
" Sudah!! kamu baru sadar Ayla, jangan banyak bertanya. Kamu harusnya beristirahat" daddy Hasbu tiba-tiba menyela dan menghentikan pertanyaan Ayla. Padahal Ayla baru saja membuka matanya, tapi dia sudah banyak pertanyaan.
Ayla yang mendengar itu hanya tersenyum sangat kecil dan berhenti bertanya.
" Apa yang kamu rasakan, Ay?" tanya aunty Caca.
Ayla terlihat berfikir, kemudian tak berselang lama Ayla menjawabnya.
" Aku merasa aneh pada perutku dan terasa sakit" ucap Ayla seraya memegang perutnya.
Aunty Caca ingin memeriksa kembali, namun Ayla menahan tangannya.
" Onty" panggil Ayla dengan panik. Ia langsung duduk.
" Kenapa?" aunty Caca pun ikut panik, begitupun dengan yang lain.
" Bagaimana bayi Ayla? apa dia baik-baik saja?" Ayla memegang perutnya seakan ia memegang bayinya. "Ayla tadi habis jatuh dan Ayla melihat banyak darah keluar" tambah Ayla lagi. Ia baru mengingat tentang dirinya yang terjatuh di sekolah. Ia pun tahu, kalau kita jatuh saat hamil itu akan berdampak pada bayi yang di kandungnya.
Mereka pun saling pandang. Mereka bingung bagaimana cara menceritakannya pada Ayla. Mereka takut Ayla akan sedih dan berdampak pada psikisnya.
" Kamu istirahat saja dulu yah? kamu tidak boleh terlalu lelah. Setelah keadaan kamu membaik, baru kita bercerita" ucap aunty Caca dengan tersenyum.
" Tidak onty! Ayla hanya ingin tahu bagaimana keadaan bayiku. Onty hanya jawab iya, hanya itu yang ingin Ayla dengar. Apa itu sulit?"
Ayla tetap kekeh ingin mengetahui kondisi bayi yang ada di dalam perutnya. Dia tidak ingin istirahat sebelum mengetahuinya.
Mereka pun hanya diam dan tidak ada yang berani menjawab pertanyaan Ayla.
" Kenapa kalian hanya diam saja? kenapa kalian tidak mau menjawab pertanyaan ku?" Ayla menatap keluarga suaminya satu persatu, termasuk Dimas juga." apa bayiku kenapa-napa?" Ayla kini mulai berfikir hal yang kurang baik dengan bayinya, karena melihat mereka tidak ada yang mau menjawab pertanyaannya. Ia berfikir, jika bayinya baik-baik saja, mereka pasti akan menjawabnya tanpa berfikir sangat lama.
" Baiklah, Ayla mengerti arti diam kalian" setelah mengatakan itu, Ayla menunduk.
Mereka semua masih diam dan tidak menjawab. Mereka juga ikut menunduk dengan pikiran mereka masing-masing. Sampai akhirnya terdengar suara isak tangis, membuat mereka secara bersamaan mengangkat kepala mereka dan mereka bisa melihat bahu Ayla yang bergetar.
" Ayla" panggil Dista. Ia ingin menghampiri sahabatnya sekaligus kakak iparnya untuk ia peluk, tapi Ayla langsung menggeleng saat mengetahui Dista ingin mendekatinya.
__ADS_1
Dista menghentikan langkahnya saat Ayla melarangnya mendekat. Begitu dengan mom Awah serta aunty Caca yang ingin menenangkan Ayla, tapi lagi-lagi Ayla menolaknya.
Hikss...hikss..
Tangisan Ayla semakin kencang, membuat mereka menjadi bingung sendiri untuk membuat Ayla tenang. Mengingat Ayla yang melarang mereka untuk mendekat.
" Ja-jangan men-de-kat" ucap Ayla dengan terbata-bata, karena ia menangis tersedu-sedu.
Ayla mengatakan hal tersebut, karena dia melihat Dimas yang ingin mendekatinya, tapi Dimas tidak menggubris larangan Ayla. Dimas tetap melangkah lebih dekat ke arah Ayla. Tanpa ba bi bu, Dimas langsung memeluk Ayla dengan erat saat dia sudah samapi di hadapan Ayla.
Dimas memeluk Ayla dengan Ayla yang masih duduk
Ayla memukul dada Dimas agar dia mepaskan-nya, tapi Dimas tetap memeluknya. " Semuanya akan baik-baik saja" ucap Dimas di sela pelukannya.
" Kamu harus mengikhlaskan nya, dia sudah kembali ketempat yang paling indah di atas sana" tambah Dimas lagi.
Ayla sudah tidak memberontak lagi, saat Dimas mulai mengatakan sesuatu pertama kali.
" Apa dia benar-benar sudah tidak ada di perutku?" Ayla mendongak menatap Dimas dengan air mata yang masih mengalir, serta tanganya masih memeluk Dimas. Begitupun dengan Dimas, di mana tangannya berada di pinggang Ayla.
Mendengar itu Ayla kembali menangis dan membenamkan wajahnya di dada Dimas. Dimas mengusap rambut Ayla dan membiarkan bajunya basah, kerena air mata Ayla.
" Maafkan aku. Aku tidak bisa menjaganya" ucap Ayla.
" Tidak. Kamu sudah menjaganya dengan baik, ini bukan kesalahanmu. Ingat!! Aku seharusnya yang meminta maaf, karena tidak bisa menjaga kalian dengan baik" Dimas tidak ingin Ayla menyalahkan dirinya, karena di sini ia juga bersalah.
Ayla hanya diam saja, kemuadian ia melepaskan pelukannya dengan sedikit mendorong Dimas. " Aku ingin tidur" Ayla langsung berbaring membelakangi Dimas serta yang lainnya.
Daddy Hasbu, mom Awah, aunty Caca dan Dista hanya diam saja memperhatikan interaksi sepasang suami istri itu sejak tadi. Mereka tidak ada niat untuk menyela sama sekali. Sampai akhirnya Ayla kembali berbaring dan Dimas hanya bisa menarik nafas, kemudian berbalik menatap keluarganya.
" Kalian pulanglah! biar aku yang menjaga Ayla di sini" Dimas ingin menjaga Ayla di rumah sakit seorang diri.
" Tidak..."
" Baiklah" daddy Hasbu lebih dulu memotong perkataan istrinya. Ia tahu istrinya ingin ikut menjaga di rumah sakit, tapi ia tidak akan mengizinkannya.
__ADS_1
" Daddy" sentak mom Awah. Ia tidak terima dengan suaminya yang setuju. Ia juga ingin merawat Ayla di sini.
" Biarkan Dimas yang menjaga Ayla. Kamu bisa ke sini lagi besok. Biarkan Dimas melakukan tugasnya sebagai seorang suami" daddy Hasbu menarik tangan istrinya agar berdiri.
mendengar itu mom Awah akhirnya menimbang-nimbang, sampai akhirnya ia setuju untuk pulang.
" Baiklah, kami akan pulang. Ingat!! jaga Ayla baik-baik" mom Awah memberikan peringatan pada Dimas. Ia tidak ingin Dimas mengulang kesalahannya lagi dengan tidak menjaga Ayla dengan baik.
" Baik, mom. Mommy tenang saja" ucap Dimas.
Mom Awah mengangguk. " Ayo pulang Dista!" ajak mom Awah pada putrinya. Ia bisa melihat Dista hanya diam saja sejak tadi menatap kearah brankar di mana Ayla berbaring.
Mom Awah menghela nafasnya dan mengulang kembali memanggil putrinya. "Dista"
" ya mom?" Dista tersadar dan langsung menoleh.
" Ayo pulang" ajak mom Awah dengan gerakan kepalanya. Dista pun mengangguk dan melirik Ayla. " Ay, kami pulang yah? ada kak Dimas yang menjagamu di sini" ucap Dista.
Ayla tidak menjawab. Ia tetap pada posisinya membelakangi mereka. Dista yang melihat itu memilih melanjutkan langkahnya meninggal kan ruangan itu .
Setelah kepergian kedua orang tuanya serta adiknya, kini Dimas berbalik menatap aunty Caca.
" Onty juga akan keluar" aunty Caca pun meninggalkan keduanya di sana.
Setelah kepergian semua keluarganya, Dimas kembali menghampiri Ayla. Ia sangat yakin Ayla belum tertidur.
" Tidurlah!" ucap Dimas seraya mengusap rambut Ayla, tapi Ayla menepis tangannya. "Jangan menggangguku!!"
" Baiklah, aku tidak akan mengganggumu" Dimas memilih mematuhi perintah Ayla dari pada terjadi pertengkaran nantinya.
.
.
NEXT
__ADS_1