Sahabatku Berubah Menjadi ADIK IPARKU

Sahabatku Berubah Menjadi ADIK IPARKU
Bab 99. Buah jeruk


__ADS_3

****Sore harinya****


Ayla mengerjapkan matanya dan menoleh ke sekelilingnya. Ayla duduk dengan pikiran yang masih membayangkan apa yang terjadi sebelumya.


"Apa kak Dimas yang memindahkan ku ke atas kasur?" gumam Ayla.


Ayla kemudian menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Ayla memilih membersihkan dirinya terlebih dahulu. Setelah selesai Ayla berpakaian dan berjalan keluar dari kamar.


Ayla berjalan menuruni tangga dan memperhatikan sekelilingnya. Tidak ada siapapun yang dia lihat di sana. Ayla kemudian memilih ke taman belakang dan ada beberapa pekerja kebun yang sedang membersihkan halaman belakang.


"Sore nyonya muda" sapa mereka.


Ayla hanya tersenyum. Padahal ia sangat tidak suka di panggil nyonya, tapi Ayla sedang malas untuk berbicara. Ayla kemudian duduk di bangku yang ada di halaman belakang. Memperhatikan para pekerja yang tengah asik dengan perkerjaan mereka.


Sampai akhirnya Ayla melihat salah satu pekerja yang tengah memetik salah satu buah. Ayla menjadi tertarik dan dia pun menghampirinya.


"Apa itu buah jeruk?" tanya Ayla ketika ia sudah di dekat pekerja kebun.


"Ehh...iya nyonya muda" jawab pekerja itu kaget. Ia tidak menyadari kedatangan nyonya mudanya.


"Kenapa bapak memeriknya? itu kan masih hijau"


"Ahh...ini sudah matang nyonya. Warnanya memang masih hijau, tapi sudah ada bercak-bercak kuning di kulitnya dan buahnya juga sudah bisa di pencet" pekerja menunjukkan bercak kuningnya.


"Setahu Ayla warna jeruk itu warna orange?"


"Tidak semua jeruk berwarna orange, nyonya. Kita juga punya buah jeruk berwarna orange di sini, tapi dia berbuah di waktu-waktu tertentu saja. Berbeda dengan yang ini, dia berbuah setiap saat"


Ayla menggut-manggut tanda mengerti. "Apa itu manis?" tanya Ayla lagi.


"Iya, nyonya. Anda mau mencobanya?"


"Boleh" Ayla mengangguk antusias. Ia sangat penasaran dengan rasanya.


Pekerja itu pun memetik jeruk yang menurutnya manis dan memberikannya pada Ayla. Ayla pun menerimanya dengan hati riang. Ayla membawa jeruk itu ke bangku taman dan duduk di sana.


Ayla mengupas jeruknya, setelah selesai ia memasukkan daging jeruk ke dalam mulutnya. Mata Ayla berbinar ketika sudah merasakan buahnya.


"Wahh...manis sekali" Ayla takjub dengan rasanya. Ia pun memakan jeruknya dengan lahap.


"Yahh..habia" Ayla masih ingin lagi. Ia kemudian menghampiri pekerja itu dan dengan malu-malu memintanya.


Pekerjaan itu tersenyum melihat tingkah nyonya mudanya. Ayla kembali ke tempat duduknya dan memakan buah itu.

__ADS_1


Setelah pekerja itu selesai memetik beberapa buah yang sudah matang, dia lalu membawanya ke dapur. Namun, dia di hentikan oleh tuan mudanya.


"Pak, berikan padaku jeruk itu!" pinta Dimas.


"Semuanya tuan?"


"Tidak. 5 biji saja"


Pekerja itupun memberikan jeruk itu kepada Dimas. Dimas menerimanya dan membawa jeruk itu ke halaman belakang di mana Ayla berada.


Sebenarnya sejak tadi Dimas memperhatikan Ayla yang sangat suka memakan buah jeruk. Awalnya Dimas mencari Ayla di kamarnya, tapi dia tidak menemukannya. Dimas pun berinisiatif mencari di seluruh manssion dan akhirnya dia menemukan Ayla tengah berada di halaman belakang dan tengah berbicara dengan pekerja kebun tersebut.


Dimas kemuadian menghampiri Ayla dengan membawa apel tersebut. Dimas langsung duduk di sebelah Ayla.


Ayla melirik Dimas sebentar, kemudian fokus makan jeruk. Saat jeruknya sudah habis, Ayla masih ingin lagi. Ia melihat ke arah pohon jeruk dan sudah tidak melihat pekerja di sana. Ia sedikit kecewa.


Dimas yang melihat itu, langsung menyodorkan buah jeruknya. " Makanlah. Kamu masih mau kan?"


Ayla tidak langsung mengambilnya. Ia hanyalah menatap Dimas dan jeruk itu secara bergantian.


"Kenapa? kau tidak mau? yasudah kalau begitu buat aku saja" Dimas menyimpan jeruk itu di sebelahnya.


"Ehh...aku mau" Ayla langsung mengambil jeruk itu.


Dimas yang baru saja meletakkan jeruk itu di sebelahnya kaget dengan gerakan Ayla yang tiba-tiba, sehingga pipi Ayla dan bibir Dimas bersentuhan.


"Aku tidak menciummu. Kamu yang tiba-tiba mengambil jeruknya di sampingku" Dimas mengangat kedua tangannya. Ia benar-benar tidak punya niatan untuk mencium Ayla, tapi gerakan Ayla yang tiba-tiba membuat ia mencium Ayla.


Ayla hanya diam saja memegang pipinya. Ia tahu jika ciuaman itu terjadi bukan karena salah Dimas, tapi salahnya.


Ayla tidak mengatakan apapun. Ia langsung beranjak dari duduknya. Ia malu dengan Dimas, tapi Dimas menahan tangannya.


"Mau kemana? apa kamu marah? kalau begitu maafkan aku" walaupun bukan kesalahannya, tapi Dimas meminta maaf. Ia tidak ingin Ayla marah lagi padanya. Ada perasaan aneh yang ia rasakan ketika Ayla marah padanya.


"Tidak. Ini buka salah kak Dimas, ini kesalahanku" ucap Ayla.


"Terus kenapa kamu pergi? duduk saja di sini, temani aku" ucap Dimas dengan masih memegang tangan Ayla.


Ayla menatap wajah Dimas, entah apa yang ada di pikirannya saat ini. Ayla kemudian memilih kembali duduk di sebelah Dimas, tapi ia duduk di ujung bangku. Dimas tidak mempermasalahkannya. Setidaknya Ayla mau duduk dengannya.


Mereka saling diam. Ayla fokus dengan jeruknya dan memakannya. Dimas tidak memakan jeruknya, ia hanya memperhatikan Ayla.


"Sepertinya kamu sangat suka jeruk" ucap Dimas.

__ADS_1


"Iya. Jeruk adalah buah kesukaanku. Setiap Papa selesai gajian, Papa akan membelikan aku jeruk" Ayla tersenyum menceritakannya. Ia membayangkan kembali ketika orang tuanya masih hidup.


"Dan ini pertama kalinya aku makan jeruk setelah papa meninggal"


Dimas mendengar itu menjadi merasa bersalah, karena menginginkan Ayla dengan orang tuanya. "Maaf. Aku tidak bermaksud mengingatkanmu"


"Tidak apa-apa. Aku selalu senang setiap menceritakan tentang mereka. Aku juga sangat senang bisa makan jeruk lagi" Ayla memperlihatkan senyumannya pada Dimas.


Deg


Jantung Dimas berdetak kencang melihat senyuman itu. Ink pertama kalinya ia melihat senyuman Ayla yang begitu lebar dan terlihat sangat bahagia.


Ada apa dengan jantungku_ batin Dimas seraya memegang dadanya_


" Kalau begitu, makanlah semua jeruk ini. Aku memintanya pada pekerja tadi, tapi jangan menghabiskan semunya. Kamu bisa memakannya lagi besok" ucap Dimas seraya memberikan sisa 4 jeruk, karena 1 jeruknya sudah Ayla makan.


"Benarkah? ini untukku?" tanya Ayla tidak percaya.


Dimas mengangguk. " Benar. Ini semua untukmu. Ambilah" ucap Dimas.


Dengan senang hati Ayla menerimanya. "Terimakasih" ucap Ayla tulus.


Dimas kembali mengangguk.


Sementara dari dalam mansion, lebih tepatnya di kamar utama. Tanpa mereka sadari mom Awah dan daddy Hasbu memperhatikan mereka dari balik jendela.


Mom Awah terlihat tersenyum melihat interaksi mereka. "Sepertinya Dimas benar-benar menepati janjinya kali ini, dad" ucap mom Awah.


"Semoga saja"


Mom Awah berbalik menatap suaminya. "Apa kamu belum percaya pada putramu?"


"Entahlah. Kita tidak tahu apakah Dimas benar-benar sudah berubah dan melepaskan Sinta. Kamu kan tahu, Sinta masih belum mau melepaskan Dimas. Jika suatu waktu Dimas harus kembali ke Negera S, tidak dipungkiri Dimas pasti akan bertemu Sinta" daddy Hasbu menarik nafasnya dan kemudian menghembuskannya perlahan.


"Daddy takut Dimas akan tergoda dan akan kembali bersama Sinta. Kau tahu sifat putramu yang sedikit bodoh dalam perasaanya dan pikirannya sendiri"


Mom Awah yang mendengar itu menjadi diam. Ia jadi kepikiran, ia takut hal itu akan terjadi.


Hufffft....


" Kita lihat saja dulu. Entah hari itu akan tiba atau tidak, tapi mommy berharap Dimas tidak bodoh dalam mengambil sikap" ucap mom Awah.


.

__ADS_1


.


NEXT


__ADS_2