
" Oh yah, di mana adikku, mom?" tanya Dimas. Ia mencari adiknya. Biasanya saat ia menelpon pasti dia akan muncul walau hanya mengejeknya.
Ia merindukan suara keras adiknya yang selalu berteriak setiap dia bangun dan datang dari luar. Apalagi wajah cemberut adiknya itulah yang paling Dimas ingin lihat.
" Adikmu ada di rumah sakit. Ini mommy bersiap mau ke rumah sakit antar makanan" jawab mom Awah.
" Apa! adikku masuk rumah sakit, mom?" pekik Dimas
" Bukan adikmu yang sakit, tapi sahabatnya. Dia tinggal semalam untuk merawatnya" jawab mom Awah.
" Ahh.. syukurlah. Dimas kira Dista yang sakit" ucap Dimas. Ia mengusap dadanya.
" Bukan. Adikmu baik-baik saja" ucap mom Awah.
" Mom bilang tadi Dista punya sahabat, sekarang Dista sudah punya teman?" tanya Dimas.
" Iya, adikmu sekarang punya teman. Makanya Dista tidak ingin meninggalkannya di rumah sakit. Dista ingin membantu merawatnya" jawab mom Awah.
" Apa mommy sama daddy sudah tahu bagaimana sifat dari temannya?" tanya Dimas. Ia bertanya seperti itu, karena ia takut adiknya akan di manfaatkan lagi oleh temannya seperti saat Dista masih duduk di bangku SMP.
" Kau tidak perlu khawatir. Daddy sudah mencari tahu bagaimana kehidupannya. Daddy juga baru pertama kali bertemu dengannya kemarin, tapi Daddy suka dengan sikapnya" jawab daddy Hasbu.
"Daddy benar. Mommy sudah dua kali bertemu dengan sahabat Dista. Apa kau ingat waktu Dista masuk rumah sakit waktu itu, sahabatnya lah yang menjaganya di rumah sakit sampai mommy datang?" ucap mom Awah.
"Yaa..aku ingat, mom" jawab Dimas. " Baguslah, kalau seperti itu. Dimas hanya khawatir hal itu kembali terjadi" ucap Dimas.
"Tidak. Mommy yakin kali ini, mereka berteman secara tulus" jawab mom Awah.
" Yasudah, mom, dad, Dimas tutup telponnya yah? Dimas sudah mengantuk" ucap Dimas.
" Iya sayang, jangan sering begadang itu gak baik untuk kesehatanmu" ucap mom Awah.
" Iya, mom. Dimas nggak akan sering-sering" jawab Dimas.
"Bagus" ucap mom Awah.
" Dimas matiin yah? dadah..." Dimas mematikan sambungan telponnya dan melambai. Mom Awah menyimpan handphone di dalam tas yang akan ia bawa.
"Ayo dad kita berangkat!" ajak mom Awah. Ia beranjak, namun suaminya tidak beranjak.
" Dad, kenapa?" tanya mom Awah. Daddy Hasbu menoleh dan menatap istrinya dingin membuat mom Awah bingung.
" Daddy kenapa? kok tatatapan gitu?" tanya mom Awah.
" Kenapa mommy nggak bilang sama daddy, kalau Dista pernah masuk rumah sakit?" tanya daddy Hasbu.
Mom Awah kaget. Ia menepuk jidatnya. " Haduh.. keceplosan. Gawat.. daddy pasti marah, nih. Dista pasti juga ngambek, haaah..." batin mom Awah. Ia pasrah, kalau suami dan putrinya akan kecewa padanya.
"Heheh..maafin mommy, dad. Dista yang suruh mommy untuk tidak bilang sama daddy. Dista juga tidak menginap kok waktu itu di rumah sakit" jawab mom Awah seraya menampilkan deretan giginya.
" Walaupun kayak gitu, beritahu Daddy dong. Apa kalian sudah tidak menganggap Daddy ini penting" protes daddy Hasbu.
__ADS_1
" Buk..bukan seperti itu, dad. Mommy nggak bermaksud seperti itu. Mommy menuruti kemauan Dista, karena mom juga tahu kalau Dista baik-baik saja. Mom nggak mau menambah pikiran Daddy." jawab mom Awah salah tingkah.
Daddy Hasbu membuang nafas pelan.
" Maafkan aku. Aku terlalu sibuk di kantor belakangan ini sehingga tidak punya waktu dengan kalian, tapi Daddy mohon apapun kejadiannya, masalah sekecil apapun baritahu aku. Biarpun aku sedang meeting telpon aku, mengerti..!" ucap daddy Hasbu. Ia memegang pundak sang istri dan menatapnya, kemudian mencium keningnya.
" Mommy juga minta maaf. Aku tidak akan mengulangi kesalahan itu lagi, tapi jangan beritahu Dista kalau daddy sudah tahu" ucap mom Awah. Daddy Hasbu mengangguk dan memeluk istrinya.
" Sudah cukup, ayo berangkat!" ajak daddy Hasbu. Mom Awah tersenyum dan mengandeng tangan sang suami sampai di dalam mobil. Bahkan mobilnya sudah berjalan, daddy Hasbu tidak melepas genggamannya.
Daddy Hasbu mengantar sang istri ke rumah sakit terlebih dahulu barulah ia ke kantor.
Mom Awah memasuki rumah sakit. Berjalan menuju lift untuk sampai di kamar rawat Ayla.
*Tok..tok..tok..
Mom Awah mengetuk pintu dan kemudian membukanya.
" Assalamualaikum.." ucap mom Awah. Ia melangkah masuk dan melihat mereka tengah bercanda bersama. Tampaknya Ayla sudah mulai membaik.
" Mommy" panggil Dista. Ia berlari dan memeluk sang mommy. " Mommy kenapa lama?" tanya Dista.
" Tadi kakakmu menelpon jadi mommy bercerita dulu dengannya" jawab mom Awah.
" Kak Dimas nelpon?" tanya Dista.
"Iya. kakak mancarimu" jawab mom Awah
" Hanya ingin melihatmu saja" jawab mom Awah. Dista hanya ber Oh saja.
Mom Awah mendekat ke arah Ayla dan tersenyum kepadanya. Ayla juga ikut tersenyum, walau dia tampak malu-malu.
" Bagaimana kabarmu?" tanya mom Awah.
" Aku baik tante" jawab Ayla.
" Jangan panggil tante dong, panggil mommy" ucap mom Awah. Ayla tersentak mendengarnya. Tiba-tiba muncul ingatan di kapalanya.
" Jangan panggil tante dong, panggil mommy seperti Dista memanggilku" perkataan itu tiba-tiba muncul di kapalanya. Ingatannya berputar pada saat dia datang pertama kali ke rumah Dista, tapi hanya bagian itu saja yang dia ingat.
" Mommy?" tanya Ayla.
" Yahh..apa kamu mau memanggil tante dengan sebutan mommy?" tanya mom Awah. Ia mencoba mengingatkan Ayla dengan mengulang perkataannya yang pernah ia berikan pada Ayla sebelumnya.
" Ayla mau" jawab Ayla antusias. Mom Awah tersenyum dan mengusap tangan Ayla yang masih tertancap jarum infus.
" Apa kamu sudah makan?" tanya mom Awah.
" Sudah, tapi nenek sama Dista belum. Katanya nungguin mommy" jawab Ayla.
" Ahh..benarkah? mommy ada membawa makanan kok" ucap mom Awah. Ia memperlihatkan sebuah tas yang berisi makanan.
__ADS_1
" Ibu dengan Dista makannlah dulu. Nggak baik menunda sarapan" ucap mom Awah.
" Iya, mom" jawab Dista. Ia mengambil makanannya dan membawanya ke hadapan nenek Moya.
" Kita makan sama-sama ya, nek?" ucap Dista.
" Iya, nak. Terimakasih yah" ucap nenek Moya seraya tersenyum.
Mereka makan dengan lahap. Setelah mereka makan, mereka bercerita bersama dan saling melempar candaan hingga gelak tawa terdengar dari mulut mereka. Membuat kamar itu menjadi ramai. Sampai-sampai tak terasa sudah menunjukkan pukul 09:00.
Terdengar suara pintu di buka ternyata daddy Hasbu yang baru saja datang dari kantor.
" Daddy" panggil Dista. Ia berlari dan memeluk sang daddy seperti yang ia lakukan pada sang mommy.
" Hai putri daddy" sapa daddy Hasbu dan membalas pelukan putrinya.
" Kenapa daddy datangnya belakangan gak bersamaan dengan mommy?" tanya Dista. Ia melepas pelukannya dan kambli duduk di sebelah sang mommy.
" Daddy ke kantor dulu tadi sebelum ke sini" jawab daddy Hasbu.
" Ooohh..gitu.." ucap Dista, kemudian ia berjalan menghampiri Ayla dan duduk bersama di atas kasur.
" Mom, dokter Winston akan datang sebentar lagi bersama orang yang dia bawa" bisik daddy Hasbu.
" Benarkah?" tanya mom Awah seraya melihat jam yang ada di dinding. Daddy Hasbu mengagguk.
" Bu, dokter Winston akan datang dan akan mengetes Ayla seperti yang dia bilang kemarin" bisik mom Awah pada nenek Moya.
" Nggak apa-apa" jawab nenek Moya.
Tok..tok..
Pintu di ketuk dan muncullah dokter Winston bersama seorang pria dewasa yang ia bawa.
"Halo nona" sapa dokter Winston pada Ayla.
Ayla tidak menjawab dan matanya tidak melihat kearahnya melainkan menatap pria yang berbeda di sebelahnya...
ARKHHHH*.......
.
.
.
.
.
NEXT..
__ADS_1