
Dista menghubungi Roni untuk bertemu di halte. Dia tidak ingin Roni menjemputnya. Dia akan meminta pak Jang untuk mengantarnya sampai halte saja dan dia akan ke kota H sport bersama Roni nantinya.
Dista sampai lebih dulu di halte dan itu lebih baik menurutnya. Jadi Roni tidak melihatnya turun dari mobil. Dista meminta pak Jang untuk menjemputnya juga di sini nnti, kalau ia sudah pulang.
" Hai ,Dista " sapa Roni setelah ia sampai di depan halte.
" Ohh..hai " Dista berjalan menghampiri Roni yang masih di atas motor.
" Gua lama yah ?" Ucap Roni seraya memberikan helm untuk Dista.
" Enggak kok. Gua juga baru sampai " Dista naik ke atas motor.
Motor yang di bawa oleh Roni bukanlah motor mewah atau motor sport, tapi hanya motor biasa yang di pakai banyak orang di luar sana. Kalau di lihat-lihat dari bodi motornya terlihat masih baru dan terawat.
" Pegangan " Roni meminta Dista untuk berpegang.
Dista tidak mungkin untuk memeluk pinggang Roni, jadi ia memilih untuk berpegang pada jaket yang dikenakan Roni saja.
Kota H sport
Mereka telah sampai. Dista di buat takjub dengan tampat itu. Berbagai macam umur ada di tempat ini. Banyak juga permainan olahraga di sana. Hampir semua permainan olahraga ada di tempat ini.
" Apa ini pertama kalinya lu ke sini ?" tanya Roni.
" Kau benar. Ini pertama kalinya gua ke sini. Selama ini gua hanya di rumah saja bermain dengan daddy-ku atau kakak-ku " jawab Dista yang matanya tidak lepas memperhatikan orang-orang yang sedang bermain olahraga.
" Ayok kita kelapangan bulu tangkis !" ajak Roni.
Dista mengangguk dan mengikuti Roni dari belakang. Sampai di lapangan terlihat banyak anak remaja dan orang tua bermain bulutangkis. Banyak juga para wanita yang seumuran dengan Dista di sana.
" Heii..bro " sapa teman Roni.
" Hei.." mereka bertos ala lelaki.
" Dis, kenalin ini teman gua, Riki " Roni memperkarakan salah satu temannya di sana.
" Nama gua Riki " Riki memperkenalkan dirinya dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
" Dista " Dista menerima uluran tangan itu dan menyebut namanya.
" Ini cewek lu ?" tanya Riki.
" Bukan. Ini teman sekelas gua. Dia ingin bermain bulutangkis, makanya gua mengajaknya ke sini "
Riki menggut-manggut. " Ayok main " ajak Riki.
Dista dan Roni mengikuti Riki untuk mengambil alat bermain. Dista merasa malu-malu untuk bermain, karena ia belum mahir. Roni yang melihat Dista merasa malu, ia menyakinkan nya.
" Nggak pa-pa. Nggak usah malu. Banyak diantara mereka yang masih belajar. santai saja " ucap Roni.
__ADS_1
" Iya " jawab Dista di sertai anggukan.
Mereka bermain dua lawan dua. Roni bersama dengan Dista dan Riki bersama salah satu temannya. Sebelum mereka bermain, Roni sudah menjelaskan pada Dista cara bermainnya dan peraturannya.
Mereka bermain dengan santai, karena mereka tahu Dista masih belajar. Dista terlalu sering tidak dapat memukul bulunya dan berakhir jatuh. Roni selalu mengajarnya, sehingga Dista sudah mulai bisa.
Setelah merasa lelah bermain dan hari juga sudah mulai malam, Dista dan Roni bergegas pulang.
Seperti tadi, Roni mengantar Dista sampai helte dan Dista pulang dengan pak Jang sampai manssion.
" Assalamualaikum.." teriak Dista dari arah pintu.
" Waalaikumsalam " kedua orang tuanya menjawab salamnya.
" Anak mommy udah pulang. Bagaimana ? seru ?" mom Awah menyambut anaknya.
" Sangat seru, Mom. Kapan-kapan kita main kesana yah, dad? jawab Dista dengan senang. Ia juga ingin ke sana dengan daddy'nya.
" Iya " sahut daddy Hasbu
" Pergilah mandi. Kami udah bau asemm.." gurau mom Awah.
" Heheh..iya, mom. Soalnya Dista berkeringat " Dista berlalu dari hadapan kedua orang tuanya dan naik ke kamarnya sendiri.
Hari yang cukup melelahkan bagi Dista, tapi hari yang menyenangkan juga baginya. Bertemu orang-orang baru yang sangat baik. Dia jadi tidak takut lagi untuk bergaul.
Beberapa bulan kemuadian
Tak terasa kini mereka akan menghadapi mid semester genap. Dista dan Ayla akan naik kelas sebelas. Ayla juga sudah pergi ke sekolah beberapa bulan yang lalu. Setelah ia dengan berani berjalan-jalan sendiri tanpa di dampingi oleh dokter Winston, di situlah Ayla sudah bisa melawan bayang-bayang kejadian itu. Dua hari setalah hari itu, Ayla sudah naik ke sekolah dan bertemu dengan sahabatnya Dista.
Pertemuan mereka yang bagaikan tak bertemu selama setahun. Dista sangat bahagia, sahabatnya sudah pulih. Teman sekelas Ayla dan juga guru-guru ikut senang Ayla sudah sembuh. Kecuali Tasya, Sifa dan Sofia, mereka hanya biasa saja dan malah membulli.
Hari ini adalah hari pertama Ayla ujian kenaikan kelas. Ia tengah bersiap-siao untuk berangkat ke sekolah.
" Nek, Ayla ke sekolah dulu yah. Doain ujian Ayla lancar yah, nek " Ayla mencium tangan keriput neneknya.
" Iya, nak. Hati-hati di jalan. Jangan terlalu gegabah mengerjakan soal-soal nya " pesan nenek Moya.
" Iya, nek. Assalamualaikum " Ayla mengendarai sepedanya menuju SMA jaya biru.
**
Ayla sudah sampai di depan gerbang masuk sekolah. Dan ia berpapasan dengan Dista yang juga baru saja datang.
" Dista " panggil Ayla.
Ayla mengayuh sepedanya mendekat ka arah sahabatnya.
" Ehh..Ayla. Kamu baru datang juga ?" tanya Dista.
__ADS_1
" Iya. Baru saja"
" Ayo naik. Kita sama-sama ke kelas, tapi naik sepedanya sampai parkiran aja..hihih.." Ayla menyuruh Dista untuk naik ke sepedanya.
Dista tersenyum dan naik ke atas sepeda. Mereka tertawa bersama di atas sepeda. Para siswa lain yang sudah mengenal mereka, tidak merasa heran lagi dengan tingkah keduanya.
Tringggg...
Bell berbunyi. Mata ujian pertama sudah akan di mulai. Para siswa yang baru saja datang bersamaan dengan bell berbunyi, barlari dengan cepat sampai di kelas mereka.
Dista dan Ayla duduk mereka berpisah, karena itu sudah peraturan saat ujian. Agar tidak ada yang saling menyontek. Guru sudah tampak masuk dengan membawa kertas ujian dan membagikannya pada murid-muridnya.
Ayla yang sudah membaca pertanyaan pertama mulai menjawabnya, karena ia sudah tahu jawabannya. Ayla mengerjakan soal-soal nya dengan lancar, begitu dengan Dista.
Berbeda dengan beberapa temannya yang sibuk bertanya pada teman-teman yang lain untuk meminta jawaban.
" Sofia..jawab nomor 6 apa ?" Tasya memanggil Sofia dengan berbisik untuk meminta jawaban.
" Jawaban E " Sofia memberi jawaban lewat gerakan tangan yang membentuk huruf E.
" Yakin lo ? kok kayaknya gua kurang yakin yah "Tasya tidak yakin dengan jawaban Sofia.
" Gua yakin. Itu jawabannya si Sifa "
" Okelah " Tasya melingkar jawabannya.
" Tolong jangan saling menyontek apalagi saling memberi jawaban " Bu guru yang mengawas menyinggung Tasya, Sofia dan Sifa.
" Enggak buuu....Kita orangnya pintar jadi gak nyontek " ucap Sofia dan Tasya bersamaan.
" Kompak banget kalian berdua. Jangan-jangan kalian bagi-bagi jawaban yah ?" Bu guru curiga.
" Ehh..nggak bu " elak Sofia.
" Masa..coba ibu lihat " Bu guru meminta lembar jawaban Sofia.
Sofia memberikannya dengan perasaan takut.
"Jawaban kamu sama dengan Sifa. Kamu nyontek yah ?" padahal jawaban mereka pasti sama, karena soalnya sama. Bu guru sengaja memancing Sofia, karena dia orangnya agak ngeblank.
" Aku..aku nggak nyontek Bu..Sifa yang kasi jawabannya ke aku "
Tasya dan Sifa yang mendengar jawaban Sofia memukul jidatnya, karena kebodohan Sofia.
" Sofiaa..." Tasya menggerakkan giginya.
.
.
__ADS_1
NEXT..