Sahabatku Berubah Menjadi ADIK IPARKU

Sahabatku Berubah Menjadi ADIK IPARKU
Bab 81. Tukang ngadu


__ADS_3

Hari kembali berganti. Hari ini Ayla dan Dista sudah berada di sekolah. Mereka sedang makan di kantin sekolah, karena sudah waktu istirahat. Dan setelah mereka selesai, mereka ingin kembali ke kelas.


Brukk...


" Aduh..."


Di saat mereka tengah berjalan ke kelas, mereka berpapasan dengan Tasya dan kedua temannya. Ayla dan Dista tidak menghiraukan mereka, tapi Tasya dengan sengaja menyenggol bahu Ayla dengan keras. Sehingga membuat Ayla bergeser dari tempatnya, bahunya juga terasa sedikit sakit.


" Lu kenapa sih setiap hari nggak ganggu kita?" Dista sudah sangat kesal, karena Tasya tidak henti-hentinya mengganggu mereka. Dista menarik Ayla untuk berada di sampingnya dan menggenggam tangannya. Ia takut Tasya akan mendorong Ayla lagi.


" Dasar tukang ngadu!!" Sofia mengatai mereka dengan melipat tangannya di dada dan melihat mereka dengan malas.


" Siapa yang ku sebut tukang ngadu?" tanya Dista dengan sedikit mengangkat kepalanya.


" Tentu saja kau dan kau" Sofia menunjuk Dista dan Ayla tepat di depan matanya secara bergantian. " Memang siapa lagi kalau bukan kalian?"


" Kenapa kalian menyebut kami tukang ngadu? padahal kami tidak mengadu pada siapapun" tanya Ayla.


" Nggak usah ngeles kalian! Kalau kalian nggak ngadu, kami tidak akan di marahi bokap-bokap kami dan tidak akan di hukum" Sifa angkat bicara.


Ternyata mereka bertiga di marahi oleh ayah mereka semalam dan di berikan hukuman selama 1 Minggu dengan hanya mendapatkan setengah dari uang jajan mereka. Mereka mendapatkan hukuman, karena telah menganggu Ayla dan Dista serta mendorong Ayla kemarin.


Buahaha ...


Dista tertawa kerasa saat mendengar mereka mendapatkan hukuman dari orang tuan mereka.Dista benar-benar tertawa puas.


" Makanya jangan suka gangguin orang, kena hukuman kan kalian. Lagi pula kenapa kalian harus menyalahkan kami? kalian bahkan melihat kami pulang kemarin tanpa menemui kepala sekolah dan kalian jangan lupa, kalau kami juga tidak tahu siapa orang tua kalian" Dista memang tidak mengetahui siapa orang tuan sofia dan Sifa, jadi bagaimana caranya mereka bisa mengadu.


Tasya, Sifa dan sofia saling pandang. Mereka memikirkan perkataan Dista yang ada benarnya, karena Ayla maupun Dista tidak tahu siapa orang tuan mereka. Tasya, Sifa dan Sofia yang tidak ingin di salahkan tetap menyalahkan Ayla serta Dista.


" Pokoknya kalian harus menemui kepala sekolah dan meminta untuk hukuman kami di cabut! " paksa Tasya.


" Itu mah urusan kalian, bukan urusan gua. Minggir" Dista menarik tangan Ayla dan menggeser tubu Tasya kesamping agar ia bisa lewat.


Sedangkan Tasya menganga tidak percaya. Ia sangat marah dan tidak terima Dista menolak perintahnya. Tasya menoleh ke arah kedua temannya dan memberikan kode untuk memberikan pelajaran ke mereka.

__ADS_1


Sifa dan sofia mengerti akan kode itu mengangkat jempol mereka tanda mengerti. Tasya, Sifa maupun Sofia berjalan bersama mendekati Ayla dan Dista yang sudah lumayan jauh di depan. Dann....


Brukkkk....


Hahahha....


Suara terjatuh dan suara tawa terdengar bersamaan di tempat itu.


" Rasain...emang enak " ledek Tasya.


Berbeda dengan Ayla dan Dista. 3 sekawan itu mendorong Ayla dan Dista dengan kasar. Sehingga membuat Dista hampir mencium lantai. Berbeda dengan Ayla yang jatuh dengan posisi yang sangat tidak bagus.


Arkhhh Dista


Teriak Ayla membuat Dista tersadar dan buru-buru bangun dari jatuh, sedangkan Sifa, Tasya serta Sofia menghentikan tawa mereka dan berubah menjadi kaget saat melihat kondisi Ayla.


" Ayla" pekik Dista. Ia juga ikut khawatir melihat kondisi Ayla.


" Dista, perutku sakit" ucap Ayla lirih sambil meremas perutnya.


" Ayla " teriak Jasmine. Jasmine yang kebetulan lewat di koridor itu tidak sengaja melihat Ayla yang terduduk di lantai dengan menahan sakit. Ia juga melihat Dista yang sudah sangat panik. Jasmine buru-buru menghampiri mereka.


" Dista...to..tolong aku" ucap Ayla lirih. Ia sudah tidak sanggup menahan sakit di perutnya.


" Tu.. tunggu di sini! aku akan memanggil bantun" Dista ingin berdiri, tapi sebelum itu ia menoleh ke arah Jasmin yang ada di sebelahnya. " Jaga Ayla sebenta! aku akan memanggil bantuan" Jasmine mengangguk.


Dista buru-buru berdiri dan berlari sekencang mungkin ke arah gerbang sekolah. Ia ingin memanggil pak Jang yang selalu duduk di pos penjagaan. Dista tidak menghiraukan Tasya dan 2 temannya yang berdiri mematung tidak jauh dari posisi Ayla terjatuh. Apalagi mengingat Ayla terjatuh akibat mereka.


Dista sudah sampai di depan pos penjagaan dengan nafas yang tersengal-sengal. Dista berusaha menetralkan pernafasannya, tapi sangat sulit. Ia terpaksa berbicar dengan nafas yang tidak beraturan.


" Pak.. Jang" kata partama yang Dista ucapkan.


" Ada apa nona" pak Jang ikut panik melihat nona mudanya yang terlihat sulit bernafas.


" Ayla.." tunjuk Dista ke arah koridor yang sangat jauh di sana.

__ADS_1


Mendengar itu pak Jang langsung berlari sekencang mungkin. Ia tidak menunggu ucapan nona muda selanjutnya, karena ia tahu ada sesuatu yang buruk telah terjadi menimpa nyonya muda Smith. Perasaan sudah tidak enak saat melihat nona muda menghampirinya dengan berlari dan nafas yang tersengal-sengal.


Dista mengikuti pak Jang di belakang yang sudah sangat jauh berlari di depan.


" Nona Ayla..." panggil pak Jang panik saat melihat banyaknya kerumunan para murid-murid di sana.


Pak Jang tanpa ba bi bu langsung menggendong Ayla yang kesadaran hampir hilang. Pak Jang tidak memperdulikan bajunya yang kotor akibat darah yang tidak henti-hentinya mengalir di antara paha Ayla.


" Pak Jang...Ayla nggak kuat, ini sangat sakit" ucap Ayla lirih dan sangat pelan ketika ia berada di gendongan pak Jang yang berlari keluar dari lingkungan sekolah.


" Saya mohon nona, bertahanlah. Saya mohon!" pak Jang sudah sangat panik melihat Ayla sudah menutup matanya.


Berbeda dengan Dista yang belum sampi di koridor tempat Ayla terjatuh, ia sudah melihat pak Jang yang berlari ke arahnya dengan Ayla yang berada di gendongannya. Dan ada juga Jasmine yang ikut berlari di belakang pak Jang.


" Dista, boleh aku ikut?" tanya Jasmine saat ia sudah sampi di dekat Dista.


" Maaf Jasmine, kamu tidak bisa ikut " Dista melarang Jasmine ikut, karena dia belum tahu siapa dirinya dan ia tidak ingin Jasmine tahu tentang Ayla yang tengah hamil.


Sedangkan Jasmine yang mendengar itu hanya bisa menurut. Padahal ia sangat khawatir dengan kondisi Ayla dan hanya bisa melihat mereka menjauh meninggalkan lingkungan sekolah.


" Jasmine, di mana Ayla ?" dari arah belakang ada beberapa guru yang memegang bahunya.


" Ayla sudah di bawa pergi Bu, pak" jawab Jasmine sambil menoleh ke belakang.


" Hufft...kita terlambat" jawab salah satu guru.


" Yasudah lah, sudah ada yang membawanya pergi. Kita tidak perlu khawatir lagi" ucap salah satu guru lagi.


Mereka semua pun mengangguk dan kembali ke ruang guru, sedangkan Jasmine menatap para guru itu dengan dahi mengkerut. Jasmine heran, kenapa peta guru abai dengan kondisi Ayla dan tidak mencari tahu penyebab kejadian itu terjadi. Seharusnya mereka mencari tahu dan memberikan sanksi pada mereka yang sudah membuat Ayla seperti itu .


Apalagi Jasmine sempat melihat Tasya, Sifa dan sofia yang berdiri tidak jauh dari Ayla. Jasmine menghela nafas dan berjalan lesu serta kecewa kembali ke kelasnya.


.


.

__ADS_1


NEXT


__ADS_2