
Dista yang masih di rumah sakit menunggu sang mommy untuk datang, sedangkan Ayla, ia masih setia berada disana menemani Dista.
Pak guru yang mereka sudah kembali lagi ke sekolah karena dia masih ada jam mengajar di kelas lain.
"Ayla" Panggil Dista
"Yah?"
"Terima kasih sudah menjagaku" ucap Dista.
"Kau ini bilang apa? tentu saja aku akan menemani mu, bukankah kita teman?"
"Hanya teman?" ucap Dista lesuh.
"Terus apa kalau bukan teman?" tanya Ayla bingung.
"Sahabat. kamu mau kan jadi sahabatku?"
Ayla terdiam, " Aku tidak bisa menjadi sahabatmu" Ayla mengalihkan matanya ke arah lain.
"Kenapa? apa aku seburuk itu untuk menjadi sahabat mu?" Dista merasa sedih.
"kita berbeda Dista. Kau menggunakan mobil mewah saat pergi ke sekolah, sementara aku, aku hanya menggunakan sepeda..." Ayla menjeda ucapannya.
"Seharusnya aku yang bertanya, apakah kau mau mempunyai sahabat sepertiku?"
"Itu bukan masalah bagiku Ayla, Aku hanya mencari seseorang yang selalu ada di saat aku susah maupun senang" ucap Dista tulus.
Ayla merasa terharu mendengar ucapan tulus Dista. Dia menunduk dan tak terasa air matanya keluar.
"Hey.., kenapa kau menangis?"
"Kemarilah, aku akan memelukmu" Dista membuka kedua tangannya lebar-lebar.
Ayla mendekat dan memeluk Dista erat. Dista mengusap punggung Ayla dengan sayang.
"Kenapa kamu menangis?" tanya Dista kembali.
"Aku merasa terharu ada yang mau berteman denganku, bahkan mau menjadi sahabatku" Ayla mengahapus air matanya.
"Apa kau tidak punya teman waktu SMP?"
"Tidak, mereka menjauhiku karena aku miskin"
"Jahat sekali mereka. Apa itu juga yang membuatmu sangat dingin padaku saat hari pertama sekolah"
"Hehe..maaf" Ayla cengengesan.
"Maafin gak, yah" Dista pura-pura berfikir.
"Maafin dong, please" Ayla merapatkan kedua telapak tangannya.
"Peluk aku dulu kalau gitu"
Ayla memeluk Dista erat. Dista membalas pelukan Ayla.
"Sepertinya mommy ganggu nih" ucap mommy Awah dari arah pintu.
Kedua gadis itu menoleh dan melepas pelukannya.
"Mommy.." ucap Dista keget, saat melihat sudah ada sang mommy di sana.
"Mommy ganggu, yah?" mommy Awah melangkah ke arah mereka berdua.
"Enggak kok, mom" ucap Dista.
"Apa yang kamu rasakan sayang?" tanya mommy Awah
"Dista merasa baik-baik saja, mom"
"Mommysangat khawatir, saat guru menelepon mommy jika kamu berada di rumah sakit" mom Awah mengusap kepala Dista dengan sayang.
Sedangkan Ayla, dia hanya diam memperhatikan dua orang beda generasi tersebut. Ayla juga ikut tersenyum melihat interaksi Dista dengan mommynya.
__ADS_1
Ayla jadi mengingat mamahnya. Wajahnya berubah menjadi sedih, rasanya dia rindu dengan sang mamah. Mamah yang selalu membuatnya tersenyum dalam situasi apapun.
Dista yang menyadari raut wajah sedih sahabatnya, mulai memperkenalkan Ayla pada sang mommy.
"Ayla, sini" Panggil Dista.
Ayla menoleh dan mendekat kearahnya.
"Mom, kenalin.. ini sahabat Dista, namanya ayla" ucap Dista.
"Halo Tante, saya Ayla" Ayla memperkenalkan namanya dan ingin menyakini.
"Saya mommy Dista" Mommy Awah menerima uluran tangan Ayla.
"Apa kalian satu kelas?" tanya mommy Awah.
"Yes mom, kami satu kelas" jawab Dista.
"Mom, apa dad tahu Dista ada di sini?"
"Tidak, mommy tidak memberitahunya"
"Baguslah, Aku tidak mau Daddy membuat keributan nantinya" ucap Dista.
Daddy Hasbu memiliki mulut yang sangat cerewet jika anak gadisnya terluka. Dia akan melarang Dista untuk melakukan apapun, bahkan melarangnya untuk keluar rumah.
"Kamu ini..." mommy Awah tersenyum mendengar ucapan anaknya.
"Aku ingin pulang, mom" rengek Dista.
"Apa kau sudah merasa baik?"
"Tentu saja, Dista bahkan sudah bisa berlari" ucap Dista berkacak pinggang.
"Baiklah-baiklah, mommy akan bertanya pada dokter dulu, ya" ucap mommy Awah.
Dista mengacungkan jempolnya. Mom Awah meninggalkan ruangan itu dan menuju ruangan dokter.
Dokter mulai memeriksa kondisi Dista.
"Semuanya baik, anda sudah bisa membawa anak anda pulang" kata dokter.
Sejak awal, Dista tidak dipasangkan infus, karena hanya pingsan sesaat dan tidak ada cedera serius.
"Terimakasih dokter" kata mom Awah.
"Kalau begitu kami pamit undur diri nyonya" ucap dokter. Mom Awah hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Ayo sayang kita pulang, Apa kamu bisa berjalan?"
" Iyah mom, Dista hanya pingsan bukan patah tulang" Dista pura-pura kesal.
"Hehe.. mommy hanya bertanya"
"Mommy sih, nanyanya aneh-aneh"
"Oke oke, ayo kita pulang!"
Mereka akhirnya keluar dari rumah sakit. saat mereka sudah berada di depan mobil, Ayla ingin pamit untuk pulang juga.
" Kalau begitu aku pulang dulu, yah. " ucap Ayla. Hari juga sudah mulai sore, sudah waktunya sekolah pulang.
"Kamu pulangnya naik apa? sepedamu kan ada di sekolah?" tanya Dista.
"Aku akan jalan kaki, dari sini ke sekolah kan dekat" jawab Ayla.
"Jangan dong. Bagaimana kalau aku mengantarmu ke sekolah?" tawar Dista.
"Tidak perlu, kan beda arah"
"Eh... jangan, kita akan mengantarmu ke sekolah!"
"Tapi, tante..." belum selesai Ayla bicara, mom Awah sudah menyela.
__ADS_1
"Tidak ada tapi-tapiandan, tante akan marah padamu jika kau tidak ikut" ucap mom awah garang.
Ayla yang melihat itu kaget, dia akhirnya pasrah untuk ikut naik ke mobil Dista.
Mereka mengantarkan Ayla sampai sekolah, setelah sampai, Ayla mengucapkan terima kasih dan pulang menuju rumahnya.
Manssion Smith
Dista dan mommy sudah berada di rumah. Dista dan mommy hanya duduk di sofa sambil menonton TV. Tudak lupa juga dengan cemilan yang ada di depannya.
Dringgg...
Suara telepon mom Awah berbunyi.
"Itu siapa mom?" tanya Dista.
"Kakakmu" Awah menjawab terlpon itu dan ternyata Dimas melakukan video call.
"Halo mommy-ku sayang" gombal Dimas di seberang telepon.
"Halo juga anak mommy yang ganteng"
"Apa kabar, mom?" tanya Dimas.
"Mommy baik, bagaimana denganmu?"
"Aku juga baik, mom. Oh ya, mom di mana adik jelekku"
"Hey..., aku nggak jelek, ya. Dista itu paling cantik di dunia. Kakak tuh yang jelek kayak monyet" Dista tidak terima dibilang jelek dan dia kembali mengejek sang kakak.
"Enak aja bilang kakak jellek. Dengar ya, kakak itu digilai banyak wanita" Dimas membanggakan dirinya.
"Mata mereka pasti katarak"
"Enak aja. Oh iya, kakak dapat telpon dari sekolah jika kamu pingsan saat olahraga. Apa itu benar?" tanya Dimas.
"Dari sekolah? siapa yang menelepon kakak?" tanya Dista bingung.
"Rahasia, kau tidak perlu tahu. Jadi, jangan berbuat aneh selama di sekolah karena kakak punya mata-mata yang selalu mengawasi mu, mengerti" Dimas memberi peringatan pada sang adik.
"Isss... iyah-iyah. Dista juga baik-baik saja. Tidak ada yang serius"
"Baguslah kalau begitu. Kakak tutup telponnya"
"Hmmm.." Dista hanya berdehem malas.
" Dada adik jelek" Dimas langsung mematikan sambungan telponnya agar tidak mendengar suara adiknya yang cempreng.
"Ihhh... Kakak tu nyebelin banget deh, mom" ucap Dista cemberut. Mom Awah hanya tertawa mendengar anak yang menggerutu.
Sedangkan dimah, dia tertawa puas setelah meledek adiknya.
"Wiihh.., siapa itu tadi? apa itu adikmu? dia sangat cantik " ucap Kenan, teman Dimas di negeri S.
" Jangan macam-macam sama adik gue. Gue akan membunuhmu jika kau berbuat aneh dengannya" ancam Dimas.
"Yee.. gue hanya bertanya..."
.
.
.
.
.
Next..
Jangan lupa tinggalkan jejak yah, teman-teman.
Like, komen, and vote yang banyak.
__ADS_1