


Remaja itu berhasil mengambil uang ibu itu dan memasukkannya ke dalam saku celananya.


" Kembalikan uang ibu ini "


" Ckk...kalau gua nggak mau, lu mau apa ?" tantang remaja itu. Ia melangkah mendekat kearah Ayla.


" Kerena, gua akan melakukan ini... bukkk" Ayla memberikan pukulan talak pada perut remaja itu.


Remaja itu mengaduh kesakitan. Ayla mendekat dan menginjak perutnya. Ia merogoh saku remaja itu dan mengambil uang yang dia rampas.


" Kalau kau ingat beli sesuatu, bekerjalah. Jangan mengambil milik orang lain " Ayla memperingati remaja itu dari atas tubuhnya.


Ayla memberikan uang itu kembali pada pemiliknya.


"Terimakasih, nak " ucap ibu itu.


"Sama-sama, Bu. Lain kali hati-hati " jawab Ayla.


Dari belakang, remaja itu bangkit dan ingin memukul Ayla, tapi Ayla tidak menyadarinya.


" Nak, awas " teriak ibu itu.


Ayla berbalik dan tinjuan itu sudah sangat dekat dengan wajahnya. Ayla tidak sempat menghindar dan menaruh kedua tangannya di depan wajahnya untuk menghalangi tinjuan itu.


Bukkk...


Lama Ayla menunggu, namun tidak merasakan pukulan mengenainya. Ia mengintip dan melihat remaja itu sudah terkapar di tanah.


" Ayla, apa kamu tidak apa-apa, nak ?"nenek Moya menghampiri cucunya dengan khawatir.


" Nenek, dokter Winston " pekik Ayla.


"Kamu tidak apa-apa, nona ? " tanya dokter Winston.


" Ayla tidak apa-apa. Kenapa kalian bisa ada di sini ?"


" Nenek mencarimu " ucap nenek Moya masih dengan kepanikannya.


" Maafkan Ayla, nek. Ayla hanya ingin jalan-jalan dan mencoba malawan banyang-bayang itu " Ayla menunduk dan merasa bersalah.


.

__ADS_1


.


LANJUT..


__ADS_2